Cerpen
Sastra Kita
Pelita di Balik Doa Orang Tua
APERO FUBLIC I Namaku Sintia, seorang mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) yang kini sedang menempuh semester dua. Sejak kecil saya bercita-cita menjadi seorang guru. Bagiku, guru bukan hanya orang yang mengajar membaca dan berhitung, tetapi juga sosok yang membimbing, memberi semangat, dan menjadi teladan bagi anak-anak. Namun, perjalanan menuju cita-cita itu ternyata tidak semudah yang kubayangkan.
Setelah lulus dari SMK, saya sempat kehilangan semangat. Saya gagal mengikuti jalur masuk perguruan tinggi yang kuharapkan. Kegagalan itu membuatku berpikir bahwa mungkin kuliah bukan jalan yang ditakdirkan untukku. Saya bahkan ingin langsung bekerja agar bisa membantu perekonomian keluarga.
Di tengah kebingungan itu, orang tuaku tetap memintaku untuk melanjutkan pendidikan. Ayah berkata bahwa ilmu adalah bekal yang tidak akan pernah habis. Ibu juga selalu meyakinkanku bahwa setiap orang memiliki jalan sukses yang berbeda.
Walaupun kondisi ekonomi keluarga kami sederhana, mereka tidak pernah mengeluh. Mereka justru terus mencari cara agar aku tetap bisa kuliah.
Akhirnya, atas saran seorang sepupu, Saya mencoba mendaftar ke salah satu perguruan tinggi swasta dan memilih jurusan PGSD. Awalnya Saya ragu. Saya takut tidak mampu mengikuti perkuliahan dan khawatir akan menjadi beban bagi orang tuaku. Namun, melihat keyakinan mereka, Saya memberanikan diri untuk melangkah.
Hari pertama kuliah menjadi pengalaman yang tidak akan pernah kulupakan. Saya bertemu banyak teman baru yang berasal dari berbagai daerah. Kami saling memperkenalkan diri, berbagi cerita, dan mulai mengenal kehidupan sebagai mahasiswa. Suasana kampus terasa sangat berbeda dengan sekolah. Dosen memberikan kebebasan kepada mahasiswa untuk berpikir kritis, berdiskusi, dan mencari informasi secara mandiri.
Memasuki semester dua, tantangan mulai terasa semakin berat. Tugas datang hampir setiap minggu. Kami harus membuat makalah, presentasi, observasi ke sekolah, hingga mengerjakan berbagai proyek kelompok. Tidak jarang aku merasa lelah dan hampir menyerah karena harus membagi waktu antara belajar, mengerjakan tugas, dan membantu orang tua di rumah.
Suatu malam, ketika Saya masih mengerjakan tugas hingga larut, ponselku berdering. Ternyata ibu menelepon.
“Nak, jangan lupa istirahat. Belajar memang penting, tetapi kesehatanmu juga harus dijaga,” katanya dengan suara yang lembut.
Saya tersenyum sambil menahan air mata. Ibu mungkin tidak mengerti semua tugas kuliahku, tetapi beliau selalu tahu kapan Saya membutuhkan semangat. Setelah menutup telepon, Saya kembali mengerjakan tugas dengan hati yang lebih tenang.
Beberapa hari kemudian, saya mendapatkan nilai yang kurang memuaskan pada salah satu mata kuliah. Saya merasa kecewa dan malu kepada diriku sendiri. Saat pulang ke rumah, ayah melihat wajahku yang murung.
“Kenapa sedih?” tanya ayah.
Saya menceritakan semuanya. Ayah hanya tersenyum lalu berkata, “Nilai yang rendah bukan berarti kamu gagal. Yang gagal adalah orang yang berhenti berusaha. Terus belajar, nanti hasilnya akan mengikuti.”
Kata-kata sederhana itu kembali membangkitkan semangatku. Saya mulai belajar lebih giat, bertanya kepada dosen ketika belum memahami materi, dan berdiskusi dengan teman-teman. Sedikit demi sedikit, Saya mulai merasakan perubahan. Nilai-nilaiku membaik, rasa percaya diriku meningkat, dan aku semakin menikmati proses belajar.
Melalui berbagai mata kuliah di PGSD, Saya menyadari bahwa menjadi guru bukan hanya soal menguasai materi pelajaran. Seorang guru juga harus memiliki kesabaran, kepedulian, kreativitas, dan hati yang tulus untuk membimbing anak-anak. Kesadaran itu membuatku semakin yakin bahwa saya telah memilih jalan yang tepat.
Kini saya tidak lagi memandang kuliah sebagai beban. Setiap tugas, setiap presentasi, bahkan setiap kesulitan yang datang adalah bagian dari proses untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Saya percaya bahwa semua perjuangan hari ini akan menjadi bekal berharga ketika suatu saat nanti aku berdiri di depan kelas sebagai seorang guru.
Saya juga berjanji kepada diriku sendiri bahwa suatu hari nanti saya akan membahagiakan kedua orang tuaku. Saya ingin melihat mereka tersenyum bangga saat menghadiri wisudaku. Semua lelah, air mata, dan pengorbanan mereka akan kubalas dengan kesungguhan dalam belajar dan menjadi anak yang membanggakan.
Kini saya mengerti bahwa keberhasilanku bukan hanya hasil dari usahaku sendiri, tetapi juga lahir dari doa yang tidak pernah putus, kasih sayang yang tidak pernah berkurang, dan pengorbanan orang tua yang selalu mengiringi setiap langkahku. Selama doa mereka masih menyertaiku, saya yakin tidak ada perjuangan yang sia-sia.
Pesan moral: Jangan pernah menyerah menghadapi kesulitan selama kuliah. Percayalah bahwa setiap perjuangan akan membentuk kita menjadi pribadi yang lebih kuat. Hargailah pengorbanan orang tua, karena doa dan kasih sayang mereka adalah kekuatan terbesar dalam meraih masa depan.
Oleh: Sintia Novi Meldawati Purba
Mahasiswi Universitas Sari Mutiara
Fakultas Ilmu Pendidikan, Jurusan PGSD.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Cerpen

Post a Comment