11/07/2019

Asal Mulah Sungai Keruh dan Kutukan Puyang Dulu

Apero Fublic.- Pada zaman dahulu kalah. Keadaan bumi belum seperti sekarang. Manusia belum sebanyak seperti saat ini. Hutan-hutan masih sangat lebat di manapun, bahkan di bumi Timur Tengah yang tandus masih ditutupi hutan lebat.

Pada masa itu, hiduplah sebuah keluarga di pedalaman semenanjung Asia Tenggara. Tempat itu kelak akan terpisah dari daratan benua Asia. Saat banjir es kutub yang mencair menggenangi bumi menenggelamkan sebagian wilayah Asia Tenggara. Terciptalah  banyak pulau-pulau, diantara Pulau Sumatera. Pada masa sebelum banjir es tersebut.

Sungai Musi yang sekarang bermuara di laut di dekat Kota Palembang. Sebelumnya bermuara di Laut Natuna Utara (Laut Cina Selatan) sekarang. Sungai Musi pada waktu itu belum memiliki banyak anak sungai. Baru berupa sungai panjang membentang. Mengalir dari kaki Bukit Barisan di daerah Provinsi Bengkulu Sekarang.


Tersebutlah sebuah daerah yang didiami oleh sekelompok manusia. Pemukiman mereka namakan dengan Talang. Talang artinya sama dengan kampung. Talang tersebut terletak di sebuah kaki bukit. Sering penduduk talang yang tidak bernama itu memandang ke puncak bukit dari rumah mereka.

Lalu mereka berkata, “lihat hari mau hujan. Mendung tampak di atas bukit.” Begitulah percakapan mereka, sehingga waktu demi waktu bukit tersebut bernama, Bukit Mandung. Sebab seringnya mereka berkata demikian. Karena Talang mereka di kaki bukit Mandung. Lama semakin lama talang tidak bernama itu juga dikenal dengan nama Talang Mandung.

Tapi penduduk masa lalu sudah tidak pergi. Talang Mandung masih ada sampai sekarang di Kecamatan Sungai Keruh, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Dan penduduk berganti orang-orang Desa Pagar Kaya dan dari daerah lainnya.
*****

Hiduplah sebuah keluarga bahagia, keluarga Gurana. Istrinya bernama Nanra. Karena Gurana orangnya sakti, bijaksana, baik, dan berbudi luhur. Oleh penduduk dia diangkat menjadi Puyang atau pemimpin di Talang Mandung. Puyang adalah gelar tradisional  masyarakat di Pulau Sumatera Bagian Timur. Pengangkatan pemimpin untuk pertama kalinya.

Karena Gurana puyang (pemimpin) yang pertama. Maka dia dijuluki Puyang Dulu. Dulu bermakna lebih dahulu atau pertama menjabat menjadi Puyang. Atau puyang yang diangkat pertama kali sejak talang mereka terbentuk. Gurana kemudian terkenal dengan julukan Puyang Dulu. Puyang Dulu memiliki enam orang anak.

Tiga laki-laki dan dua perempuan. Anak pertama dan kedua laki-laki, bernama Kartaju dan Kartaja. Anak ketiga perempuan bernama Kartani. Anak keempat dan kelima laki-laki bernama Rangas dan Ratan. Sedangkan anak bungsu bernama Putri Kuning. Mereka memiliki seekor kucing yang berwarna, belang tiga. Mereka menamakannya dengan si Belang. Si Belang selalu ikut Putri Kuning bermain kemana pun.


Suatu pagi, seperti biasa keluarga Puyang Dulu akan pergi ke ladang. Karena musim menanam padi, banyak pekerjaan di ladang. Maka anaknya yang sudah dewasa dimintai bantuan menanam padi. Dari istrinya, dan tiga anaknya Kartaju, Kartaja dan Kartani ikut membantu. Sementara Rangas, Ratan dan Putri Kuning tetap tinggal di rumah. Mereka masih anak-anak. Ratan dan Rangas yang kembar berumur sepuluh tahun.

Sedangkan Putri Kuning baru berumur delapan tahun. Sebelum berangkat ke ladang. Puyang Dulu memberi peringatan dan nasihat agar jangan bermain di hutan, terutama di atas Bukit Mandung. Sebab di bukit tersebut ada semacam kekuatan gaib. Yang dapat merubah perkataan seseorang menjadi kenyataan. Puyang Dulu memberi peringatan keras. Karena kita semua tahu kalau anak-anak suka berkata-kata hayalan. Nanti mereka berkata-kata yang aneh-aneh. Dikhawatirkan mereka akan berubah sesuai apa yang mereka katakan.

Nasihat dan larangan sang ayah (Puyang Dulu), dipatuhi oleh mereka bertiga. Berbulan-bulan telah berlalu kemudian. Sekarang masanya panen menuai padi di ladang. Kali ini, istri Puyang Dulu juga yang memperingatkan lagi ketiga anak-anaknya.


“Rangas dan Ratan, jangan main jauh dari rumah. Ingat jaga adik kalian baik-baik. Ibu pulang agak sore, sebab kita sedang menuai padi. Nanti ibu bawakkan tebuh yang manis.” Kata sang ibu sambil mempersiapkan keranjang yang berisi bekal dan air minum. Ratan dan Rangas tampak gembira sekali mendengar akan dibawakkan tebuh yang manis.


“Ia Ibu. Kami akan jaga adik terus sampai kapan pun. Walau pun adik menjadi sungai sekalipun masih kami jaga. Betulkan Tan!!!.” Jawab Rangas, dengan nada menyakinkan sang ibu. Ratan juga mengiakan sambil bermain pedang-pedang. Terdengar petir menyambar di atas Bukit Mandung setelah Rangas berkata demikian. Istri Puyang Dulu jadi khawatir. Kemudian anak sulungnya Kartaju berkata. “Cepatlah Bu, nanti hujan. Kita belum sampai ke ladang. Ayah sudah berangkat bersama Kartaja.”

Mendengar kata-kata Kartaju istri Puyang Dulu agak terhibur dan teralikan perasaan tidak enaknya. Mungkin memang hari mau hujan pikirnya. Sepanjang hari itu, istri Puyang Dulu menjadi tidak enak makan. Terkadang perkataan itu terngiang di telinganya. Pikirannya melayang-layang tentang suara petir dan perkataan Rangas di pagi hari itu. Waktu berlalu dengan cepat. Empat bulan kemudian.


Rangas, Ratan dan Putri Kuning masih anak-anak. Dunia mereka adalah dunia bermain. Pagi itu, pada awalnya mereka bermain disekitar rumah saja. Tidak ada maksud bermain jauh. Rangas dan Ratan sangat menyayangi Putri Kuning adik bungsu mereka. Mereka bermain kuda-kudaan. Putri Kuning selalu menjadi penunggang kuda. Ratan dan Rangas bergantian menjadi kuda-kuda adiknya. Yang tidak menggendong pura-pura menjadi harimau, mengejar.

Mereka tertawa dan bergembira ria. Karena asik bermain mereka lupa sudah berada di pinggir hutan di kaki Bukit Mandung. Si belang yang selalu ikut mereka bertiga, tampak berlompatan kesana kemari. Seakan juga ikut bermain. Sesampai di kaki bukit mereka menemukan seekor anak napu yang cantik dan jinak.

Lalu Putri Kuning mengejarnya dan diikuti Rangas dan Ratan. Tanpa sadar mereka tiba di atas Bukit Mandung. Karena sudah lama bermain mereka kelelahan dan beristirahat. Rangas merasa sangat haus sekali. Menyesal mereka tidak membawa air minum, katanya. Kemudian mereka bertiga istirahat sambil berbincang-bincang.


“Dimana ada air, aku haus sekali.” Kata Rangas sambil berkipas-kipas. Dia berkata berceloteh saja.

“Mana ada air, inikan bukit. Air ada di sungai. Sungai pasti ada di bawah bukit." Jawab Ratan.


“Biarlah Kuning yang jadi sungai. Biar kakak bisa minum sepuasnya. Huppp..hupp..hupp.” Canda Putri Kuning dengan manja. Dia tampak meniru gaya-gaya dukun membaca mantra. Si Belang tampak duduk dipangkuannya. Putri Kuning melepas gelangnya lalu dia lemparkan supaya si Belang bermain. Maka si Belang melompat mengejar gelang yang di lempar Putri Kuning.


“Mana bisah jadi sungai. Jadi anak nakal adik Kuning pasti bisa.” Kata Rangas menggoda Putri Kuning. Putri Kuning tertawa riang. Dia berkilah kalau dia tidak nakal, lalu melanjutkan.


“Bisa saja Kak, kalau sang pencipta berkehendak, kata ibu.” Jawab Putri Kuning lembut. Dia bilang, mendengar kata-kata itu dari sang ibu tercinta.


“Ialah, ialah. Kakak-kakak kau ini mengalah saja. Nanti adik bungsu yang manja menangis pula. Anak bungsu dilawan, huhhh.” Jawab Ratan.

“Pulang saja kita, nanti ibu sudah pulang, pasti marahlah dia.” Kata Rangas.

“Aku nak digendong, Kak. Kuning capek.” Kata Putri Kuning manja.


Begitulah percakapan kakak beradik yang sudah melanggar larangan ayah dan ibunya. Dimana mereka tidak boleh bermain jauh dari rumah. Juga tidak boleh bermain di atas Bukit Mandung yang ada kekuatan gaib dapat mengubah apa saja yang diucapkan manusia. Alasan Puyan Dulu melarang mereka bermain di atas Bukit Mandung. Karena mereka masih anak-anak. Anak-anak kecil selalu berkata-kata hayalan dan suka bercanda. Takutnya kekuatan gaib itu benar-benar mengubah diri mereka sesuai kata-kata mereka.


Namun saat mereka bertiga baru berdiri dari duduk. Tiba-tiba angin berhembus kencang sekali, menderu-deru. Kemudian petir ikut menyambar dan kilat bersabung. Awan hitam menyelimuti langit. Lalu hujan turun dengan lebat seketika. Selanjtnya ada kabut putih menyelimuti seluruh Bukit Mandung. Setelah kabut hilang Ratan dan Rangas tidak menemukan Putri Kuning.

Mereka melihat sekeliling dan memanggil-manggil. Tapi tidak ada jawaban dari Putri Kuning. Mereka terkejut ketika melihat dari dalam tanah keluar air berwarna kuning. Tepat dimana Putri Kuning berdiri tadi. Tanah sekitar itu bergetar-getar seperti ada sesuatu yang bergerak dari dalam tanah. Lalu muncul mata air yang deras dan mengalir memancar. Kucing mereka mengeong-ngeong tiada henti. Dari mata air itu kemudian hanyut baju Putri Kuning. Maka menangislah Ratan dan Rangas. Teringat akan pesan ayahnya, Puyang Dulu.
Juga nasihat  Ibu mereka. Kalau di atas bukit ada kekuatan gaib yang dapat mengubah kata-kata manusia menjadi kenyataan. Ratan mengambil baju Putri Kuning dan dia peluk sambil menangis. Mereka menyesal telah melanggar perintah ayah dan ibunya. Sekarang mereka berpikir bagaimana menghadapi ayah dan ibunya. Tapi kemudian Rangas berkata.


“Kita sudah berjanji pada ibu. Kalau kita akan tetap menjaga adik walau pun dia menjadi sungai sekalipun.


“Benar, kita harus menepati janji. Kasihan adik Kuning sendiri di sini.” Jawab Rangas. Kemudian keduanya meletakkan pakaian Putri Kuning di dekat mata air berwarna kuning yang terus membesar dengan cepat itu. Lalu Ratan dan Rangas duduk di sisi mata air itu. Lalu mereka berkata bersamaan.

“Wahai sang pencipta. Sungguh kuasamu segalahnya. Kami hambamu hanya menerimah dengan relah. Janji kami pada ibu harus ditepati. Jadikan kami penjaga adik. Penjaga adik sepanjang masa. Sampai akhir umur dunia.” Kata mereka berdua. Lalu mereka bernyanyi. Diiringi suara petir dan kilat. Hujan lebat seketika dan kembali Bukit Mandung diselimuti kabut.

“Ratan dan Rangas kakak beradik.
“Kakak kembar Putri Kuning.
“Biar bagai mana tetap adik beradik.
"Saudara tak terpisahkan jua.
“Penjaga adik Putri Kuning.
“Adik bungsu yang manja.
“Adik kecil yang disayang.
“Ayah dan ibu maafkan kami.
“Kakak-kakak selamat tinggal.

Setelah suara nyanyian menghilang. Kabut juga menghilang dan keadaan kembali tenang. Di tempat duduk Ratan dan Rangas telah tumbuh sebatang pohon yang tumbuh cepat secara ajaib. Kemudian ada semacam tumbuhan merambat berduri melingkari pohon itu. Di dahan pohon itu tersangkut baju Rangas. Sedangkan tumbuhan merambat yang membelit pohon tergantung baju Ratan. Si Belang mengeong-eong beberapa kali. Lalu pulang ke rumah, berlari cepat menuruni Bukit Mandung.
*****

Sementara itu, di rumah mereka. Ayah, ibu, dan kakak-kakak mereka sibuk mencari. Bertanya pada warga Talang satu persatu. Namun tidak ada yang tahu. Ada yang bilang terakhir melihat mereka bertiga bermain kuda-kudaan di samping rumah. Tapi kemudian menghilang dan entah kemana. Puyang Dulu dan Istrinya menjadi khawatir kalau anak-anaknya bermain keatas bukit. Tapi mereka mencoba berharap yang terbaik. Warga berkumpul dan menyarankan untuk mencari bersama-sama.

Dalam panik itu, si belang mereka pulang. Ada gelang rotan milik Putri Kuning di mulutnya. Kartani langsung menggendong si belang kesayangannya. Lalu dia mengambil gelang itu dari mulut kucingnya. Mereka mengenali kalau itu gelang milik Putri Kuning. Setelah gelang diambil dari mulut si belang. Kucing itu, mengeong-ngeong terus dan gelisa.

Kemudian si Belang melompat dari pangkuan Kartani. Lalu berlari ke arah Bukit Mandung. Berhenti dan menoleh ke Puyang Pendape dan Istrinya, lalu menoleh ke Kartani, Kartaju, dan Kartaja bergantian. Si Belang mengeong kembali dengan keras. Si Belang memberi isyarat agar mengikutinya. Maka, Kartani dan keluarganya mengikuti si Belang dari belakang. Warga juga mengiringi mereka ke Bukit Mandung. Dari jauh mereka telah mendengar suara gemericik deras air mengalir. Aneh dan ajaib, ada aliran air dari atas bukit, pikir mereka.

Beberapa saat kemudian, sampailah mereka di dekat mata air berwarna kuning, dan pohon yang dilingkari tumbuhan merambat berduri. Berkat petunjuk si Belang. Mereka menemukan tempat Rangas, Ratan, dan Putri Kuning berada tadi. Awalnya di atas Bukit Mandung tidak ada mata air, sekarang sudah ada air. Ada baju Putri Kuning tergeletak di dekat mata air itu.

Baju Ratan tergantung di tumbuhan melingkar berduri. Sedangkan baju Rangas menggantung di dahan pohon itu. Maka mengertilah Puyang Dulu, Istrinya, dan semuanya kalau ketiga anaknya itu telah berubah. Menjelma menjadi mata air besar itu, menjadi pohon dan menjadi tumbuhan merambat. Istri Puyang Dulu teringat kata-kata Rangas yang lalu. "ialah ibu, kami akan selalu menjaga adik, walaupun dia menjadi sungai sekalipun."

Istri Puyang Dulu menangis selama hidupnya. Dia sering berada di dekat mata air, duduk bersandar pada  batang Pohon Rengas, dan memelihara tumbuhan Rotan. Pohon Rengas dan Pohon Rotan adalah dua tanaman penjaga sungai.
*****
Suatu malam Puyang Dulu bermimpi bertemu dengan ketiga anak-anaknya. Mereka meminta maaf karena telah melanggar larangan ayahnya. Kelak dihari akhir kita akan bertemu lagi ayah, kata mereka. Gemuruh aliran air yang semakin deras terdengar dari Talang mereka. Derasnya arus air terus menerus mengikis tanah dan merobohkan pohon-pohon dan menghanyutkan apa yang diterpanya.

Mata air yang terus menerus mengalir dan membesar itu. Dalam waktu lima tahun saja menjadi sebuah sungai yang mengalir kedataran rendah. Mengikuti lekuk-lekuk tanah dan saluran alam. Sampailah aliran itu ke tebing Sungai Musi. Maka, Sungai Keruh bermuara ke Sungai Musi. Karena air sungai baru itu berwarna kuning mirip air keruh. Maka orang-orang menamakannya, Sungai Keruh. Pohon jelmaan Rangas mereka namakan Pohon Rangas. Namun karena orang Melayu Sekayu menggunakan dialeg E. Lama kelamaan menjadi nama Rengas.

Sedangkan tumbuhan merambat yang melingkari Pohon Rengas mereka namakan Ratan. Lama kelamaan menjadi Rotan. Sebab, selain dialeg E orang Sumatera Selatan ada juga yang menggunakan dialeg O. Rangas dan Ratan telah menepati janji mereka. Mereka menjaga Putri Kuning walau pun sang adik menjadi sungai sekalipun.

Memang pohon Rengas adalah pohon penjaga tebing sungai atau sumber air. Akarnya yang bergulung-gulung dan bergambut menguatkan tebing sungai. Selain itu, akar juga berguna untuk sarang hewan-hewan sungai. Seperti sarang ikan, labi-labi, belut, kepiting, udang, siput dan keong. Begitupun dengan rotan adalah pohon pelindung sungai. Akarnya bergambut, berduri-duri, dan onaknya yang mengait pepohonan menjadi lengket satu sama lain. Adalah cermin perlindungan terhadap tebing sungai dari orang jahat.

Pohon rengas berkembang biak dengan buah. Buah pohon rengas akan masak pada musim banjir. Kemudian buah-buah jatuh ke air. Kemudian hanyut terbawa kemana-mana oleh arus air banjir. Lalu buah rengas akan terdampar dimana saja. Disekitar banjiran, atau tebing sungai, rawa-rawa dan lainnya.

Kemudian buah tersebut tumbuh tersebar dan terdapat hampir di sepanjang tebing sungai, rawa-rawa, dan danau. Pohon ini juga boleh di tanam atau dibibitkan. Semoga pemerintah melalui kementrian lingkungan hidup mau membudidayakan pohon rengas lalu di tanam di sepanjang tebing-tebing sungai, danau, atau rawa-rawa.

Rotan juga berkembang biak dengan biji. Sehingga tumbuh menyebar juga. Biji-biji rotan hanyut terbawa arus air atau di bawak oleh manusia dan hewan pemakan buah. Dapat kita saksikan disepanjang tebing sungai, rawa-rawa hampir selalu ada tumbuhan rotan.
*****

Dari peristiwa tersebut, jelas sekali kalau Sungai Keruh adalah jelmaan seorang manusia. Begitupun pohon rengas dan rotan yang tumbuh di tebing sungai juga jelmaan manusia. Maka barang siapa meracuni Sungai Keruh maka sama saja dia meracuni seorang manusia sampai mati. Kemudian saat manusia menebang pohon rengas dimanapun. Maka dia sama saja membunuh satu orang manusia. Baik yang tumbuh di tebing Sungai Keruh atau dimanapun. Sebab pohon Rengas dan Rotan berasal dari jelmaan Ratan dan Rangas.

Orang yang memusnakan rotan-rotan di tebing sungai-sungai, rawa-rawa, danau. Maka mereka sama juga membunuh seorang manusi. Sehingga dosanya sama dengan dosa pembunuhan. Kecuali mereka melakukannya dengan tujuan baik dan bermanfaat yang sangat besar. Serta yang pasti tidak merusak sumber air dan ketahanan tebingnya.

Oleh karena itu, Sungai Keruh, Pohon Rengas dan Rotan adalah jelmaan anak Puyang Dulu. Sehingga Puyang Dulu kemudian bersumpah atas nama tuhan yang maha esa. “Barang siapa dari anak manusia atau anak cucuku, yang meracuni sungai-sungai, terutama meracuni Sungai Keruh. Menangkap ikan dengan cara tidak baik (setrum). Menebang pohon rengas tanpa alasan yang baik. Seperti untuk bisnis, membuat rumah, serakah saat berladang.

Atau mereka yang memusnahkan rotan-rotan di tebing sungai. Maka kehidupan orang tersebut tidak akan selamat dan tidak akan naik derajadnya. Kemudian dia akan ditimpa musibah-musibah besar dan masalah-masalah.  Begitu pun, sifat nakal dari anak-anaknya akan menular pada anak-anak mereka. Melalui zat daging ikan yang ditangkap dengan cara tidak baik tersebut. Atau sebab menebang pohon Rengas dan memusnahkan rontan.

Dari sumpah atau kutukan Puyang Dulu tersebut menurut orang-orang tua dan masyarakat sekarang memang terbukti. Banyak anak-anak orang yang menyukai meracuni sungai. Atau orang-orang yang menebang pohon rengas. Memusnakan rumpun rotan di tebing sungai. Menangkapa ikan dengan cara tidak baik (setrum). Banyak mendapat musibah dan bala di dalam kehidupan keluarga mereka. Seperti orang tuanya sakit parah, terkenah setrok, kencing manis, dan sebagainya. Istrinya selingkuh, sakit parah, meninggal saat melahirkan, atau keluarga mereka bercerai.

Anak-anaknya menjadi nakal, suka memakai narkoba dan mabuk-mabukan. Suka berbuat tidak senono, suka kawin cerai. Tidak mau sekolah dan kurang ajar. Ada juga meninggal tidak wajar. Misalnya kecelakaan ditabrak mobil atau kecelakan sepeda motor. Kadang pelakunya sendiri yang terkena kutukan Puyang Dulu tersebut. Nakal tidak mentaati orang tua seperti anak Puyang Dulu, Rangas, Ratan dan Putri Kuning.


Penduduk yang tidak mengetahui memang suka meracun sungai. Menebang pohon rengas untuk keperluan pribadi. Ada baiknya masyarakat Sungai Keruh dan semua masyarakat dimanapun jangan lagi meracuni sungai dan menebang pohon-pohon disepanjang sungai-sungai. Kalau berladang tinggalkan jarak lima meter dari tebing sungai. Jangan ditebang pepohonan di tebing sungai tersebut.

Tumbuhan-tumbuhan yang lain, seperti semak-semak jangan dimusnahkan agar tebing sungai tidak longsor. Kalau mau berkah ada baiknya menanam pohon rengas di sepanjang tebing sungai dipinggiran ladang kita. Atau pinggiran tanah milik kita.


*****

Puyang Dulu yang suka berperahu menyusuri Sungai Keruh. Ditemani anak-anak laki-lakinya. Kadang Kartaju, terkadang Kartaja. Puyang Dulu sering rindu pada ketiga anak-anaknya. Maka dia menyusuri Sungai Keruh, melihat Pohon Rengas dan Pohon Rotan yang tumbuh subur. Suatu hari dia berperahu kehilir ditemani oleh Kertaju. Juga diikuti beberapa tetangganya.

Puyang Dulu merasa capek dan pusing. Maka mendaratlah mereka ke daratan, untuk beristirahat. Maklumlah Puyang Sekarang sudah tua renta. Perahu ditambatkan dan mereka berkemah di sana. Ternyata sakit Puyang Dulu bertambah parah. Kemudian Puyang Dulu meninggal dunia. Jasad beliau dimakamkan tidak jauh dari tebing Sungai Keruh.

Sebelum meninggal waktu dipangkuan Kartaju, Puyang Dulu berkata. “Di sekitar sini suatu saat nanti akan berdiri sebuah desa yang besar. Lalu di sepanjang Sungai Keruh dan anak Sungai Keruh juga akan berdiri desa-desa lagi. Nanti akan lahir seorang pemimpin besar dari anak cucuku. Yang akan membangun sebuah kota besar di daerah kita. Saat itu tiba, ketika mereka telah memeluk sebuah keyakinan yang disampaikan oleh seorang yatim piatu. Sebagai tandanya, dia sangat suka belajar, sangat suka membaca buku-buku, dan memegang sebuah ajaran tebal tiga puluh. Dia anak petani miskin, tapi baik dan jujur. Maka apabila masa itu tiba, dukunglah anak itu jadikan pemimpin kalian.”

Baru setelah itu, Puyang Dulu menghembuskan nafas terakhirnya. Ada yang ajaib, dari waktu ke waktu kuburan Puyang Dulu tumbuh dan tumbuh. Hingga akhirnya menjadi berbentuk tanah tumbuh. Oleh nenek moyang orang Sungai Keruh tanah tumbuh itu dibuat perlindungan berupa bangunan depok sederhana diwaktu kemudian. Sampai sekarang masyarakat Sungai Keruh sering berziarah ke Keramat Puyang Dulu di Desa Kertayu. Mereka berziarah ke leluhur mereka, Puyang Dulu.

Kartaju merasa sedih dan dia tidak mau pulang ke Talang Mandung lagi. Dia memutuskan untuk membangun rumah tidak jauh dari kuburan Puyang Dulu. Maka yang pulang hanyalah tetangganya dan mengabarkan pada keluarganya. Lalu pindahlah semua keluarga Puyang Dulu ke tempat di sekitar kuburan beliau. Sejak saat itu, mulai berdiri sebuah Talang Baru. Ada warga yang datang dan bermukim juga. Yang semakin lama bertambah beranak pinak. Karena yang pertama membuat talang anak tertua Puyang Dulu bernama Kartaju.

Maka nama Talang dikenal dengan nama Talang Kartaju. Lama semakin lama, nama Kartaju berkembang menjadi Kertayu. Sehingga terbentuklah sebuah desa bernama, Desa Kertayu, di Kecamatan Sungai Keruh, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Sampai sekarang masyarakat Sungai Keruh mengenang Puyang Dulu dengan mengadakan sedekah rami. Suatu pesta rakyat yang dilaksanakan setiap setahun sekali setelah selesai panen padi. Mengapa selesai panen, sebab terjadinya musibah di Bukit Mandung tersebut memang setelah selesai panen.

Perkataan Puyang Dulu sepertinya sudah ada yang terbukti. Sekarang memang ada sebuah desa bernama Kertayu. Ada desa-desa lain di sepanjang Sungai Keruh juga sudah terbukti, misalnya Desa Tebing Bulang, Desa Gajah Mati dan lainnya. Kemudian anak cucunya akan memeluk keyakinan baru yang disampaikan oleh seorang yatim piatu. Juga telah terbukti, yaitu orang Sungai Keruh memeluk agama Islam yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW, memang anak yatim piatu.

Sedangkan memegang ajaran tebal tiga puluh adalah kitab suci Al-Quran yang memang berjumlah 30 juz. Yang belum terbukti adalah akan lahir seorang anak cucunya dan menjadi seorang pemimpin besar. Serta akan membangun kota di daerah Sungai Keruh. Kita tunggu saja dari kehendak Allah SWT yang disampaikan melalui lisan Puyang Dulu. Wallahu Alam bissawab. Jadi ajarkan anak-anak untuk rajin belajar dan membaca buku. Siapa tahu itu adalah keluarga anda.


Cara Menghapus Kutukan Karena Anda Yang Pernah Menebang Pohon Rengas dan Pernah Meracuni Sungai.

Kalau anda sudah terlanjur pernah menebang pohon rengas. Untuk menghilangkan kutukan Puyang Dulu. Maka tanamlah kembali pohon rengas di dekat pohon yang anda tebang. Cari bibit pohon yang berserakan banyak di hutan sekitar sungai-sungai. Lalu jagalah pohon itu sampai besar. Tidak repot menjaga pohon liar tumbuh. Cukup pastikan kalau tidak tercabut atau ditebang orang. Kalau menemukan Pohon Rengas yang sudah tumbuh di dekat sungai. Peliharalah juga karena pahalahnya sama saja dengan anda menam.

Setelah pohon tanaman anda besar. Anda akan mendapat pahala amal jariah. Karena pohon akan mengeluarkan oksigen yang dihisap makhluk hidup. Atau menjadi pohon sialang yang bermanfaat untuk sarang lebah. Kalau anda ingin menghilangkan dampak kutukan sebab meracuni sungai. Cukup anda tidak lagi ikut meracuni sungai selama hidup anda dan hanya menangkap ikan dengan cara-cara baik dan benar.

Menjaring, menjala, memancing, memasang bubu, dan sebagainya. Maka anda akan terhapus dari kutukan Puyang Dulu. Seandainya setelah itu anda masih ada cobaan setelah melakukan itu. Berarti itu memang ujian dari Allah bukan lagi sebab meracuni atau menebang pohon. Kutukan itu juga atas izin Allah terjadi. Mari lestarikan sumber air dan kita akan menyelamatkan anak keturunan manusia.

Oleh. Joni Apero.
Editor. Selita. S. Pd.
Palembang,   November 2019.
Sumber cerita rakyat: Di sarikan dari cerita-cerita orang tua di Kecamatan Sungai Keruh, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

Arti Kata: Puyang: Pemimpin. Pohon Sialang: Pohon besar yang dijadikan tempat lebah bersarang. Napu: Hewan sejenis kancil.

Sy. Apero Fublic

6 comments:

  1. Ceritanya di luar sejarah , Puyang dulu dan talang mandung berdirinya pun baru berasal dari orang pagar Kaye.jadi intinya cerita ini di luar alur..

    ReplyDelete
  2. Boleh lh karangan cerita dongengnya walaupun berbeda tapi tetap aq hargai sebagai warga kertayu.

    ReplyDelete
  3. Sebenar nya cerita itu agak ngeyel si soal nya puyang dulu itu berada di kertayu, itu di berada di talang mandung,terus juga setau saya talang mandung itu idak ada bukut nya

    ReplyDelete
  4. Dongeng yg bagus baik untuk pelajaran Dan edukasi social..

    ReplyDelete
  5. Sebelumnya Aku Perna Dengar Dari nenek cerita hikayat Atau andai-andai ini...

    ReplyDelete