11/07/2019

Asal Mulah Sungai Keruh dan Kutukan Puyang Dulu

Apero Fublic.- Pada zaman dahulu, keadaan bumi belum seperti sekarang. Namun bumi selalu berubah dengan kejadian-kejadiannya. Hutan-hutan masih sangat lebat di manapun, bahkan di kawasan Timur Tengah yang tandus masih ditutupi hutan lebat.

Pada masa itu, hiduplah sebuah keluarga di pedalaman semenanjung Asia Tenggara. Tempat itu kelak akan terpisah dari daratan benua Asia. Saat banjir es kutub yang mencair menggenangi bumi menenggelamkan sebagian wilayah Asia Tenggara. Terciptalah  banyak pulau-pulau, diantaranya Pulau Sumatera.

Pada masa itu, Sungai Musi yang sekarang belum bermuara di laut di dekat Kota Palembang. Masi bermuara di Laut Natuna Utara sekarang. Sungai Musi pada waktu itu belum memiliki banyak anak sungai. Baru berupa sungai panjang membentang. Mengalir dari kaki Bukit Barisan dan pegunungan.

*****

Tersebutlah sebuah daerah yang sudah didiami oleh sekelompok manusia. Pemukiman mereka namakan dengan Talang. Talang tersebut terletak di sebuah kaki bukit. Sering penduduk talang yang tidak bernama itu memandang ke puncak bukit dari rumah mereka.

Lalu mereka berkata, “lihat hari mau hujan. Mendung tampak di atas bukit.” Begitulah percakapan mereka, sehingga waktu demi waktu bukit tersebut bernama, Bukit Mandung. Sebab seringnya mereka berkata demikian. Karena Talang mereka di kaki bukit Mandung. Lama semakin lama talang tidak bernama itu juga dikenal dengan nama Talang Mandung.

*****

 

Tersebutlah keluarga orang yang baik, Gurana dan istrinya bernama Nanra. Karena Gurana orangnya sakti, bijaksana, dan berbudi luhur. Oleh penduduk dia diangkat menjadi Datu Talang Mandung, bergelar Puyang Datu Gurana.

Karena Gurana orang pertama mendapatkan gelar puyang. Sehingga dikenal orang pertama kali yang bergelar Puyang. Dia juga dijuluki Puyang Dulu (lebih dahulu). Gurana kemudian lebih dikenal dengan gelar, Puyang Dulu.

Puyang Dulu memiliki enam orang anak. Tiga laki-laki dan dua perempuan. Anak pertama dan kedua laki-laki, bernama Kartaju dan Kartaja. Anak ketiga perempuan bernama Kartani. Anak keempat dan kelima laki-laki bernama Rangas dan Ratan. Sedangkan anak bungsu bernama Putri Kuning. Mereka memiliki seekor kucing yang berwarna, belang tiga. Mereka menamakannya dengan si Belang. Si Belang selalu ikut Putri Kuning bermain kemana pun.

Suatu pagi, seperti biasa keluarga Puyang Dulu akan pergi ke ladang. Karena musim menanam padi, banyak pekerjaan di ladang. Maka anaknya yang sudah dewasa dimintai bantuan menanam padi. Kartaju, Kartaja dan Kartani ikut membantu. Sementara Rangas, Ratan dan Putri Kuning tetap tinggal di rumah. Mereka masih anak-anak. Ratan dan Rangas yang kembar berumur sepuluh tahun, Putri Kuning delapan tahun.

Sebelum berangkat ke ladang. Puyang Dulu memberi peringatan dan nasihat agar jangan bermain di hutan. Banyak hewan buas dan tidak boleh bermain, dihutan Bukit Mendung. Sebab di bukit tersebut ada semacam kekuatan gaib, wujud kato. Yang dapat merubah perkataan seseorang menjadi kenyataan.

“Rangas, Rattan dan Kuning, ingat pesan Bak.” Kata Puyang Dulu, dan ketiganya mengiakan.

Karena kita semua tahu kalau anak-anak suka berkata-kata hayalan. Nanti mereka berkata-kata yang aneh-aneh. Dikhawatirkan mereka akan berubah sesuai apa yang mereka katakan. Ketiganya mematuhi nasihat sang ayah.

Berbulan-bulan telah berlalu kemudian. Sekarang masanya panen menuai padi di ladang. Kali ini, istri Puyang Dulu juga yang memperingatkan lagi ketiga anak-anaknya.

 

 

“Rangas dan Ratan, jangan main jauh dari rumah. Ingat jaga adik kalian baik-baik. Ibu pulang agak sore, sebab kita sedang menuai padi. Nanti ibu bawakkan tebuh yang manis.” Kata sang ibu sambil mempersiapkan keranjang yang berisi bekal dan air minum. Ratan dan Rangas tampak gembira sekali mendengar akan dibawakkan tebuh yang manis.

“Ia Ibu. Kami akan menjaga adik terus sampai kapan pun. Walau pun adik menjadi sungai sekalipun masih akan kami jaga, betulkan Koyong.” Jawab Rangas, dengan nada menyakinkan sang ibu. Ratan juga mengiakan sambil memainkan pibang dari kayunya. Terdengar petir menyambar di atas Bukit Mandung setelah Rangas berkata demikian. Istri Puyang Dulu jadi khawatir. Kemudian anak sulungnya Kartaju berkata.

“Cepatlah Bu, nanti hujan. Kita belum sampai ke ladang. Ayah sudah berangkat bersama Kartaja.” Ujarnya.

Mendengar kata-kata Kartaju istri Puyang Dulu kekhawatirannya teralihkan. Mungkin memang hari mau hujan pikirnya. Sepanjang hari itu, istri Puyang Dulu menjadi tidak enak makan. Berkali-kali perkataan Ratan terngiang di telinganya. Waktu berlalu dengan cepat, empat bulan pun telah berlalu.

*****

Rangas, Ratan dan Putri Kuning masih anak-anak. Dunia mereka adalah dunia bermain. Pagi itu, pada awalnya mereka bermain disekitar rumah saja. Tidak ada maksud bermain jauh. Rangas dan Ratan sangat menyayangi Putri Kuning adik bungsu mereka. Mereka bermain kuda-kudaan dan perang-perangan. Putri Kuning selalu menjadi penunggang kuda. Ratan dan Rangas bergantian menjadi kuda-kuda adiknya. Yang tidak menjadi kuda menjadi harimau-harimau, mengejar.

Mereka tertawa dan bergembira ria. Karena asik bermain mereka lupa sudah berada di pinggir hutan di kaki Bukit Mendung. Si belang yang selalu ikut mereka bertiga, tampak berlompatan kesana kemari. Seakan juga ikut bermain. Sesampai di kaki bukit mereka menemukan seekor anak napu yang cantik dan jinak.

“Napu kecil, jangan lari.” Ujar Kuning, dia kemudian mengejar terus. Ratan dan Rangas ikut mengejar anak napu itu, sekaligus menjaga adik mereka.

“Tangkap, Tangkap.” Teriak mereka dengan riangnya.

Tanpa sadar mereka tiba di atas Bukit Mandung. Karena sudah lama bermain mereka kelelahan dan beristirahat. Rangas merasa sangat haus sekali. Menyesal mereka tidak membawa air minum, katanya. Kemudian mereka bertiga istirahat sambil berbincang-bincang.

“Dimana ada air, Aku haus sekali sekali.” Kata Rangas sambil berkipas-kipas. Dia berkata berceloteh saja.

“Mana ada air, inikan bukit. Air ada di sungai. Sungai pasti ada di bawah bukit." Jawab Ratan.

“Biarlah Kuning yang menjadi sungai. Biar kakak bisa minum sepuasnya. Huppp..hupp..hupp.” Canda Putri Kuning dengan manja. Dia seakan-akan menimbah air lalu dia berikan pada Rangas. Putri Kuning melepas gelangnya lalu dia lemparkan supaya si Belang bermain. Maka si Belang melompat mengejar gelang yang di lempar Putri Kuning.

“Mana bisah jadi sungai. Jadi anak nakal adik Kuning yang bisa.” Kata Rangas menggoda Putri Kuning. Putri Kuning tertawa riang. Dia berkilah kalau dia tidak nakal, lalu melanjutkan.

“Bisa saja Koyong, kalau sang pencipta berkehendak.” Jawab Putri Kuning lembut. Dia masih anak-anak sehingga kata-katanya semua hanyalah hayalan saja.

“Ialah, ialah. Bungsu dilawan.” Kata Rangas. Lalu dia memegang dua kupingnya dan menjulurkan lidahnya. Putri Kuning menjadi tertawa gembira.

“Pulang saja kita, nanti ibu sudah pulang, pasti marahlah dia.” Kata Ratan.

 

“Aku nak digendong, Kuning capek.” Kata Putri Kuning manja.

 

 

Begitulah percakapan kakak beradik yang sudah melanggar larangan ayah dan ibunya. Dimana mereka tidak boleh bermain jauh dari rumah. Juga tidak boleh bermain di atas Bukit Mandung yang ada kekuatan gaib yang dapat mengubah apa saja yang diucapkan manusia. Alasan Puyan Dulu melarang karena mereka masih anak-anak. Anak-anak suka berkata-kata sesuai hayalan dan permainan. Mereka ingin berubah apa saja sesuai hayalannya. Takutnya kekuatan gaib itu benar-benar mengubah diri mereka sesuai kata-kata mereka.

*****

“Wuussss. Wussss.” Tiba-tiba angin bertiup kencang menderu-deru, menggoyangkan pepohonan dan menerbangkan daun-daun kering. Ketiga kakak beradik menjadi takut, bangkit berdiri memulai berjalan pulang. Langkah ketiganya terhenti saat petir menyambar keras, disertai hujan deras yang berkabut.

“Kuning. Kuninggg.” Rangas dan Ratan memanggil-manggil, diantara hujan deras. Beberapa waktu kemudian hujan mulai redah, langit pun mulai cerah.

Mereka terkejut ketika melihat dari dalam tanah keluar air berwarna kuning. Tepat dimana Putri Kuning berdiri tadi. Tanah sekitar itu bergetar-getar seperti ada sesuatu yang bergerak dari dalam tanah. Lalu air dengan deras mengalir memancar. Kucing mereka mengeong-ngeong tiada henti. Dari mata air itu kemudian hanyut baju Putri Kuning. Maka menangislah Ratan dan Rangas. Teringat akan pesan ayahnya. Jangan bermain diatas Bukit Mendung.

Ratan mengambil baju Putri Kuning dan dia peluk sambil menangis. Mereka menyesal telah melanggar perintah ayah dan ibunya. Sekarang mereka berpikir bagaimana menghadapi ayah dan ibunya. Tapi kemudian Rangas berkata.

 

 

“Kita sudah berjanji pada ibu. Kalau kita akan tetap menjaga adik walau pun dia menjadi sungai sekalipun.

“Benar, kita harus menepati janji. Kasihan adik Kuning sendiri di sini.” Jawab Rangas. Kemudian keduanya meletakkan pakaian Putri Kuning di dekat mata air berwarna kuning yang terus membesar dengan cepat itu. Lalu Ratan dan Rangas duduk di sisi mata air itu. Lalu mereka berkata bersamaan.

“Wahai sang pencipta. Sungguh kuasamu segalahnya. Kami hambamu hanya menerimah dengan relah. Janji kami pada ibu harus ditepati. Jadikan kami penjaga adik. Penjaga adik sepanjang masa. Sampai akhir umur dunia.” Kata mereka berdua. Lalu mereka bernyanyi. Diiringi suara petir dan kilat. Hujan lebat seketika dan kembali Bukit Mendung diselimuti kabut.

“Ratan dan Rangas kakak beradik.

 “Kakak kembar Putri Kuning.

 “Biar bagai mana tetap adik beradik.

"Saudara tak terpisahkan jua.

 “Penjaga adik Putri Kuning.

 “Adik bungsu yang manja.

 “Adik kecil yang disayang.

 “Ayah dan ibu maafkan kami.

 “Kakak-kakak selamat tinggal.


Mereka bernyanyi berulang-ulang. Nyanyian menghilang saat kabut juga menghilang. Di tempat duduk Ratan dan Rangas telah tumbuh sebatang pohon yang tumbuh cepat secara ajaib. Kemudian ada semacam tumbuhan merambat berduri melingkari pohon itu. Di dahan pohon itu tersangkut baju Rangas. Sedangkan tumbuhan merambat yang membelit pohon tergantung baju Ratan. Si Belang mengeong-eong beberapa kali. Lalu pulang ke rumah, berlari cepat menuruni Bukit Mandung.

*****

Sementara itu, di rumah mereka. Ayah, ibu, dan kakak-kakak mereka sibuk mencari. Bertanya pada warga Talang satu persatu. Namun tidak ada yang tahu. Ada yang bilang terakhir melihat mereka bertiga bermain kuda-kudaan di samping rumah. Tapi kemudian menghilang dan entah kemana. Puyang Dulu dan Istrinya menjadi khawatir kalau anak-anaknya bermain keatas bukit. Tapi mereka mencoba berharap yang terbaik. Warga berkumpul dan menyarankan untuk mencari bersama-sama.

Dalam panik itu, si belang mereka pulang. Ada gelang rotan milik Putri Kuning di mulutnya. Kartani langsung menggendong si belang kesayangannya. Lalu dia mengambil gelang itu dari mulut kucingnya. Mereka mengenali kalau itu gelang milik Putri Kuning. Setelah gelang diambil dari mulut si belang. Kucing itu, mengeong-ngeong terus dan gelisa.

Kemudian si Belang melompat dari pangkuan Kartani. Lalu berlari ke arah Bukit Mendung. Berhenti dan menoleh ke Puyang Pendape dan Istrinya, lalu menoleh ke Kartani, Kartaju, dan Kartaja bergantian. Si Belang mengeong kembali dengan keras. Si Belang memberi isyarat agar mengikutinya. Maka, Kartani dan keluarganya mengikuti si Belang dari belakang. Warga juga mengiringi mereka ke Bukit Mendung. Dari jauh mereka telah mendengar suara gemericik deras air mengalir. Aneh dan ajaib, ada aliran air dari atas bukit, pikir mereka. Padahal dahulu tidak ada sungai.

Beberapa saat kemudian, sampailah mereka di dekat mata air berwarna kuning, dan pohon yang dilingkari tumbuhan merambat berduri. Berkat petunjuk si Belang. Mereka menemukan tempat Rangas, Ratan, dan Putri Kuning berada tadi. Ada baju Putri Kuning tergeletak di dekat mata air.

Baju Ratan tergantung di tumbuhan melingkar berduri. Sedangkan baju Rangas menggantung di dahan pohon. Maka mengertilah Puyang Dulu, Istrinya, dan semuanya kalau ketiga anaknya itu telah berubah. Menjelma menjadi mata air besar itu, menjadi pohon dan menjadi tumbuhan merambat. Istri Puyang Dulu teringat kata-kata Rangas yang lalu. "Ibu, kami akan selalu menjaga adik, walaupun dia menjadi sungai sekalipun."

Istri Puyang Dulu menangis sepanjang hidupnya. Dia sering berada di dekat mata air, duduk bersandar pada  batang Pohon Rangas, dan memelihara tumbuhan merambat Ratan. Kelak, pohon Rengas dan Pohon Rotan adalah dua tanaman penjaga sungai.

*****

Suatu malam Puyang Dulu bermimpi bertemu dengan ketiga anak-anaknya. Mereka meminta maaf karena telah melanggar larangan ayahnya. Kelak dihari akhir kita akan bertemu lagi ayah, kata mereka.

Sementara itu, gemuruh aliran air yang semakin deras terdengar dari Talang mereka. Derasnya arus air terus menerus mengikis tanah dan merobohkan pohon-pohon dan menghanyutkan apa yang diterpanya. Aliran terus menerus ke hilir dan membuat semacam parit panjang.

Mata air yang terus menerus mengalir dan membesar itu. Dalam waktu lima tahun saja menjadi sebuah sungai besar. Sampailah aliran itu ke tebing Sungai Musi. Karena air sungai baru itu berwarna kuning mirip air yang keruh. Maka orang Talang Mendung menamakannya, Sungai Keruh. Pohon jelmaan Rangas mereka namakan Pohon Rangas. Sedangkan tumbuhan merambat yang melingkari Pohon Rengas mereka namakan Ratan.

Lama kelamaan menjadi Rangas bergeser menjadi Rengas. Kata Ratan pun bergeser menjadi Rotan. Pohon Rengas menciptakan akar yang besar bergulung-gulung disertai gambut kecil. Sehingga tebing sungai menjadi kuat. Selain itu, akar-akarnya menjadi sarang ikan, labi-labi, udang, kepiting, keong dan siput. Akar rotan yang tumbuh berumpun juga demikian menguatkan tebing sungai.

Pohon rengas berkembang biak dengan buah. Buah pohon rengas akan masak pada musim banjir. Kemudian buah-buah jatuh ke air. Kemudian hanyut terbawa kemana-mana oleh arus air banjir. Lalu buah rengas akan terdampar dimana saja. Disekitar banjiran, atau tebing sungai, rawa-rawa dan lainnya, tumbuh. Tersebarlah pohon rengas di bumi. Begitu juga pohon rotan berkembang biak dengan biji, juga tersebar seperti buah pohon rengas. Biji-biji rotan oleh manusia dan hewan pemakan buah. Dapat kita saksikan disepanjang tebing sungai, rawa-rawa hampir selalu ada tumbuhan rotan.

*****

Sungai Keruh, Pohon Rengas dan Rotan adalah jelmaan anak Puyang Dulu. Sehingga Puyang Dulu kemudian bersumpah atas nama Penguasa Alam.

“Barang siapa dari anak manusia atau anak cucuku, yang meracuni sungai-sungai, terutama meracuni Sungai Keruh. Menangkap ikan dengan cara tidak dibenarkan hukum. Menebang pohon rengas tanpa alasan yang baik. Seperti untuk bisnis, membuat rumah, serakah saat berladang. Maka aku sumpahi kehidupannya tidak akan menjadi orang berhasil dan hidupnya tidak akan pernah damai.” Kata Puyang Dulu sambil mencabut pibang saktinya. Kemudian terdengar kilat dan petir pertanda kekuatan gaib diatas Bukit Mendung menyetujui.

Dari sumpah Puyang Dulu tersebut, kalau diperhatiak keadaan sekarang memang terbukti. Banyak anak-anak orang yang menyukai meracuni sungai. Atau orang-orang yang menebang pohon rengas. Memusnakan rumpun rotan di tebing sungai. Menangkapa ikan dengan cara tidak baik (setrum). Mereka semua sering mendapat musibah di dalam kehidupan keluarga mereka. Seperti orang tuanya terkena penyakit, kehidupannya hanya begitu-begitu saja dan hidup dalam kemiskinan.

*****

Untuk mengobati kerinduannya Puyang Dulu suka berperahu menyusuri Sungai Keruh. Ditemani anak-anak laki-lakinya. Kadang Kartaju, terkadang Kartaja. Dia bahagia melihat Pohon Rengas dan Pohon Rotan yang tumbuh subur. Suatu hari dia berperahu kehilir ditemani oleh Kertaju. Juga diikuti beberapa tetangganya.

Puyang Dulu merasa capek dan pusing. Maka mendaratlah mereka ke daratan, untuk beristirahat. Maklumlah Puyang Sekarang sudah tua renta. Perahu ditambatkan dan mereka berkemah di sana. Ternyata sakit Puyang Dulu bertambah parah. Kemudian Puyang Dulu meninggal dunia. Jasad beliau dimakamkan tidak jauh dari tebing Sungai Keruh.

Entah apa yang terjadi, makam Puyang Dulu tumbuh meninggi. Sehingga menyerupai tanah tumbuh. Kartaju akhirnya pindah ke dekat makam Puyang Dulu bersama keluarganya. Kelak tempat mereka menjadi sebuah talang. Oleh orang-orang dinakan Talang Kartaju karena dia yang pertama membuka Talang. Kartaju pun juga menjadi Datu di Kartaju. Untu mengenang ayahnya Datu Kartaju setiap tahun mengadakan sedekah.

Kartaju mengundang semua penduduk yang tinggal di sepanjang aliran Sungai Keruh. Sehingga semua datang bersama-sama dan ramailah acara sedekahan Kartaju. Penduduk zaman dahulu kalau datang ke tempat hajatan orang selalu membawa banyak makanan. Dari waktu ke waktu kebiasaan itu terbentuk, dan dikenal dengan Sedekah Rami. Sampai sekarang sedekah rami masih dilaksanakan masyarakat di Desa Kertayu dan dikunjungi oleh masyarakat di Kecamatan Sungai Keruh.

“Mari kita jaga pohon rengas, rotan dan pohon-pohon yang berada di tebing sungai agar terhindar dari sumpah Puyang Dulu.” Kata orang tua-tua dahulu.


Oleh. Joni Apero.
Editor. Selita. S. Pd.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang,   November 2019.
Sumber cerita rakyat: Di sarikan dari cerita-cerita orang tua di Kecamatan Sungai Keruh, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.
Sy. Apero Fublic

6 comments:

  1. Ceritanya di luar sejarah , Puyang dulu dan talang mandung berdirinya pun baru berasal dari orang pagar Kaye.jadi intinya cerita ini di luar alur..

    ReplyDelete
  2. Boleh lh karangan cerita dongengnya walaupun berbeda tapi tetap aq hargai sebagai warga kertayu.

    ReplyDelete
  3. Sebenar nya cerita itu agak ngeyel si soal nya puyang dulu itu berada di kertayu, itu di berada di talang mandung,terus juga setau saya talang mandung itu idak ada bukut nya

    ReplyDelete
  4. Dongeng yg bagus baik untuk pelajaran Dan edukasi social..

    ReplyDelete
  5. Sebelumnya Aku Perna Dengar Dari nenek cerita hikayat Atau andai-andai ini...

    ReplyDelete