Requiem Ego: Kita yang Mati di Tangan Waktu Dulu, kau adalah ketukan yang paling kubenci, Mengetuk gerbang hatiku yang angkuh dan buta. Dua setengah tah…
Di Ujung Penantian Ada yang tak sempat menjadi nyata Ada yang berubah sebelum sempat kupahami Aku belajar bahwa harapan tak selalu berujung temu Dan ket…
Dok. Penulis Pelan-Pelan, Kita Sedang Berusaha “Tentang mental health dan proses menerima diri” APERO FUBLIC I SASTRA KITA .- Aku pernah berfikir tentang baga…
ILUSTRASI: Oleh Penulis “ Hidup Harus Tetap Berjalan Meskipun Kamu Sendirian ” APERO FUBLIC I SASTRA KITA .- Malam ditemanin cahaya kehidupan yang sesungguhnya,…
Pada Seragam yang Kupanggil dalam Doa Warnamu memikat setiap insan manusia. Melihatmu seperti menatap langit yang luas tanpa awan. Tidak mudah bagi manu…
Menjemput Masa Depan Ketika kakiku pertama kali belajar melangkah, aku masih terlalu kecil untuk memahami apa pun. Tangis jadi caraku bicara, tawa datan…
Perjalanan 365 Hari dan Teramini Tiga ratus enam puluh lima hari bukan waktu yang sebentar. Ada banyak hal yang kupelajari tanpa benar-benar siap. Aku memaksa diri …