e-Antologi Puisi Pangeran Ilalang I


Dalam antologi puisi ini memuat tentang cerita perasaan jiwa yang sedang mencari jalan hidup. Pangeran ilalang adalah julukan seorang anak muda di sebuah dongeng orang Melayu yang memotivasi orang-orang untuk giat belajar dan menuntut ilmu. Namun dalam perjalanannya menuntut ilmu ia menempuh banyak rintangan dan halangan, serta penderitaan hidup.

Dia di juluki Pangeran Ilalang sebab dia berasal dari sebuah daerah pedalaman dimana rumahnya terletak di sebuah bukit yang gersang dan ditumbuhi ilalang. Pada zaman dahulu padang ialalng tidak ada gunanya bagi masyarakat, sebab hutan subur masih banyak. Si Pangeran dalam menghibur hatinya sering menulis puisi di bukit ilalang yang mengenang akan kepahitan hidupnya.

Namun suatu hari ia tergerak untuk belajar di sebuah rumah seorang guru, disana yang belajar hanyalah anak para bangsawan. Sang guru menerima dengan baik, tetapi si murid-murid yang sombong karena merasa terhormat, menghinanya. Sehingga ia harus duduk terpisah dari murid-murid lain. Walau demikian ia tetap belajar dan belajar sampai ia menguasai semua ilmu sang guru.

Sedangkan ilalang hanyalah tumbuhan yang tidak begitu berguna dalam penilaian orang. Namun filosofi ilalang melekat juga pada si pemuda. Walau ilalang hanya sejenis gulma, tetapi dedaunannya dapat di buat atap gubuk orang miskin. Dedaunanya juga dapat dijadikan makanan ternak, sedangkan dalam lebatnya dedaunan dan sumbu-sumbunya yang tajam tumbuh dan berkembang unggas-unggas dan hewan yang kecil.

Ketika terbakar abunya dapat menjadi penyubur tanah, kemudian dedaunannya tumbuh kembali dan menjadi makanan rusa, kijang, dan kancil. Ilalang adalah tumbuhan yang gemulai dan lembut, tetapi apakah ia roboh karena angin deras, sementara pepohonan yang kaut jarang mampu bertahan dengan angin yang deras. Ilalang apakah ia mati karena terbakar, kemarau, tidak. Dengan perlahan ia tumbuh dan bertahan hidup. Begitulah kiranya si penyair yang memiliki mimpi dan cita-cita.

             (1)
AKU TAK KEMANA

Aku tak kemana
Karena hari sedang hujan
Aku berteduh di bawah atap
Duduk menghitung tetesan
Yang jatuh di teratak atap

Aku tak kemana
Karena hari sudah gelap
Tiada cahaya di hutan ini
Karena kabut yang tebal
Juga jalan yang licin

Aku tak kemana
Karena jiwa terkurung
Terkurung rindu
Terkurung Cinta

Aku tak kemana                       
Disini hujan tak reda-reda.

Oleh: Joni Apero
Palembang 4 Sepetember 2018

        (2)
SURAT RINDU

Kau disana jauh sekali  
 Bukan hanya jauh oleh jarak
Tapi terpisah juga oleh retak
Ada kesilapan yang terjadi
Ada keteledoran yang ku buat

Kini semua bagai berdinding
Lebih kokoh dari tembok cina
Membentang di bumi yang berbeda
Padang gurun, dan kutub es
Berbisik aku diangin malam
Bercerita aku di senja yang redup
Aku rindu, kata ku
Aku merindukan-Nya.

Aku tulis surat-surat dengan pena asmara
Aku kuas tinta cinta di dalam kalbu Ku.
Bergoreskan nama mu
Bertuliskan puja-puja kasih
Aku hendak mengirim surat ini
Ku ceritakan tentang rintih dan siksa rindu
Kemana alamat mu,
Yang kutuju hatimu, Milik siapa?

OH. wahai tuhan, aku bermohon
Dikala malam-malam larut
Dapatkah aku bertemu kembali
Menjadi satu, dalam cinta
Mengulang saat bersama mu.

Merpati..Merpati Pos
Aku berkirim surat rindu
Sampaikan padanya di kala malam
Sebab aku merindukan
Saat mata hendak terpejam

Merindu, bukan kekasiku
Mencinta dalam kalbu ku
Mengenang masa itu
Benar, aku mencintaimu

Kemana
Surat rindu yang tak beralamat.

Oleh: Joni Apero
Palembang, 27 Oktober 2018.

         (3)
TANYA JIWAKU

Tanya jiwaku pada semesta
Pada waktu dimana, tak ku kenal
Siapa aku, kemana aku, Apa yang aku cari.
Ditengah kepanaan dunia
Hidup yang singkat ini

Hitam awan yang menggantung
Seisi gelap dalam waktu, malam kah?
Apa mungkin gerhana begitu lama.
Secerca kelip bintang aku nanti
Dalam kabut waktu yang hitam
Di rintik waktu senja
Menyapa sendu seluruh nasip

Wahai malam kapan aku tertawa
Wahai gelap dimana jalan ku
Buta dalam sengsara,
Terpejam dalam nestapa
Aku tidak mengerti hidup ini
Kusam dalam seribu duka

Sedilah bilakah hidup ini, Sepanjang zaman
Kemana jua, aku mengadu.
Akan nasip, akan coba
Mampukah malam hitam menjawab
Bisikan jiwa yang menaran
Aku, aku kemana?

Kadang menangis, kadang menjerit
Sesering mungkin, dengan rintih-rinti ku
Ya Allah, jawablah tanya jiwaku
Hanaya padamu aku mengharap
Segala jalan
Lelah aku mencari
Mungkin aku kalah.

Oleh: Joni Apero
Palembang, 15 Juni 2016

                 (4)
RINTIHAN TENGAH MALAM

Hidup itu begitu kerasnya.
Lebih keras dari karang-karang
Terasa pahit sekali rasanya
Kadang, aku ingin berhenti dan menyerah
Dimana jalan damai itu

Aku ingin berlari ke ujung lorong hitam
Hingga aku hilang dalam kegelapan
Aku akan pergi ke laut lepas
Lalu aku tenggelam di dalam ombak
Tiada akan aku kembali ke permukaan
Dunia tidak adil.
Tiada yang peduli
Tiada yang mengerti.

Mereka hanya mempermainkan
Mereka hanya memanfaatkan
Ramai namun sepi
Selepas genggaman air
Serupa angin lalu

Ingin aku kedunia sepi
Dimana hanya aku sendiri
Tanpa hati, tanpa harapan, tanpa kenangan
Lalu aku pejamkan mataku.
Dalam tidur yang panjang.

Oleh: Joni Apero
Palembang, Selasa 20 Agustus 2017.

             (5)
PANGERAN ILALANG  I

Akulah pangeran ilalang
Tumbuh di bukit yang gersang
Daun ku lunglai,
Terombang ambing diterpa angin.
Rapu terinjak, di bawa langkah-langkah mereka
Si sombong, si angkuh, Para penjilat.
Sering, Selalu, Selamanya
Remuk dan patah tubuh ku.
Aku tak kalah

Aku pangeran ilalang, bisu dan sepi.
Aku tidaklah keren
Seperti mereka-mereka
Tiadalah pulah yang dibanggakan
Siapapun akan malu bersamaku
Buruk, sederhana diriku
Tidak seperti pangeran bintang
Mereka berkelip dalam gemilang
Semua mata menyapa senang.
Menyanjung dan memuji
Menjadi impian semua bungah-bungah

Kadang begitu sakit di hati
Selalu pilu dalam kenangan.
Redam dalam putih meratap
Aku rendah dan lemah
Siapalah aku yang berbau ini.

Tiada pantas aku mencinta
Siapa yang sudi.
Aku pangeran ilalang yang rapu
Maafkan lah.
Yang telah mencintai mu.
Yang tidak tahu malu.
Maafkan aku.
Ketulusan bukan jaminan mencintai
Diam tertunduk
Itulah diriku

Jangan tanya kenapa aku kalah
Karena aku tiada daya.
Lembut, lunglai dipermainkan angin.
Akulah pangeran ilalang.
Akan hilang terlalap api
Hitam, debu, abu, dan rapu.
Hilang tertimpa hujan
Lenyap tersapu oleh angin.
Namun aku, akan tumbuh kembali.

Oleh: Joni Apero
Palembang, Rabu 7 Juni 2017.
 
               (6)
PANGERAN ILALANG II

Akulah ialalang
Yang tumbuh di bukit tandus
Daun ku melambai tersapu angin.
Bungah yang kuncup memutih
Sirip daun tajam, menggores.

Aku tak seindah mawar
Tak seharum melati
Tidak juga menawan sehampar taman bungah
Aku ilalang, hanyalah sahabat semak-semak

Tetapi
Daunku menjadi atap gubuk yang reot
Meneduhi keluarga miskin itu
Daunku yang muda, setelah dibabat
Menjadi makanan mamalia hutan
Daun ku yang mati, menjadi sarang burung-burung
Burung puyu, menjadikan padangku rumahnya

Aku adalah ilalang
Sumbuhku hanya menyengat sekali
Tidak merobek, hanya memperingatkan
Beralas kakilah agara tak terluka.

Akulah ilalang
Pangeran di bukit tandus
Menyapa mu, yang menawan.
Adakah manfaatmu di bumi?
Jangan bilang kalau kerusakan.

Oleh: Joni Apero
Palembang, 27 Oktober 2018.

           (7)
MATA CINTA KU

Ada mata yang begitu ingin dimengerti.
Tersirat dari tajamnya sinar mata.
Mata yang sayu dengan polos.
Tak dapat dikira dalamnya.
Merunduk, berpaling, sembunyikan harapan.
Tiada jarang memercik air mata

Adu, betapa rendahnya aku.
Pedih sakit yang tertahan.
Dalam kalbunya yang dalam
Sepanjang waktu dia kalah
Tiada pula yang mahu perduli.

Mata ku, Mata hatiku.
Menyimpan cinta yang putih.
Serunai harapan tertiup.
Namun itu, seperti mimpi.
Mata polos itu menangis.
Sadar ia akan dirinya,
Tiadalah berharga kiranya.

Harapan tinggal harapan.
Dalam tangis hatinya.
Mencintai hanya sebatas mata.
Mata polos ingin dimengerti
Menyimpan sejuta misteri
Menanti keajaiban cinta.

Oleh: Joni Apero
Palembang, Sabtu 3 Juni 2017.

                   (8)
SEBUAH PANDANGAN TAJAM

Bila-bila bambu runcing
Pernah menggetarkan dunia
Bergerak rakyat Indonesia
Menyapu penjajah yang durjana
Berkilat mata bagai mata elang
Berkedip menerjang

Tak tahu engkau
Saat terlahir, masih merah kulit
Belum membuka mata, belum berlari kaki.
Kasih mereka berbunga-berbua.
Terselip doa mereka, dihati kecil
Bangga akan putra

Doa ayah dan ibu tercinta
Dulu itu, menggema
Untuk putra kebanggaan mereka
Doa mereka itu bagai sebilah pedang panglima
Menjerit di medan perang
Bukan sebuah kemenangan
Tetapi seberapa besar perjuangan

Kelak bumi menelan jasad
Maka bakhtilah yang tepat
Agar tiada sia-sia ibu melahirkan
Juga tiada sia-sia ayah membesarkan
Doa mereka bila aku besar nanti
Agar berguna untuk bangsa dan agama.

Akulah sebilah pedang sekarang
Menebas ketidak jujuran
Hancurkan keburukan
Jayakan negeri
Jangan tanyakan siapa aku
Aku si mata tajam
Menusuk jantung-jantung
Merobek jiwa-jiwa
Kan ku ukir langit, dengan namaku
Bukan hanya di nisan
Boleh aku sesumbar
Untuk sebuah cinta-cita.

Oleh. Joni Apero
Palembang, 28 Oktober 2018

            (9)
BADAI NEGERI KU

Banyak cerita negeri-negeri
Bertahta mahkota raja-raja
Mengalir cerita zaman
Dan ramailah di sudut negeri

Kisah akan terhenti
Cerita akan berakhir
Sejarah tinggalkan kenangan
Negeri-negeri jua tenggelam
Dan bumi dalam kegelapan

Tiada satu cahaya penerang
Dan tiadalah satu kejayaan
Hancur jua ditelan zaman
Peradaban bukan bangunan gedung-gedung
Peradaban hanya ada di dalam
Ilmu pengetahuan,
Kebudayaan,
Agama,

Disinilah kita membangun
Agar tercapai kejayaan negeri
Damai dunia, damai sejahtera
Pengetahuan penuntun dan penerang
Kebudayaan adab dan etika
Agama adalah moral
hendaklah kita semua sadari
Mari bangun negeri.

Oleh: Joni Apero
Palembang, 29 Oktober 2018.

                 (10)
TERKESAN AKAN ENGKAU

Duh, lindungi aku bening
Tutup kelopak mataku
Dari serpihan ciptaan Tuhan
Berpijar bagai bungah api
Berdenyut bagai tersengat lebah
Mengapa berdebar jantung.
Mega-mega sore.

Lembut tutur kata mu, Sejuk
Merdu kata, beribu irama, Dingin
Ada aurah gerak,
Bagai mantra-mantra, Penyihir.
Mengalah jua aku, mereka-mereka pula
Tunduk dan turut perkataan mu
Bagai ditarik seribu magnet
Mempersembahkan diri untuk mu

Dik, Aku terkesan akan engkau
Bukan kerling mata tajam.
Tetapi lembut malu, berbudi dan berakhlak.
Takkan mampu aku bertahan
Dalam buai asmara
Sejuk dan tenang, tercukupkan semua.
Di dekat mu.

Dik, aku terkesan akan engkau
Kau curi tidur ku, kau rampas mimpi-mimpi
Di bola mataku, kau bersarang
Dihatiku kau tinggal
Menggeserlah sedikit jiwa
Meraung dalam jerit-jerit rindu
Memelas, tersihir dalam kutuk cinta

Dik aku terkesan, akan engkau
Maukah engkau sedikit berbaik padaku
Padamkan api di dadaku
Siram. Siramlah dengan mulia mu
Aku terjerat oleh elok mu

Dik, aku terkesan
Akan engkau.
Sudilah berbaik kepada ku

Oleh: Joni Apero
Palembang, 27 Oktober 2018.

               (11)
MASA YANG BERLALU

Wahai masa yang berlalu.
Tiada namun ada.
Tak terlihat namun mengikuti.
Dalam kenangan yang panjang.
Mengulang dalam ingatan

Pedih dalam kaca bayangan
Memantul dalam jiwa.
Bilakah menetap, andaikan mengulang
Pahit-pahit terasa
Luka-luka selalu menyayat
Cinta yang akan selalu ada.

Wahai masa yang berlalu
Izinkan aku melupakan.
Lepaskan aku dari ikatan.
Biarkan aku pergi dalam amnesia.

Luka-luka dan kecewa
Mengenang dan mengulang
Airmata dan kesedihan
Hadir dalam sepi
Butir-butir kenangan

Wahai masa yang berlalu
Lepaskan aku dari mu.
Aku ingin lupa
Lupa akan engkau, dia, dirimu, dan semunya.
Lupa akan hidup ku yang pahit

Wahai masa yang berlalu
Lepaskan aku

Agar tiada air mata.
Tiada penyesalan.
Agar tidak aku tahu betapa malangnya nasip.

Oleh: Joni Apero
Palembang 12 Juni 2016.


   (12)
KARAM

Berdayung, di sungai yang biru
Gelombang dan ombak,
Begitupun arus yang kuat.
Perahu, yang tak beratap
Hujan, panas menerpa sudah.
Mencoba dayungkan perahu ini.
Ratalah dalam sadar, Menyadari.
Mungkinkah sampai di seberang
Lemas hati meratap.
Sakit yang sekian menjumpai diri ini.
Alangkah pedih dalam langkah cinta
Adakah untuk diri ini
Seulas senyum dan air mata.

Nan, cerah di pantai
Mendung menggantung di gunung
Hujanlah, kiranya sampai di muara
Rindu aku ciduk airmu.
Nmaun tak sampai jua perahu ini
Tenggelam sudah impian.
Merajut aku dalam sepi
Mengenang perahu yang pergi
Karam.

Oleh: Joni Apero
Palembang 2 Mei 2016.

            (13)
WAJAH SI MALANG

Seraut lukisan tinta hitam
Bertulis di kertas ratapan
Sepandang oleh keterbukaan.
Kanfas cair oleh air mata.
Terlukislah wajah si malang.

Mata dan wajah ini,
Telah merekan jejak yang panjang.
Namun rekaman ini hanyalah kepedihan mendalam.
Kelelahan dalam penderitaan yang panjang.
Kesepian di sepanjang waktu.
Lukisan dengan air mata, tiada yang tahu.
Ketidak adilan dunia menjadi miliknya.
Malu dan luka itu biasa,
Perih dan pedih menyapa.
Tamparan duka menyakitkan, berdarah.
Wajah yang muram ini tersenyum.
Tersenyum di balik kemuraman senja waktu

Terpejam mata yang sayu,
Di bawa alis yang kokoh.
Itu sakit, itu nestapa.
Sudikah sebuah tangan membelainya.
Hingga tercerahlah walau sejenak.
Tertunduk di sini, dalam malu dan takut.
Takut bersembunyi di balik kenyataan.
Wajah si malang, bertopeng keceriaan.
Walau jauh memendam kegundahan.

Wajahnya kan terpandang.
Hilang di balik malam yang gelap.
Tertidur di masa waktu, mimpi buruk.
Menyendiri dalam tangisan sejadinya.
Wajah si malang.
Kan ku tutup dua tangan.
Biarlah.
Menangis di sini saja, Selamanya.

Oleh: Joni Apero
Palembang, Minggu 22 Januari 2017.

          (14)
MATA MU, KASIH.

Birukah samudra yang berombak itu
Menggulung deru-deru badai
Melumat jiwa-jiwa yang tenggelam
Cuaca penyihir merapal mantra badai
Sehingga, mendelik mentari bagai mata langit.

Huummmm.
Sisi mana, dari sudut kau tengok.
Tentu, bidadari tak bersayap

Oh, sepasang mata
Yang menyinari gelap
Bagai cahaya bulan dan bintang
Kau menerpa segenap bumi, segala penjuru.
Nan, rapuh aku yang diterpa jua.
Jatuh, luluh lantak.

Adik,
Sadarkah bila mata mu, seluas samudra, itu.
Berombak dan bergulung-gulung, bagai badai.
Perahu kecil ku, bernama si hati.
Terbanting, terbalik, lalu terbenam dalam samudra mu.
Aku tak daya, tiada kekuatan yang maha.
Sudah kodratnya.
Hanya tenggelam dalam samudra mata mu.

Adik,
Sepasang mata mu itu.
Mengapa begitu tajam.
Cahanya lebih tajam dari mentari,
Pengusir cuaca penyihir
Kau tau, matamu telah menusuk hati ku.
Mata mu telah membelah jantung ku.
Mata mu, telah hipnotis jiwa aku

Adik nan cantik.
Yang berelok disepanjang hidup ku.
Bersua dalam hijab syar,i.
Anggun melantun dalam alunan indah, solehah.
Mohon berbaik hatilah.
Pada jiwa yang malang ini.
Lemparkan pelampung hati mu.
Padaku yang sekarat di samudra.
Agar aku selamat dari samudra mu.
Selamatkanlah, nelayan kehidupan menderita ini.
Memohon kiranya aku, Adik.

Adik kau cahaya.
Jangan biarkan tajamnya mata mu.
Mencekik jantung,
Susa bernafas aku, sesak dada.
Matamu telah menjamah hati ku, jauh.
Bawakan obat-obatan, dan perban.
Rawatlah dengan tangan kasih sayang mu.
Perbankanlah, dengan lembut hati mu.
Kiranya, akan sakit hati ku.
Bila kau, tak menoleh.
Jangan adik, aku memohon, meminta.
Butir air mata, taruhannya.

Adik.
Sepasang mata mu.
Aku rindu.

Oleh: Joni Apero
Palembang, 4 November 2018.


            (15)
TERSAYAT DI SANA

Adu, sesak nafas dan degup jantung ini.
Nadi ku, terhenti berdenyut
Laksana tersambar petir
Lunglai aku dalam hujan.
Berlutut dalam racauan dalam marah ku.
Menentang langit yang penuh huan.

Oh. Badai bergemuru.
Lulu lantak terjangannya.
Bila ini di medan perang.
Tertebaslah dadaku oleh pedang.
Robek baju-baju ku
Luka kulit ku, tersayat pedang
Luka-luka tubuh ku, hati ku.
Inilah.
Dimana aku gugur dan kalah.

Terbaring ragaku, melayang jiwa ku.
Nafas ku terhenti
Mataku memburam
Lemas semua sendi-sendi tubuh ku.
Terbayang akan semua kenangan
Menetes, mengalir air mata ku.
Dalam haru, tetapi pilu

Di ucap bibir bergetar
Ku sebut nama yang tercinta
Maafkan semua kesalahan ku
Satu kata terakhir
Ku bisikan pada bintang yang berkelip
Pada bulan yang separuh
Aku pergi selamanya
Terlepas sudah pedang perjuangan ku
Terlepas juga setangkai bungah untuk mu

Redup dan meredup sinar mata ku.
Sayu dan sayu sinar matanya
Kaku dan mengkaku tubuh ku.
Napas harapan yang terakhir, aku hembuskan
Selamat berpisah dan selamat tinggal
Aku pergi dari kehidupan mu.
Selamanya....

Oleh: Joni Apero
Palembang, Senin, 9 Januari 2017.

                 (16)
Kita Habiskan Kesalahan Ini

Sudah.
Sudah usaikah
Akhir, apa berakhir kisah ini
Sisip kecil dalam campuran biru
Mengenang dalam lingkaran kenangan.
Pupus kata dalam hati yang ranum,
Terkoyak luka-luka.
Laman dan taman, kuntum bunga berguguran
Beserakan sudah.
Layu mengering dan pupus, dalam bekas.
Gumpalan debu-debu.

Sudah.
Akhirkan semua cerita-cerita.
Agar tiada lagi nestapa.
Tiada lagi tangisan-tangisan di hati.
Aku merunduk dalam kerendahan ini.
Dalam kesakitan, pedih juga terasa.
Memang aku seikat iallang yang kering.
Aku kotor bagai dalam kebangan.

Sudah, mari kita sudahi
Tiada sedikit manis,
Tak ada sedikit keindahan.
Tak apa-apa, kita lupakan.

Sudah.
Kita tutup mata.
Tutup telingah, tutup mata.
Akan berlalu jua, yang pernah terjadi itu.
Mari kita sudahi urusan hati.
Agar tiada api dalam sekam.
Maafkan atas kesalahan dan kekhilafan aku
Begitupun aku kiranya, saudara.

Sudah, kita sudahi
Agar tiada penyakit di hati.
Sudah, kita sudahi.

Oleh. Joni Apero
Palembang, 16 Maret 2016.

                (17)
Salahkah Aku Melangkah

Aku menyesali waktu empat tahun berlalu.
Dimana aku dapat hidup di sanah.
Dimana aku dapat tenang sebagai petani biasa.
Dimana telah aku kubur semua cita-cita.
Telah aku siapkan berbidang-bidang tanah.
Aku akan menjadi petani sederhana.
Hidup bersama seseorang yang aku cintai.

Naun aku telah salah memilih sepertinya.
Meninggalakan kenyataan itu.
Aku memilih mencari ilmu.
Mengabaikan cinta darimu yang tulus.
Kenapa aku begitu bodoh.
Mengejar cita-cita yang tiada pasti.

Aku ingin membanguan bangsa ini.
Aku ingin membangun agama ini.
Aku ingin mengabdi pada bangsa dan agama,
Aku ingin menjadi guru bangsa.
Sehingga negeri ini jaya.
Begitupun Islam akan bangkit.
Itulah cita-cita ku.
Karena aku Pangeran Ilalang.

Bumi ini terlalu luas sepertinya.
Sedangkan aku sendiri.
Mana mungkin,
Aku menjadi pemimpin besar.
Aku ragu dan ragu.
Sesal rasanya akan semua ini.
Bila aku rasa sekarang
Daptkah aku menjadi seseorang itu.
Ya Allah, kuatkan hujjah ku.
Beri arah dalam perjuanganku.

Hanya menangis di dalam hatiku.
Begitu sering sesal ku
Mengapa aku berlaku begini.
Sedangkan siapa aku.
Hidup yang begitu singkat.
Sedangkan aku begitu lemah.

Telah aku buang cita-cita ku
Salahkan aku.
Kenangan di 
Pelukannya membayang selalu.
Belum aku temukan penggantimu.
Aku berharap menemukan seseorang.
Yang mengerti perjuanganku.

Akankah sesal berkepanjangan
Dari aku si Pangeran Ilalang.

Oleh. Joni Apero
Palembang, 19 Januari 2017.

           (18)
Seorang Saja. Halal

Biru di langit, biru di laut.
Di langit awan putih.
Di laut gelombang pantai.
Hendak aku pergi jauh.
Di taman bungah yang halal.

Tiadalah banyak kupinta, kuntum.
Cukup satu kuntum, putih.
Tiadalah banyak syaratnya.
Hanya ketulusan dalam petikan.
Bunga, aku pinta dengan sunggu.
Tumbulah di taman hati ini.
Tiada perlu kaya mu, tiadalah guna cantik mu.
Kesetian, dan kesalihaanlah yang terindah.

Baginda Rasullulah bersabda.
Cukup tiga syarakatnya,
Suci, seiman, dan suburnya.
Sempurnalah ia di mata kaum Muslimin.
Seorang saja, Karena untuk ibadah.
Penyempurnah ibadah-ibadah kita.
Kutunggu, aku nanti. Tak sabar kiranya.
Ya, Allah, pertemukan aku dengan si shaleha.

Namun entah siapalah diri ini.
Belum sempurnah, banyak kekurangan jua
Miskin ilmu, miskin harta, tak bertampan wajah.
Hanya berusaha dan berdoa.
Aku berjanji. bilakah nanti.
Lembut kasih, dan cinta sebab Allah.

Seorang saja,
Cukup satu selamanya, dunia dan akhirat.

Oleh. Joni Apero
Palembang, Minggu 15 Desember 2016.

               19.
Salam di Malam

Bersambut biru dan gelap langit malam.
Meretas dalam gugusan bintang.
Menengok, menengada anak semang.
Di pulau sepi nun jauh.
Beriak air tepian, gemericik.
Berlipat-lipat ombak di antara semak-semak bakau.

Lantunan serunai anak gembalah mengalun, pilu.
Selendang putih pun,
Melayang di antara bayang-bayang.
Titipku wahai asmara.
Bukalah kelopak bunga, merekah.
Sehingga berhamburan benang sari.
Terikat di kaki-kaki kumbang.
Terbang terbawa dalam perjalanan.
Sebuah titipan, sebongkah pengharapan.
Tanda aku kenang, dikau.
Rindu, entahpun.
Cinta entahlah.
Hanya aku titip salam.
Di malam-malam berlalu.

Oleh. Joni Apero.
Palembang, 16 Februari 2016.

Catatan:
Yang mau belajar menulis: mari belajar bersama-sama:
Bagi teman-teman yang ingin mengirim atau menyumbangkan karya tulis seperti puisi, pantun, cerpen, cerita pengalaman hidup seperti cerita cinta, catatan mantera, biografi diri sendiri, resep obat tradisional,  quote, artikel, kata-kata mutiara dan sebagainya. Kirim saja ke Apero Fublic. Dengan syarat karya kirimannya hasil tulisan sendiri, dan belum di publikasi di media lain.

Seandainya sudah dipublikasikan diharapkan menyebut sumber. Jangan khawatir hak cipta akan ditulis sesuai nama pengirim. Sertakan nama lengkap, tempat menulis, tanggal dan waktu penulisan, alamat penulis. Jumlah karya tulis tidak terbatas, bebas. Kirimkan lewat email: joni_apero@yahoo.com. idline: Apero FublicwhatsApp: 081367739872. Messenger. Apero fublic. Karya kiriman tanggung jawab sepenuhnya dari pengirim.

By. Apero Fublic