Kampus
Mahasiswi
Pendidikan
Psikologi
Egoisme di Atas Roda: Ketika Bara Rokok Merenggut Hak Kenyamanan Pengguna Jalan
APERO FUBLIC I ESAI.-- Pernahkah Anda berada di situasi ketika sedang berkendara, tiba-tiba mata terasa perih atau pandangan menjadi terganggu akibat abu rokok dari pengendara di depan? Ada rasa ingin
menghindar, tetapi posisi jalanan sedang macet. Ingin menegur, tetapi takut disangka mencari masalah.
Pengalaman kurang menyenangkan ini tampaknya makin sering kita jumpai di jalan raya. Meskipun terkesan sebagai hal yang sepele bagi sebagian orang, kebiasaan merokok sambil berkendara sebenarnya merupakan salah satu bentuk gangguan sosial yang nyata di ruang publik. Jalan raya yang seharusnya menjadi fasilitas bersama yang aman dan nyaman, sering kali berkurang kualitasnya akibat keegoisan beberapa pengguna jalan.
Ilustrasi berkendara sambil merokok.
(Foto: Kompas Otomotif)
Merokok tentu merupakan pilihan dan hak masing-masing individu. Namun, beda
ceritanya ketika aktivitas tersebut dilakukan di atas kendaraan yang sedang melaju. Angin
jalanan yang kencang secara otomatis akan menerbangkan abu dan bara api dari ujung rokok ke arah belakang.
Bara api yang terbang tidak terkendali ini sangat berbahaya jika mengenai wajah atau mata pengendara lain. Mengalami kelilipan abu panas bukan hanya menimbulkan rasa sakit seketika, melainkan juga berisiko memicu hilangnya keseimbangan berkendara yang bisa berakibat pada kecelakaan beruntun.
Lebih dari sekadar risiko fisik, perilaku ini juga mencerminkan mulai pudarnya etika
dalam memanfaatkan ruang publik. Jalan raya yang harusnya menjadi milik bersama, tempat
setiap pengguna memiliki hak yang setara untuk mendapatkan kenyamanan.
Namun, ketika seseorang merokok sambil berkendara, secara tidak langsung mereka memaksa pengendara di belakangnya untuk ikut menghirup asap rokok tersebut. Selain itu, individu yang merokok sambil berkendara pasti konsentrasinya terbagi karena salah satu tangan harus memegang rokok. Padahal, situasi di jalan raya menuntut fokus penuh dan respons yang cepat demi keselamatan diri sendiri serta orang lain.
Aturan hukum yang melarang aktivitas ini sebenarnya sudah ada. Namun sayangnya,
aturan ini sering dianggap angin lalu karena kurangnya kesadaran dari sebagian masyarakat.
Padahal, dampak yang ditimbulkan dari perilaku ini dapat merugikan orang lain dan diri sendiri. Kita tentu berharap adanya kesadaran yang tumbuh dari dalam diri setiap pengendara, bukan sekadar karena takut terhadap sanksi atau denda dari aparat penegak hukum.
Pada akhirnya, bagaimana cara kita bersikap di jalan raya adalah cerminan dari tingkat
kepedulian dan empati kita terhadap sesama. Menunda keinginan merokok sampai tiba di
tempat tujuan, atau memilih untuk menepi sejenak di area yang aman, adalah tindakan bijak yang sangat mulia.
Dengan saling menghormati hak sesama pengguna jalan, kita tidak hanya menjaga kenyamanan bersama, tetapi juga turut memastikan bahwa semua orang bisa pulang ke rumah dalam keadaan sehat dan selamat.
Oleh : Muliana Putri
Mahasiswi UIN Ar Raniry, Fakultas Psikologi, Jurusan Psikologi.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment