10/15/2019

Legenda Asal Mula Bukit Pendape. Musi Banyuasin.

Apero Fublic.- Kisah ini telah tersampaikan turun temurun. Pada masyarakat di Kecamatan Sungai Keruh. Yang berkisah tentang sebuah bukit. Kisah asal muasal Bukit Pendape. Harap dikenang anak cucu di sepanjang zaman. Kisah ini, berawal dari Negeri Melayu Tue (Tua). Tersebutlah sebua negeri tua di kaki bukit barisan dan Gunung Dempo. Negeri yang berkebudayaan sangat tua.

Dikenal dengan nama Peradaban Megalitikum. Itulah negeri pertama orang Melayu. Bukti-bukti sejarah terhampar berupa batu-batu berukir, tempayan kubur batu, lesung batu dan menhir. Kawasan negeri tua itu, sekarang dikenal menjadi beberapa wilayah, yaitu Kotamadia Pagaralam, Kabupaten Lahat, Empat Lawang, Muara Enim, Baturaja dan daerah sekitarnya. Selain itu, para arkeolog banyak menemukan kerangka nenek moyang orang Melayu di dalam Gua Putri di Muara Enim.

Rumah-rumah mereka terbuat dari kayu dan beratap daun rumbia. Ada juga dari sirap bambu dan sirap kayu. Berbentuk mengelompok yang dinamakan Talang (kampung). Talang-Talang itu bersatu menjadi satu kawasan negeri. Namun sayang belum ada nama negeri itu. Kalah itu, negeri tak bernama di pimpin oleh Puyang Penguaso Bukit. Suatu hari dia berpikir tentang nama negerinya.

Lalu dia memanggil para tetua, hulubalang, laskar, dan datu-datu Talang. Bermusyawara tentang nama negeri. Berkatalah Puyang Paniti Bukit, dia seorang Hulubalang negeri itu. “Kami menyerakan nama negeri sesuai yang Puyang ketahui. Sebab Puyang yang memimpin negeri. Semua pun sepakat, kalau nama negeri Puyang Penguaso Bukit yang menamai.

Suatu sore yang cerah, pergilah Puyang Penguaso Bukit berjalan-jalan di sekitar negeri, untuk mencari ilham nama negeri. Tibalah beliau di sekitar hutan belukar. Dimana dikiri kanan jalan terdapat banyak rumput putri malu. Berbunga indah, yang didatangi banyak lebah madu. Tanpa sengaja Puyang terinjak daun-daun rumput Putri Malu, itu.

Saat beliau melihat daun rumput Putri Malu tampak mengkerut tanda malu seperti melayu. Berpikirlah Puyang Punguaso Bukit akan perbedaan daun rumput putri malu, dengan daun tetumbuhan yang lainnya. Kalau daun lain tersentu hanya bergoyang. Tapi daun rumput putri malu malah mengkerut malu. Terpikirlah terus menerus akan daun rumput tersebut.

“Daun yang malu seperti wanita yang pemalu. Hidup memang harus ada malu. Daun itu juga seperti melayu saat disentu. Aku juga sudah tidak sopan menginjak daun-daunnya. Kita harus menghormati semua mahluk hidup. Walaupun itu hanya rumput yang lemah berdahan rendah.

Itulah pikir Puyang Penguaso Bukit. Bagaimana kalau dia namakan negeri dengan Putri Malu. Tapi tidak sesuai sebab negeri bukan hanya untuk wanita. Kemudian kembali mengingat daun yang melayu saat disentu. Maka dia namakan negerinya itu dengan nama Negeri Melayu. Maka dia jelaskan, jadi orang melayu harus pemalu. Terutama wanita maka tutuplah tubuh dengan pantas.

Sehingga sampai sekarang orang Melayu benar-benar beradat menutup aurat. Lelaki Melayu juga harus banyak malu. Malu melecehkan wanita dan malu melanggar hukum negeri. Begitulah kisahnya, sehingga negeri megalitik itu bernama, Negeri Melayu Tua. Beliau pun kemudian dijuluki pula dengan Puyang Melayu. 

Puyang Penguaso Bukit atau Puyang Melayu memiliki ilmu sakti yang bersifat turun temurun. Ilmu warisan keluarga ini hanya boleh diwariskan pada satu orang keturunan saja. Sehingga Puyang Penguaso Bukit memanggil dua anaknya, Pendape dan Marajo.

Puyang Melayu berkata kalau dia ingin mewariskan ilmu Raja Bumi. Ilmu menguasai kekuatan bumi. Pemiliknya tidak dapat dikalahkan. Sebab kalau dia terluka lalu dia tersentuh tanah, lukanya akan sembuh secara ajaib. Pemilik dapat menembus tanah dan berjalan di dalam tanah. Puyang Melayu sudah tua dan hendak mewariskan ilmunya.

Tapi ilmu Rajo Bumi hanya dapat diwariskan pada satu orang saja. Yang akan mewarisi adalah orang yang benar-benar berhati baik dan bersih. Puyang Melayu berkata agar kedua anaknya mendekat duduk bersilah, pejamkan mata dan berkonsentrasi. Sebab ilmu sakti ini akan berpindah sendiri dan mencari tuannya yang cocok.

Kemudian Puyang Melayu memejamkan matanya. Di dalam hatinya dia membaca mantra kesaktiannya. Sementara Pendape dan Marajo duduk bersilah dengan konsentrasi. Dalam waktu setengah jam kemudian. Tiba-tiba angin berhembus kencang. Awan hitam datang dan hujan turun lebat, petir menyambar dan kilat bersabung. Setelah keadaan cuaca tenang, muncul sebuah benda kecil terbang bercahaya dari mulut Puyang Melayu.

Terbang mengitari Pendape dan Marajo. Lama benda kecil bercahaya seperti kunang-kunang itu terbang berputar-putar. Untuk memilih akan masuk kedalam tubuh siapa?. Tenyata ilmu Rajo Bumi memilih Pendape sebagai tuannya. Maka masuklah kedalam tubuh Pendape. Sehingga pendape-lah yang mewarisi ilmu sakti, Rajo Bumi. Atau ilmu penguasa kekuatan bumi.

Marajo sangat tidak menyukai semua itu. Dia sebagai kakak merasa kalah dari adiknya. Memang Marajo orangnya keras dan ambisius. Marajo ternyata diam-diam menyimpan rasa kecewa pada Pendape. Terbayang lima tahun lalu dimana Pendape juga menikah dengan gadis yang dia sukai.

Seorang gadis yang sangat cantik bernama, Putri Daun Pandan anak dari Puyang Basemah. Putri Daun Pandan memang menjadi pujaan bujang-bujang masanya. Hati Marajo sangat sakit dan membenci Pendape. Walau Pendape adalah adik kandungnya sendiri. Suatu hari anak Pendape bertengkar dengan anak Marajo.

Marajo sangat marah sekali dan dia datang melampiaskan kekesalannya pada Pendape dengan alasan itu. Dua hari dua malam mereka berkelahi. Pendape hanya mengimbangi saja kakaknya. Dia tidak bermaksud berkelahi dengan kakaknya. Maka datanglah Puyang Melayu melerai. Namun telah banyak batu hancur dan alam binasa.

Pendape menangkap isyarat lain. Kalau kakaknya membencinya dan tidak menyukainya. Namun dia mencoba bersabar dan mengalah. Puyang Melayu akhirnya tutup usia. Jazadnya dimakamkan di dalam tempayan batu di sebuah bukit. Di dalam tempayang juga dimasukkan bekal kubur, seperti manik-manik, dan lainnya. Begitulah cara-cara orang Melayu zaman megalitikum menguburkan orang mati.

Persembahan juga diletakkan dibarisan menhir. Sebagai penghormatan pada arwah Puyang Melayu. Setelah Puyang Melayu meninggal maka Negeri Melayu kehilangan pemimpin. Dilakukan pemilihan Puyang baru untuk memimpin Negeri Melayu. Para tetua datang berkumpul dan menjelaskan kriteria pemimpin. Yang terkuat menjadi pemimpin dan juga yang dipilih oleh rakyat.

Pendape ingin ikut pemilihan menjadi Puyang Negeri Melayu. Sayembara dan pertarungan diadakan untuk mencari pendekar sejati untuk menjadi Puyang. Tapi Pendape mengurungkan niatnya. Karena Marajo juga ikut mencalonkan diri. Singkat cerita Marajo berhasil mengalahkan semua pesaingnya.

Sehingga rakyat memilihnya menjadi pemimpin Negeri Melayu.  Oleh rakayat, Marajo diberi gelar Puyang Rajo Batu. Sesuai keahliannya mengendalikan batu-batu. Tapi sayang sifat asli Marajo tidak berubah bahkan bertambah angkuh. Menjadi pemimpin membuat Marajo sombong dan semena-mena. Begitupun dengan perlakuannya dengan adiknya, Pendape.

Akhirnya, untuk menghindari pertarungan atau pertumpahan darah bersaudara. Pendape memutuskan pergi dari Negeri Melayu. Dia membawa keluarganya, sekeluarga juga adik iparnya, dan seorang keponakannya yang sudah piatu bernama Serunting (si Pahit Lidah). Ada juga beberapa orang sahabat dan tetangganya yang ikut pindah membangun negeri baru.

Rombongan kecil terdiri dari dua puluh keluarga itu pergi menembus hutan rimba. Oleh pengikut Pendape dia diangkat menjadi pemimpin. Maka dia digelari Puyang Pendape Pancari Negeri. Bukan tampa alasan penduduk itu ikut pergi.

Karena mereka merasa tidak suka dengan kepemimpinan Puyang Rajo Batu atau Marajo yang sombong. Mereka merasa tenang dan aman bersama Puyang Pendape yang berbudi luhur. Pada awalnya Puyang Pendape dan pengikutnya hidup berpindah-pindah. Banyak bertemu dengan masyarakat yang juga masih hidup nomaden kalah itu. Nomaden berarti berpindah-pindah atau mengembara tidak menetap.

Ada yang berkelompok kecil dan besar. Sehingga menjadi banyak pengikut Puyang Pendape. Tidak berhenti disitu, penduduk Negeri Melayu yang telah kecewa dengan kepemimpinan Puyang Marajo banyak yang pergi diam-diam di malam hari menyusul Puyang Pendape Pancari Negeri.
*****
Puyang Pendape Pancari Negeri dengan pengikutnya membuka hutan belantara yang bertanah subur. Adik iparnya Rawas adalah teman setianya. Mereka akan memulai hidup baru. Bermacam jenis pohon besar-besar mereka tebang. Seperti pohon Ulin, Pohon Meranti, Pohon Merbau dan lainnya. Ada sebuah pembangunan Talang terdapat banyak pohon meranti.

Maka dinamakan Talang Meranti, dan talang ini masih ada sampai sekarang. Anak sulung Puyang Pendape juga giat membantu sang ayah dan warganya bekerja. Walau dia anak pemimpin tapi dia tidak sombong dan tidak berpangku tangan. Sehingga bertambah cintalah pengikut Puyang Pendape.

Berbulan-bulan kemudian terbukalah lahan terbentang. Beberapa talang telah didirikan. Untuk sementara waktu rumah-rumah dibangun sederhana dulu. Dinding terbuat dari kulit kayu, ada juga dari bambu. Atap terbuat dari daun rumbia, dan lantai juga terbuat dari bilah-bilah bambu. Maka terbentuklah suatu tempat  kehidupan baru, Negeri Melayu Muda. Sampai sekarang istilah Melayu Muda dan Melayu Tua di pakai dunia akademisi di Asia Tenggara. Karena Puyang Pendape yang memimpin. Maka nama tempat kediaman di namakan Talang Pendape. Di sisi Talang Pendape terdapat sebuah bukit kecil.

Saat penduduk pergi keluar daerah mereka berkata dari wilayah yang dipimpin Puyang Pendape. Ada juga yang mengaku orang Pendape. Maksudnya rakyat Puyang Pendape. Sebab penduduk apabila pergi keluar daerah selalu ditanyakan nama pemimmpinnya. Maka masyarakat diluar berkata kalau mereka dari daerah kekuasaan Puyang Pendape. Lama semakin lama menjadi nama wilayah, yaitu Negeri Dataran Bukit Pendape.
*****
Nun jauh di Negeri Melayu Tua terkabar beritah maju pesatnya Negeri Dataran Bukit Pendape. Terkabar juga kalau banyak penduduk Negeri Melayu yang pindah ke negeri baru itu, mengikuti Puyang Pendape. Penduduk sangat mencintai Puyang Pendape sebab dia pemimpin yang sangat bijak. Puyang Rajo Batu sangat khawatir dan gusar sekali. Dia takut semua penduduk di Negeri Malayu pindah ke Negeri Dataran Bukit Pendape. Maka malulah dirinya sebagai pemimpin. Maka dia segerah bertindak sebelum itu terjadi.

“Aku mengumpulkan kalian semua untuk menyerang negeri Pendape. Dia telah menantang perang dengan menghasut penduduk pindah. Sehingga lebih dari setengah sudah pindah ke negeri baru itu. Kalau kita tidak bertindak Negeri Melayu akan hancur. Maka dari itu, semua laskar Negeri Melayu segerah bergerak menumpas pemberontak. Yang tidak patuh akan dihukum mati. Yang pergi tanpa izin akan dihukum. Karena yang pergi tanpa pamit dan ikut menjadi negeri lain adalah penghianat.” Tegas Puyang Rajo Batu.

“Puyang, apakah tidak salah apa yang puyang katakan. Karena kita akan menyerang sanak saudara kita. Sedangkan Puyang Pendape adalah adik kandung Puyang. Sebaiknya dipikirkan ulang sebab kita satu asal, bersaudara, berkeluarga, kita juga semua sama yaitu orang Malayu.” Kata Puyang Lahat Sakti. Dia seorang hulubalang dan seorang Datu di kawanan Muara Enim Sekarang.

“Keponakanku, Puyang Rajo Batu, ada baiknya kita bermusyawara saja dengan Puyang Negeri Dataran Bukit Pendape. Seandainya ada rakyat Negeri Melayu yang pinda tanpa izin maka hendaklah dia mengembalikan ke Negeri Melayu.” Saran Puyang Basemah.

“Puyang Basemah. Apakah lantaran dia menantumu, sehingga engkau tidak mau menyerang negeri yang jelas-jelas hendak merobohkan negeri kita. Kau ternyata bukanlah orang yang bijak, mencampur aduk urusan negeri dengan urusan keluarga. Lalu apa hakku sebagai pemimpin yang telah terpilih dan kalian setujui. Apakah kalian hendak menjilat ludah, atau hendak menjadi pemberontak. Membangkang perintah pemimpin sendiri.”

Kata Puyang Rajo Batu marah. Dia tidak suka dibantah dan dinasihati. Karena dia merasa dirinya sangat pintar dan benar. Maka semua hadirin diam, dan para hulubalang, tetua adat, para datu-datu, dan laskar akhirnya mematuhi perintah Puyang Rajo Batu.

Puyang Basema dan Puyang Lahat tidak habis pikir mengapa Puyang Rajo Batu selalu membenci Puyang Pendape. Padahal mereka adalah saudara kandung. Puyang Basema dan Puyang Lahat sudah tua dan mereka memiliki banyak pengalaman hidup dan wawasan memimpin. Tapi mereka akhirnya mematuhi perintah atasan dan mereka bukan orang yang mementingkan urusan pribadi. Maka berangkatlah sepuluh ribu laskar Negeri Melayu Tua menuju Negeri Dataran Bukit Pendape.

Penyerangan itu, diketahui oleh Puyang Pendape. Dia juga tidak habis pikir mengapa kakaknya tega menyerang negerinya. Padahal dia adalah adiknya sendiri. Puyang Pendape bersemedi satu malam, di sebuah gua di atas bukit kecil disisi talanganya. Gua tempat Puyang Pendape bersemedi masih ada sampai sekarang. Apabila berkunjung ke Bukit Pendape akan menemukan.

Entah apa yang dia dapatkan dalam semedinya itu. Puyang Pendape tidak melakukan persiapan perang. Tapi dia mengumpulkan semua rakyatnya untuk segerah pergi dan tiap-tiap kelompok keluarga harus membangun daerah baru. Itulah perintah dari Puyang Pancari Negeri atau Puyang Pendape.

Rakyat dan laskar sudah siap perang. Pedang dan tombak telah ditangan. Tapi beliau berkata, ajarkan pada anak cucu kalian juga agar suka-sukalah membangun negeri-negeri baru. Rakyat dan Laskar Negeri Bukit Pendape tidak habis pikir mengapa keputusan itu yang diambil. Lari seperti pengecut. Namun ini adalah perintah sang pemimpin harus dituruti.

Rawas sang adik ipar diperintahkan segerah pergi bersama anak istrinya, dan anak istri Puyang Pendape. Para hulubalang, laskar, para datu-datu talang, dan semua rakyat. Tidak ada waktu lagi karena tentara Puyang Rajo Batu sudah dekat. Dia berkata, hal yang paling buruk dari segala musibah adalah berperang dengan saudara sendiri. Puyang Pendape meminta Rawas menjaga anak-anak dan istrinya. Dia berkata, akan menyusul apabila urusan telah selesai.
*****
Laskar Negeri Melayu berdiri diperbatasan. Mereka juga tidak habis pikir mengapa tidak ada penjagaan. Maka diperintah masuklah beberapa orang utusan kedalam wilayah Negeri Dataran Bukit Pandape. Mereka mendapati semua tempat kosong dan tidak ada seorang pun. Sampailah mereka di kaki bukit kecil di sisi Talang Pandape.

Mereka bertemu dengan Puyang Pendape, yang tampak duduk bersilah di mulut gua. Prajurit-prajurit itu lalu menyergap dan mengepung Puyang Pandape yang tampak sudah berdiri tenang. Melihat Puyang Pendape yang dihadapan mereka. Para laskar itu berpikir ulang untuk menyerang. Mereka kemudian berlaku hormat dan berkata mereka diutus Puyang Rajo Batu.

“Katakan, pada Kakanda Rajo Batu agar langsung menemui aku di sini.” Utusan itu kembali dan menyampaikan pada Puyang Rajo Batu. Tanpa menunggu lama, dengan wajah kesal Puyang Rajo Batu melompat secepat kilat. Menghilang menuju bukit kecil di sisi Talang Pendape.

“Kau ingin menantang aku. Sunggu kurang ajar dirimu. Kemana laskar dan rakyatmu. Mereka melarikan diri karena takut denganku. Memaluhkan sekali, menyesal aku datang kemari ternyata negerimu hanyalah negeri pengecut.” Kata Puyang Rajo Batu merendahkan.

“Mengapa kakanda selalu membenci aku. Aku sudah pergi jauh dan tidak mengusik kehidupanmu. Mengapa kakanda memelihara kedengkian dan kesombongan.” Jawab Puyang Pendape.

“Karena kau menghasut rakyat Negeri Melayu pindah kenegerimu. Kau bermaksud melawan aku dengan diam-diam. Kau ingin menjatuhkan aku. Kau pemberontak negeri sendiri. Maka pemberontak harus dimusnahkan. Sebagai seorang pemimpin yang paling berkuasa. Pantang ada orang yang berani menginjak-injak martabat seorang pemimpin.” Setelah itu Puyang Rajo Batu bersiap menyerang dengan semua kesaktiannya.

Terjadilah pertarungan, Puyang Rajo Batu menyerang Puyang Pancari Negeri atau Puyang Pendape. Pertarungan tidak terelakkan dan berlalu selama tiga hari tiga malam. Sampai akhirnya Puyang Basema dan Puyang Lahat datang. Kemudian muncul Rawas menjemput karena dia diutus istri Puyang Pendape. Untuk menghentikan perseteruan yang sia-sia itu. Rawas memeluk Puyang Basemah ayahnya. Dia meminta agar Puyang Pendape dan Puyang Rajo Batu berhenti bertarung.

Namun Puyang Rajo Batu tidak mau berhenti. Dia benar-benar egois dan pendengki. Sudah berkali-kali kalah dan muntah darah. Namun Puyang Rajo Batu tetap keras kepala. Kesaktian Puyang Rajo Batu mengendalikan batu-batu. Maka dalam pertarungan itu. Banyak batu-batu berterbangan di atas bukit kecil dan disekitar gua tempat Puyang Pendape bersemedi sebelumnya. Batu-batu yang berserakan itu masih dapat dilihat sampai sekarang di atas Bukit Pendape.

Puyang Pendape tidak tega mencelakai saudaranya sendiri. Maka dia berkata pada Marajo. Apabila memang mau mengalahkannya. Tancapkan buluh perindu ditubuhnya. Itulah kelemahan dari ilmu Rajo Bumi. Puyang Rajo Batu mengambil sebatang buluh perindu lalu melemparkan ke tubuh Puyang Pendape. Puyang Pendape tidak mengelak atau menangkis.

Lalu bulu perindu yang diruncingkan seperti bambu runcing itu menembus tubuh Puyang Pendape. Melihat Puyang Pendape terjatu dan bersimbah darah. Rawas, Puyang Basema, dan Puyang Lahat melompat melindungi. Mereka bertiga meminta Puyang Rajo Batu menghentikan. Ada juga rasa menyesal di hati Puyang Rajo Batu. Tapi itu dia sembunyikan karena kesombongan dan kedengkiannya.

Rawas memangku suami kakak kandunganya. Dia menyayangi Puyang Pandape seperti kakak kandunganya sendiri. Lalu Rawas ingin mencabut potongan bambu menancap di dada Puyang Pendape. Tapi Puyang Pendape tidak mau, sebab dia akan sembuh dan hidup lagi karena kesaktian ilmu Rajo Bumi.  Dia tidak ingin berseteru lagi dengan sang kakak. Dia ingin menjadi peringatan untuk orang-orang Melayu agar jangan berseteru dalam keluarga dan perang sesama saudara, orang Melayu.

“Bak, aku kembalikan Nurna pada, Bak. Rawas, tolong jaga keponakan kau dan kakakmu. Berikan pibang sakti ini pada Padukara." Seraya tangan memegang sarung pibang terselip di panggangnya. "Bilang, jadilah orang baik. Kata Puyang Pendape dengan terbata-bata. Puyang Lahat tampak bersedih sekali. Sebab dulu Puyang Pendape muridnya dalam belajar silat. Puyang Pendape kembali berkata.

“Kebumikan jasadku di sisi Talang Pendape. Tepat diatas bukit kecil dibawah rumpun bambu yang sering dibuat anayaman bubu.” Rawas tidak menanggapi. Dia sudah dikendalikan perasaannya. Perlahan matanya berkaca-kaca, kemudian air matanya berkumpul menjadi bulir dan meleleh dipipinya. Puyang Pendape berkata jangan bersedih. Sebab jalan hidup ditakdirkan oleh sang pencipta. Tugas manusia adalah berbuat baik. Karena sang pencipta ingin mengetahui hamba-hambanya yang baik dan buruk.

Darah terus mengalir dari luka di dadanya. Darah mengalir tidak dapat dihentikan, maka perlahan mata Puyang Pendape menjadi kabur dan kabur. Masih sempat tangannya menarik pibang yang terselip dipinggangnya. Dia berkata agar jangan lupa diberikan pada Padukara anak sulungnya. Dia berpesan jagalah pibang sebagai senjata yang hanya untuk kebaikan. Lalu Puyang Pendape berkata kembali dengan sisa-sisa tenaganya tentang ramalan masa depan hasil batape (bertapa/bersemedi) sebelumnya. Banyak juga penduduk beralasan menamakan bukit Pendape karena adanya tempat bertapa atau betape.

“Kelak suatu masa Negeri Dataran Bukit Pendape akan menjadi suatu negeri yang besar, sebuah kota. Kota itu akan terkenal di seluruh dunia. Orang Melayu telah mendapat cahaya iman dari bumi yang tandus. Cahaya itu dibawak oleh seorang anak yatim piatu yang jujur. Pertanda itu saat Bukit di sisi Talang kita sudah meninggi. Hingga nanti banyak anak cucu dari berbagai negeri datang mengunjungi. Dan untuk kalian semua pindahlah dan menyebarlah di permukaan bumi ini. Bangun negeri-negeri yang baru. Pada saatu saat nanti, akan lahir seorang anak muda di Dataran Bukit Bukit Pendape ini. Yang akan menjadi pemimpin besar dimasa menjelang akhir zaman. Anak itu hidup dalam penderitaan dan kesedihan. Dia seorang pemuda yang sangat suka membaca kitab suci dan buku-buku. Sehingga dia akan tumbuh menjadi pemimpin hebat pada masanya. Dia jujur dan berahlak, sebab dia mengikuti sebuah kitab yang agung itu.” Itulah kata terakhir dari Puyang Pendape. Maka dikuburlah jasat Puyang Pendape di atas bukit kecil di sisi Talang Puyang Pendape sesuai wasiatnya.

Benar, seiring waktu Bukit Pandape tumbuh dan tumbuh. Awalnya hanyalah bukit kecil yang terletak disisi Talang Puyang Pendape. Sekarang, Bukit Pendape memiliki ketinggian sekitar 1.760 Meter Dari Permukaan Laut (MDPL). Terletak di Talang Jebang, Desa Keramat Jaya, Kecamatan Sungai Keruh, Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. Negeri Dataran Bukit Pendape berkali-kali berubah nama.

Pada masa Kedatuan Sriwijaya bernama Marga Pedatuan Sungai Keruh, dipimpin oleh Depati. Semasa Kesultanan Palembang Darussalam dan Kolonial Hindia Belanda bernama Marga Sungai Keruh, Pasirah. Kemudian menjadi Kecamatan Sungai Keruh. Sekarang wilayah Dataran Negeri Bukit Pendape, telah menjadi tiga kecamatan induk, yaitu Kecamatan Jirak Jaya, dan Kecamatan Plakat Tinggi dan sebagian dari wilayah kecamatan lain.

Wilayah kuno Negeri Dataran Bukit Pendape membentang dari anak Perbukitan Barisan sampai ke Tebing Sungai Musi sekarang. Sekarang dengan banyaknya pemekaran kabupaten baru perbatasan wilayah telah bergeser. Yaitu, berbatasan dengan Kabupaten Musi Rawas, Kabupaten PALI, dan tebing Sungai Musi (2019).

Ramalan Puyang Pendape terbukti sekarang. Pertama, Bukit Pendape akan tumbuh menjadi tinggi. Kedua, orang Melayu yang akan mendapat cahaya iman dari negeri tandus yang dibawa oleh seorang yatim piatu adalah baginda Rasulullah Nabi Muhammad SAW. Cahaya yang dimaksud adalah agama Islam.

Kitab yang agung adalah Al-Quran. Yang belum terbukti adalah Negeri Dataran Bukit Pendape menjadi sebuah negeri (Kotamadia/Kabupaten) yang besar dan terkenal di dunia. Namun apabila melihat tanda-tanda dengan adanya tiga kecamatan, dan sekitarnya. Penduduk yang terus bertambah jumlahnya. Tidak mustahil kedepannya Negeri Dataran Bukit Pendape juga menjadi sebuah negeri baru, yaitu kabupaten atau kotamadia.

Sedangkan pemimpin yang disebutkan akan datang belum terbukti. Mungkin dalam beberapa waktu kedepan. Wallahhualam bissawab, kehendak Allah siapa yang tahu. Kalau ingin memperkirakan seberapa luas Negeri Dataran Bukit Pendape anda dapat mengukur dari jembatan Musi di Kota Sekayu sampai ke perbatasan dengan Kabupaten Musi Rawas, Kabupaten PALI. Atau mudahnya, wilayah Dataran Negeri Bukit Pendape itu adalah wilayah Kabupaten Musi Banyuasin dibagian seberang.

Pesan Puyang Pendape dipatuhi oleh semua orang Melayu. Maka mulai saat itu mereka menebar dan pindah dari tempat kediaman terdahulu. Mereka tidak lagi hidup mengelompok di suatu tempat seperti selama ini. Hanya Puyang Basema dan beberapa puyang lainnya yang tetap menjaga negeri lama, Melayu Tua. Maka bertebaranlah orang Melayu meninggal Negeri Melayu Tua.

Sekarang kita dapat saksikan bagaimana peninggalan nenek moyang orang Melayu di Sumatera Selatan. Batu-batu megalitik tersebar di daerah Pagaralam, Lahat, dan sekitarnya. Semua menuruti, dan mewujudkan cita-cita Puyang Pendape atau Puyang Pancari Negeri sehingga tersebarlah orang Melayu di Nusantara dalam membangun negeri baru. Sampai akhirnya tersebarlah kerajaan dan kesultanan Melayu di Nusantara.
*****
Setelah Puyang Pendape selasai dikubur di atas bukit kecil di sisi Talang. Puyang Basema dan Puyang Lahat berkata pada Rawas. Kalau mereka berdua akan pulang, dan tetap tinggal di Negeri Tuo atau Negeri Melayu Tua. Tapi akan memerintahkan anak cucu dan masyarakat untuk pindah dan membangun Talang-Talang baru. Rawas berkata pada ayahnya Puyang Basemah.

“Bak, aku akan membangun Talang baru. Untuk mengenang Kakanda Pendape. Dia sangat ingin meluaskan Negeri Melayu. Sehingga Negeri Melayu bukan hanya di bukit-bukit tapi juga disemua dataran dan lautan. Sepakat, Puyang Basemah dan Puyang Lahat kembali pulang ke Negeri Melayu Tua. Mereka juga mengumumkan untuk rakyat untuk membangun negeri-negeri baru.

Negeri Dataran Bukit Pendape yang baru berumur duapuluh tahun itu, kini kosong. Hanya sekelompok kecil yang masih menetap di Talang Meranti. Mereka tak dapat pindah. Sebab ibu  mereka sakit, dan seorang istri mereka sedang hamil besar waktu perpindahan itu. Maka mereka memutuskan tetap tinggal di Talang Meranti.

Yang lainnya pergi, hanya mengikuti langkah kaki saja. Puyang Rawas memilih menetap di tepi sebua sungai yang kemudian dikenal dengan Sungai Rawas. Bersama keluarga, dan anak dan istri Puyang Pandape. Puyang Ranau dan anak cucunya tinggal di pinggiran danau yang kemudian dikenal dengan Danau Ranau. Ada yang menghilir Sungai Musi yang dulu belum bernama.

Di atas sebuah rakit lahirlah seorang anak laki-laki, yang dinamakan orang tuanya Dapunta. Mereka tinggal di sebuah tempat bernama Minanga Tamwan. Kelak kelompok keluarga dapunta ini kemudian tinggal di bukit Siguntang di Palembang Sekarang. Yang kelak anak keturunan mereka akan mendirikan Kerajaan Sriwijaya.

Ada juga yang kehulu Sungai Musi dan menjadi nenek moyang orang Bengkulu. Banyak juga yang pergi ke muara menyusuri tepian pantai dan menyemberang lautan. Sampai ke semenanjung Malaysia. Dapat dilacak dari bahasa Malaysia yang mengandung dialek ‘e dan E yang sama hampir diseluru Sumatera Selatan. Ada yang sampai ke daerah Pulau Jawa sekarang dan mendirikan Talang.

Sehingga kita mengenal Orang Melayu Betawi yang bahasanya sama dengan bahasa Melayu Sekayu. Ada pula yang menyusuri kaki gunung Bukit Barisan. Dengan banyaknya orang-orang berbaris menyusuri bukit. Para perantau Melayu itupun merasakan bukit demi bukit seakan berbaris sehingga menamakan bukit-bukit itu, Boket Babares atau Bukit Barisan. Penjelaja pencari negeri baru akhirnya menghuni seantero Pulau Sumatera Bagian Barat, utara dan timur.

Ada pimpinan perantau yang bernama Batanghari dan tinggal di pinggir sungai besar di daerah Jambi. Maka waktu demi waktu sungai itu pun bernama Sungai Batanghari. Dari nama-nama pemimpin itulah akhirnya menjadi nama wilayah, nama sungai-sungai, nama gunung, nama danau dan nama suku. Suatu hari ada kelompok tiba di sebuah sungai tak bernama. Lalu mereka membangun pemukiman yang dari waktu ke waktu membesar.

Karena mereka mengingat nama negeri asal adalah Melayu. Maka mereka menamakan sungai itu dengan Sungai Melayu. Daerah inilah kelak dikenal didalam catatan kabar Cina tentang sebuah negeri, mo-lo-yu-e. Sementara itu ada dua keluarga besar. Satu keluarga memiliki sepuluh anak. Membuka hutan dipinggiran Sungai Keruh. Mereka ini kelak menjadi nenek moyang orang-orang di Kecamatan Sungai Keruh sekarang.

Ayah mereka terkenah sakit lumpuh sehingga tidak dapat berjalan jauh maka mereka sepakat tinggal tidak jauh dari kaki Bukit Pandape. Keturunan mereka tersebar diseluruh Dataran Negeri Bukit Pendape. Bahkan sekarang sudah ada desa di kaki Bukit Pendape, Desak Keramat Jaya. Menempati wilayah masa lalu yang dihuni nenek moyang mereka.
******
Tiga bulan kemudian Puyang Serunting datang ke Talang Pendape di Negeri Dataran Bukit Pendape. Dia yang suka berkelana kemana-mana rindu dengan keluarga sang paman, Puyang Pendape. Serunting  yang sudah berumur 27 tahun itu tampak bergembira menuju Talang Pendape.

Sekarang dia kembali ingin mengunjungi keluarga paman yang dia anggap seperti ayahnya itu. Saat dia sampai di Talang Pendape merasa sangat heran sekali. Talang sepi tak satupun ada orang. Rumah-rumah tertutup dan tidak terawat. Bahkan sudah ada yang roboh dan dimakan rayap. Halaman rumah juga tidak terawat, rumput telah tumbuh menjalar.

Puyang Serunting tidak habis pikir mengapa demikian. Padahal dia sudah rindu dengan Pamannya Puyang Pendape, sang bibik, dan semua saudara sepupunya. Puyang serunting menangis menyaksikan seluruh Talang Pendape yang kosong melompong. Bukan karena takut sendiri. Sebab Puyang Pendapelah keluarganya pengganti kedua orang tuanya. Serunting terus berkeliling mencari satu orang saja untuk dia tanyai. Maka dia bertemu dengan sebuah kuburan di atas bukit. Kuburan itu menghadap kearah barat atau sama dengan kiblat umat Islam.

Puyang Serunting menangis meraung melihat nama di nisan kuburan. Tulisan hurup KAGANGA atau Aksara Ulu menjelaskan kalau yang dikubur adalah Puyang Pandape. Hurup KAGANGA atau Hurup Aksara Ulu adalah hurup tradisional orang Sumatera Selatan. Puyang Serunting Sakti tidak mengerti mengapa sang paman telah meninggal. Apa karena sakit atau dibunuh musuh.

Bukan orang sembarangan kalau dapat mengalakan Puyang Pendape. Saat dia turun dari bukit, Puyang Serunting Sakti merasa aneh sekali. Sebab seingat dia bukit di sisi Talang Pendape tidak setinggi itu. Sepertinya sudah meninggi tiga kali lipat pikirnya. Puyang Serunting Sakti tiba di Talang Meranti. Melihat Puyang Serunting, penduduk Talang Meranti menangis dan menceritakan semua yang terjadi.

Penduduk Talang telah pergi membangun Talang-Talang baru kata mereka. Pesan sang bibik kalau mereka bertemu dengan Serunting. Susullah mereka yang tinggal di sebuah daerah pinggiran sungai di sebelah utara. Setelah tahu duduk perkara, Maka pergilah Puyang Serunting Sakti untuk menghukum Puyang Rajo Batu.

Puyang Serunting Sakti menyusuri Sungai Ogan, dengan perahu. Sesampai di kediaman Puyang Rajo Batu di Tanjung Kemala. Serunting Sakti berkata kalau dia akan menuntut balas atas perbuatan Puyang Rajo Batu. Puyang Rajo Batu nampak meremehkannya. Puyang Rajo Batu memerintahkan hewan peliharaannya, ular raksasa, katak raksasa, dan anjing raksasa.

Namun dengan tiga kali sumpah saja ketiga hewan itu menjadi batu. Sampai sekarang batu ketiga hewan sumpahan Serunting atau si Pahit Lidah itu masih terdapat di Sungai Ogan di sekitar Tanjung Kemala. Pertarungan terjadi selama tujuh hari tujuh malam. Puyang Rajo Batu meminta jangan menyumpahi jadi batu sebelum dia kalah.

Hari ke delapan Puyang Rajo Batu kalah dan terjatu bermuntah darah. Sementara Puyang Serunting Sakti tidak terluka sedikitpun. Puyang Basema dan Puyang Lahat datang melerai. Namun tidak dindahkan keduanya. Diakhir pertarungan Puyang Rajo Batu tidak lagi mampu berdiri.

Dengan demikian atas perbuatan dosa-dosanya. Puyang Serunting Sakti yang dijuluki si Pahit Lidah ini menghukum Puyang Rajo Batu. Dia sumpah menjadi batu. Dia pantas menjadi batu sebab sombong dan keras kepala. Serta tega membunuh saudara sendiri. Patung Puyang Rajo Batu berdiri di pinggir Sungai Ogan, di Tanjung Kemala. Pada masa-masa kemudian tempat itu dinamakan Batu Rajo atau dikenal sekarang dengan Baturaja. Berikut simulasi bagaimana terbentuknya nama Baturaja, dari percakapan rakyat.

“Kau mandi di mana?. “Aku mandi di Tanjung Kemala dekat Batu Rajo.” Ada yang bertanya. “Kau tinggal di mana?. Dijawab, “Aku tinggal di dekat Batu berbentuk rajo, Tanjung Kemala.

“Batu apa itu, mirip rajo?. Dijawab “Itu Batu Rajo, namanya. Sering orang lewat kehilir atau kehulu dan bertanya. “Sudah lewat batu rajo. Dijawab. “Belum, batu-rajo dekat tanjung Kemala. Sebentar lagi.” Dalam pengucapan berbincang kata Batu Rajo bersatu dipendengaran orang. Lama semakin lama Batu-Rajo, menjadi satu kata Baturajo (Baturaja), sampai sekarang. Ribuan tahun kemudian patung Puyang Rajo Batu menghilang entah kemana, tidak ada yang tahu.

Daftar Kata:
Puyang: yang berarti pemimpin. Bak: Ayah. Buluh: Bambu. Datu: Pimpinan Kampung. Pibang: Senjata tradisional Negeri Dataran Bukit Pendape atau Masyarakat Sungai Keruh. Nomaden: Kehidupan yang berpindah-pindah tidak menetap di suatu tempat. Memang zaman dahulu orang Melayu hidup nomaden baru kemudian berangsur-ansur menetap.

Oleh. Joni Apero.
Editor. Desti. S. Sos.
Palembang, 15 Oktober 2019.

Sy. Apero Fublic

5 comments:

  1. Sumber dari mane, terkesan gunahan dari beberapr cerito... Dan bertentangan dengan yang beredar di masyarakat....

    ReplyDelete
  2. Name bukit itu Banape bukan pendape, itu yang diyakini masyarakat, ingat penggalian dan penulisan cerita ralyat harus ade etika penggalian minimalemperhatike yang beredar di masyarakat... Bukan asal bagus dan jadi

    ReplyDelete
  3. Cerita rakyat. Sama seperti yg diceritakan oleh kakek Ku.. Izin share Ya..

    ReplyDelete