Kampus
Mahasiswa
Pendidikan
Menolak FOMO Kampus, Dibaiat MAPABA, dan Menghidupi Jiwa Pergerakan yang Sesungguhnya
APERO FUBLIC I KAMPUS.-- Dunia kampus itu, kalau boleh jujur, adalah sebuah miniatur negara. Semuanya tersistem dengan rapih selayaknya negara. Ada birokrasi, ada politik, ada intrik, dan yang paling penting, ada budaya yang dibentuk oleh mahasiswanya sendiri. Tapi sayangnya, nggak semua mahasiswa baru itu paham akan hal ini.
Saat aku pertama kali menginjakkan kaki sebagai mahasiswa baru (maba), suasananya bener-bener riuh. Di kanan-kiri, teman-teman seangkatanku lagi goyah-goyahnya. Mereka terseret arus FOMO yang luar biasa terhadap kehidupan non-ormek.
Perlu di ketahui bahwa ORMEK adalah Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus, yang mana organisasi ini independen di luar struktur resmi universitas yang berjejaring luas, berfokus pada pengaderan, pengembangan kepemimpinan, dan kajian sosial politik.
Terlena oleh gemerlap dunia sosial media yang nampilin sisi hedonis perkuliahan, nongkrong estetis, atau sekadar kuliah-pulang-kuliah-pulang (Mahasiswa Kupu-Kupu) yang keliatannya "bebas beban". Bagi mereka, organisasi ekstra kampus itu kuno, ribet, dan buang-buang waktu.
Tapi semesta selalu punya cara unik untuk mempertemukan seseorang dengan takdirnya.
Pada suatu saat suasana siang hari yang terik di bawah matahari, di salah satu sudut ruang kelas di bawah gedung kampus yang menjulang tinggi, langkahku terhenti.
Aku melihat sekumpulan anak sedang duduk melingkar. Di tengah kepulan asap rokok dan aroma kopi hitam yang pekat, mereka lagi asyik membicarakan sesuatu yang asing di telingaku saat itu yaitu pergerakan biru kuning.
Aku memutuskan untuk mendekat kepada mereka. Nggak langsung ikutan ngobrol, aku cuma mengambil posisi di pojokan sebagai pendengar atau audiens.
Dari obrolan santai tapi berisi itu, terdengar mereka sedang membahas tentang kader-kader yang sudah tumbuh pesat saat ini. Mereka sedang mengasah dialektika, berdebat sehat, dan membedah isu-isu sosial dengan cara yang sangat keren buat aku yang masih maba.
Di balik bincang santai itu, ada satu informasi yang langsung nyantol di kepalaku: akan ada pembukaan MAPABA di Kampus dalam kurun waktu beberapa minggu ke depan.
Melihat aku yang cuma celingukan di pojokan, anak-anak itu nggak tinggal diam. Alih-alih dicuekin, aku malah dirangkul sana-sini. Aku dikasih wejangan, diajak ngobrol layaknya kawan lama, dan diperkenalkan pada hangatnya sebuah lingkaran bernama "Sahabat".
Singkat cerita, berbekal niat yang mantap dan rasa yakin yang bulat, aku mendaftarkan diri untuk masuk ke dalam gerbang awal pergerakan ini.
Langkah Awal di Gerbang Pergerakan
MAPABA berjalan selama 3 hari 2 malam. Buat seorang maba, waktu segitu rasanya cukup lama dan menguras energi. Tapi, apa yang aku dapatkan di langkah awal ini bener-bener sepadan. Di dalam forum, aku melihat potret kontras. Masih banyak kader mudrik, kader-kader muda yang baru melek organisasi yang aktif tapi pembawaannya masih agak malu-malu kucing kalau mau berpendapat.
Lucu kalau diingat-ingat. Tapi sejatinya, di sinilah keindahannya. MAPABA bukan cuma tempat transfer materi ideologi, melainkan sebuah langkah awal di mana sistem kekeluargaan dibentuk, dan sebuah gerakan awal yang membara mulai disulut.
Waktu rasanya berputar cepat banget setelah prosesi pembaiatan. Kami langsung dihadapkan pada fase pembinaan berikutnya: Follow Up Besar 1, 2, hingga tiba saatnya Follow Up Besar ke-3. Di fase-fase inilah seleksi alam yang sesungguhnya mulai kelihatan. Satu per satu kepala mulai disibukkan oleh urusan masing-masing.
Di sela-sela agenda Follow Up ke-3 itu, sore hari setelah materi selesai, suasana mendadak sedih, Seorang sahabat dekatku mengajakku duduk agak menjauh dari keramaian forum. Dari raut wajahnya, aku tahu ada beban berat yang sedang dia pikul. Benar saja, malam itu dia mencurahkan semua isi hatinya tentang kondisi pelik yang sedang dia alami.
"Aku pengen banget aktif, Bat," ujarnya lirih, matanya menatap aku sambil berkaca-kaca, "Tapi keadaan bener-bener sedang tidak berpihak ke padaku saat ini."
Dia bercerita dengan suara yang agak bergetar kalau dia merasa sangat kecewa pada dirinya sendiri karena belum bisa berkontribusi aktif di dalam kapal layar biru kuning ini. Dia terpacu oleh keadaan yang memaksanya untuk membagi fokus.
Saat kami sedang asyik berdialektika di sekretariat atau ikut aksi di jalanan, sahabatku ini harus berpeluh keringat berjuang di jalan lain demi membantu perekonomian keluarganya. Dia harus bekerja paruh waktu demi membantu sang ibunda tercinta.
Ternyata, dia baru saja kehilangan sesosok hero kuat dalam keluarganya yaitu ayahnya yang telah tiada. Sebagai anak laki, dia mengambil tanggung jawab besar itu tanpa mengeluh. Dia adalah seorang yang sangat peduli dan bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup keluarganya.
Makna "Berjuang"
Mendengar curhatan sahabatku malam itu, pikiranku langsung berkecamuk. Di situlah sudut pandangku tentang pergerakan berubah total. Aku menyadari satu hal penting: menurutku, sebuah perjuangan untuk mempertahankan rasa cinta terhadap biru kuning itu bukan hanya diukur dari seberapa sering kita ikut aksi turun ke jalan, atau seberapa rajin kita datang ke setiap acara ceremonial organisasi.
Rasa cinta itu punya banyak sekali bentuknya. Maknanya luas, dan nggak kaku.
Ketika kita disibukkan oleh realitas hidup yang memaksa kita untuk bertahan demi keluarga, tapi di dalam hati kecil kita masih ada rasa bangga yang mengakar karena telah menjadi bagian dari kader pergerakan ini, itu pun sudah termasuk bentuk memperjuangkan dan menanamkan rasa cintanya dalam pergerakan.
Cinta tidak selalu berupa kehadiran fisik, tapi tentang bagaimana nilai-nilai pergerakan seperti keadilan, tanggung jawab, dan kemanusiaan tetap kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saat berbakti kepada orang tua.
Sahabatku yang sedang bekerja demi ibunya tidak sedang meninggalkan pergerakan. Dia justru sedang mempraktikkan materi dalam NDP ( Nilai Dasar Pergerakan) yaitu Hablum Minannas yang dia dapat di MAPABA di realisasikan secara nyata di dalam kehidupan keluarganya. Dia adalah kader yang tangguh di realitas, sama tangguhnya dengan mereka yang berorasi di depan gedung parlemen.
Cinta yang Tak Boleh Padam
Melalui tulisan di blog ini, aku ingin menyampaikan pesan kepada seluruh sahabat-sahabatku di luar sana yang mungkin sedang mengalami dilema yang sama. Jangan pernah merasa rendah diri atau merasa bukan bagian dari kami hanya karena langkahmu tertahan oleh keadaan ekonomi atau bakti pada keluarga. Pergerakan ini dibentuk atas dasar asas kekeluargaan, bukan atas dasar pemaksaan ego. selama darahmu masih berdesir ketika melihat bendera biru kuning berkibar, kamu adalah bagian dari kapal layar ini.
Kita semua punya porsi perjuangan masing-masing. Ada yang bertugas menjaga kompor organisasi tetap menyala di komisariat, ada yang bertugas menyuarakan aspirasi rakyat di jalanan, dan ada pula yang berjuang menata masa depan ekonomi keluarganya agar kelak bisa menjadi penyokong pergerakan yang mandiri secara finansial. Semuanya benar, semuanya terhormat.
Namun, satu hal yang harus tetap kita tancapkan kuat-kuat dalam sanubari sebagai satu kapal layar yang utuh dalam hal prinsip, ideologi, dan keberpihakan pada kebenaran, kita tidak boleh bergeser sedikit pun. Ketika penindasan terjadi, ketika ketidakadilan merajalela di sekitar kita, di situlah komitmen kita diuji.
MUNDUR SATU LANGKAH ADALAH SEBUAH BENTUK PENGHIANATAN, PUTRA BANGSA BEBAS MERDEKA, TANGAN TERKEPAL DAN MAJU KEMUKA.
Mari kita jaga api pergerakan ini dengan cara kita masing-masing. Jangan biarkan fomo dunia luar memadamkan idealisme yang sudah susah payah kita bangun sejak malam pembaiatan MAPABA. Tetap saling merangkul, tetap saling menguatkan, karena di pergerakan ini, tidak ada sahabat yang ditinggalkan sendirian di belakang.
SALAM PERGERAKAN! 💙💛
Oleh : Wahyu Tetuko
Mahasiswa Universitas Islam Negeri K.h. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Prodi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment