Cerpen
Sastra Kita
Tiga Arah Pulang
APERO FUBLIC I CERPEN.- Langit sore di kota kecil itu selalu punya cara sendiri untuk membuat siapa pun berhenti sejenak. Warna jingga yang memudar perlahan seolah menjadi penanda bahwa hari akan segera usai, namun kenangan yang terjadi di dalamnya tidak akan benar-benar hilang.
Di bawah langit seperti itu, tiga sahabat Althea, Keesia, dan Aurora menjalani masa muda mereka dengan cara yang tak biasa.
Mereka bertemu pertama kali di bangku SMP. Althea dikenal sebagai anak yang pendiam, lebih sering duduk di pojok kelas dengan buku di tangannya. Keesia sebaliknya ramai, penuh tawa, dan mudah berteman dengan siapa saja.
Sementara Aurora berada di antara keduanya, tidak terlalu pendiam, tapi juga bukan pusat perhatian. Ia seperti jembatan yang tanpa disadari menyatukan dua karakter yang bertolak belakang.
Pertemuan mereka sebenarnya sederhana. Saat itu hujan turun deras, dan semua siswa berlarian mencari tempat berteduh. Althea yang lupa membawa payung berdiri di depan kelas, ragu untuk pulang. Keesia datang sambil tertawa, membawa payung besar.
“Bareng aja, daripada nunggu hujan reda,” katanya ringan.
Althea hanya mengangguk pelan. Di tengah perjalanan, mereka bertemu Aurora yang juga kehujanan.
“Wah, lengkap sudah,” ujar Aurora sambil tersenyum.
Sejak hari itu, mereka pulang bersama, lalu mulai duduk bersama di kelas, belajar bersama, hingga akhirnya menjadi tak terpisahkan.
Persahabatan mereka tumbuh seperti pohon yang akarnya semakin dalam. Mereka memiliki mimpi masing-masing. Althea ingin menjadi penulis. Ia sering menulis cerita di buku kecilnya, meski tak pernah menunjukkannya pada orang lain.
Keesia ingin menjadi pengusaha sukses, memiliki banyak uang dan kebebasan. Sementara Aurora bercita-cita menjadi guru, karena ia percaya bahwa pendidikan bisa mengubah hidup seseorang.
Meskipun berbeda, mereka saling mendukung. Keesia sering menggoda Althea karena terlalu serius.
“Kalau kamu jadi penulis, jangan lupa aku jadi tokoh utama, ya. Tapi yang keren,” kata Keesia sambil tertawa.
Althea hanya tersenyum tipis. “Kalau kamu jadi tokoh utama, ceritanya pasti ribut.”
Aurora biasanya hanya tertawa melihat mereka. Ia tahu, di balik candaan itu, ada rasa nyaman yang sulit dijelaskan.
Namun, seperti halnya waktu yang terus berjalan, hidup mereka pun mulai berubah.
Saat memasuki SMA, mereka mulai dihadapkan pada pilihan. Althea masuk jurusan bahasa, Keesia memilih ekonomi, dan Aurora masuk jurusan IPA. Mereka tidak lagi berada di kelas yang sama. Waktu bersama pun berkurang.
Awalnya mereka masih sering bertemu sepulang sekolah. Duduk di warung kecil dekat lapangan, berbagi cerita tentang hari mereka. Tapi lama-kelamaan, kesibukan mulai mengambil alih.
Althea semakin tenggelam dalam dunianya sendiri. Ia mulai aktif menulis dan mengikuti lomba. Keesia sibuk dengan kegiatan organisasi dan mulai mencoba berbisnis kecil-kecilan. Aurora fokus pada pelajaran, berusaha mengejar impiannya masuk universitas terbaik.
Suatu sore, mereka kembali berkumpul setelah lama tidak bertemu. Namun suasananya berbeda.
“Kayaknya kita udah jarang banget kumpul ya,” kata Aurora pelan.
“Iya, sibuk semua,” jawab Keesia singkat.
Althea hanya diam, memandang langit yang mulai gelap.
Ada jarak yang tak terlihat, tapi terasa.
Konflik mulai muncul saat Keesia mengalami kegagalan dalam bisnis kecilnya. Ia kehilangan cukup banyak uang, bahkan sempat berutang. Namun, ia tidak menceritakannya kepada Althea dan Aurora.
Ketika akhirnya Aurora mengetahui hal itu dari orang lain, ia merasa kecewa.
“Kenapa kamu nggak cerita?” tanya Aurora dengan nada serius.
Keesia menghela napas. “Aku nggak mau kelihatan lemah.”
“Lemah itu bukan karena kamu gagal, tapi karena kamu menutup diri,” balas Aurora.
Percakapan itu membuat suasana menjadi tegang. Althea yang mendengar hanya bisa diam. Ia merasa tidak pandai dalam menghadapi konflik seperti itu.
Namun, masalah tidak berhenti di situ. Althea juga mulai menjauh. Ia memenangkan sebuah lomba menulis tingkat nasional, tapi tidak memberitahu sahabatnya.
Keesia mengetahuinya dari media sosial.
“Jadi, kita sekarang cuma teman biasa ya?” sindir Keesia suatu hari.
Althea terdiam. “Aku cuma... nggak tahu harus bilang apa.”
“Bilangan aja kalau kamu udah nggak butuh kita lagi,” kata Keesia tajam.
Kata-kata itu menusuk. Untuk pertama kalinya, mereka bertiga terdiam dalam jarak yang benar-benar terasa.
Waktu berlalu. Mereka lulus SMA dengan jalan masing-masing. Althea diterima di universitas sastra di kota besar. Keesia memilih merintis usaha di kampung halaman. Aurora berhasil masuk fakultas pendidikan di universitas negeri.
Mereka tidak lagi bertemu setiap hari. Bahkan, komunikasi pun semakin jarang.
Namun, kenangan tidak pernah benar-benar hilang.
Suatu hari, Aurora kembali ke kota mereka setelah beberapa bulan di perantauan. Ia berjalan melewati tempat-tempat yang dulu sering mereka kunjungi. Warung kecil, lapangan, dan jalan pulang yang penuh cerita.
Ia berhenti di satu tempat bangku tua di bawah pohon besar.
Di sana, ia melihat seseorang duduk sendirian.
“Althea?” panggilnya ragu.
Althea menoleh, lalu tersenyum kecil. “Aurora.”
Mereka duduk bersama, seperti dulu. Awalnya canggung, tapi perlahan percakapan mengalir.
“Aku kangen,” kata Aurora jujur.
Althea mengangguk. “Aku juga.”
Tak lama, seseorang datang dengan langkah cepat.
“Wah, lengkap lagi,” suara itu terdengar familiar.
Keesia berdiri di depan mereka, dengan senyum yang sama seperti dulu.
Mereka saling menatap, lalu tertawa kecil. Tidak ada kata maaf yang diucapkan secara langsung, tapi ada pemahaman yang tumbuh di antara mereka.
Malam itu, mereka berjalan bersama, menyusuri jalan yang pernah menjadi saksi awal persahabatan mereka.
“Aneh ya,” kata Keesia, “kita sempat jauh, tapi akhirnya balik lagi.”
“Karena mungkin,” ujar Althea pelan, “beberapa orang memang ditakdirkan untuk tetap tinggal, meskipun sempat pergi.”
Aurora tersenyum. “Persahabatan itu bukan tentang selalu bersama, tapi tentang tetap kembali.”
Langit malam dipenuhi bintang. Tidak lagi jingga seperti dulu, tapi tetap indah dengan caranya sendiri.
Mereka menyadari satu hal hidup akan terus membawa mereka ke arah yang berbeda. Akan ada jarak, perbedaan, dan mungkin konflik lagi di masa depan. Tapi selama mereka masih memiliki keinginan untuk kembali, persahabatan itu tidak akan benar-benar hilang.
Tahun-tahun berikutnya, mereka menjalani kehidupan masing-masing. Althea menjadi penulis yang karyanya mulai dikenal. Keesia berhasil membangun usahanya dari nol. Aurora menjadi guru di sebuah sekolah kecil, mengajar dengan penuh dedikasi.
Mereka tidak lagi bertemu sesering dulu, tapi setiap kali pulang ke kota, mereka selalu menyempatkan waktu untuk berkumpul.
Di bangku tua itu, di bawah pohon besar yang sama.
Tempat di mana semuanya dimulai.
Dan setiap kali mereka duduk di sana, mereka tahu tidak peduli seberapa jauh mereka melangkah, selalu ada satu tempat yang bisa mereka sebut sebagai rumah. Bukan sebuah bangunan. Bukan sebuah kota. Melainkan satu sama lain.
Suatu sore, seperti dulu, langit kembali berwarna jingga. Mereka duduk berdampingan, diam, menikmati momen tanpa banyak kata.
“Kalau suatu hari nanti kita benar-benar sibuk dan nggak sempat ketemu lagi, gimana?” tanya Keesia tiba-tiba.
Althea berpikir sejenak. “Kita tetap punya cerita.”
Aurora menambahkan, “Dan cerita itu cukup untuk mengingatkan kita, bahwa kita pernah punya sesuatu yang berarti.”
Keesia tersenyum. “Tiga orang, tiga mimpi, tapi satu persahabatan.”
Langit perlahan gelap. Namun kali ini, mereka tidak takut kehilangan cahaya. Karena mereka tahu, selama mereka masih saling mengingat, persahabatan itu akan selalu menemukan jalannya untuk pulang.
PENULIS : Putu Sarassanti
Mahasiswi Universitas Negeri Makassar, Fakultas Sastra Indonesia, Jurusan Bahasa dan Sastra.
Sy. Apero Fublic
Via
Cerpen

Post a Comment