Puisi
Sastra Kita
Requiem Ego: Kita yang Mati di Tangan Waktu
Requiem Ego: Kita yang Mati di Tangan Waktu
Dulu, kau adalah ketukan yang paling kubenci,
Mengetuk gerbang hatiku yang angkuh dan buta.
Dua setengah tahun kau dihantam badai penolakan,
Namun kau bertahan, memeluk benciku dengan ketulusan.
Hingga aku takluk, bersujud pada cinta yang kau perjuangkan.
Lalu takdir menyeret kita ke dalam sangkar yang berbeda.
Aku terpasung di balik tembok pesantren yang sunyi,
Tanpa suara, tanpa gawai, hanya sepi yang menemani.
Kita menjelma dua asing yang buta arah,
Komunikasi mati, berganti curiga yang kian parah.
Pertemuan singkat di hari kunjungan, tak cukup membasuh jiwa yang lelah.
Hingga tibalah malam jahanam itu saat aku mulai jenuh.
Dengan ego sekokoh batu, kuusir kau perlahan:
“Aku sudah bosan dengan mu.”
Bagiku itu biasa, namun bagimu, itu belati yang mencabik dada.
Kau merasa dipermainkan, dicampakkan tanpa belas kasihan.
Maka demi menyelamatkan egoku, kuputus benang kita dengan alasan: Fokus Kuliah.
Kini... lihatlah mahakarya dari kebodohanku.
Kau telah bersanding dengan dia, merayakan bahagia yang seharusnya milikku.
Tapi demi Tuhan, mengapa matamu masih bicara?
Mengapa perhatian-perhatian kecil itu masih kau tebar bagai bara?
Kita masih saling mencintai! Aku tahu, dan kau pun tahu!
Lalu kenapa kau peluk dia di saat jiwamu masih memanggil namaku?!
Kenapa kita memilih menjadi dua pengecut yang saling menjauh?!
Ah... tapi aku bisa apa?
Aku hanyalah hantu dari masa lalumu yang malang.
Menontonmu tersenyum di pelukan orang lain dengan dada yang lapang,
Sementara aku di sini, perlahan mati dicekik penyesalan yang panjang.
Pergilah, berbahagialah di atas puing-puing hatiku.
Namun, jika suatu hari perempuan itu mengagumi hebatmu,
Ingatlah baik-baik dalam sujudmu:
Bahwa jauh sebelum kamu menjadi pemenang seperti hari ini,
Akulah rahim tempat sabarmu lahir, dan akulah yang menyemangati tiap langkah sepimu hingga kamu sampai di titik ini.
Purwokerto, Juni 2026
Oleh. Hanifah Fitriani
Mahasiswi semester 2 UIN Prof. K. H Saifuddin Zuhri Purwokerto.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Puisi

Post a Comment