Cerpen
Kampus
Mahasiswa
Pendidikan
Sastra Kita
Potongan yang Salah
APERO FUBLIC I CERPEN.- Lampu merah di persimpangan pasar kota menyala lebih lama dari biasanya. Deretan motor dan mobil berhenti berimpitan, membentuk barisan tak sabar. Klakson bersahutan, menyatu dengan suara hujan yang baru saja reda.
Fahmi menarik napas panjang di balik helmnya. Jaket ojek online yang ia kenakan sudah lembap oleh keringat dan udara malam. Bau aspal basah bercampur asap knalpot memenuhi udara, membuat kepalanya sedikit pening.
Sejak pagi, order masuk hanya sedikit. Setiap kali ponselnya bergetar, harapan sempat muncul, lalu segera runtuh saat layar kembali gelap.
Hidupnya akhir-akhir ini terasa seperti itu—menunggu sesuatu yang tak pasti, berharap pada hal kecil, lalu belajar menerima keadaan tanpa banyak pilihan. Ia sadar, mengeluh tidak akan mengubah apa pun, tetapi rasa lelah itu tetap menumpuk di dada.
Di tepi jalan, seorang ibu tua berdiri ragu. Tangannya menggenggam tas belanja yang tampak berat, kakinya sedikit gemetar.
Wajahnya menegang setiap kali kendaraan melaju terlalu dekat. Setiap lampu penyeberangan menyala hijau, ia melangkah satu dua langkah, lalu mundur lagi karena arus kendaraan yang terasa menakutkan.
Fahmi melirik jam di ponselnya. Waktu terus berjalan, dan setiap menit terasa berharga. Ia tahu, berhenti berarti kehilangan kesempatan mendapatkan order berikutnya.
Namun sebelum pikirannya sempat menimbang untung dan rugi, kakinya sudah lebih dulu menurunkan standar motor. Ada sesuatu dalam dirinya yang bergerak lebih cepat dari logika.
“Bu, mari saya bantu,” ucapnya pelan.
Ibu itu menoleh. Matanya meneliti Fahmi dengan ragu, seolah menimbang apakah orang asing ini layak dipercaya. Beberapa detik berlalu sebelum ia mengangguk kecil.
Fahmi menggenggam tangannya dengan hati-hati, takut tekanan yang salah justru membuat ibu itu kehilangan keseimbangan.
Mereka melangkah perlahan, diiringi klakson dan umpatan pengendara yang tidak sabar. Fahmi tidak menoleh. Fokusnya hanya satu: memastikan ibu itu sampai ke seberang dengan selamat.
“Terima kasih, Nak,” kata ibu itu lirih ketika mereka tiba di trotoar.
Fahmi tersenyum tipis, mengangguk, lalu kembali ke motornya. Dadanya terasa sedikit lebih ringan, seolah telah melakukan sesuatu yang benar, meski kecil.
Ia tidak melihat seorang remaja di sudut jalan yang sejak tadi mengarahkan kamera ponselnya. Ia juga tidak menyadari bahwa beberapa detik rekaman sederhana itu kelak akan menjadi awal dari malam-malam panjang yang tak pernah ia bayangkan.
Sepanjang perjalanan pulang, Fahmi merasakan kelelahan yang berbeda. Bukan hanya fisik, melainkan perasaan kosong yang sulit dijelaskan. Jalanan malam tampak biasa saja, tetapi pikirannya terasa penuh.
Lampu-lampu toko yang mulai tutup berkelebat di pinggir penglihatannya. Ia ingin segera sampai di kontrakan, menutup pintu, dan membiarkan dunia di luar berhenti sejenak.
Malam itu, Fahmi terbaring di kamar kontrakan berukuran tiga kali empat meter. Dindingnya polos, catnya mulai mengelupas di beberapa sudut.
Lampu redup menggantung di langit-langit, memantulkan bayangan samar. Dari atap seng terdengar suara tetesan air yang jatuh perlahan, berulang, seperti menghitung waktu. Fahmi meraih ponselnya, sekadar mengusir sunyi.
Sebuah notifikasi dari aplikasi video pendek muncul. Video itu disebut sedang naik daun di wilayahnya.
Fahmi mengernyit. Ia tidak pernah merasa mengunggah video apa pun. Rasa penasaran membuat jarinya mengetuk layar.
Begitu video terbuka, dadanya terasa sesak. Wajahnya sendiri muncul di layar—jelas, dekat, tanpa memberi ruang untuk mengelak. Namun tayangan itu terpotong.
Tidak ada awal, tidak ada akhir. Yang terlihat hanya tangannya yang menggenggam tangan ibu tua tersebut, diperlambat, diperbesar, dan diberi kesan mencurigakan.
Judulnya menyiratkan tuduhan tanpa penjelasan. Musik dramatis mengiringi gambar yang diputar berulang-ulang, seolah ingin menanamkan satu makna tertentu.
Komentar mengalir deras. Ada yang marah, ada yang mencaci, ada pula yang merasa paling benar. Tuduhan demi tuduhan muncul tanpa ragu. Jumlah penonton naik cepat, dari ribuan menjadi ratusan ribu dalam waktu singkat.
Fahmi mencoba menulis klarifikasi. Ia menjelaskan dengan kata-kata sopan dan jujur, menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
Namun tulisannya tenggelam di antara arus kemarahan yang terus membesar. Ia mulai menyadari bahwa di ruang itu, kebenaran tidak selalu memiliki tempat.
Pagi harinya, pesan dari aplikasi ojek online masuk. Akunnya dibekukan sementara karena laporan pengguna.
Fahmi menatap layar ponsel itu lama. Tangannya gemetar. Akun tersebut adalah satu-satunya sumber penghasilannya. Tanpa itu, ia tidak tahu bagaimana membayar kontrakan, membeli makan, atau sekadar bertahan hidup. Perasaan takut menyusup perlahan, menggerogoti keberaniannya.
Saat keluar membeli makan, Fahmi merasakan perubahan. Tatapan orang-orang terasa berbeda. Beberapa berbisik, yang lain menatap tanpa malu.
Seorang ibu di warung menyebut namanya dengan suara pelan, seolah membicarakan sesuatu yang memalukan. Fahmi menunduk, memilih diam.
Hari-hari berikutnya berjalan lambat. Video itu terus menyebar, diunggah ulang dengan judul yang semakin provokatif. Klarifikasinya hanya ditonton segelintir orang, sementara video potongan itu telah ditonton jutaan kali.
Fahmi mulai sulit tidur. Setiap bunyi notifikasi membuat jantungnya berdegup kencang. Setiap suara motor berhenti di depan kontrakan membuatnya cemas.
Suatu sore, pintu kontrakannya diketuk. Seorang perempuan paruh baya berdiri di depan pintu. Wajahnya lelah, tetapi sorot matanya hangat. Ia memperkenalkan diri sebagai anak dari ibu yang ada di video itu.
Dari ponselnya, ia memperlihatkan rekaman lain—video utuh tanpa potongan. Terlihat jelas bagaimana Fahmi menghampiri dengan sopan, menuntun ibunya, dan memastikan ia aman sampai ke seberang.
Air mata Fahmi jatuh tanpa bisa ia tahan. Untuk pertama kalinya sejak semua itu terjadi, ia merasa napasnya kembali utuh.
Malam itu, video klarifikasi diunggah. Beberapa akun mulai membagikannya. Komentar perlahan berubah arah. Akunnya akhirnya dipulihkan, dan ia bisa kembali bekerja.
Namun rasa aman itu tidak sepenuhnya kembali. Ada sesuatu dalam dirinya yang berubah, sesuatu yang membuatnya lebih waspada terhadap dunia.
Beberapa minggu berlalu. Fahmi kembali menjalani rutinitasnya menyusuri jalanan kota. Lampu merah, klakson, dan antrean kendaraan kembali menjadi pemandangan sehari-hari.
Namun kini ia lebih sering menunduk, lebih berhati-hati pada kamera, lebih sadar bahwa apa pun bisa dipotong dan disalahartikan.
Suatu malam, setelah tubuhnya kembali terbaring lelah di kamar kontrakan, ponselnya bergetar pelan. Sebuah pesan masuk dari akun yang tidak dikenalnya. Tidak ada foto profil, tidak ada nama yang jelas.
Orang itu mengaku sebagai pengunggah pertama video yang sempat membuat hidup Fahmi jungkir balik. Ia menuliskan bahwa video tersebut sengaja dipotong dan diedit agar terlihat dramatis.
Pesan berikutnya menyusul. Alasannya sederhana. Ia hanya ingin videonya ramai, ingin jumlah penonton naik, ingin kontennya dikenal.
Fahmi meletakkan ponselnya di samping tubuh. Dadanya terasa kosong.
Tidak ada amarah besar seperti yang ia bayangkan. Tidak juga keinginan membalas. Yang tersisa hanyalah kelelahan yang dalam, menyadari bahwa hidupnya hampir hancur bukan karena kebencian, melainkan ambisi kecil seseorang yang tak pernah mengenalnya.
Ia menatap langit-langit kamar yang gelap. Dalam diam, Fahmi memahami betapa rapuhnya posisi orang biasa di tengah arus informasi. Sebuah potongan kecil bisa berubah menjadi tuduhan besar. Sebuah niat baik bisa dibelokkan menjadi kesalahan.
Keesokan harinya, Fahmi kembali ke jalan. Lampu merah di persimpangan pasar menyala seperti biasa. Kendaraan berhenti berimpitan. Klakson tetap bersahutan. Dunia tidak berubah hanya karena satu orang nyaris runtuh olehnya.
Saat lampu berubah hijau, Fahmi menyalakan motornya dan melaju perlahan. Ia membawa satu pemahaman pahit yang kini ia simpan rapat-rapat dalam dirinya: di zaman ini, potongan yang salah sering kali lebih dipercaya daripada kebenaran yang utuh.
Namun ia tetap memilih berjalan. Tetap menolong ketika bisa. Tetap menjadi orang baik, meski dunia tidak selalu memberi penilaian yang adil.
PENULIS: Nandine Azzahra
Mahasiswi Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Muhammadiyah Malang.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Cerpen

Post a Comment