Puisi
Sastra Kita
PUISI : Menjemput Masa Depan
Menjemput Masa Depan
Ketika kakiku pertama kali belajar melangkah,
aku masih terlalu kecil untuk memahami apa pun.
Tangis jadi caraku bicara,
tawa datang sesudahnya.
Dalam pelukan ibu dan bapak,
dunia terasa cukup dan hangat.
Aku percaya,
apa pun yang kuinginkan
akan selalu ada di tangan mereka.
Waktu berjalan,
dan aku tumbuh menjadi remaja.
Beban mulai terasa di pundak,
seberat buku-buku
yang setiap hari kubawa.
Tujuh belas tahun—
usia yang katanya penuh warna,
namun tidak dengan kisahku.
Aku berhenti sejenak lewat gap year,
di jalan yang sunyi dan tak pernah kurencanakan.
Hari-hariku diisi lelah,
jatuh bangun,
dan harapan yang tetap kujaga.
Aku memaksa diriku maju,
meski sering ragu pada kekuatanku sendiri.
Tahun demi tahun berlalu,
usia terus bertambah.
Aku menjalani pelajaran
yang sering dianggap tak berarti.
Namun aku melihat sesuatu di dalamnya:
sebuah arah,
sebuah kemungkinan.
Seperti cahaya kecil di kejauhan
yang tak pernah benar-benar padam.
Aku masih di sini,
bertahan di tempat yang sama,
terus belajar dan berjalan.
Pelan, tapi pasti,
aku melangkah
menjemput masa depan.
Oleh. Ernita Siburian
Medan,
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Puisi

Post a Comment