Cerita Kita
Cerpen
Sastra Kita
Sastra Moderen
Guru Yang Salah Ingat Nama
APERO FUBLIC I CERPEN.- Mentari pagi baru saja menyentuh jendela Kelas 11-A, namun suasana di dalam ruangan sudah rendah oleh tawa yang tertahan. Di depan kelas, Pak Bihanto berdiri memegang absen dengan kacamata yang melorot hingga ke ujung hidung.
Beliau adalah guru sejarah yang sangat dihormati, cerdas, dan penuh dedikasi. Sayangnya, ada satu kelemahan mutlak yang dimiliki Pak Bihanto sejak awal semester: beliau sangat payah dalam mengingat nama muridnya.
Hari itu, target salah ingatnya adalah seorang siswi aktif bernama Clarissa. Namun, entah bagaimana sinapsis di otak Pak Bihanto bekerja, nama itu bertransformasi total.
"Baik, untuk menjelaskan materi tentang Perjanjian Linggarjati, Bapak minta... Carissa... ah bukan, Calista... ya, Kornelia! Silakan maju ke depan," panggil Pak Bihanto dengan penuh keyakinan, telunjuknya mengarah tepat ke bangku baris kedua.
Clarissa, yang merasa ditunjuk, hanya bisa menghela napas panjang. Teman-teman sebangkunya mulai cekikikan.
"Nama saya Clarissa, Pak. Bukan Kornelia. Jauh banget," protesnya sambil tersenyum pasrah. Pak Bihanto terdiam sejenak, menatap lembar absen, lalu membetulkan letak kacamatanya.
"Lho, iya maksud Bapak Clarissa. Kenapa mulut Bapak bilangnya Kornelia ya?. Ya sudah, Clarissa, ayo maju."
Kejadian seperti itu bukan lagi hal yang aneh. Bagi anak-anak Kelas 11-A, tebak-tebakan nama yang akan diucapkan Pak Bihanto setiap pagi sudah menjadi hiburan tersendiri. Rangga, ketua kelas yang berbadan tegap dan gemar bermain basket, hampir setiap minggu dipanggil "Roni" atau "Rian". Bahkan pernah suatu kali, karena Pak Bihanto sedang gemar menonton berita politik, ia memanggil Rangga dengan nama "Prabowo".
Di ruang guru, fenomena unik Pak Bihanto ini sering menjadi bahan diskusi yang menarik, khususnya bagi Ibu Amalia, guru bimbingan konseling yang mendalami psikologi pendidikan. Dalam kacamata psikologi, apa yang dialami Pak Bihanto dikenal sebagai gangguan panggilan memori sekilas, di mana otak terlalu fokus pada konsep abstrak dan muatan emosional daripada label linguistik seperti sebuah nama.
Ibu Amalia memahami bahwa ingatan manusia bekerja lewat asosiasi. Pak Bihanto memiliki beban kognitif yang besar; isi kepalanya dipenuhi oleh ribuan tanggal sejarah, detail peristiwa masa lalu, sekaligus strategi pembelajaran untuk membuat kelas tetap hidup. Akibatnya, terjadi interferensi saat dia mencoba memanggil nama yang mirip secara fonetis atau kontekstual.
Namun, dari sudut pandang psikologi perkembangan dan hubungan guru-murid, kesalahan yang berulang justru melahirkan sebuah dinamika yang tidak biasa. Alih-alih menciptakan jarak atau membuat murid merasa tidak dihargai, kekeliruan Pak Bihanto justru meruntuhkan dinding pembatas yang kaku antara guru dan siswa.
Rasa humor bersama yang tercipta setiap kali Pak Bihanto salah sebut nama bertindak sebagai sarana pelepasan ketegangan kognitif di kelas. Hubungan emosional yang hangat ini memicu motivasi intrinsik dalam diri siswa, membuat mereka merasa aman secara psikologis untuk belajar dan berekspresi tanpa rasa takut dihakimi.
Puncaknya terjadi saat sekolah mengadakan persiapan untuk pentas seni akhir tahun. Pak Bambang ditunjuk sebagai guru pembimbing drama kolosal sejarah. Oleh karena itu, latihan berjalan cukup tegang karena waktu pertunjukan semakin dekat. Pak Bihanto bertindak sebagai sutradara di bawah panggung sambil memegang naskah gulung.
"Hei, kamu yang pakai kaos merah! Tolong ambilkan tombak di belakang panggung!" teriak Pak Bihanto.
Seorang siswa menoleh, "Saya, Pak? Saya Dimas."
"Iya, Dodi, maksud Bapak kamu. Tolong ambilkan ya!"
Panggung mulai riuh. Ketika latihan adegan inti dimulai, Pak Bihanto harus memanggil tokoh utama wanita yang diperankan oleh Clarissa untuk naik ke atas panggung. Dia tampak berpikir keras, mengerutkan dahi, mencoba mengingat nama asli siswi tersebut agar tidak salah di depan guru-guru lain yang ikut berkumpul.
"Ayo, si... itu... yang kemarin Bapak panggil Kornelia... siapa namanya... Ah! Khairunnisa! Khairunnisa, masuk ke panggung, adegan satu dimulai!" teriak Pak Bihanto menggunakan pengerasan suara.
Gedung kesenian seketika hening, lalu sedetik kemudian meledak dalam tawa. Clarissa yang berada di balik tirai hanya bisa menyentuh dahi sendiri. Guru-guru lain yang mendampingi, termasuk Ibu Amalia, sampai harus menutupi wajah mereka karena menahan tawa. Ibu Amalia tersenyum melihat bagaimana pendekatan humanistik secara tidak sengaja telah terbentuk di sini.
"Pak, nama saya Clarissa! Kenapa sekarang jadi Khairunnisa?" seru Clarissa dari atas panggung, setengah tertawa setengah gemas.
Pak Bihanto terkejut melihat reaksi seisi ruangan. Beliau melihat catatan di tangan, lalu tertawa kekeh, menyadari kekeliruannya yang kesekian kali.
"Aduh, maaf, maaf. Bapak ingat huruf depannya 'C' atau 'K', jadi yang keluar Khairunnisa. Ya sudah, Clarissa, silakan mulai adegannya."
Meskipun sering membuat seisi kelas tertawa karena urusan nama, tidak ada satupun murid yang menaruh dendam atau merasa sakit hati. Secara psikologis, para murid tahu bahwa mereka tetap “dikenali” secara utuh.
Pak Bihanto menerapkan prinsip empati yang mendalam dalam komunikasinya. Beliau tahu mana murid yang sedang mengalami penurunan motivasi, mana murid yang belum sarapan saat jam pertama, dan mana murid yang membutuhkan dorongan positif untuk bisa tampil percaya diri.
Beliau mungkin salah mengingat nama sebagai label, namun beliau tidak pernah salah dalam membaca karakteristik psikologis dan potensi unik masing-masing anak didiknya.
Hingga hari kelulusan tiba, sebuah tradisi unik tercipta di kelas tersebut. Saat sesi foto bersama, seluruh murid Kelas 11-A kompak mengenakan papan nama di dada mereka. Namun, alih-alih menuliskan nama asli, mereka menuliskan nama-nama "salah" yang pernah diucapkan oleh Pak Bihanto selama satu tahun penuh.
Rangga memakai papan nama "Roni", Dimas memakai papan nama "Dodi", dan Clarissa dengan bangga memakai papan nama besar bertuliskan "Kornelia / Khairunnisa".
Ketika Pak Bihanto datang dan melihat kejutan tersebut, beliau tertegun lama di depan kelas. Air matanya hampir menetes, terharu sekaligus geli melihat tingkat kedekatan emosional yang berhasil mereka bangun.
Beliau memeluk mereka satu demi satu, melepaskan anak-anak yang meski namanya sering tertukar di lidah, namun eksistensi dan kebaikan mereka telah melekat kuat dalam ingatan jangka panjang sang guru.
Oleh : Tasya Wati
Mahasiswi Prodi Tadris IPS, Universitas Islam Negeri, Jurai Siwo Lampung.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Cerita Kita

Post a Comment