Puisi
Sastra Kita
PUISI : Perjalanan 365 Hari dan Teramini
Perjalanan 365 Hari dan Teramini
Tiga ratus enam puluh lima hari bukan waktu yang sebentar.
Ada banyak hal yang kupelajari tanpa benar-benar siap.
Aku memaksa diri untuk kuat,
bukan karena tidak lelah,
tapi karena merasa tidak punya pilihan lain.
Kata “cengeng” terasa seperti ancaman,
maka kutepis jauh-jauh dari diriku.
Meski kenyataannya,
ada malam-malam ketika air mata jatuh
tanpa saksi.
Setahun itu mengajarkanku diam.
Diam saat kecewa.
Diam saat diremehkan.
Diam saat merasa tidak dianggap.
Sebagai anak bungsu,
aku sering dianggap akan baik-baik saja.
Padahal di dalam,
aku sedang berjuang menenangkan diri sendiri.
Sabar menjadi teman yang tidak selalu nyaman.
Rasanya panjang dan melelahkan.
Kadang aku ingin melawan,
ingin membuktikan dengan suara keras.
Tapi akhirnya kupilih satu cara—
bertahan, dan menunggu waktuku tiba.
Ada hari-hari ketika pikiranku dipenuhi rasa takut gagal.
Merasa tertinggal.
Merasa tidak cukup baik dibanding yang lain.
Aku sempat bertanya dalam hati,
“Tuhan, apakah Engkau masih melihatku?”
Pernah juga aku kecewa pada diriku sendiri.
Kenapa rasanya lambat sekali?
Kenapa harus sesulit ini?
Namun pelan-pelan aku sadar,
mungkin aku hanya sedang ditempa,
bukan ditinggalkan.
Aku belajar berdoa tanpa memaksa.
Belajar percaya tanpa terus-menerus bertanya.
Lalu hari itu datang.
Hari yang selama ini kutunggu dengan cemas.
Saat melihat pengumuman itu,
aku terdiam beberapa detik.
Namaku ada di sana.
Aku lolos.
Bukan hanya tentang hasilnya,
tapi tentang semua air mata yang akhirnya terasa berarti.
Tentang sabar yang tidak sia-sia.
Dan dari hati yang sudah melalui banyak hal,
aku hanya bisa berkata pelan,
Terima kasih, Tuhan.
Oleh. Ernita Siburian
Medan,
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Puisi

Post a Comment