Feature
Kampus
Mahasiswa
Pendidikan
Antropologi Kampus UIN Jurai Siwo LampungFakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Program Studi Tadris IPS
APERO FUBLIC I FEATURE.- Antropologi kampus merupakan kajian yang membahas tentang kehidupan manusia di lingkungan perguruan tinggi, mulai dari budaya, kebiasaan, pola interaksi, hingga identitas sosial mahasiswa.
Kampus bukan hanya tempat untuk belajar materi perkuliahan, tetapi juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk berkembang, beradaptasi, dan membentuk karakter diri. Kehidupan mahasiswa di kampus selalu memiliki cerita dan pengalaman yang berbeda-beda.
Dari situlah antropologi kampus menjadi menarik untuk dipelajari, karena kita dapat melihat bagaimana mahasiswa hidup, berinteraksi, dan menciptakan budaya mereka sendiri di lingkungan pendidikan tinggi.
Di lingkungan Universitas Islam Negeri Jurai Siwo Lampung, khususnya di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Program Studi Tadris IPS, kehidupan mahasiswa terlihat sangat aktif dan penuh dinamika.
Mahasiswa berasal dari berbagai daerah yang memiliki latar belakang budaya, bahasa, dan kebiasaan yang berbeda. Ada mahasiswa yang berasal dari desa, kota, maupun luar daerah Lampung. Perbedaan tersebut membuat lingkungan kampus menjadi lebih beragam dan memberikan pengalaman sosial yang baru bagi mahasiswa.
Ketika pertama kali masuk ke dunia perkuliahan, banyak mahasiswa yang awalnya belum saling mengenal. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka mulai belajar beradaptasi dengan lingkungan kampus, memahami karakter teman-teman baru, serta membangun hubungan sosial yang baik.
Saya, Iftikar Nabhan Faqih, sebagai mahasiswa Program Studi Tadris IPS merasakan bahwa kehidupan kampus di UIN Jurai Siwo Lampung memberikan banyak pengalaman dan pelajaran yang tidak hanya diperoleh di dalam kelas. Aktivitas sehari-hari di kampus membuat mahasiswa belajar tentang kerja sama, tanggung jawab, komunikasi, serta cara menghargai orang lain.
Dalam kegiatan perkuliahan, mahasiswa Tadris IPS sering melakukan diskusi kelompok, presentasi, observasi lapangan, dan membahas berbagai persoalan sosial yang terjadi di masyarakat. Hal tersebut membuat mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu melihat realitas sosial secara langsung.
Budaya kampus di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan terbentuk melalui kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan mahasiswa setiap hari. Mahasiswa terbiasa datang ke kelas tepat waktu, berdiskusi bersama teman, saling membantu ketika ada tugas kelompok, hingga bekerja sama dalam kegiatan organisasi maupun acara fakultas.
Dilingkungan Tadris IPS, suasana kekeluargaan cukup terasa karena mahasiswa sering berkumpul bersama, baik untuk belajar maupun sekadar berbincang setelah perkuliahan selesai. Interaksi tersebut secara tidak langsung membentuk solidaritas dan rasa kebersamaan antar mahasiswa.
Selain kegiatan akademik, mahasiswa Tadris IPS juga aktif dalam berbagai kegiatan organisasi dan kegiatan sosial. Organisasi kemahasiswaan menjadi tempat bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan diri, seperti public speaking, kepemimpinan, dan kerja sama tim.
Dalam organisasi, mahasiswa belajar bagaimana cara menyampaikan pendapat, menyusun kegiatan, hingga bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan. Banyak mahasiswa yang awalnya pemalu menjadi lebih percaya diri setelah aktif mengikuti organisasi kampus. Dari sinilah identitas mahasiswa mulai terbentuk melalui pengalaman dan interaksi sosial yang dilakukan setiap hari.
Kegiatan di lingkungan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan juga sering melibatkan mahasiswa dalam acara seminar pendidikan, pelatihan, lomba, dan kegiatan pengabdian masyarakat.
Mahasiswa Tadris IPS tidak hanya belajar di dalam ruang kelas, tetapi juga belajar langsung di lapangan melalui observasi sosial dan kegiatan praktik. Hal tersebut membuat mahasiswa lebih memahami kondisi masyarakat serta melatih kemampuan berpikir kritis terhadap berbagai persoalan sosial.
Dalam kehidupan kampus, mahasiswa juga menunjukkan perilaku peduli terhadap lingkungan sekitar. Kesadaran menjaga kebersihan mulai terlihat dari kebiasaan membuang sampah pada tempatnya, menjaga fasilitas kampus, serta ikut dalam kegiatan kerja bakti atau kegiatan sosial lainnya.
Walaupun terlihat sederhana, tindakan tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki rasa tanggung jawab terhadap lingkungan kampus. Beberapa mahasiswa juga ikut berpartisipasi dalam kegiatan sosial seperti bakti sosial, penggalangan dana, dan kegiatan kemasyarakatan lainnya yang diadakan oleh organisasi kampus maupun fakultas.
Dari sudut pandang antropologi, identitas mahasiswa di Program Studi Tadris IPS terbentuk melalui proses yang panjang. Mahasiswa tidak langsung memiliki identitas sebagai pribadi yang aktif dan kritis, tetapi identitas tersebut terbentuk melalui pengalaman belajar, pergaulan, organisasi, serta lingkungan sosial di kampus.
Mahasiswa belajar memahami bagaimana cara bersikap di lingkungan akademik, bagaimana menghargai dosen dan teman, serta bagaimana membawa diri dalam kehidupan sosial. Lingkungan kampus menjadi tempat yang sangat berpengaruh dalam membentuk pola pikir dan karakter mahasiswa.
Selain identitas akademik, mahasiswa juga memiliki identitas budaya yang tetap dibawa dari daerah asal masing-masing. Perbedaan bahasa daerah, logat bicara, dan kebiasaan sehari-hari sering terlihat dalam interaksi antar mahasiswa.
Namun, perbedaan tersebut justru menjadi hal yang mempererat hubungan sosial karena mahasiswa saling mengenal budaya satu sama lain. Di lingkungan kampus, mahasiswa belajar bahwa keberagaman bukan menjadi penghalang, melainkan bagian dari proses pembelajaran sosial.
Perkembangan teknologi dan media sosial juga memberikan pengaruh terhadap kehidupan mahasiswa di kampus. Mahasiswa kini tidak hanya berinteraksi secara langsung, tetapi juga aktif di media sosial untuk berbagi informasi, tugas kuliah, maupun kegiatan organisasi.
Kehidupan digital membuat mahasiswa memiliki identitas sosial yang lebih luas karena mereka dapat berkomunikasi dan berinteraksi dengan banyak orang melalui media online. Namun demikian, mahasiswa tetap harus mampu menjaga sikap dan etika dalam menggunakan media sosial agar tetap mencerminkan identitas sebagai mahasiswa yang baik.
Kehidupan kampus di UIN Jurai Siwo Lampung, khususnya di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Program Studi Tadris IPS, menunjukkan bahwa kampus bukan hanya tempat mencari ilmu, tetapi juga tempat membangun pengalaman hidup dan identitas sosial.
Melalui aktivitas perkuliahan, organisasi, interaksi sosial, serta kegiatan kemasyarakatan, mahasiswa belajar menjadi pribadi yang lebih dewasa, aktif, dan bertanggung jawab. Antropologi kampus membantu memahami bahwa kehidupan mahasiswa merupakan proses budaya yang terus berkembang melalui hubungan sosial, pengalaman, dan lingkungan tempat mereka belajar.
PENULIS : Iftikar Nabhan Faqih
Mahasiswa Prodi Tadris IPS, Universitas UIN Jurai Siwo Lampung.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Feature

Post a Comment