Cerpen
Kampus
Mahasiswa
Sastra Kita
Antara Diam dan Runtuh
APERO FUBLIC I CERPEN.- Aku belajar menyembunyikan lelah sejak lama. Bukan karena aku kuat, tapi karena dunia lebih ramah pada orang-orang yang terlihat sanggup. Sejak itu, aku terbiasa menjawab “nggak apa-apa,” bahkan sebelum orang selesai bertanya.
Di kantor, Aku dikenal sebagai orang yang bisa diandalkan. Datang lebih awal, pulang paling akhir, jarang mengeluh. Mejaku selalu rapi, surel-surelku selalu dibalas tepat waktu. Saat pekerjaan menumpuk, Aku yang pertama mengangguk. Saat yang lain menyerah, Aku masih duduk di depan layar, menatap huruf-huruf yang semakin lama semakin kabur; seperti bayangan yang tak pernah bisa kugapai.
“Kamu nggak capek?” tanya seseorang suatu hari, sambil menyesap kopi.
Aku mengangkat wajah dan tersenyum. Senyum yang sudah kuhafal letaknya. “Biasa aja.”
Padahal tubuhku sering gemetar pelan di balik meja. Bukan karena dingin, tapi karena terlalu lama menahan. Tubuhku seolah memberi tanda-tanda kecil yang kupilih untuk diabaikan: Pundak yang nyeri, kepala yang berat, napas yang kadang terasa sempit tanpa sebab.
Di rumah, aku tetap berusaha hadir. Menjawab pesan keluarga, mendengarkan cerita orang lain, tertawa di waktu yang tepat. Aku tidak ingin jadi beban. Aku tidak ingin merepotkan siapa pun dengan lelahku yang, entah kenapa, selalu terasa tidak cukup penting untuk diceritakan.
Malam-malamku panjang. Aku berbaring dengan mata terpejam, tapi pikiranku riuh seperti pasar yang tak pernah tutup. Daftar kesalahan berputar seperti rekaman rusak: keputusan yang salah, kata-kata yang seharusnya tidak diucapkan, mimpi yang tak jadi apa-apa. Jam berdetak di dinding, detiknya terdengar jelas, seolah mengejekku yang tetap terjaga.
Aku lelah, tapi bangun keesokan harinya tetap memaksakan diri tersenyum.
Suatu pagi di lift kantor, seorang rekan menepuk bahuku. Ruangan sempit itu berbau parfum dan logam dingin. “Kamu hebat, ya,” katanya ringan. “Selalu kelihatan kuat.”
Kalimat itu seharusnya pujian. Tapi di dadaku, ia jatuh seperti beban baru.
Aku ingin berkata: aku nggak sekuat itu. Aku ingin bertanya: kalau aku berhenti kuat, apa masih ada tempat buatku?.
Tapi pintu lift keburu terbuka. Orang-orang bergerak keluar cepat, percakapan itu berakhir, dan kejujuran kutelan bulat-bulat.
Hari-hari berlalu dengan pola yang sama: pekerjaan, senyum, lelah – begitu berulang kali.
Sampai suatu malam, tubuhku akhirnya menyerah lebih dulu. Aku duduk di lantai ruang tamu, punggung bersandar ke sofa. Lampu tidak kunyalakan. Aku terlalu capek untuk berdiri, terlalu kosong untuk melakukan apa pun. Makan malam tergeletak dingin di atas meja, tak tersentuh, seperti niat-niak baik yang selalu kutunda.
Tanganku meraih ponsel. Layarnya menyala, terang di tengah gelap. Aku mengetik pesan pada seseorang yang kupikir bisa mengerti.
“Capek.”
Satu kata. Tapi beratnya seperti membawa seluruh hidupku. Jemariku gemetar. Lalu kuhapus.
Aku menulis lagi: “Aku lagi nggak baik-baik aja.”
Kuhapus lagi.
Aku menatap layar lama sekali. Seolah menunggu ponsel itu menjawab lebih dulu. Akhirnya, aku meletakkan ponsel tanpa mengirim apa pun. Seperti biasa, aku memilih diam.
Pagi berikutnya, semuanya tampak normal—dari luar. Aku berdiri di depan cermin kamar mandi kantor, membetulkan rambut, merapikan wajah. Tapi ada yang aneh. Bayangan di cermin tampak terlambat setengah detik mengikuti gerakanku. Senyumku muncul, tapi mataku tidak ikut. Aku menatap diriku sendiri, lama.
“Berapa lama lagi?” suara itu terdengar pelan, entah dari mana. “Berapa lama lagi kamu mau pura-pura?”
Dadaku mendadak sesak. Napasku pendek-pendek. Tanganku mencengkeram wastafel. Bayangan di cermin tetap diam, menatapku tanpa senyum. Untuk pertama kalinya, aku tidak langsung menjawab nggak apa-apa.
Aku membawa pertanyaan itu ke mana-mana. Ke rapat hingga ke lorong kantor. Ke lift yang kembali menutup sebelum jujur. Tubuhku masih bergerak, tapi pikiranku tertinggal. Terlalu lelah untuk berpura-pura, terlalu takut untuk berhenti.
Dari sinilah akhirnya aku mengerti: bukan dunia yang menjatuhkanku. Aku sendiri yang terlalu lama menahan diri agar tidak runtuh.
Aku tidak pingsan. Tidak jatuh. Tidak ada yang dramatis. Aku hanya… berhenti.
Hari itu, aku keluar dari kantor tanpa menjelaskan apa pun. Aku membiarkan pintu tertutup di belakangku, meninggalkan target, senyum, dan kewajiban di Gedung yang dingin itu. Langkah kaki membawaku ke taman kecil di sudut kota – taman yang jarang dikunjungi orang. Aku duduk di bangku kayu yang catnya mengelupas dan rumput di sekeliling yang tumbuh tak beraturan.
Di sana, tanpa saksi, tanpa penilaian, aku akhirnya membiarkan tubuhku runtuh. Aku menangis. Tangis yang pelan dan tertib. Seperti semua hal lain dalam hidupku yang selalu berusaha tidak mengganggu siapa pun. Air mataku jatuh tanpa suara, meresap ke sela napas yang berat. Dadaku naik turun, berat, seperti selama ini aku menahan napas dan baru sekarang diizinkan menghembuskannya.
Ponselku bergetar.
Pesan dari ibu. “Kamu pulang kapan? Ibu masak makanan kesukaan kamu.”
Kalimat sederhana itu menghancurkanku. Seperti rumah yang tiba-tiba menyala di kejauhan setelah perjalanan panjang dalam gelap.
Saat itu aku sadar: selama ini aku bukan takut lelah, aku takut mengaku lemah. Takut jika aku berhenti kuat, aku akan kehilangan tempat di hidup orang-orang.
Malam itu, saat seseorang akhirnya bertanya dengan nada sungguh-sungguh,
“Kamu kenapa?”
Aku menarik napas panjang. Napas yang terasa asing karena sudah lama tidak kulakukan dengan benar.
“Capek,” jawabku.
Suaraku bergetar. Tapi kali ini, aku tidak menariknya kembali. Aku tidak menambalnya dengan tawa. Tidak juga membungkusnya dengan ucapan nggak apa-apa.
Tidak ada yang marah. Tidak ada yang pergi. Tidak ada yang mengatakan aku berlebihan. Yang ada hanya diam sebentar, lalu pelukan yang tidak menuntut penjelasan.
Di situlah aku akhirnya mengerti sesuatu yang terlambat kusadari: kelelahan yang disembunyikan tidak membuat kita kuat, ia hanya membuat kita sendirian.
Malam itu, aku tidur. Bukan karena semua masalah selesai. Bukan karena hidup tiba-tiba menjadi ringan. Aku tidur karena akhirnya aku berhenti berpura-pura.
PENULIS: Ersi Novelia Putri
Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang.
Biografi Penulis
Dengan ini saya Ersi Novelia Putri lahir di Sumbawa, 8 November 2005. Yang berdomisili Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, dan saat ini berstatus sebagai mahasiswa aktif Universitas Muhammadiyah Malang. Akun media sosial instagram saya @ersiinovelia_. saya tertarik pada dunia kepenulisan, khususnya cerita yang mengangkat pergulatan batin dan pengalaman emosional manusia. Melalui cerpen Antara Diam dan Runtuh, penulis menyampaikan refleksi tentang kelelahan yang dipendam dan keberanian untuk jujur pada diri sendiri.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Cerpen

Post a Comment