Cerpen
Mahasiswa
Sastra Kita
Rumah yang Tak Pernah Benar-Benar Ditinggali
APERO FUBLIC I CERPEN.- Rumah nenekku berdiri tepat di samping rumahku, hanya dipisahkan oleh tembok pendek yang bahkan bisa kulewati dengan satu langkah. Sejak kecil, aku sudah terbiasa keluar-masuk rumah itu tanpa perlu mengetuk pintu.
Rasanya seperti dua rumah, sebenarnya satu, hanya dipisahkan oleh garis yang tidak pernah benar-benar terasa. Rumah itu tidak terlalu besar, tapi cukup luas untuk ukuran rumah lama. Dindingnya tebal, catnya mulai memudar di beberapa bagian, dan lantainya selalu terasa dingin, bahkan saat siang hari.
Halamannya hanya sebidang tanah kosong yang mengelilingi rumah, tanpa pohon besar, tanpa kebun, hanya tanah yang kadang retak saat panas dan lembap setelah hujan turun.
Dari luar, rumah itu terlihat biasa saja, kadang bahkan terasa hidup.
Pintu depannya jarang benar-benar tertutup. Televisi hampir selalu menyala, entah ditonton atau tidak. Suara orang berbicara sering terdengar dari dalam, terutama saat anak-anak nenek datang menjenguk. Mereka biasanya datang sore hari, membawa makanan, duduk sebentar, berbincang, lalu pulang sebelum malam benar-benar turun.
Tetangga juga sering mampir, jadi kalau dilihat dari luar, rumah itu tidak pernah benar-benar sepi. Tapi aku tahu, itu tidak sepenuhnya benar. Karena setiap kali aku melangkah masuk ke dalamnya. Ada sesuatu yang selalu kurasakan. Sunyi bukan sunyi yang kosong, bukan juga karena tidak ada suara.
Justru sebaliknya, suara ada di mana-mana. Televisi, percakapan, langkah kaki. Tapi di balik semua itu, ada kesunyian yang aneh. Kesunyian yang terasa berat, seolah-olah menempel di dinding, di lantai, bahkan di udara yang kuhirup.
Dulu, rumah itu tidak seperti ini. Dulu ada kakek, aku masih ingat bagaimana ia selalu duduk di kursi yang sama di ruang tengah, dengan televisi menyala di depannya. Ia jarang benar-benar fokus menonton, tapi tetap membiarkan suara itu memenuhi ruangan.
Katanya, rumah yang terlalu sepi itu tidak baik. Suara membuat rumah terasa hidup. Aku sering duduk di lantai dekat kakinya, mendengarkan cerita-ceritanya. Suaranya keras, tawanya mudah terdengar, dan kehadirannya membuat rumah itu terasa penuh sampai suatu hari, semuanya berubah.
Kakek ditemukan sudah meninggal, bukan di rumah, bukan di kamar, tapi di luar. Jauh dari tempat ini, tidak ada yang benar-benar menjelaskan bagaimana kejadiannya. Orang-orang hanya berkata bahwa itu sudah waktunya.
Bahwa setiap orang pasti akan pergi. Pada akhirnya, tubuhnya dipulangkan ke rumah. Dibaringkan di ruang tengah, orang-orang datang silih berganti. Ada yang menangis, ada yang hanya diam, ada yang berdoa. Rumah itu penuh, lebih ramai dari biasanya tapi di tengah semua keramaian itu, aku justru merasakan sesuatu yang berbeda sunyi.
Lebih dalam, lebih berat seolah-olah rumah itu menahan sesuatu yang tidak bisa keluar setelah pemakaman, semuanya kembali seperti biasa atau setidaknya. Terlihat seperti biasa, anak-anak nenek kembali ke rumah masing-masing.
Tetangga tidak lagi sering datang. Televisi masih menyala. Pintu masih sering terbuka, tapi ada sesuatu yang hilang dan sesuatu itu tidak pernah benar-benar kembali sekarang hanya nenek yang tinggal di sana nenek sudah tua.
Tubuhnya lemah, dan ia sering sakit. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di kamar, berbaring atau duduk diam di dekat jendela. Kadang matanya terbuka, tapi tidak benar-benar fokus pada apa pun.
Aku masih sering datang ke sana awalnya karena kebiasaan, lalu karena merasa kasihan dan lama-kelamaan karena penasaran. Karena perasaan itu, tidak pernah hilang sunyi itu. Suatu sore, aku datang seperti biasa, pintu depan terbuka sedikit. Televisi menyala pelan. Tapi tidak ada suara orang. Aku melangkah masuk, langkah kakiku terdengar lebih keras dari biasanya.
“Nenek…” panggilku pelan, tidak ada jawaban. Aku berjalan lebih dalam dan saat itulah aku mendengarnya, langkah kaki pelan dari arah ruang tengah. Aku langsung berhenti, jantungku berdegup lebih cepat. Aku yakin tadi tidak ada siapa-siapa. Aku mencoba berpikir logis. Mungkin ada orang lain di dalam rumah. Mungkin ada yang baru saja datang.
Tapi tidak ada suara pintu dibuka, tidak ada tanda-tanda seseorang masuk hanya langkah itu. Aku berjalan perlahan ke arah ruang tengah dan saat aku sampai di sana tidak ada siapa pun.
Hanya kursi yang sedikit bergeser, seperti baru saja diduduki. Aku berdiri diam beberapa detik lalu memaksakan diri untuk berjalan ke kamar nenek. Nenek ada di sana berbaring dengan mata setengah terbuka.
“Aku datang,” kataku pelan, Ia menoleh sedikit lalu tersenyum tipis.
“Kamu datang…” Aku duduk di sampingnya. “Nenek sendirian?.” tanyaku, ia menggeleng pelan.
“Tidak… ada kakek.” jawab nenek. Aku terdiam, aku pikir itu hanya karena nenek merindukan kakek. Tapi cara ia mengatakannya…tidak terdengar seperti kenangan lebih seperti… kepastian.
Malam itu, aku memutuskan untuk menginap aku tidak tahu kenapa mungkin karena penasaran atau mungkin karena ada sesuatu yang membuatku ingin memastikan sendiri sekitar tengah malam, aku terbangun bukan karena mimpi tapi karena suara langkah kaki pelan berat…seperti seseorang berjalan di dalam rumah.
Aku duduk di tempat tidur, menahan napas, langkah itu semakin dekat, satu langkah, dua langkah, tiga langkah, sampai berhenti tepat di depan pintu kamar sunyi. Lalu terdengar suara kecil seperti gagang pintu disentuh. Tanganku langsung dingin, aku tidak berani bergerak.
Aku hanya bisa menatap pintu itu dalam diam beberapa detik kemudian langkah itu menjauh, perlahan menghilang. Aku tidak tidur lagi, malam itu dan sejak kejadian itu, semuanya berubah. Aku mulai lebih memperhatika rumah itu, memang ramai, tapi keramaian itu terasa kosong.
Orang-orang datang dan pergi. Tidak ada yang benar-benar tinggal lama tidak ada yang benar-benar betah dan setiap kali rumah itu kembali sepi suara-suara itu muncul lagi kadang dari ruang kosong, kadang dari lorong, kadang tepat di belakangku, aku mulai merasa selalu diperhatikan, seolah-olah ada yang mengawasi setiap langkahku di suatu malam.
Aku tidak tahan lagi, lalu keluar kamar saat suara itu muncul lagi, lorong gelap, udara terasa lebih dingin. aku berjalan perlahan menuju ruang tengah dan di sana aku melihatnya seseorang berdiri diam, Membelakangi. Tubuhnya tinggi, bahunya sedikit membungkuk. Aku tidak perlu melihat wajahnya. Aku tahu siapa itu, Kakek.
Tubuhku langsung kaku, aku ingin memanggil tapi suaraku tidak keluar. Sosok itu tidak bergerak dan tidak menoleh. Hanya berdiri seolah-olah ia memang bagian dari rumah itu. Lampu berkedip dan dalam satu kedipan ia hilang, aku mundur perlahan. Tanganku gemetar, dan saat itu, aku akhirnya mengerti kakek memang tidak meninggal di rumah ini, tapi… ia tidak pernah benar-benar pergi. Keesokan harinya, aku menemui nenek.
“Kakek masih di sini, ya?.” tanyaku pelan, nenek tidak terlihat terkejut. Ia hanya menatap ke arah pintu kamar, lalu berkata lirih.
“Dia pulang.”
Aku menelan ludah.
“Kenapa…?” Nenek menarik napas pelan.
“Karena ini masih rumahnya."
Aku tidak bisa berkata apa-apa sejak saat itu, aku tidak pernah melihat rumah nenek dengan cara yang sama lagi. Aku masih datang, masih duduk di ruang tamu yang sama, masih mendengar televisi yang tidak pernah benar-benar dimatikan. Tapi sekarang, aku tahu rumah itu tidak pernah benar-benar sepi bukan karena orang-orang yang datang dan pergi, tapi karena ada sesuatu yang selalu tinggal.
Suatu malam, sebelum pulang, aku berdiri di halaman rumahku, aku menoleh ke rumah nenek. Tampak lampunya masih menyala dan di jendela ruang tengah aku melihat sosok itu lagi, diam menatap ke luar seolah-olah sadar bahwa aku melihatnya.
Aku langsung memalingkan wajah, jantungku berdegup kencang dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar mengerti rumah itu tidak pernah benar-benar ditinggali karena mereka yang ada di dalamnya tidak pernah benar-benar pergi.
PENULIS : Asfahani
Mahasiswa Universitas Negeri Makassar, Sastra indonesia, Bahasa dan Sastra.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Cerpen

Post a Comment