Jambi
Kampus
Mahasiswi
Pariwisata
Pendidikan
Taman Banjuran Budayo: Dari Ruang Publik Menuju Penggerak PAD Kota Jambi
APERO FUBLIC I Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan salah satu indikator penting dalam mengukur kemandirian suatu daerah. Semakin besar PAD yang diperoleh, semakin besar pula kemampuan pemerintah daerah membiayai pembangunan tanpa bergantung pada pemerintah pusat. Oleh karena itu, pemerintah dituntut untuk terus menggali potensi daerah yang dapat memberikan nilai ekonomi sekaligus manfaat sosial bagi masyarakat.
Salah satu potensi yang menarik perhatian di Kota Jambi adalah Taman Banjuran Budayo. Kawasan yang sebelumnya dikenal sebagai Taman Remaja ini direvitalisasi dan diresmikan sebagai ruang publik yang mengusung identitas budaya Melayu Jambi. Selain menjadi tempat rekreasi, taman ini juga diproyeksikan sebagai ruang pelestarian budaya, pusat kegiatan seni, serta wadah bagi pelaku UMKM dan ekonomi kreatif.
Menurut saya, perubahan wajah Taman Banjuran Budayo merupakan langkah yang tepat. Namun, keberhasilan suatu ruang publik tidak hanya diukur dari keindahan fisik atau jumlah pengunjung, melainkan juga dari sejauh mana kawasan tersebut mampu memberikan dampak ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat dan berkontribusi terhadap PAD Kota Jambi.
Saat ini, tantangan terbesar adalah bagaimana menjadikan Taman Banjuran Budayo sebagai destinasi yang selalu hidup, bukan hanya ramai pada saat festival atau acara tertentu. Banyak ruang publik di Indonesia yang mengalami penurunan jumlah pengunjung setelah euforia peresmian berakhir. Kondisi ini perlu diantisipasi agar Taman Banjuran Budayo tidak mengalami hal serupa.
Pemerintah Kota Jambi sebenarnya telah memanfaatkan taman ini sebagai lokasi berbagai kegiatan budaya, festival, dan pemberdayaan UMKM, termasuk melalui program Z Corner yang bertujuan mendukung pertumbuhan usaha kecil. Langkah tersebut menunjukkan bahwa taman tidak hanya berfungsi sebagai ruang terbuka hijau, tetapi juga sebagai pusat aktivitas ekonomi masyarakat.
Meski demikian, masih diperlukan inovasi agar kawasan ini memiliki daya tarik sepanjang tahun. Salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah menyusun kalender event tahunan yang konsisten. Misalnya, pertunjukan seni Melayu setiap akhir pekan, festival kuliner khas Jambi setiap bulan, pameran ekonomi kreatif, hingga pertunjukan musik tradisional yang melibatkan komunitas lokal. Dengan adanya agenda yang rutin, wisatawan memiliki alasan untuk kembali berkunjung.
Selain itu, promosi digital juga perlu diperkuat. Saat ini, keputusan seseorang untuk mengunjungi suatu destinasi wisata sering kali dipengaruhi oleh media sosial. Oleh karena itu, pemerintah dapat menggandeng kreator konten, fotografer, komunitas pariwisata, maupun influencer lokal untuk memperkenalkan daya tarik Taman Banjuran Budayo kepada masyarakat yang lebih luas.
Dari sisi ekonomi, keberadaan UMKM harus menjadi prioritas. Pemerintah dapat menyediakan ruang usaha yang tertata, nyaman, dan mudah diakses oleh pengunjung. Semakin banyak transaksi ekonomi yang terjadi di kawasan tersebut, semakin besar pula potensi penerimaan daerah melalui pajak dan retribusi, sekaligus meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha lokal.
Aspek kebersihan, keamanan, dan kenyamanan juga tidak boleh diabaikan. Pengunjung akan datang kembali apabila mereka merasa aman, fasilitas umum terawat, tersedia area parkir yang memadai, serta lingkungan tetap bersih. Pengelolaan yang profesional menjadi faktor penting dalam menjaga citra destinasi wisata.
Pada akhirnya, saya berpendapat bahwa Taman Banjuran Budayo memiliki peluang besar menjadi salah satu ikon wisata budaya sekaligus penggerak ekonomi Kota Jambi. Namun, keberhasilan tersebut memerlukan komitmen pemerintah untuk terus berinovasi, memperkuat kolaborasi dengan masyarakat dan pelaku usaha, serta melakukan evaluasi terhadap setiap program yang dijalankan.
Apabila dikelola secara konsisten dan berkelanjutan, Taman Banjuran Budayo tidak hanya menjadi ruang publik yang indah, tetapi juga mampu meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), memperkuat identitas budaya Melayu Jambi, serta mendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang inklusif.
Dengan demikian, taman ini dapat menjadi contoh bahwa pelestarian budaya dan pembangunan ekonomi bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan dapat berjalan beriringan demi kemajuan Kota Jambi.
Oleh: Zelita Wati
Mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan, Kampus Universitas Nurdin Hamzah.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Jambi

Post a Comment