Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Sosiologi
Dunia Sedang Maju dengan Cepat, tetapi Semakin Terpecah
APERO FUBLIC I Ketika mendengar kalimat *”dunia sedang maju dengan cepat, tetapi semakin terpecah”*, saya merasa kalimat tersebut sangat menggambarkan kondisi yang sedang kita alami saat ini. Setiap hari kita menyaksikan berbagai kemajuan yang luar biasa di bidang teknologi, ilmu pengetahuan, dan komunikasi.
Hal-hal yang dulu dianggap mustahil kini menjadi sesuatu yang biasa. Kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), internet berkecepatan tinggi, kendaraan listrik, hingga layanan digital telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, berkomunikasi, bahkan mengambil keputusan. Menurut saya, kemajuan ini merupakan pencapaian besar yang patut diapresiasi karena telah memberikan banyak kemudahan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai mahasiswa, saya juga merasakan manfaat dari perkembangan teknologi. Saya dapat mengakses jurnal ilmiah, buku elektronik, dan berbagai sumber informasi hanya melalui telepon genggam atau laptop. Tugas kuliah menjadi lebih mudah dikerjakan karena tersedia banyak platform yang mendukung proses belajar.
Selain itu, komunikasi dengan dosen, teman, maupun keluarga menjadi lebih cepat tanpa harus bertemu secara langsung. Semua itu menunjukkan bahwa kemajuan teknologi benar-benar membawa perubahan yang positif.
Namun, di balik semua kemudahan tersebut, saya juga melihat sisi lain yang cukup mengkhawatirkan.
Meskipun manusia semakin mudah terhubung melalui teknologi, hubungan sosial justru terasa semakin rapuh. Media sosial yang awalnya diciptakan untuk mempererat komunikasi kini sering menjadi tempat terjadinya perdebatan, penyebaran ujaran kebencian, bahkan fitnah.
Tidak sedikit orang yang lebih memilih menyerang orang lain hanya karena memiliki pandangan yang berbeda. Menurut saya, hal ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi belum tentu diikuti oleh kemajuan dalam cara berpikir dan bersikap.
Saya juga memperhatikan bahwa perkembangan teknologi membuat arus informasi bergerak sangat cepat. Sayangnya, tidak semua informasi yang beredar dapat dipercaya. Banyak berita palsu atau hoaks yang tersebar luas dan memengaruhi cara masyarakat memandang suatu persoalan.
Yang lebih memprihatinkan adalah banyak orang langsung mempercayai dan menyebarkan informasi tersebut tanpa melakukan pengecekan terlebih dahulu. Akibatnya, kesalahpahaman semakin mudah terjadi dan perpecahan di masyarakat semakin sulit dihindari.
Selain itu, saya berpendapat bahwa dunia masih menghadapi kesenjangan yang cukup besar. Tidak semua negara atau masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati hasil kemajuan teknologi. Di kota-kota besar, teknologi berkembang sangat pesat dan hampir semua aktivitas dapat dilakukan secara digital.
Namun, di daerah yang masih memiliki keterbatasan akses internet atau pendidikan, masyarakat belum dapat menikmati manfaat tersebut secara maksimal. Kondisi ini menunjukkan bahwa kemajuan dunia belum dirasakan secara adil oleh semua orang.
Menurut saya, perpecahan juga terlihat dari meningkatnya polarisasi dalam berbagai aspek kehidupan, baik politik, sosial, maupun budaya. Perbedaan yang seharusnya menjadi kekayaan justru sering dijadikan alasan untuk saling menjatuhkan.
Saya merasa bahwa masyarakat saat ini lebih mudah mengelompokkan diri berdasarkan kesamaan pandangan daripada membuka ruang untuk berdialog. Padahal, keberagaman merupakan bagian dari kehidupan yang tidak bisa dihindari. Jika setiap orang mau saling mendengarkan dan menghargai pendapat yang berbeda, saya yakin banyak konflik dapat diminimalkan.
Di tingkat global, berbagai konflik dan peperangan yang masih berlangsung juga menjadi bukti bahwa dunia belum sepenuhnya mampu menggunakan kemajuan teknologi untuk menciptakan perdamaian. Teknologi yang seharusnya dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia justru terkadang digunakan sebagai alat untuk memperkuat persaingan dan konflik. Menurut saya, hal ini menjadi ironi karena semakin canggih teknologi yang dimiliki manusia, semakin besar pula tanggung jawab untuk menggunakannya secara bijaksana.
Saya percaya bahwa kemajuan tidak seharusnya hanya diukur dari seberapa modern teknologi yang dimiliki suatu negara. Kemajuan juga harus diukur dari kualitas sumber daya manusianya, seperti kemampuan untuk berpikir kritis, menghargai perbedaan, menjaga etika, dan memiliki rasa empati terhadap sesama.
Teknologi hanyalah alat. Yang menentukan apakah alat tersebut membawa manfaat atau justru menimbulkan kerugian adalah manusia yang menggunakannya.
Sebagai generasi muda, saya merasa memiliki tanggung jawab untuk ikut menciptakan lingkungan digital yang lebih sehat. Hal sederhana seperti tidak mudah menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya, menghargai pendapat orang lain, dan menggunakan media sosial secara bijak merupakan langkah kecil yang dapat memberikan dampak positif.
Saya juga percaya bahwa pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk masyarakat yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat serta mampu hidup berdampingan dalam keberagaman.
Pada akhirnya, saya berpendapat bahwa dunia memang sedang bergerak menuju masa depan yang semakin maju. Akan tetapi, kemajuan tersebut akan kehilangan maknanya jika manusia semakin terpecah karena perbedaan, kepentingan, atau kurangnya rasa saling menghargai.
Bagi saya, kemajuan yang sesungguhnya bukan hanya tentang teknologi yang semakin canggih, tetapi juga tentang kemampuan manusia untuk menjaga persatuan, membangun dialog, dan menciptakan kehidupan yang damai. Jika keduanya dapat berjalan beriringan, saya yakin masa depan tidak hanya akan menjadi lebih modern, tetapi juga lebih manusiawi.
Oleh: Deni Pratama Kurnia Putra
Mahasiswa Prodi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Adab dan Humaniora UIN Raden Fatah Palembang.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment