Aceh
Esai
Kampus
Mahasiswi
Pendidikan
Gelar sebagai Tradisi dan Simbol Kehormatan dalam Sistem Pemerintahan Kerajaan Samudera Pasai
APERO FUBLIC I Kerajaan Samudera Pasai merupakan kerajaan Islam pertama di Nusantara yang berdiri di pesisir utara Aceh dan berperan penting dalam penyebaran Islam serta perkembangan perdagangan di Asia Tenggara.Kerajaan Samudera Pasai didirikan pada akhir abad ke-13 oleh Meurah Silu yang kemudian memeluk Islam dan bergelar Sultan Malik al-Saleh.
Selain itu, tercatat bahwa Kerajaan Samudra Pasai dianggap sebagai kerajaan Islam pertama di wilayah ini, sebagai hasil dari proses Islamisasi yang terjadi di kawasan pesisir yang didatangi oleh para pedagang.kemajuan ekonominya dan hubungan perdagangannya dengan banyak wilayah, Laut Pasai juga memiliki sistem pemerintahan yang terorganisir dengan baik.
Salah satu bentuk keteraturan yang paling menonjol dalam sistem pemerintahan Samudera Pasai adalah penggunaan gelar. Gelar tertinggi yang terdapat dalam struktur kerajaan adalah Sultan. Gelar ini bukan sekadar sebutan untuk pemimpin, melainkan simbol kehormatan tertinggi yang mengandung legitimasi kekuasaan, otoritas penuh, dan tanggung jawab besar dalam mengatur masyarakat.
Seorang Sultan bertugas bertanggung jawab besar buat menjaga keamanan kerajaan, memastikan ajaran Islam ditegakkan, mengatur jalannya pemerintahan, sampai menjaga hubungan baik dengan daerah-daerah taklukan atau wilayah yang berada di bawah pengaruh Kesultanan.
Posisi Sultan benar-benar jadi yang utama dalam semua aspek kehidupan baik politik, agama, maupun sosial.sultan dia juga membawahi beberapa negeri di bawahnya. Jadi seorang sultan itu bukan hanya dia membidangi ataupun membawahi negeri yang dipimpinnya di satu tempat, misalnya di samudera Pasai ini, bukan di sini saja.
Tapi dia menaungi beberapa tempat lainnya yang ada di kawasan Asia Tenggara ini, kalau konteksnya samudera Pasai. Buktinya, ada beberapa delegasi daripada Sultan-Sultan Samudra pasai ini yang berkedudukan di tempat lain. Salah satunya di Kesultanan Islam Lemuri namanya.
Kesultanan Islam Lemuri itu berada di sebuah gampung Namanya Kampung Lamreh, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. Di Aceh Besar sana. Di sana ada, namanya Kesultanan islam Lamuri.Sultan itu tentu dia tidak berdiri sendiri, harus ada kabinet pemerintahannya.
Walaupun struktur pemerintahan kerajaan Samudera Pasai belum terdokumentasi secara lengkap,penggunaan gelar dalam lingkungan menunjukkan adanya tata pemerintahan yang teratur. hal ini bisa menunjukkan bahwa setiap gelar itu memiliki fungsi dan kedudukan yang berbeda sesuai dengan peran yang dijalankan dalam pemerintahan.
Di Kerajaan Samudera Pasai, pemberian gelar tidak dilakukan sembarangan, melainkan sangat ditentukan oleh posisi dan tanggung jawab yang seseorang. Gelar di sini bukan cuma sekadar lambang kehormatan, tapi juga punya fungsi penting sebagai penanda legitimasi kekuasaan sekaligus pembagian tugas di dalam struktur pemerintahan.
Makanya, dengan adanya tradisi ini, rakyat jadi lebih mudah mengenali posisi atau jabatan seseorang di kerajaan, yang otomatis sangat membantu kelancaran birokrasi dan administrasi saat itu enggak cuma soal gelar, Samudera Pasai juga punya tradisi yang menempatkan para cendekiawan di posisi-posisi strategis.
Alhasil, kerajaan ini bukan cuma dikenal sebagai pusat kekuatan politik, tapi sekaligus menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan dakwah Islam. Di sisi lain, kemampuan mereka dalam menjalin diplomasi dan memperluas jaringan perdagangan juga menjadi ciri khas yang nggak terpisahkan dari kejayaan Samudera Pasai.
Tradisi di Samudera Pasai ini dampaknya nggak main-main. Selain ikut mendongkrak perekonomian, tradisi ini juga punya peran besar dalam menyebarkan Islam ke berbagai penjuru Nusantara. Yang menarik, di sini terjadi perpaduan yang harmonis antara nilai-nilai Islam, budaya lokal, dan sistem pemerintahan yang teratur.
Kebiasaan menggunakan gelar, menghormati ulama, serta jalinan diplomasi dan perdagangan yang erat, semuanya jadi bukti kalau Kerajaan Pasai sudah punya peradaban yang maju. Bahkan, pengaruh kerajaan ini cukup terasa dalam tumbuh-kembangnya kerajaan-kerajaan Islam lain di kepulauan kita.
Pemberian gelar sendiri, di lingkungan samudera Pasai ada aturan yang berdasarkan adat dan syariat Islam. Makanya, gelar di sini bukan cuma sekadar sebutan atau posisi belaka. Lebih dari itu, gelar adalah simbol kehormatan yang dipakai untuk mengukuhkan legitimasi kekuasaan, menjaga martabat keluarga kerajaan, dan melestarikan tradisi turun-temurun.
Pemberian gelar ini berlaku untuk sultan, kerabat kerajaan, hingga pejabat pemerintahan, dan semuanya merupakan bentuk penghargaan atas kedudukan, wibawa, serta pengabdian seseorang terhadap kerajaan. Jadi, bisa dibilang, Samudera Pasai nggak hanya berhasil membangun struktur politik yang kokoh, tapi juga mewariskan identitas budaya yang tetap dikenang sepanjang sejarah.
Daftar Pustaka
Andini fitriani,Isrina siregar, Supian Ramli. “Peran Sultan Malikussaleh Dalam Perkembangan Kerajaan Samudra Pasai 1297-1326m” 2, no. 1 (2022): 11–22.
Dinan, Aulia, Muhammad Dzakiyy, and Muhammad Farhan Febrian. “Sejarah Kerajaan Samudera Pasai Di Indonesia” 3, no. 7 (2024): 161–67.
Handayani, Fitri. “Tradisi Pemberian Gelar Dalam Suku Melayu” 2 (2026): 106–16.
Raihani Dewi Nasution, Sholahuddin Ashani. “Politik Kerajaan Samudera Pasai” 3, no. 1 (n.d.).
OLEH: Nada Ulva
Mahasiswi Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe.
Email: Nadaulval@gmail.com.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Aceh

Post a Comment