Kampus
Mahasiswi
Opini
Pendidikan
Seni Menipu Diri: Mahasiswa Dibalik Kata “Self-Reward”
APERO FUBLIC I OPINI.- “Jujur saja, sebagai mahasiswa akuntansi yang belum punya penghasilan sendiri, saya sering merasa ironis. Di kelas kita belajar cara menyusun laporan keuangan yang presisi, tapi di kehidupan nyata, saya sering ‘memanipulasi’ laporan keuangan pribadi saya sendiri.”
Pikiran itu mendadak muncul waktu saya mengecek sisa saldo rekening yang ternyata sudah kritis di pertengahan bulan. padahal, tangan saya baru saja selesai mengetik lembar demi lembar tugas yang cukup menguras pikiran. Ironis rasanya, logika dan teori yang saya gunakan untuk menyusun laporan keuangan di kelas praktikum justru gagal total saat diterapkan pada keuangan pribadi saya sendiri.
Pasti banyak dari kita yang pernah ngerasain posisi ini. namanya juga mahasiswa, lagi idealis-idealisnya, penuh harapan, dan ambisius. Tapi di sisi lain, kita dipaksa pintar-pintar mengatur keuangan yang... jujur saja, sebenarnya bukan uang kita sendiri.
Sebagian besar dari kita kan masih hidup dari kiriman orang tua. Nah, dilemanya ada di sini: agak ironis, gak sih, kalau kita hobi minta self-reward, padahal buat nyari uang sepeser pun kita belum pernah?
Ironi Mahasiswa Akuntansi: Teori Alokasi Dana vs Realita Isi Dompet yang Menipis
Pernah tidak sih, pas lagi duduk di kelas Audit atau Seminar Akuntansi, mendengarkan dosen menjelaskan soal going concern sama revenue recognition, terus tiba-tiba mikir “Kok teori ini tidak sinkron ya sama hidup saya?”
‘Agak ironis, gak sih?’
Di kelas kita menghafal mati-matian kalau pendapatan itu baru boleh diakui kalau sudah terealisasi dan bisa diukur secara objektif. Simpelnya: kamu baru berhak dapat uang kalau memang sudah kerja keras dan menghasilkan sesuatu.
Tapi anehnya, saat mata melek lihat promo kopi atau skincare baru di e-commerce, logika akuntansi kita langsung bergeser. Tiba-tiba muncul pembenaran “Ah, minggu ini saya stres kuliah, layak lah dapat self-reward.”
Pertanyaannya, “pendapatan” yang mana yang direalisasikan? Ujung-ujungnya, kan tetap funding dari dompet orang tua. Uang yang harusnya pos anggarannya murni untuk biaya pendidikan, seperti beli buku, bayar fotokopian jurnal, atau beli kuota untuk nyari bahan skripsi, malah ikutan kesedot untuk check-out keranjang belanjaan yang lagi diskon.
Dinamika “Self-Reward” Ketika Apresiasi Diri Berubah Menjadi Fixed Cost
Fenomena ini menjadi menarik jika dibedah menggunakan kacamata akuntansi biaya.
Dalam ranah akuntansi manajemen, terdapat pemisahan yang jelas antara biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel (variabel cost).
Biaya tetap merupakan pengeluaran yang nominalnya konstan dan tidak dipengaruhi oleh volume produksi, contoh sederhananya adalah biaya sewa gedung. Sebaliknya, biaya variabel bersifat fluktuatif karena nilainya sangat bergantung pada naik-turunnya tingkat aktivitas operasional.
Kerangka berpikir tersebut sebenarnya bisa ditarik untuk melihat bagaimana fenomena self-reward diimplementasikan selama ini.
Sebenarnya, self-reward itu idealnya diposisikan sebagai biaya tetap (fixed cost) mingguan, layaknya tagihan kos atau listrik? Di mana pengeluarannya baru bisa dilakukan kalau kita punya surplus, baik itu surplus energi, waktu, maupun finansial.
Kenyatannya, banyak dari kita yang secara tidak sadar menggeserkan fungsi self-reward ini menjadi biaya tetap. Muncul mindset bahwa, “Pokoknya setiap minggu atau minimal sebulan sekali wajib ada treat buat diri sendiri.”
Masalahnya, kita sering lupa kalau kita belum punya penghasilan sendiri. Uang yang kita pegang sekarang itu modal dari orang tua yang amanahnya sudah jelas: untuk biaya kuliah. Tapi, herannya, kita sering main hakim sendiri mengubah alokasi dana tersebut tanpa bilang-bilang ke mekereka.
Uang yang harusnya digunakan untuk membeli buku referensi utama, malah habis untuk memaubeli kopi malah di coffee shop estetik. Dan yang harusnya buat modal kuota nugas, malah jebol buat checkout keranjang belanjaan pas ada diskon gede-gedean.
Fenomena ini bukan lagi soal “jajan receh.” Ini adalah bibit dari kebiasaan buruk yang kita normalisasi sejak dini: bergaya hidup mewah diatas kapasitas ekonomi yang aslinya masih nol.
Sisi Lain Komitmen Dalam Mengelola Kesehatan Mental
Tapi ingat, tulisan ini bukan menyuruh kita menjadi mahasiswa yang super pelit ke diri sendiri sampai berujung stres gara-gara tugas. Bagaimanapun, kita ini manusia biasa. Menjaga kesehatan mental itu sama krusialnya dengan menjaga isi dompet.
“Lantas bagaimana cara menjaga keseimbangan itu?”
Langkah awal, kita harus jujur menentukan apa yang benar-benar bisa disebut sebagai pencapaian. Menyelesaikan tugas yang memang sudah menjadi kewajiban bagi kita itu bukan pencapaian luar biasa, mmenyele cuma mengmenygugur kewajiban.
Sesuatu yang layak reward adalah pencapaian yang melampaui target standar. Contohnya, berhasil mendongkrak IPK secara signifikan, menuntaskan proyek voluntary yang berdampak luas, atau menguasai skill baru secara nyata.
Kedua, susun anggaran yang realistis. Sengaja sisihkan sebagian uang jajan atau kiriman bulanan untuk self-reward. Tapi ingat, nominalnya harus sudah dihitung matang di awal dan jangan sampai mengorek dana yang sifatnya krusial, seperti uang UKT atau buku kuliah.
Prinsip dasarnya sederhana: kalau memang tidak ada sisa anggaran bulan ini, ya tunda dulu self-reward nya. Kita pakai logika akuntansi paling mendasar saja: pengeluaran tidak boleh lebih besar daripada pemasukan.
Ketiga, coba lebih kreatif mencari alternatif self-reward yang minim bajet.
Apresiasi diri itu tidak harus selalu menguras dompet. Kita bisa menerapkan konsep non-monetary reward, di mana kebahagiaan atau kepuasan tidak melulu diukur dengan nominal uang. Contoh simpelnya: ambil waktu untuk tidur tanpa gangguan, marathon film di kosan sambil bikin cemilan sendiri, atau sekadar nongkrong santai bareng teman-teman tanpa harus ke kafe mahal.
Dan yang paling krusial: sadari posisi kita yang masih dalam tahap belajar.
Orang tua menitipkan dana pendidikan dengan harapan kita bisa bertanggung jawab mengelolanya, tapi melatih habit finansial yang sehat dari sekarang bakal jauh lebih berharga untuk masa depan kita setelah lulus nanti.
Siapa yang Mengawasi Akuntabilitas Kita?
Jadi sebenarnya, kita ini lagi mengapresiasi diri sendiri, atau jangan-jangan cuma lagi belajar jadi manajer keuangan yang buruk sejak dini?
Sebagai mahasiswa, apalagi yang anak akuntansi, kita mestinya paham betul konsep akuntabilitas dibanting orang lain.
Tapi, ya teori sering kali berhenti di atas kertas. Ironisnya, banyak dari kita yang jauh lebih teliti dan jujur waktu menyusun laporan keuangan proyek kuliah, ketimbang saat mengelola dompet sendiri.
Coba sesekai kita lakukan audit terhadap diri sendiri. Validasi lagi setiap self-reward yang mau kita beli, apakah itu memang setimpal sama pencapaian kita, atau cuma sekadar pelarian demi kesenangan sesaat?.
Buat teman-teman mahasiswa, kita semua pasti pernah ada di fase dilema ini. Tapi perlu diingat, karakter kita nanti dibangun dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang kita pelihara sekarang.
Kalau dari zaman kuliah saja kita sudah hobi “mengorupsi” jatah uang makan demi kedok self-reward, gimana jadinya nanti pas kita harus pegang tanggung jawab keuangan yang jauh lebih besar di dunia kerja?.
Jangan sampai kita baru sadar belakangan: bukan uangnya yang hilang, tapi kita sendiri yang sudah kehilangan kendali.
PENULIS : Zaskia Nugraheni Ardiansyah
Mahasiswi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Fakultas Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Jurusan D3 Akuntansi.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment