Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Overthinking ; Ketika Pikiran Menjadi Tempat Paling Berisik & Melelahkan
APERO FUBLIC I OPINI.- Pernah ga sih kita berperang dengan pikiran kita sendiri?? hampir setiap orang pasti pernah memikirkan sesuatu secara berlebihan, bahkan terhadap hal hal yang belum tentu terjadi.
Kekhawatiran tentang masa depan, rasa takut akan kegagalan, hingga pertanyaan seperti “ apakah saya bisa berhasil?” atau “ apakah saya mampu melewati semuanya?” sering kali muncul dalam pikiran. Terutama pada malam hari,ketika suasana mulai tenang, pikiran justru terasa semakin ramai oleh berbagai kemungkinan yang belum tentu terjadi.
Di zaman sekarang overthinking itu sudah menjadi hal yang sering kali dialami oleh banyak orang. Terutama para remaja dan mahasiswa. Banyak orang yang terlihat baik-baik saja diluar tapi ternyata isi kepalanya penuh dengan kekhawatiran.
Overthinking itu bukan hanya sekedar berfikir secara berlebihan,tetapi juga kondisi ketika seseorang terus memikirkan sesuatu secara berulang hingga menguras energi dan emosinya sendiri. Banyak orang yang mengatakan “jangan terlalu dipikirin”, padahal kenyataannya tidak semudah itu. Pikiran yang terus berjalan tanpa henti membuat seseorang sulit tidur,sulit untuk tenang dan bahkan kehilangan semangat untuk menjalani kehidupan sehari-hari.
Salah satu penyebab overthinking yang paling sering terjadi adalah media sosial. Tanpa disadari, seseorang menjadi sering kali membandingkan dirinya dengan kehidupan orang lain. Ketika melihat orang lain berhasil, muncul perasaan tertinggal.
Ketika melihat orang lain bahagia, muncul pikiran bahwa hidup sendiri kurang menyenangkan. Padahal apa yang ditampilkan dimedia sosial belum tentu sepenuhnya sesuai dengan kenyataan. Selain itu, tuntutan dari lingkungan sekitar juga membuat banyak orang semakin tertekan.
Merasa harus selalu produktif, harus cepat sukses, dan harus memiliki pencapaian diusia muda membuat pikiran menjadi penuh. Akibatnya, banyak orang merasa takut gagal,takut mengecewakan orang lain dan bahkan takut terhadap masa depannya sendiri.
Overthinking seringkali tidak terlihat,tetapi sangat menguras energi.
Saat seseorang mengalami overthinking,otak seolah menganggap dirinya sedang berada dalam kondisi bahaya,padahal sebenarnya tidak terjadi apa-apa. Hanya saja,pikiran terus berjalan tanpa henti. Biasanya kondisi ini muncul ketika seseorang sedang mengalami stress, kehilangan atau berada di fase hidup yang berat.
Seringkali tubuh berada dimasa sekarang, tatapi pikarannya justru kembali ke masa lalu atau sibuk menebak-nebak masa depan. Akibatnya seseorang menjadi sulit menikmati hidup karena terlalu dipenuhi oleh rasa takut dan kekhawatiran.
Bahkan terkadang sulit membedakan mana hal yang benar-benar nyata dan mana yang hanya diciptakan oleh rasa takut yang ada didalam pikiran kita sendiri. Dalam kondisi seperti ini,yang dibutuhkan sebenarnya bukan memaksa pikiran untuk berhenti berperang,untuk diam.
Melainkan mencoba kembali fokus pada diri sendiri dan keadaan saat ini. Menyadari nafas,merasakan lingkungan sekitar, dan menikmati setiap moment yang sedang dijalani merupakan salah satu bentuk mindfulness yang dapat membantu seseorang menjadi lebih tenang.
Tidak sedikit orang yang akhirnya merasa takut terhadap pikirannya sendiri karena pikiran tersebut tidak pernah benar benar tenang. Bahkan hal-hal kecil pun bisa berubah menjadi ketakutan besaryang kemudian perlahan akan memenuhi kepala.
Sehingga pada akhirnya, hidup didalam pikiran yang terus berisik setiap hari menjadi sesuatu yang melelahkan. Overthinking juga dapat membuat seseorang sulit menikmati hidup. Karena terlalu sibuk memikirkan hal hal yang belum tentu terjadi.
Seseorang menjadi lupa menikmati apa yang sedang dimiliki saat ini. Pikiran tentang masa depan, penyesalan masa lalu, dan rasa takut yang berlebihan akhirnya membuat diri sendiri terjebak di dalam kepala.
Karena itu, kesehatan mental seharusnya lebih diperhatikan dan tidak dianggap berlebihan. Overthinking memang terlihat biasa, tetapi jika terus dibiarkan dapat berdampak buruk bagi kondisi mental seseorang. Tidak semua hal harus dipikirkan secara berlebihan. Tidak apa-apa berjalan pelan, tidak apa-apa belum sempurna, dan tidak apa-apa untuk beristirahat.
Pada akhirnya, overthinking mengajarkan bahwa tempat paling melelahkan memang bukan dunia luar, melainkan pikiran sendiri. Di tengah dunia yang ramai dan penuh tuntutan ini, banyak orang sebenarnya hanya sedang berusaha bertahan dari isi kepalanya sendiri.
Oleh : Melzarahmi
Mahasiswi Universitas Islam Negeri Ar Raniry Banda Aceh, Fakultas Psikologi, Jurusan Psikologi.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment