Kampus
Mahasiswi
Opini
Pendidikan
Menginternalisasi Nilai Pancasila Untuk Membentuk Generasi Yang Toleran di Sekolah Dasar
APERO FUBLIC I OPINI.- Intoleransi antarumat beragama adalah masalah sosial yang sering terjadi di masyarakat, terutama di sekolah dasar. Intoleransi merupakan sikap yang tidak menghargai perbedaan seperti suku, ras, dan agama. Hal ini sering menjadi akar
penundungan atau bullying.
Siswa yang termasuk minoritas sering dikucilkan, tidak diajak teman main, bahkan diejek karena perbedaan tersebut. Akibatnya, lingkungan belajar menjadi kurang nyaman, kesehatan mental siswa menjadi terganggu, dan menurunnya motivasi belajar siswa, sehingga rasa persatuan antara siswa juga dapat menurun.
Intoleransi di sekolah sangat perlu diperhatikan. Jika diabaikan, hal ini dapat
membuat siswa terbiasa dengan diskriminasi dan potensi konflik sosial akan meningkat. Untuk menghadapi tantangan tersebut, nilai-nilai yang tertanam dalam Pancasila harus dihidupkan kembali sebagai pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Intoleransi muncul di sekolah dasar karena sejak dini anak-anak masih belum memahami nilai-nilai Pancasila. Akibatnya, siswa sering mengejek temannya karena perbedaan, tidak mengajak teman bermain, bahkan tidak mau berkelompok saat pembelajaran di kelas.
menurut pengalaman saya, siswa sering mengalami kesulitan saat berinteraksi dengan teman yang berbeda agama. Hal ini terjadi karena mereka belum memahami konsep perbedaan dan merasa asing dengan agama teman yang berbeda.
Akibatnya hubungan antara siswa menjadi renggang, menurunnya rasa percaya diri, menurunnya motivasi belajar, serta membuat siswa memiliki prasangka terhadap teman yang berbeda agama. Masalah ini juga dapat disebabkan oleh kurangnya pendidikan toleransi di sekolah, pengaruh lingkungan, dan media sosial.
Dalam hal ini, Pancasila dapat membantu siswa belajar menghargai perbedaan dan
menjadi pedoman bagi siswa dalam bersikap dan berinteraksi.
Nilai-nilai pancasila harus diterapkan dalam kehidupan di sekolah sebagai landasan moral dan interaksi untuk mengatasi masalah intoleransi di sekolah dasar. Nilai ketuhanan yang maha esa mengajarkan bahwa bangsa indonesia mengakui keberadaan tuhan dan menghargai kepercayaan orang lain.
Nilai ini penting untuk mencegah intoleransi dengan cara mengajarkan siswa untuk saling menghormati dan menghargai perbedaan agama, misalnya dengan menghormati teman yang sedang beribadah dan tidak mengejek agama lain.
Selain itu guru juga dapat memberikan pemahaman kepada siswa untuk saling menghargai perbedaan dan memahami bahwa setiap orang memiliki latar belakang yang beragam. Dengan hal ini, siswa akan merasa dihargai dan aman, selain itu, lingkungan kelas akan menjadi nyaman dan juga harmonis.
Nilai kemanusiaan yang adilan beradab mengajarkan pentingnya memperlakukan manusia dengan adil dan empati tanpa memandang suku, ras, atau agama.
Siswa dapat menerapkannya dengan sikap adil dan empati melalui tindakan nyata, seperti menghormati waktu ibadah teman, tidak melakukan candaan yang menyinggung keyakinan, serta menjalin pertemanan tanpa memandang latar belakang agama yang diyakini. Hal ini mendorong sikap saling menghormati, kerjasama, dan kepedulian sosial di antara siswa.
Selain itu, Guru dapat menjadi teladan yang baik bagi siswa dengan menanamkan nilai-nilai positif serta menciptakan suasana belajar yang mendukung perkembangan sikap empatik. Dengan menanamkan keadilan dan empati, siswa dapat membangun kelas yang harmonis, saling menghormati, dan memahami pentingnya persatuan.
Nilai persatuan indonesia berperan penting dalam membentuk bangsa yang harmonis. Nilai ini menekankan pentingnya kerukunan dan persatuan, meski siswa memiliki latar belakang yang berbeda. Siswa dapat menerapkan nilai ini dengan cara menghargai teman yang berbeda keyakinan.
Guru juga bisa mendorong kegiatan yang menumbuhkan kerja sama antara siswa, supaya siswa dapat saling membantu satu sama lain. Kerja sama penting untuk membangun empati antara siswa dan membantu siswa memahami pentingnya persatuan sejak dini. Dengan persatuan, sikap intoleransi dapat
berkurang karena mampu menumbuhkan rasa kebersamaan, meningkatkan empati antar kelompok, serta menciptakan lingkungan yang aman untuk saling berdialog. Melalui penerapan nilai pancasila ini, sekolah dapat menerapkan program yang efektif untuk menumbuhkan rasa toleransi terhadap siswa sejak dini.
Berdasarkan nilai-nilai Pancasila, sekolah dapat membuat program pendidikan
toleransi seperti kurikulum dan materi pembelajaran yang lebih menekankan toleransi dan keberagaman.
Dengan begitu, siswa dapat mempelajari cara menghormati teman yang berbeda agama, misalnya melalui kegiatan lintas agama di kelas, kegiatan ekstrakurikuler, dan proyek sekolah. Kegiatan ini dapat mendorong kerja sama antara siswa dari berbagai latar belakang.
Pelatihan guru dan staf sekolah juga penting karena dapat membantu guru menghadapi masalah intoleransi di sekolah. Contohnya dapat berupa workshop, seminar, atau bahan ajar yang menerapkan nilai-nilai toleransi.
Selain itu, program yang melibatkan orang tua dan masyarakat juga dapat menanamkan
sikap toleransi di rumah siswa, misalnya melalui forum orang tua dan kampanye anti-
sosial. Dengan adanya program tersebut, lingkungan sekolah dapat menanamkan sikap
toleransi antara siswa dan menjadi tempat yang lebih terbuka dan harmonis bagi siswa.
Saya percaya bahwa dengan diterapkannya program-program tersebut, siswa dapat menciptakan lingkungan belajar yang nyaman, meningkatkan rasa saling menghormati antar siswa, dan mencegah terjadinya bullying di sekolah dasar.
Program ini juga akan memberikan dampak positif jika diterapkan di semua sekolah, sehingga dapat menciptakan generasi yang empatik dan menghargai keberagaman. Menurut saya, sikap toleransi memang perlu diajarkan sejak usia dini agar siswa terbiasa
menghargai perbedaan di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Dengan adanya rasa saling menghormati, siswa dapat hidup dengan rukun, bekerja sama, dan menciptakan suasana belajar yang lebih nyaman bagi semua siswa. Guru, orang tua, dan masyarakat juga harus ikut berperan agar program ini berjalan dengan baik dan lancar. Dengan penerapan nilai-nilai pancasila, akan terbentuk generasi yang toleran, inklusif, dan saling menghormati perbedaan.
Oleh: Ni Komang Devi
Mahasiswi PGSD, Universitas Pendidikan Ganesha.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment