Feature
Kampus
Mahasiswa
Pendidikan
Pertanian
Bumi Memanas, Sektor Pertanian MeranaMitigasi dan Adaptasi dari Joglo Tani Indonesia
APERO FUBLIC I SLEMAN. - Perubahan iklim bukan lagi sekadar prediksi ilmiah di atas kertas, melainkan kenyataan pahit yang harus dihadapi oleh para petani di Indonesia. Pola cuaca yang kian tak menentu, musim kemarau yang bergeser ekstrem, hingga serangan hama yang masif akibat kenaikan suhu global menjadi ancaman nyata bagi stabilitas pangan nasional.
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan ke-13 (SDG 13) menyerukan tindakan untuk memerangi perubahan iklim dan dampaknya. Di Indonesia, seruan ini digaungkan yang urgensinya paling nyata di sektor pertanian, namun sektor pertanian yang menghidupi lebih dari 40 juta jiwa malah paling rentan terhadap cuaca ekstrem.
Perubahan Iklim: Musuh Nyata di Meja Makan Kita
Dampak perubahan iklim paling dirasakan pada ketidakpastian kalender tanam. Petani yang dulunya mengandalkan pranata mangsa (kearifan lokal membaca musim), kini kerap terkecoh oleh hujan yang turun di tengah musim kemarau, atau sebaliknya, kekeringan ekstrem yang datang lebih awal.
Di pesisir, kenaikan permukaan laut menciutkan lahan sawah dan merusak tanaman akibat intrusi salinitas.
Joglo Tani: Monumen Harapan dari Sleman
Di tengah keprihatinan itu, sebuah gerakan tumbuh diam-diam di Dusun Mandungan, Desa Margoluwih, Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman.
Joglo Tani, yang didirikan oleh Teo Suprapto dan diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X pada 19 Januari 2008 sebagai "Monumen Kebangkitan Pertanian Indonesia", telah membuktikan bahwa pertanian organik terpadu bukan sekadar mimpi idealis.
Mitigasi ala Joglo Tani: Memutus Rantai Kimia
Menghadapi realitas tersebut, Joglo Tani Indonesia menerapkan konsep Pertanian Terpadu (Integrated Farming System). Langkah pertama yang mereka lakukan sebagai bentuk mitigasi adalah menyetop penggunaan pupuk dan pestisida kimia, lalu beralih total ke organik.
Selanjutnya pembuatan Green House yang merupakan strategi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang sangat efektif. Fasilitas ini memungkinkan Anda mengontrol iklim mikro (suhu, kelembaban, intensitas cahaya) secara presisi, sehingga tanaman dapat tumbuh optimal dan terlindung dari cuaca ekstrem (seperti curah hujan tinggi, angin, dan kekeringan).
Tak hanya itu, pembuatan Green House juga untuk meminimalisir adanya hama tumbuhan yang dapat mengganggu pertumbuhan dari tanaman buah.
Joglo Tani juga melakukan pemanfaatan sampah anorganik seperti plastik bekas galon sebagai wadah atau media tanam berfungsi sebagai aksi mitigasi perubahan iklim melalui pengurangan timbulan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang berpotensi menghasilkan gas metana.
Praktik ini juga mendukung ketahanan pangan perkotaan (urban farming) dengan menghemat lahan dan mempromosikan kemandirian pangan lokal.
Sejalan dengan program kemandirian pangan Presiden Prabowo, pemanfaatan tersebut juga diharapkan dapat menjadi contoh kepada masyarakat untuk memanfaatkan lahan yang tersedia dan mengurangi sampah plastik rumah tangga.
PENULIS :
- Naufal Alfa Aziz
- Nantaka Aditya Ardana
- Frizkhaylla Octara Ramadhani
Mahasiswa Semester 6, Program Studi Administrasi Publik, Universitas Negeri Yogyakarta.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Feature

Post a Comment