Syarce

Syarce adalah singkatan dari syair cerita. Syair cerita bentuk penggabungan cerita dan syair sehingga pembaca dapat mengerti makna dan maksud dari isi syair.

Apero Mart

Apero Mart adalah tokoh online dan ofline yang menyediakan semua kebutuhan. Dari produk kesehatan, produk kosmetik, fashion, sembako, elektronik, perhiasan, buku-buku, dan sebagainya.

Apero Book

Apero Book adalah sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang distribusi semua jenis buku. Buku fiksi, non fiksi, buku tulis. Selain itu juga menyediakan jasa konsultasi dalam pembelian buku yang terkait dengan penelitian ilmiah.

Apero Popularity

Apero Popularity adalah layanan jasa untuk mempolerkan usaha, bisnis, dan figur. Membantu karir jalan karir anda menuju kepopuleran nomor satu.

@Kisahku

@Kisahku adalah bentuk karya tulis yang memuat tentang kisah-kisah disekitar kita. Seperti kisah nyata, kisah fiksi, kisah hidayah, persahabatan, kisah cinta, kisah masa kecil, dan sebagaginya.

Surat Kita

Surat Kita adalah suatu metode berkirim surat tanpa alamat dan tujuan. Surat Kita bentuk sastra yang menjelaskan suatu pokok permasalaan tanpa harus berkata pada sesiapapun tapi diterima siapa saja.

Sastra Kita

Sastra Kita adalah kolom penghimpun sastra-sastra yang dilahirkan oleh masyarakat. Sastra kita istilah baru untuk menamakan dengan sastra rakyat. Sastra Kita juga bagian dari sastra yang ditulis oleh masyakat awam sastra.

Apero Gift

Apero Gift adalah perusahaan yang menyediakan semua jenis hadia atau sovenir. Seperti hadia pernikahan, hadia ulang tahun, hadiah persahabatan, menyediakan sovenir wisata dan sebagainya. Melayani secara online dan ofline.

11/14/2020

Hikayat Asal Usul Nama Langkat

Apero Fublic.- Dahulu kala Kabupaten Langkat berbentuk kerajaan yang belum mempunyai nama. Akan tetapi, kerajaan itu berpusat di satu kampung yang bernama Kampung Ulak Berayun dekat dengan kampung Karang Gading di Kecamatan Sicanggang. Pusat kerajaan tersebut ditandai dengan adanya dua kuburan yang nisannya berukirkan tulisan Arab. Kuburan yang satu bernama Dewa Syapri dan kuburan yang satunya lagi tidak terbaca lagi.

Letak kuburan ini di Buluk Cina, Kecamatan Hamparan Perak. Jarak dari Karang Gading tidak jauh karena sungai yang menghubungkan kedua daerah ini bermuara ke Karang Gading. Daerah inilah yang menjadi pusat kerajaan karena di sana ada seorang raja yang bernama Raja Benuang. Dia menetap di Kampung Ulak Berayun yang berdekatan dengan Karang Gading. Perkembangan kerajaan ini tidak besar, maka tidak banyak dikenal.

Seorang putra Raja Benuang pergi merantau ke Siak, Riau. Ketika sudah dewasa dia dinikahkan oleh Raja Siak dengan putrinya. Dari pernikahan keduanya lahir seorang anak yang mereka namakan Ahmad. Akan tetapi orang tua Ahmad atau anak Raja Benuang menghilang entah kemana. Tidak ada satupun orang yang tahu keberadaannya.

Ahmad kemudian beranjak dewasa, dia bertekad mencari ayah yang menghilang. Ibu Ahmad berkata, “kalau engkau hendak juga mencari ayahmu, pergilah ke arah timur.” Yang dimaksud dengan arah timur dalam pembicaraan mereka merujuk ke arah posisi Kabupaten Langkat sekarang. Pergilah Ahmad seorang diri mengikuti arah Sungai Langkat dan sampai ke Sungai Wampu, lalu tiba di Gebang.

Sesampai disana, penduduk daera itu menanyakan siapa dirinya. Ahmad menceritakan siapa dirinya dan apa tujuannya. Saat penduduk tahu kalau dia adalah cucu Raja Benuang, penduduk sepakat mengangkat Ahmad menjadi raja mereka. Ahmad bertekad membesarkan kerajaanya. Ahmad dibantu oleh dua orang Panglimanya.

Kerajaan diperluas sampai ke Kampung Cinta Raja (Namunggas) lalu menuju Bahorok. Di Bahorok yang penduduknya berasal dari daerah Karo. Raja Ahmad bertanya tentang seseorang yang dia cari, ayahnya. Penduduk Kampung Cinta Raja tidak tahu karena memang tidak mengetahui. Mereka menjawab, “ Lang Keteh.”

Dalam Bahasa Karo kata “tidak tahu” berbunyi, “lang keteh.” Karena bahasa agak berbeda, kata-kata itu diucapkan berkali-kali oleh Rajah Ahmad dan pasukannya. Dari kata tersebut Raja Ahmad terinspirasi penyebutan kata, Langkat. Yang kemudian dia namakan untuk nama Kerajaannya. Sejak saat itu, wilayah Kerajaan Raja Ahmad dinamakan Daerah Langkat.

Selain itu, cerita asal–usul nama Langkat ada versi lain. Bukan diambil dari kata “Lang Keteh” tetapi Nama Langkat diambil dari nama pohon Langkat yang sangat besar yang sangat mirip dengan pohon langsat. Pohon itu kemudian ditebang dan tinggal tunggulnya yang sangat lebar. Dari nama pohon tersebut dijadikan nama Daerah Langkat.

Sekarang daerah Langkat telah menjadi sebuah Kabupaten di Sumatera Utara, Indonesia. Terdiri dari 23 Kecamatan dengan luas 6.273, 29 kilometer persegi. Berpenduduk sekitar 1.041.775 jiwa ditahun 2020. Langkat beribu kota di Stabat, Povinsi Sumatera Utara. Cerita ini tidak masuk dalam kategori sejarah, tetapi cerita hikayat.

Namun yang jelas Kabupaten Langkat berasal dari daerah Kekuasaan Kesultanan Langkat. Kesultanan Langkat berpusat di Tanjung Pura. Cerita asal nama Langkat ini berasal dari Tengku Usman di Binjai dan juga dari Datuk Sicanggang. Informan bernama Kadri Ahmadi, lahir di Tanjung Pura tahun 1926. Berbahasa Melayu, pendidikan Sekolah Guru dan seorang Pensiunan Pegawai Penerangan.

Rewrite: Tim Apero Fublic.
Editor. Desti, S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 15 November 2020.
Sumber: Masindan, Dkk. Sastra Lisan Melayu Langkat. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1987.

Sy. Apero Fublic.

11/12/2020

Sastra Klasik: Babad Majapahit dan Para Wali (Jilid II)

Apero Fublic.- Buku alihaksara Babad Majapahit terdiri dari tiga jilid. Jilid pertama memuat cerita dari berdirinya Kerajaan Majapahit sampai wafatnya Sultan Hadiwijaya di Pajang. Padi jilid ke dua ini, menceritakan bahwa Supaanom diangkat menjadi temenggung di Tuban.

Sementara Ki Sendhang ditugasi membantu Siungwanara di Blmabangan. Ki Sunan Kalijaga mencoba keteguhan hati Kyai Pandanarang di Semarang. Ada juga Kisah terjadinya Kota Salatiga dan Boyolali. Kelak Kiai Pandanarang mengislamankan penduduk di daerah Semarang.

Kemudian selanjutnya menceritakan kehidupan para Wali yang membantu menyerang Kerajaan Majapahit. Menceritakan Riwayat Jakasura anak Empu Supa, wafatnya Sunan Ngudung dan siasat Sunan Kudus mengalahkan Dipati Terung serta jatuhnya Majapahit, serta pindahnya pusat kerajaan ke Bintara. Ada juga menceritakan tentang Syeikh Siti Jenar. Berikut cuplikan dari naskah klasik Babad Majapahit.

24.Dhandhanggula
1.Sampun prapta margi Majapahit.
Para empu katur Sang Nata.
Sirga tinimbalan kabeh.
Dhumateng jro kedhatun.
Sri Narendra sedheng tinangkil.
Pepak kang wadya bala.
Pagelaran sumenuh.
Sagung kang para punggawa.
Gung sentana miwah ingkang para mantri.
Juru sawah melandang.
 
2.Sri Narendra lengah bangsal rukmi.
Animbali mring empu sadaya.
Wus mungging ngarsa Sang Rajeng.
Empu Lomba umatur.
Supradriya lan Supasiwi.
Sekawan Pangran Sendhang.
Ingkang munggeng ngayun.
Umatur Ki Supadriya.
Ngaturaken solahe kang Supasiwi.
Purwa prapteng wusan.
 
3.Lan ngaturken dhateng kang siwi.
Kyai Supa anama pangerah.
Sampun katur sak solahe.
Angungun Sang Prabu.
Mring Ki Supa lan Supasiwi.
Kalih sami prawira.
Bapa lawan sunu.
Nulya dhuwung Nagasastra.
Sampun katur ingasta Sri Narapati.
Tansah sinawang-sawang.
 
4.Sri Narendra angandika aris.
Ingsun melu ngidini mring sira.
Jejuluke Supa anom.
Nanging prayoganipun.
Nagasasra ginanjar becik.
Tinatrapan mas retna.
Sapa ingkang sanggup.
Supadriya matur nembah.
Abdi dalem pun Supa kados kadugi.
Yen wonten karsa Nata.
...................................

 

Aliaksara oleh Sastradiwirya dan naskah asli dimiliki Raden Panji Prawirayuda di Gunungkidul, Yogyakarta. Pertama disalin oleh Bapak Sukarda pada 14 Rabingulakir tahun 1841 Caka. Penyalin kedua disalin oleh Martahadiwiyana 17 April 1936.

Kemudian dialihaksara ke aksara Latin oleh Ki Sastradiwirya pada 16 September 1985. Baru kemudian buku berjudul Babad Majapahit dan Para Wali diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, tahun 1988.

Tidak disebutkan naskah asli menggunakan aksara jawa atau aksara Arab Pegon. Buku setebal 232 halaman, terdiri dari ringkasan pada setiap pupuh. Urutan pupuh menyambung dari jilid satu, dimulai dari pupuh ke 24 sampai pupuh 46. Cerita terdiri dari bait-bait sebagaimana cara tulis sastra klasik. Buku alihaksara tidak dilengkapi transliterasi ke dalam Bahasa Indonesia.

Kesempatan bagi Anda yang ingin menerjemahkan ke Bahasa Indonesia. Baik untuk buku komersil atau untuk bahasan ilmiah akademi. Pembuatan artikel jurnal, skripsi, tesisi, dan disertasi. Sekian informasi kesastraan klasik Nusantara, semoga bermanfaat.

Oleh. Tim Apero Fublic.
Editor. Desti, S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 13 November 2020.
Sumber: Sastradiwirya. Babad Majapahit dan Para Wali 2. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1988.

 

Sy. Apero Fublic

11/11/2020

Jeritan Rakyat Kecamatan Cengal: Kabupaten OKI, Sumatera Selatan.

Apero Fublic.- Kecamatan Cengal sebuah kecamatan terletak di ujung perbatasan Provinsi Sumatera Selatan dan Provinsi Lampung. Kecamatan Cengal terdiri dari 17 desa, dengan jumlah penduduk total 49.103 menurut sensus tahun 2017. Luas wilayah Kecamatan Cengal 2.316,67 kilometer persegi.

Dengan jarak kurang lebih 150 kilomter ke Kota Kayu Agung. Jarak yang cukup jauh untuk wilayah dalam kabupaten. Kecamatan Cengal memiliki geografis dataran rendah, ketinggian daratan kurang lebih 5 meter diatas permukaan laut (BPS).

Pembahasan kita bukan hanya di pusat Kecamatan Cengal. Tapi membicarakan seluruh kawasan Kecamatan Cengal dan daerah sekitarnya. Sedikit memberitahukan tentang kehidupan masyarakat di sana. Sekaligus memberikan gambaran pada kecamatan tetangga Cengal.

Sepanjang perjalanan hidup kami. Dari kakek-nenek atau jauh sebeumya lagi. Ayah dan Ibu sampai ke generasi kami sekarang. Kehidupan kami selalu berkubang lumpur jalan. Baik itu untuk membawa hasil pertanian, menempuh pendidikan, atau mencari kebutuhan pokok. Terkadang begitu iri saat melihat daerah lain dimana jalan darat mereka mulus dan hitam. Namun di kawasan kecamatan tidak memiliki jalan yang memadai. Untuk menuju ke wilayah perkotaan, terutama Kota Kabupaten.

Jalan adalah impian pertama bagi seluruh warga di setiap tahunnya. Mimpi ingin memiliki jalan yang bagus terus menggema dilubuk hati mereka. Tahun demi tahun bersabar dan sabar untuk mereka. Sebagai akses jalur transportasi ke Kota Kabupaten. Seperti biasa keperluan kami adalah berbelanja, pendidikan, pengurusan administrasi kependudukan, dan lainnya.

Ingin sekali rasanya ada jalan-jalan mulus dan hitam. Lalu melaju dengan cepat menuju Kota Kayu Agung. Bersabar dengan keadaan jalan kami, kawan. Menerima dan bersabar kapan habis waktunya, aku mulai menua. Atau mungkin anak-anak kami juga akan bermandi lumpur seperti kami juga, hanya sekedar untuk dapat membaca.

Selain jalan yang dimpikan oleh semua masyarakat. Listrik juga sangat dimimpikan oleh masyarakat. Kalau jalan berkubang lumpur, dimalam hari kami hidup di dalam kegelapan. Listrik impian kedua bagi seluruh rakyat Kecamatan Cengal. Selama ini, untuk memenuhi kebutuhan listrik. Penduduk menggunakan mesin jenset, aki dan panel surya mini.

Panel surya mandiri masih tergangu oleh cuaca. Sehingga pasokan listrik juga terganggu dan tidak mencukupi. Tidak semua masyarakat yang mengerti dan memiliki panel surya. Bagi masyarakat listrik negara atau PLN adalah solusi yang memadai untuk kebutuhan listrik. Tiang listrik sudah terpasang sejak setahun lalu. Masyarakat sudah tidak sabar masuknya aliran listrik. Sudah terbayang kemerlip lampu dimalam hari. Sehingga keceriaan warga tampak bersinar dimalam hari.

Kita juga tahu kalau zaman kita adalah zaman teknologi. Hampir semua penduduk memiliki smart phone. Namun apalah daya kalau tanpa jaringan internet. Sehingga masyarakat begitu berharap Pemerintah melalui perusahaan BUMN dapat memasang jaringan sinyal internet. Di tambah zaman virus corona dimana proses belajar dilakukan secara daring. Membuat kebutuhan jaringan internet menjadi begitu sangat berarti.

Tujuh Puluh Lima tahun sudah bangsa ini berdiri. Namun, hanya sekedar untuk menikmati jalan yang baik, nyalah listrik, dan jaringan internet terasa mustahil. Lalu warga bertanya-tanya benarkah Indonesia negara terkaya di dunia untuk ukuran SDA (Sumber Daya Alam). Pasir tinggal menggali di Sungai Musi, batu tinggal mengambil sisa letusan gunung api atau di sungai. Entahlah kami hanya orang kecil, tak tahu.

Kami tidak mengkritik siapa pun. Hanya sekedar sedikit mengungkapkan isi hati kami, harapan kami. Kami juga menginformasikan pada dunia, kalau ada sekelompok manusia di kawasan pesisir Selat Bangka, Provinsi Sumatera Selatan. Yang hidup sama seperti zaman Kolonial Belanda dahulu. Terisolasi dan hidup bagai orang buangan.

Sementara di kota dan daerah lain, telah sejahtera. Kami orang kecil, cukup makan dan dapat hidup layak sudah cukup. Semoga Tuan-Tuan di Gedung DPR, Daerah atau Pusat, Tuan Gubernur, Tuan Bupati. Kementerian Daerah Tertinggal atau yang terkait. Tengoklah kami lebih serius. Sebab tidak mudah membangun daerah pesisir.

Awasi setiap pembangunan agar lebih baik. Sesungguhnya, hal yang tersampaikan. Bukan hanya Kecamatan Cengal yang menjerit, tapi juga daerah sekitar yang juga senasib. Sekali lagi, Tiga hal yang sangat diperlukan, jalan yang baik dan terhubung sampai ke Kota, jaringan internet, dan listrik. 

Contoh penggunaan panel surya mandiri oleh masyarakat. Tampak juga sebatang tiang listrik yang terpancang sudah lebih setahun tapi belum dialiri arus listrik. Salah satu keputusan terbaik wilayah kawasan ini, meliputi Kecamatan Cengal-Selapan, Sungai Menang dan sekitarnya adalah pemekaran menjadi Daerah Otonomi Baru (DOB).

Oleh. Pais Paliadi., S.Pd.  
Editor. Selita, S.Pd.
Tatafoto. Dadang Saputra
Cengal, 19 Oktober 2020.

Sy. Apero Fublic

11/09/2020

Pelantikan Himpunan Mahasiswa Muara Enim Serasan Sekundang (HIMA M.ENIM SS)

Apero Fublic. Muara Enim. Pelantikan  Himpunan Mahasiswa Muara Enim Serasan Sekundang (HIMA M.ENIM SS) dengan tema” KITA TAK SAMA, TAPI KITA KERJASAMA yang di gelar di Balai Serasan Sekundang Rumah Dinas Bupati Muara Enim dan dihadiri oleh beberapa kepala Dinas, Organisasi Kemahasiswaan, dan Tamu undangan lainnya, Senin (09/11/2020).

H. Juarsah, SH., selaku Ketua Dewan Pembina Himpunan Mahasiswa Muara Enim Serasan Sekundang mengatakan, “Bahwa Kami sampaikan juga kehadiran kami disini merupakan wujud kepedulian dan rasa sayang PEMKAB Muara Enim kepada para mahasiswa asal Muara Enim yang sedang menempuh pendidikan tinggi. PEMKAB Muara Enim mendukung sepenuhnya dalam kegiatan yang positif dan mampu bersolidaritas, kesetiakawanan maupun persaudaraan antar sesama. Besar harapan kami Himpunan Mahasiswa Muara Enim Serasan sekundang ini nantinya dapat menjadi Representasi se-Kabupaten Muara Enim di Tanah Rantau,” pungkasnya.

Himpunan mahasiswa Muara Enim Serasan Sekundang merangkul mahasiswa  yang ada di 22 Kecamatan Kabupaten  Muara Enim, kita harapkan kance-kance mahasiswa bisa kompak untuk berprestasi di dunia pendidikan, memperjuangkan ide-ide, gagasan dan kemudian sumbangsi pemikiran termasuk kritisi kepada para pemangku kepentingan di Kabupaten Muara Enim ujar Adie Kusuma Barkah Selaku Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Muara Enim Serasan Sekundang.

Di tempat yang sama, Muhammad Nandya Kusandri yang didampingi Kori Imanuel selaku panitia pelaksana pelantikan ini mengatakan Kepada Ketua Dewan Pembina HIMA M.ENIM SS H.Juarsah, SH di harapkan siap dan mampu untuk memberikan atau membantu Himpunan Mahasiswa.

Serta memberikan motivasi dan nasehat agar Himpunan ini melaju kencang dengan baik, kita juga berharap kedepannya semoga Pemerintah Kabupaten Muara Enim ini lebih peduli lagi dengan pergerakan dari mahasiswa dan kita berharap agar senantiasa dapat bersinergi dalam segala hal  sesuai dengan Jargonya yang Merakyat.

Oleh. Adi Saputra, S.IP
Editor. Desti, S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Muara Enim, 9 November 2020.

Sy. Apero Fublic.

AKA GANI: Pengabdian, Perjuangan dan Harapan.

Apero Fublic.- Aka Gani putra asli dari Kecamatan Sungai Keruh yang berkerja di instansi pertanian Kabupaten Musi Banyuasin, sebagai tenaga Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL).

PPL merupakan petugas dari Badan Penyuluh Pertanian Kecamatan (BP2K), Kabupaten-Kota yang diperbantukan untuk memberikan pengarahan, pembinaan, penyuluhan dibidang pertanian pada basis tingkat kecamatan.

Aka Gani, Lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan pada bidang Pertanian di Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu. Pemuda kelahiran 19 Juni 1977 silam itu, memiliki misi pribadi dalam memilih sekolah.

Mungkin orang-orang akan lebih memilih sekolah bergengsi, kenamaan yang dianggap memiliki masa depan gemilang. Namun berbeda dengannya. Dia lebih memilih sekolah pertanian untuk menata masa depan. Banyak sekali orang-orang meremehkan sekolah pertanian. Padahal, dunia pertanian adalah tulang punggung suatu bangsa.

Ada hal yang dia cita-citakan saat memutuskan masuk SMK Pertanian. Yaitu, ingin memajukan dunia pertanian daerah tanah kelahiran, yaitu Kabupaten Musi Banyuasin terkhusus di daerah Kecamatan Sungai Keruh. Sebab, menurut penilaiannya sistem pertanian masyarakat yang masih sangat tradisional. Sehingga kehidupan petani tidak mencapai tingkat sejahterah.

Saat memulai mengabdi sebagai tenaga PPL di Dinas Pertanian Daerah. Aka Gani tidak berharap banyak akan mendapatkan kesejahteraan hidup. Baginya ada tiga yang penting dalam perjalanannya sebagai putra daerah, yaitu pengabdian, perjuangan dan harapan.

Pengabdian adalah jalan pertama dimana dia menyalurkan pengetahuannya pada aktivitas langsung seperti membimbing para petani. Perjuangan adalah tindakan yang berlangsung secara terus menerus tanpa mengenal lelah, ikhlas. Tidak menghitung dan menilai dari pendapatan atau kedudukan.

Tapi terus berbuat untuk masyarakat pada bidang pertanian. Sedangkan harapan adalah doa-doa dimana kehidupan para petani akan meningkat. Meningkat dalam bidang pengetahuan pertanian, meningkat dari hasil pertanian dan meningkat pada tarap kesejahteraan hidup.

Walau perjalanan mungkin sulit dan banyak halangan. Memang telah siap dengan kesabaran dan terus belajar. Akan menjadi jalan ibadah pada Allah SWT.

Sehingga keikhlasan terus menemani disepanjang perjalanan pengabdian, perjuangan dan sembari menanti harapan terwujud. Walaupun harapan itu nantinya akan dinikmati oleh generasi mendatang. Namun satu hal yang perlu di catat. "Itulah perjuanganku, itulah yang dapat aku berikan pada negara ini," ujarnya.

Aka Gani saat meninjau lokasi KWT (Kelompok Tani Wanita) di Desa Tebing Bulang Kecamatan Sungai Keruh, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

Oleh. Totong  Mahipal.
Editor. Selita, S.Pd.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Sungai Keruh, 9 November 2020.

Sy. Apero Fublic.

Cerita Singkat Naskah Klasik: Caretane Rama

Apero Fublic.- Pasukan Suwelagiri tengah membangun bendungan sebagai persiapan untuk menyerang Alengkapura. Tetapi pekerjaan tidak berjalan sesuai rencana. Sebab selalu ada gangguan seperti datangnya ombak samudra yang besar. Kadang juga ada serangan mahluk laut yang ganas dan buas.

Kejadian tersebut membuat Sri Rama kesal dan marah. Kemudian dia melepaskan panah ke tengah samudra. Akibatnya membuat semua mahluk laut kepanasan. Seorang bidadari lautan bernama Dewi Ratna memperingatkan Sri Rama jangan marah. Tetapi dia seharusnya berdoa memohon restu pada Dewata. Setelah memohon restu, pekerjaan membuat bendungan berjalan dengan lancar.

Di tempat lain, di Alengkapura Rahwana menyatakan kepada Dewi Sita bahwa Sri Rama dan Laksmana sudah tiada. Dewi Sita meminta bukti atas kematian Suami dan Adik iparnya. Untuk itu, Rahwana kemudian membunuh dua orang anak raja manusia, bernama Prayasangkala dan Kalisata. Lalu dia memenggal kepala keduanya dan mengirim kedua kepala itu pada Dewi Sita. Dia menyatakan kalau itu kepala Sri Rama dan Laksman.

Rahwana datang ke Pura tempat tinggal Dewi Sita. Tetapi dihalangi oleh Dewi Trijata. Sementara Dewi Sita pingsan saat melihat dua potong kepala di dalam baskom emas. Saat sadar dia menangis dan dihibur oleh Dewi Trijata. Serta menyatakan kalau dua kepala itu diragukan, kepala Sri Rama dan Laksman.

Di pantai tersebut ternyata tidak ada tanda-tanda pertempuran antara Rahwana dan Sri Rama sebagaimana yang diceritakan Rahwana. Dewi Trijata datang menemui Sri Rama dan Laksman dan menceritakan hal tersebut. Dewi Trijata kemudian Pulang ke Alengkapura dan memberikan pakaian Sri Rama yang dulu ditenun oleh Dewi Sita. Diam-diam Dewi Sita diawasi oleh Anoman. Dewi Sita juga mengucapkan terimakasih pada Dewi Trijata.

Suatu hari Rahwana kembali datang menemui Dewi Sita. Kemudian Dewi Trijata membuka kedok kebohongan Rahwana. Sehingga Rahwama marah dan hampir saja membunuh kemenakannya. Rahwana kembali dan dia sangat masgul. Dia kemudian memperbincangkan musuh yang sudah berada di gerbang Alengka.

Rahwana mengutus Sukasrana menyelidiki pembuatan kolam. Dia menyamar sebagai kera, tapi diketahui oleh Anoman. Ketika diminta untuk memanjat dia berteriak. Akibatnya Sukasrana dikeroyok prajurit kera Anoman. Lalu ditangkap dan dibawa kehadapan Sri Rama. Oleh Sri Rama dia dibebaskan kembali.

Sukasrana pulang ke Alengkapura negeri Rahwana. Kemudian menceritakan terbunuhnya Resi Subali oleh Sri Rama. Bercerita juga tentang kehebatan delapan prajurit kera satria, kehebatan senjata-senjata Sri Rama dan Laksmana beserta yang lainnya.

Rahwana menganggap cerita itu, sanjungan Sukasrana pada musuh. Dia marah dan hampir saja Sukasrana terbunuh kalau tidak berlari. Rahwana kemudian memerintahkan pada anaknya, Raja Lautan bernama Ganggasura untuk merusak bendungan Sindubanda yang dibangun Sri Rama.

Ganggasura kembali ke istananya di dasar lautan. Lalu memberi perintah pada raja jin untuk menjebol bendungan. Air laut pasang dan ombak membumbung tinggi. Hempasan mengenai hutan-hutan karena digerakkan para jin ikan. Anuman segera  membesarkan tubuhnya dan terjun ke laut. Laut diaduk-aduk sampai ikan bergelimpangan mati.

Anuman mengancam ikan-ikan yang masih hidup. Kalau mereka semua masih ingin hidup, maka jangan merusak bendungan Sindubanda. Ada seekor kepiting raksasa yang keras kepala dan tetap merusak bendungan. Kemudian kepiting dibanting-banting anuman dengan ekornya sampai mati. Bangkai kepiting dimakan oleh pasukan kera. Tapi tidak habis karena kepiting sangat besar sekali.

*****

Sri Rama dihadapan seluruh rakyatnya mengadakan pesta dengan makan buah-buahan dari surga. Serta makan makanan kiriman dari Raja Jayasinga dan Suranala dari negeri Antakapuri.

Pada kesempatan itu, Raja Sugriwa mengutarakan kekhawatirannya karena Kerajaan Alengkapura mendapat bantuan dari Raja Suksara dari negeri Indrapuri. Mendengar nada pesimistis dari Sugriwa. Sri Rama menjawab jika ada yang takut sekiranya tidak usah ikut dalam usaha merebut kembali Dewi Sita.

Sri Rama tidak mengharap bantuan siapa pun. Mendengar jawaban Sri Rama semua para satria wanara merasa malu. Bahkan Anuman marah pada Sugriwa yang dia katakan tidak tahu diri. Berbeda dengan Subali yang berhenti menatap.

Sri Rama berkata agar saat dalam peperangan melawan Dasamuka kelak jangan sampai ada yang turut campur. Pada saat mengucapkan kata-katanya saat itu Sri Rama tampak seperti Wisnumurti.

Sri Rama berangkat dengan membawa panahnya dan diikuti Laksmana, perwira kera, dan rakyat Mandrapura. Pasukan terdepan bernama Anggada dan Anila. Waktu berlalu, pasukan Sri Rama memasuki wilayah kerajaan Alengkapura. Saat tiba di Padang Danalaga mereka membangun menara pengintaian.

Dasamuka yang sudah mengetahui kedatangan pasukan Rama. Segerah memanggil anak-anaknya serta Arya Wibisana. Rahwana menjadi marah, sehingga wajahnya berubah menjadi sepuluh. Saat Wibisana menyarankan Dewi Sita dikembalikan.

Wibisana dan istrinya Dewi Sunaka beserta dua anaknya Durjaya dan Pardaya akhirnya diusir dari Alengkapura. Durjaya dan Pardaya akhirnya bergabung dengan pasukan Rama berkat perantara Anoman. Keinginan Wibisana mengabdi pada Rama, karena dia ingin mempelajari ilmu awal dan akhir kehidupan yang dimiliki Rama.

Kepergian Wibisana menjadi pembicaraan di seluruh Alengkapura. Ada rasa cemas dihati rakyat Alengka, tapi Rahwana tidak menanggapinya. Sebab Rahwana merasa dirinya adalah terhebat di dunia. Tapi dia tetap meminta bantuan juga pada putra-putranya dan negara-negara bawahannya.

Sekali lagi Rahwana diingatkan orang dekatnya, putranya Indrajit. Untuk mengembalikan saja Dewi Sita ke Rama. Rahwana menolak dan menyatakan bahwa keutamaan seorang raja adalah memegang teguh semua keyakinan dan ucapannya sampai mati. Lalu dia mengirim pasukan raksasa ke Danalaga dimana pasukan Rama sudah siap menanti.

Perang berkobar dengan hebatnya, korban berjatuhan dikedua belah pihak. Begitu juga Anoman yang sangat sakti, menghancurkan lawan-lawan dengan tangan, kaki, dan ekornya. Sepuluh orang raja bawahan Rakwana tewas.

Melihat kehebatan pasukan Indrapura sekali lagi Indrajit mengingatkan ayahnya, Rahwana. Namun dia tetap bersikeras dan dia juga mengutus seorang mentrinya untuk membangunkan Kumbakarna yang sedang tapa-tidur di Leburgangsa.

Para mentri tidak ada yang sanggup membangunkan Kumbakarna. Ternyata hanya Indrajit yang dapat membangunkannya. Indrajit kemudian diminta menemani menghadap Rahwana. Setelah itu, Kumbakarna bertanya apa alasan sehingga timbulnya perang. Indrajit menjelaskan semua sampai perginya Wibisana karena diusir Rahwana.

Kumbakarna membisu, tetapi hatinya tetap mengingat Dewata. Lalu diadakan pesta tujuh hari tujuh malam untuk membangkitkan semangat Kumbakarna. Tapi tetap tidak berhasrat untuk berperang. Kumbakarna kemudian menceritakan mimpinya saat bertapa.

Memang Alengkapura akan hancur oleh pasukan kerah. Karena sudah berbuat jahat pada Wisnumurti. Dia juga menganjurkan agar Dewi Sita dikembalikan pada Sri Rama. Walau demikian Kumbakarna tidak berkhianat pada kakaknya dan tetap patuh.

Sebagai Senapati Alengkapura, Kumbakarna maju ke medan perang diikuti putra-putra Alengkapura. Dipihak Rama pasukan juga dipersiapkan. Rama menjadi satu kelompok dengan Laksman, Wibisana, Sugriwa, Brata, dan Satruwigna.

Saat itu, Rahwana melihat sinar cemerlang di angkasa. Saat dia perhatikan ternyata dua sinar tersebut berwujud manusia. Sinar hijau adalah Sri Rama dan sinar putih adalah Laksmana. Rahwana tertegun dan mulai dia menyadari kalau lawannya bukan manusia sembarangan.

Perang berhenti ketika matahari terbenam. Malam harinya Rama membicarakan ilmu sejati atau ilmu kehidupan dengan Wibisana. Saat itu, para resi dan mahkluk yang hidup diangkasa menyembah Rama. Kemudian diperbincangkan bagaimana dapat bertemu dengan Sang Batara Taya.

Disinggung juga tentang cerita Krisna, Arjuna, dan Suyudana. Pada saat itu, Rama seperti Wisnu yang sedang berkendaraan garuda. Mengenai Rahwana dia mengatakan belum saatnya mati dalam perang ini. Hal itu dikarenakan tulah ibunya dan leluhur orang Selan yang dikenal dengan nama Sang Purwaningjanma.

Sedangkan Anoman tidak akan terkena kematian selamanya karena sudah mengalami kematian sewaktu bayi. Kemudian jasadnya direndam kedalam air hidup sampai meresap ke tulang-tulangnya sampai dia hidup kembali.

*****

Rahwana kembali mengirim pasukannya, dipimpin oleh pamannya, Pati Janmantri maju ke medan perang. Dibantu oleh Bubutbis yang memiliki kemampuan dimana pancaran matanya mengandung racun pembakar. Kepada Bubutbis Rahwana menjanjikan tahtah Alengkapura padanya apabila dia dapat menghancurkan musuh. Rahwana juga menghayalkan bagaimana hancurnya pasukan kera terbakar racun api, bubutbis.

Rencana Rahwana diketahui oleh Wibisana lewat mantra tenungnya. Alat penangkis api beracun dipersiapkan, berupa kaca yang dibuat dari besi purasani sepanjag sepuluh depa. Anoman mendapat tugas menggunakan cermin purasani itu.

Ketika Bubutbis membuka topengnya, Anoman langsung mengarahkan cermin purasani padanya. Sehingga Bubutbis menatap wajahnya sendiri. Sehingga seluruh sinar racun api dari wajahnya berbalik mengenai wajahnya dan membakar tubuhnya sendiri.

Mendengar kematian anaknya yang dia andalkan, Rahwana menangis. Rahwana tahu, pasti semua itu karena saran dari Wibisana. Membuat kebencian Rahwana pada Wibisana semakin menggunung.

Pati pasukan kera, Kapi Jambawan tampil ke medan perang untuk menghadapi Sang Janmamantri. Akan tetapi Janmamantri tidak mau melayani Kapi Jambawan. Pertarungan diwakili oleh anaknya bernama, Prahastautama.

Prahastautama mengamuk hebat membuat banyak korban berjatuhan dipihak Rama. Anoman kemudian juga mengamuk dan mengalakan banyak lawan. Kemudian Prahastautama dan empat ratus denawa dapat ditawan. Melihat kekalahan terus terjadi, membuat Rahwana bersedi. Sehingga Indrajit ingin ikut terjun ke medan perang, tapi dicegah.

Perang kembali berlanjut, kali ini pasukan dipimpin oleh anak Kumbakarna, Akumba dan Anikumba.  Di pihak Rama maju pasukan yang dipimpin Anggada dan Kapimenda. Anggada berhasil mengalahkan Akumba, sedangkan Anikumba tewas ditangan Anoman.

Dasamuka (Rahwana) menangis bersedih, lalu tampil anaknya bernama Patalamarian. Patalamariyan memiliki ide menculik Sri Rama. Dengan kecerdikan dan kelicikannya akhirnya dia dapat menculik Rama. Rama dia bawa ke telaga Nuradipa. Lalu dimasukkan kedalam istana berhala melalui pohon kamboja. Untung Anoman berhasil melacaknya.

Dalam pelacakan Anoman bertemu dengan Sampuradin dan Kudyenda. Keduanya juga dibantu pasukan raksasa penjaga istana Patalamariyan. Tapi mereka semua tidak dapat mengalahkan Anoman. Bahkan Sampuradin dilemparkan oleh Anoman ke atas gunung dan terjepit batu.

Kemudian Anoman melihat kota-kota siliman yang lebih indah dari Kota Alengkapura. Di sebuah taman Anoman bertemu dengan seorang perempuan bernama Nyarani yang sedang menangis. Karena salah seorang anaknya dibunuh oleh Rahwana. Sedangkan anaknya yang bernama Prayabuana dipenjara.

Nyarani bersedia membantu menemukan Anoman memasuki istana Patalamariyan serta menunjukkan ruang berhala. Asalkan Anoman bersedia merajakan anaknya yang sedang dipenjara.

Anoman memperkecil dirinya menjadi sebesar biji sawi. Lalu masuk kedalam junjungan yang dibawa Nyarani. Kemudian dia masuk kedalam Benteng Ratna melallui pintu Pramudita yang dijaga oleh Tugangga. Anoman diketahui oleh penjaga Tunggangga, sehingga terjadi perang tanding keduanya.

Pertarungan mereka sangat dahsyat, kekuatan dan kesaktian sama. Rupa mereka sama, hanya berbeda ada tua dan muda. Dari percakapan keduanya kemudian diketahu kalau mereka ternyata ayah dan anak. Tugangga akhirnya membantu ayahnya membebaskan Sri Rama.

Patalamariyan melarikan diri, namun saudaranya bernama Abrama tewas. Lalu kepalanya dilemparkan ke tempat markas musuh. Beberapa waktu kemudian Patamalariyan menantang perang tanding Sri Rama. Tantangan tersebut disambut oleh Sri Rama. Akhir pertarungan kepala Patamalariyan terpenggal oleh panah Sri Rama.

Sementara itu, Tugangga bersama rakyat raksasanya datang menghadap Sri Rama. Tugangga mendapat hadia kalung Ratna dari Sri Rama.

Rahwana kemudian memutuskan untuk terjun ke medan perang. Namun dicegah oleh kelima anaknya, Indrajit, Trisirah, Trikaya, Narantaka dan Dewantaka. Sebenarnya Rahwana tidak tega melepaskan anak-anaknya, kecuali Indrajit. Maka dia berpesan pada Indrajit agar menjaga adik-adiknya.

Prahasta yang tertawan rupanya dapat melarikan diri. Kemudian dia perang tanding dengan Anila. Karena ada perang tanding tersebut, membuat kelima putra Rahwana belum maju ke medan perang. Prahasta kemudian tewas ditangan Anila, dipukul dengan tugu batu oleh Anila. Kematian Prahasta membuat Rahwana bersedih dan hampir berhari-hari dia tidak berkata-kata.

*****

Kembali Kumbakarna dibangunkan oleh Rahwana. Lalu dia maju ke medan perang menghadapi pasukan Rama. Bumi bergoyang, lautan bergelombang, seisi dunia terpana melihat kedahsyatan Kumbakarna. Bahkan dewa-dewa merasa ngeri melihatnya.

Melihat kehebatan Kumbakarna membuat pasukan Sri Rama takut. Padahal selama ini mereka selalu pemberani sekali disetiap pertempuran. Untuk menghadapi Kumbakarna majulah Raja Sugriwa. Dia bersenjata kayu yang besarnya seratus pelukan orang dewasa.

Namun Raja Sugriwa tidak dapat mengalahkan Kumbakarna, sampai dia pingsan. Kumbakarna membawa Raja Sugriwa untuk diserahkan pada kakaknya Rahwana. Mengetahui itu, Anoman meniup angin kencang dan membuat Sugriwa siuman. Lalu dia menggigit dan menarik telinga Kumbakarna seraya melompat.

Kumbakarna kembali mengamuk lebih hebat dari semula. Wibisana menyarankan agar Sri Rama dan Laksmana menghadapi Kumbakarna bersama-sama. Selanjutnya, Kumbakarna juga tewas oleh hujanan anak panah Sri Rama dan Laksmana.

Setelah Kumbakarna gugur, Sri Rama mengutus Anoman menemui Rahwana menawarkan perdamaian asal dia mau mengembalikan Dewi Sita. Usul perdamaian Sri Rama ditolak oleh Rahwana.

Karena usul perdamaian ditolak, maka peperangan kembali berkobar. Kali ini dari pihak Rahwana maju Dumraksa berhadapan dengan Anila. Tetapi Dumraksa kemudian tewas ditangan Anoman. Kampana maju menuntut balas, tapi nyawanya ditentukan oleh hantaman pohon tal di tangan Anoman.

Akhirnya pasukan Alengkapura buyar seperti gerombolan kijang dihalau harimau. Mereka melapor ke Rahwana dan dia mengerahkan pasukan perwira raksasa. Keempat putra Rahwana, Trisirah, Trikaya, Narantaka dan Dewantaka turut menyerbu tanpa perlindungan dari Indrajit.

Keempat putra Rahwana dihadapi oleh, Anila, Anggada, Tugangga. Dia mendapat perintah ayahyan untuk melindungi Anggada yang dikeroyok anak-anak Rahwana. Akhir pertarungan mereka keempat anak Rahwana gugur. Membuat Rahwana marah besar pada Indrajit. Indrajit mohon diri hendak meminta bantuan kepada ibunya di Kayangan Tinjumaya agar dapat mengerahkan pasukan gegananya.

Rahwana sudah bersiap maju ke medan perang. Tiba-tiba datang anaknya yang berkerajaan di dalam lautan, Sang Ganggasura.  Dia membawa semua pasukannya, siap menggantikan Rahwana di medan perang. Ganggasura akhirnya tewas terkena panah Sri Rama. Sedangkan seratus raja bawahan Ganggasura menyerah.

******

Indrajit memaparkan rencana hendak berperang dari angkasa dengan bantuan bala tentara ibunya. Rencana tersebut didengar Anoman yang sedang menyusup ke istana Alengkapura. Sekembalinya, dia menceritakan dan menyarankan agar Sri Rama meminta bantuan Sang Garuda. Agar pasukan kera terlindungi dari serangan Indrajit.

Saran diterima, kemudian Sang Garuda membawa segala burung bawahannya. Kebetulan mereka juga ingin menuntut balas terhadap Rahwana. Karena Rahwana telah membunuh saudara mereka Sang Ginayu (Jatayu) dalam peristiwa penculikan Dewi Sita dahulu.

Selama empat puluh hari-empat puluh malam markas pasukan Sri Rama dihujani oleh bebatuan dan air oleh pasukan Indrajit. Tapi oleh burung-burung pimpinan sang garuda semua serangan itu mereka tangkap dengan sayap mereka. Lalu bebatuan dan air mereka lempar diluar markas pasukan Sri Rama.

Saat Sri Rama sedang beristirahat dan berbincang-bincang dengan rekan-rekannya. Indrajit menyelinap dan memanah Sri Rama dengan panah beracun. Seketika Sri Rama jatuh pingsan. Sri Rama sembuh setelah diobati dengan ramuan dari pohon Mretasarana. Indrajit berhasil menyusup dan dapat membunuh ribuan pasukan kera. Indrajit juga berencana membunuh Sri Rama. Untung kedatangannya diketahui oleh Wibisana.

Sepeninggal Indrajit Wibisana membangunkan Sri Rama dan para punggawa. Anoman segera diutus mengambil daun Sandilata di Gunung Imagiri. Karena lupa akan tempat dan wujud Sandilata. Anoman memenggal gunung Imagiri dan dibawanya ke pesanggrahan. Berkat daun Sandilata ribuan pasukan kerah yang mati dapat hidup kembali. Semua usaha Indrajit menjadi sia-sia.

Rahwana semakin bingung bagaimana cara menghadapi Sri Rama dan pasukannya. Dia hampir putus asa, dan hampir saja dia membunuh Dewi Sita karena keputusasaannya. Niat membunuh Dewi Sita digagalkan Indrajit.

Rahwana meminta Indrajit menciptakan wanita yang menyerupai Dewi Sita. Kemudian wanita mirip Dewi Sita dibunuh, sedangkan Dewi Sita yang asli disembunyikan. Berita meninggalnya Dewi Sita menyebar. Menyebabkan Sri Rama sakit dan berkali-kali jatuh pingsan. Wibisana mengutus Anoman untuk menyelidiki kebenaran atas pembunuhan Dewi Sita.

Anoman melihat Indrajit dan para resi-sogata sedang memuja sebuah baju. Hal tersebut dilaporkan kepada Wibisana. Menurut Wibisana setelah baju dipuja selama empat puluh hari secara khusyuk. Baju akan menjadi sangat bertuah bagi pemakainya. Jika pemakai baju tersebut menyebut nama seseorang supaya mati. Maka matilah orang tersebut.

Begitu juga sebaliknya, apabila si pemakai mengusap orang mati dan meminta dia hidup kembali. Maka orang mati tersebut akan hidup kembali. Untuk menghilangkan keampuhan pakaian tersebut. Satu-satunya cara yaitu dengan menghancurkan kelompok para pemujanya. Tugas tersebut berhasil dilakukan Anoman dengan baik.

Kehancuran pemujaan tersebut membuat Indrajit murka. Dia kemudian menyerbu ke medan perang dengan mengendarai kereta perang angkasa. Yang menghadapi Laksman dan Anoman. Laksman duduk di bahu Anoman. Para satria yang bertarung mendapat perhatian para dewa, mambang angkasa, dan peri. Mereka mengadu kekuatan panah dan Indrjit terdesak. Kemudian dia melepaskan panah sakti Panah Anugera Hyang Brama.

Panah Hyang Brama hanya mendekati musuh yang memegang senjata. Wibisana meminta semuanya melepaskan senjatanya. Sri Rama kemudian berdoa pada Hyang Suksmanasa. Panah Hyang Brama seketika menjadi bunga yang mekar dan wangi menempel di dada Sri Rama. Indrajit memaki pamannya, Wibisana karena memberitahu tentang panah Hyang Brama.

Perang kembali berkobar, dengan kereta ratnanya Indrajit menyusup ke angkasa dan bersembunyi di mega putih. Lalu dia pergi menghadap ayahnya. Dia sekali lagi meminta Dewi Sita dikembalikan pada Sri Rama. Rahwana tetap menolak, bahkan walau dia kalah melawan Sri Rama. Itu sudah menjadi kehendak Hyang Suksmanasa. Seandainya dia menang juga tidak lagi duduk di tahtah Alengkapura, Dia ingin menjadi bengawan.

Indrajit kembali maju kemedan perang. Sebelum berangkat perang dia meminta restu ibunya, Dewi Windranarum. Ibunya menjelaskan kalau Sri Rama adalah titisan Wisnu.  Sedangkan Laksmana adalah titisan Hyang Basuki. Dalam perang kali ini, kembali Indrajit dipukul mundur oleh pasukan Sri Rama.

Indrajit kembali ke purinya dan bertemu dengan anak istrinya, Dewi Kumala. Istrinya sedang tertidur di dalam sanggar. Keduanya berkasih-kasih seolah-olah tanda perpisahan. Suasana sangat mengharukan ketika dia menitipkan anak-anaknya pada ibunya.

Indrajit kemudian melakukan serangan pada malam hari. Saat mendengar Indrajit melakukan serangan malam hari. Rahwana mengira kalau Indrajit akan memenangkan peperangan. Kemudian dia menyambut dengan menabuh gamelan. Dari pasukan kera, yang menghadapi pasukan Indrajit hanya Laksmana dan beberapa orang manggala saja. Pertempuran berlangsung sampai malam hari. Akhirnya Indrajit gugur ditangan Laksmana.

Berita kematian Indrajit disampaikan kepada Dewi Kumala dan Indrapuri oleh seorang mantri raksasa yang bernama Polamadewa. Ibu dan Istri Indrajit jatuh pingsan. Setelah kematian Indrajit, pasukan kera bukannya tenang. Mereka sering menjadi gempar karena seolah-olah Indrajit kembali datang menyerang.

Dalam pada itu, ada pendapat yang menyatakan bahwa Indrajit adalah titisan Patih Suwanda dari Maispati. Titisan Patih Suwanda tersebut akhirnya mati oleh titisan Arjunasasrabahu, yaitu Sri Rama. Rahwana membiarkan Indrajit melawan Sri Rama. Padahal Sri Rama tidak pernah melupakan musuh lamanya.

Dewi Kumala memberi kabar pada kedua pamannya, Prabu Malawana dan Prabu Sumalawan tentang kematian Indrajit. Kedua raja tersebut datang ke Alengkapura dan disambut Dasamuka (Rahwana).

Kemudian datang juga Prabu Mulatani paman Patalamariyan. Kemudian di Alengkapura diadakan pesta empat puluh hari empat puluh malam. Setelah pesta berakhir baru berangkatlah tiga raja tersebut menyerang pasukan Sri Rama.

Waktu berlanjut, beberapa perwira raksasa terbunuh oleh pasukan kera. Membuat Prabu Mulawana dan Sumalawan sangat marah. Kemudian keduanya terbang ke angkasa dan merubah wujud menjadi berkepala, berkaki, dan bertangan seribu.

Wujud kekuatan mereka dapat dihancurkan oleh Sri Rama. Akan tetapi setelah hancur mereka kembali seperti semulah. Sri Rama dapat petunjuk dari dewata untuk mengalahkan keduanya. Petunju menyatakan kalau mereka cukup dipanah sekali saja. Benar saja, Mulawana dan Sumalawan akhirnya tewas di tangan Sri Rama. Menyusul tewan juga Raja Mulatani. Sementara Anoman berhasil mengalahkan Sang Polamadewa.

******

Saudara, anak, raja-raja bawahan, dan punggawa kepercayaan semua sudah tiada. Sekarang Rahwana tinggal sendirian, maka majulah dia ke medan perang. Dengan percaya diri Rahwana maju ke medan perang. Dengan mengendarai gajah, bersenjata limpung. Lalu dihadapi oleh Raja Sugriwa.

Raja Sugriwa terbunuh oleh Dumraksa dan Wirupaksa. Keduanya kemudian terbunuh juga oleh Anggada. Terjadi percakapan antara Laksmana dengan Rahwana. Laksmana menyatakan kalau Rahwana tidak sederajad dengannya. Hal tersebut membuat Rahwana marah dan mengamuk. Mengadu kesaktian panah dengan Laksmana. Panah milik Rahwana bernama Gunaadi dan panah Laksmana bernama Panah Ruksanandi.

Rahwana kemudian melepaskan panah Dedya ke arah Wibisana. Laksmana dan para perwira kera siap melindungi Wibisana. Laksmana melindungi Wibisana dengan tubuhnya dari serangan panah dedya. Walau Laksmana memakai baju baja tembus juga oleh mata panah dedya. Mata panah menancap di perut Laksmana, dan dia langsung jatuh pingsan. Kemudian dibawa ke pesanggrahan.

Semua yang menunggun mengais sedih, terlebih Wibisana yang berhutang nyawa. Wibisana juga khawatir karena terlambat sedikit pengobatan akan merenggut nyawa Laksmana.

Anoman segerah pergi mencari obatnya. Tapi dia tidak tahu apa obatnya. Dia pergi dengan harapan ada yang dapat memberi tahu. Sri Rama ingin mencabut panah dedya. Tapi dicegah Wibisana karena menurutnya, kemungkinan besar panah telah tumbuh dan berakar menjerat hati Laksmana.

Sementara itu, Rahwana memerintahkan seorang raksasa menyamar menjadi seorang resi. Dia ditugaskan untuk memberikan obat palsu pada Anoman. Maka pergilah raksasa tersebut ke Telaga Malamalawira. Kemudian datang Anoman yang bertanya dan meminta obat kepada resi palsu itu.

Anuman disuruh minum air Telaga Malamalawira oleh resi palsu anak buah Rahwana. Akan tetapi sebelum sempat minum, Anoman disambar oleh buaya besar, dan tertelan. Anoman kemudian menghancurkan buaya itu, kemudian bangkainya langsung menghilang.

Kemudian muncul seorang bidadari yang dahulunya dikutuk menjadi buaya. Bidadari tersebut menyatakan dapat membantu menyembuhkan Laksmana. Tapi sebelumnya dia meminta Anoman membunuh resi palsu kiriman Rahwana. Dengan mudah Anoman dapat mengalahkan resi palsu itu.

Anoman mendapat petunjuk supaya mengambil pohon Srenggasari di gunung Malasunya. Anoman membawa gunung Malasunya ke pesanggrahan. Kemudian akar, kulit dan daun pohon srenggasi lalu diramu oleh Wibisana. Akan tetapi untuk menghaluskan ramuannya diperlukan batu amerta, yang tersimpan di istana Alengkapura. Tersimpan di dalam kamar tidur Rahwana yang sangat sulit dimasuki.

Anoman yang sangat sakti berhasil menyusup kedalam kamar tidur Rahwana. Dai masuk melalui lubang hidung hiasan berbentuk kepala naga yang selebar lobang jarum. Kemudian Anoman mengikat rambut Rahwana dengan rambut permaisurinya dengan simpul mati.

Setelah mengambil batu amerta, Anoman makan dan baru dia kembali meninggalkan istana Alengkapura. Ramuan obat dapat diramu, dan Laksmana tertolong. Begitu juga dengan pasukan kerah yang mati juga hidup kembali berkat ramuan Wibisana.

Betapa terkejut Rahwana ketika dia merasakan rambutnya terpintal jadi satu dengan rambut Dewi Mandradari, permaisurinya. Terlebih lagi ketika dia membaca tulisan Anoman pada hiasan naga. “Pintalan rambutmu tidak akan terlepas apabila permaisurimu tidak mengusap kepalamu sebanyak tiga kali.”

Rahwana terpaksa meminta permaisurinya untuk mengusap kepalanya sebanyak tiga kali. Sehingga membuat semua jampi-mantranya lenyap. Sekaligus kesaktiannya akan hilang setengahnya. Sebab begitulah ketentuan dari Sang Hyang Taya kepadanya.

Rahwana menjadi sangat malu saat Anoman meneriakkan peri kesembuhan Laksmana. Juga meneriakkan segalah tingkah lakunya ketika di istana Alengkapura. Rahwana kemudian bersiap berperang kembali. Wajahnya sudah menjadi sepuluh dan tangannya sudah menjadi dua puluh, semuanya memegang panah sakti.

Kedatangan Dasamuka atau Dasabahu atau Rahwana dengan pasukan lengkapnya hanya dihadapi oleh Sri Rama dengan sebelas orang pengiring. Dalam perang tersebut Sri Rama dalam beberapa hari tidak dapat mengalahkan Rahwana karena aji pancasonanya. Setelah tujuh hari berperang tanpa hasil, Sri rama mengutus Anoman menemui Dewi Sita untuk mencari kelemahan Rahwana.

Kebetulan Dewi Sita pernah mendengar perihal kelemahan Rahwana. Kelemahan terletak di pangkal telinga kanan, dan pusaka limpung (semacam gada) yang selalu dipuja oleh Dewi Mandradari siang dan malam selama Rahwana perang.

Dari petunjuk tersebut Rahwana dapat dikalahkan. Rahwana terluka parah lalu dia tewas setelah dipukul dengan senjata pusaka miliknya sendiri. Sebelum mati, Rahwana menjelaskan kalau dia hanya menjalankan takdir tuhan. Sebagai contoh pada manusia dimana mereka akan memetik hasil dari perbuatannya sendiri. Dia sebenarnya tidak mati, tapi seolah-olah mati.

Setelah itu, Alengkapura diserahkan Sri Rama pada Sang Janmamantri. Semua kemudian kembali ke negeri masing-masing. Anoman membawa Sri Rama menemui Dewi Sita. Cerita sastra dari naskah kalsik ini masih berlanjut. Seperti adanya fitnah yang menimpa Dewi Sita.

Dikisahkan saat Dewi Sita sedang hamil lima bulanan. Dewi Kawakya istri Bradana meminta Dewi Sita melukis wajah Rahwana di kipas Dewi Kawakya. Karena dibujuk terus akhirnya Dewi Sita mencoba melikis wajah Rahwana dengan mereka-reka saja.

Dewi Sita sedang tidur dan kebetulan Sri Rama keluar dari ruang balairung. Kawakya kebingungan ingin menyembunyikan kipasnya. Kamudian dia letakkan di atas perut Dewi Sita yang tertidur. Melihat kipas tersebut membuat Sri Rama marah, dan tidak mau mendengar penjelasan Dewi Sita. Kemudian dia mengusir Dewi Sita dari istana Durjayapura.

Dewi Sita pergi bersama empat ratus pengiringnya yang berasal dari Darawatiprawa. Kesanalah akhirnya dia kembali. Sesaat sebelum dia berangkat, dia berkata. “Barang siapa bersalah, pasti akan menjadi bisu selama-lamanya. Jika aku tidak bersalah seisi hutan akan berbelas kasihan kepadaku.”

Oleh. Tim Apero Fublic.
Editor. Desti, S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Sumber: Sudibjo Z. Hadisutjipto. Caretana Rama. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1985.

Sy. Apero Fublic. 

11/08/2020

Tinjauan Arkeologis: Perkembangan Arsitektur Masjid di Indonesia

Apero Fublic.- Masjid adalah tempat ibadah umat Islam sekaligus sebagai pusat segala aktivitas dan kebudayaan. Masjid juga dapat menandakan bangkitnya umat Islam pada bidang ekonomi dan kebudayaan. Terutama pada bidang arsitektur pembangunan masjid.

Pada masa lalu bangunan masjid di Indonesia hanya dibangun dengan sederhana. Berupa bangunan beratap limas dan berundak. Di Indonesia terdapat tiga tipologi atap masjid tradisional. Yaitu, masjid atap berundak, atap tajuk, dan mustaka.

Atap mustaka juga dibagi tiga, yaitu atap mustaka asli Sumatera Selatan seperti atap masjid Agung Palembang dan Masjid Agung Sekayu. Atap mustaka tipologi Pulau Jawa sampai NTB. Atap mustaka tipologi Kalimantan sampai ke Sulawesi.

Pada masa kemerdekaan muncul arsitektur dua pengaruh arsitektur atap masjid, berkubah. Kubah bawang pengaruh dari Asia Barat, Asia Selatan dan Asia Tengah. Kemudian kubah setengah lingkaran pengaruh Turki seperti masjdi Hagia Shopia.

Berikut ini, kita akan mengupas masjid terindah di Kabupaten Musi Banyuasin. Sebuah masjid yang dibangun dengan menggunakan arsitektur gaya Asia Barat dan Selatan. Kubah beraliran kubah Asia Barat-Asia Selatan atau kubah Bawang. Kemudian ada hiasan berupa menara diempat sudut bangunan. Mengisyaratkan sebagai empat menara pada bangunan-bangunan dinasti-dinasti Islam Asia Barat.

Transisi Arsitektur Masjid di Indonesia
Transisi arsitektur masjid di Indonesia begitu terlihat jelas sekali. Di bawa tahun 2000-an masjid di Indonesia masih dominan atap tradisional dan atap semi tradisional. Atap tradisional adalah atap masjid yang masih berbentuk arsitektur asli dan berbahan masih asli. Masjid ini biasanya masjid yang dibangun sebelum kemerdekaan atau dibawah tahun 1960-an.

Sedangkan masjid semi tradisional adalah masjid yang berbahan industri tapi dengan konsep tradisional. Begitu juga arsitekturnya hanya sebatas tiruan semata pada masjid tradisional. Seperti bentuk atap yang bertingkat-tingkat. Masjid semi tradisional berkembang saat Orde Baru.

Karena terbentuknya Yayasan Pancasila yang menyarankan membangun masjid dengan meniru tipologi atap tradisional Indonesia. Apabila mengikuti saran, maka akan diberikan bantuan dana. Tapi kalau bentuk lain tidak mendapat dukungan, apalagi bentuk atap masjid berkubah.

Masa Orde Baru berakhir dimana demokrasi meningkat. Umat Islam dapat berekspresi dengan baik. Sehingga pembangunan masjid juga ikut berubah. Pengaruh kubah yang paling dominan menggantikan atap masjid semi tradisional.

Berkembangnya industri kubah dan menipisnya ketersediaan kayu. Menjadi dorongan kuat untuk pemugaran masjid-masjid semi tradisional menjadi masjid berkubah modern. Selain demokratis, alasan pemugaran juga berkaitan dengan lapuknya material yang terbuat dari kayu.

Tidak ketinggalan nilai-nilai estetika (keindahan) dan meningkatnya ekonomi umat Islam juga menjadi faktor penting dalam perkembangan bangunan masjid-masjid di Indonesia. Pada sektor ilmu pengetahuan munculnya para arsitek dan pengaruh komunikasi yang luas di dunia.

Diantara pengaruh komunikasi yang kuat seperti pengaruh saat umat Islam berangkat haji. Berkunjung ke wilayah muslim di luar negeri. Kemudian komunikasi teknologi seperti berkembangnya teknologi internet dan visual digital. Sehingga umat Islam di Indonesia dapat dengan mudah melihat, meniru, mempelajari arsitektur Islam dikawasan lain di dunia.

Di Indonesia masjid berkubah pertama adalah masjid Sultan Riau. Masjid berkubah tertua di Indonesia. Masa awal kemerdekaan saat Presiden Soekarno berkunjung ke Turki. Beliau melihat masjid-masjid di Turki yang megah dengan kubah tunggal tipologi kubah setengah lingkaran, seperti Masjid Hagia Sofia, Masjid Biru dan lainnya.

Pengalaman visual Presiden Soekarno dituangkan saat membangun Masjid Istiqlal di Jakarta. Selain itu, pengaruh bentuk kuba juga masuk dari Asia Selatan dan Asia Barat. Sehingga di Indonesia terdapat dua pengaruh kubah. Yaitu, kuba aliran Turki dan kubah aliran Asia Selatan dan Asia Barat.

Sistem kubah tunggal ditengah, dengan hiasan kubah di empat sudut bangunan masjid. Bentuk visual masjid-masjid Asia Selatan dan Asia Barat. Sedangkan masjid dengan kubah tunggal besar. Adalah bentuk aliran arsitektur dan kubah dari Turki.

Tinjauan Bangunan Masjid Indonesia
Salah satu banguan arsitektur masjid yang masuk dalam kategori pengaruh Asia Selatan dan Asia Barat adalah Masjid Raya Abdul Kadim, di  Desa Epil, Kecamatan Lais, Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan.

Masjid Raya Abdul Kadim menggunakan kubah aliran Asia Barat dan Asia Selatan. Kubah bentuk bawang banyak terdapat di kawasan tersebut dan digunakan pada bangunan Islam, diantaranya tajmahal.

Perkembangan arsitektur masjid akan memberikan sumbangan pada perkembangan peradaban Islam. Sebab masjid selain menjadi tempat ibadah juga menjadi monumen peradaban dan sejarah Islam di suatu tempat atau di suatu kawasan. Orang-orang akan dapat mempelajari bangunan masjid yang menyimpan pengaruh visual pada zamannya.

Dokuman arkeologis masjid dapat menyimpan cerita zaman. Mulai dari politik yang mempengaruhi zaman dibangunnya masjid tersebut. Industri dan kesejahteraan umat Islam pada masa itu. Kemampuan berpikir dan pengaruh-pengaruh asing yang mewarnai bangunan masjid.

Semoga perkembangan arsitektur Islam bukan hanya pada bangunan masjid. Tapi juga pada bangunan-bangunan lainnya, seperti pada banguanan pendidikan dan pemerintahan. Begitu juga pada bangunan tempat tinggal yang mengangkat konsep-konsep Islami.

Oleh. Joni Apero
Editor. Selita, S.Pd.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 8 November 2020.
Foto: HS.

Sy. Apero Fublic.