11/08/2020

Tinjauan Arkeologis: Perkembangan Arsitektur Masjid di Indonesia

Apero Fublic.- Masjid adalah tempat ibadah umat Islam sekaligus sebagai pusat segala aktivitas dan kebudayaan. Masjid juga dapat menandakan bangkitnya umat Islam pada bidang ekonomi dan kebudayaan. Terutama pada bidang arsitektur pembangunan masjid.

Pada masa lalu bangunan masjid di Indonesia hanya dibangun dengan sederhana. Berupa bangunan beratap limas dan berundak. Di Indonesia terdapat tiga tipologi atap masjid tradisional. Yaitu, masjid atap berundak, atap tajuk, dan mustaka.

Atap mustaka juga dibagi tiga, yaitu atap mustaka asli Sumatera Selatan seperti atap masjid Agung Palembang dan Masjid Agung Sekayu. Atap mustaka tipologi Pulau Jawa sampai NTB. Atap mustaka tipologi Kalimantan sampai ke Sulawesi.

Pada masa kemerdekaan muncul arsitektur dua pengaruh arsitektur atap masjid, berkubah. Kubah bawang pengaruh dari Asia Barat, Asia Selatan dan Asia Tengah. Kemudian kubah setengah lingkaran pengaruh Turki seperti masjdi Hagia Shopia.

Berikut ini, kita akan mengupas masjid terindah di Kabupaten Musi Banyuasin. Sebuah masjid yang dibangun dengan menggunakan arsitektur gaya Asia Barat dan Selatan. Kubah beraliran kubah Asia Barat-Asia Selatan atau kubah Bawang. Kemudian ada hiasan berupa menara diempat sudut bangunan. Mengisyaratkan sebagai empat menara pada bangunan-bangunan dinasti-dinasti Islam Asia Barat.

Transisi Arsitektur Masjid di Indonesia
Transisi arsitektur masjid di Indonesia begitu terlihat jelas sekali. Di bawa tahun 2000-an masjid di Indonesia masih dominan atap tradisional dan atap semi tradisional. Atap tradisional adalah atap masjid yang masih berbentuk arsitektur asli dan berbahan masih asli. Masjid ini biasanya masjid yang dibangun sebelum kemerdekaan atau dibawah tahun 1960-an.

Sedangkan masjid semi tradisional adalah masjid yang berbahan industri tapi dengan konsep tradisional. Begitu juga arsitekturnya hanya sebatas tiruan semata pada masjid tradisional. Seperti bentuk atap yang bertingkat-tingkat. Masjid semi tradisional berkembang saat Orde Baru.

Karena terbentuknya Yayasan Pancasila yang menyarankan membangun masjid dengan meniru tipologi atap tradisional Indonesia. Apabila mengikuti saran, maka akan diberikan bantuan dana. Tapi kalau bentuk lain tidak mendapat dukungan, apalagi bentuk atap masjid berkubah.

Masa Orde Baru berakhir dimana demokrasi meningkat. Umat Islam dapat berekspresi dengan baik. Sehingga pembangunan masjid juga ikut berubah. Pengaruh kubah yang paling dominan menggantikan atap masjid semi tradisional.

Berkembangnya industri kubah dan menipisnya ketersediaan kayu. Menjadi dorongan kuat untuk pemugaran masjid-masjid semi tradisional menjadi masjid berkubah modern. Selain demokratis, alasan pemugaran juga berkaitan dengan lapuknya material yang terbuat dari kayu.

Tidak ketinggalan nilai-nilai estetika (keindahan) dan meningkatnya ekonomi umat Islam juga menjadi faktor penting dalam perkembangan bangunan masjid-masjid di Indonesia. Pada sektor ilmu pengetahuan munculnya para arsitek dan pengaruh komunikasi yang luas di dunia.

Diantara pengaruh komunikasi yang kuat seperti pengaruh saat umat Islam berangkat haji. Berkunjung ke wilayah muslim di luar negeri. Kemudian komunikasi teknologi seperti berkembangnya teknologi internet dan visual digital. Sehingga umat Islam di Indonesia dapat dengan mudah melihat, meniru, mempelajari arsitektur Islam dikawasan lain di dunia.

Di Indonesia masjid berkubah pertama adalah masjid Sultan Riau. Masjid berkubah tertua di Indonesia. Masa awal kemerdekaan saat Presiden Soekarno berkunjung ke Turki. Beliau melihat masjid-masjid di Turki yang megah dengan kubah tunggal tipologi kubah setengah lingkaran, seperti Masjid Hagia Sofia, Masjid Biru dan lainnya.

Pengalaman visual Presiden Soekarno dituangkan saat membangun Masjid Istiqlal di Jakarta. Selain itu, pengaruh bentuk kuba juga masuk dari Asia Selatan dan Asia Barat. Sehingga di Indonesia terdapat dua pengaruh kubah. Yaitu, kuba aliran Turki dan kubah aliran Asia Selatan dan Asia Barat.

Sistem kubah tunggal ditengah, dengan hiasan kubah di empat sudut bangunan masjid. Bentuk visual masjid-masjid Asia Selatan dan Asia Barat. Sedangkan masjid dengan kubah tunggal besar. Adalah bentuk aliran arsitektur dan kubah dari Turki.

Tinjauan Bangunan Masjid Indonesia
Salah satu banguan arsitektur masjid yang masuk dalam kategori pengaruh Asia Selatan dan Asia Barat adalah Masjid Raya Abdul Kadim, di  Desa Epil, Kecamatan Lais, Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan.

Masjid Raya Abdul Kadim menggunakan kubah aliran Asia Barat dan Asia Selatan. Kubah bentuk bawang banyak terdapat di kawasan tersebut dan digunakan pada bangunan Islam, diantaranya tajmahal.

Perkembangan arsitektur masjid akan memberikan sumbangan pada perkembangan peradaban Islam. Sebab masjid selain menjadi tempat ibadah juga menjadi monumen peradaban dan sejarah Islam di suatu tempat atau di suatu kawasan. Orang-orang akan dapat mempelajari bangunan masjid yang menyimpan pengaruh visual pada zamannya.

Dokuman arkeologis masjid dapat menyimpan cerita zaman. Mulai dari politik yang mempengaruhi zaman dibangunnya masjid tersebut. Industri dan kesejahteraan umat Islam pada masa itu. Kemampuan berpikir dan pengaruh-pengaruh asing yang mewarnai bangunan masjid.

Semoga perkembangan arsitektur Islam bukan hanya pada bangunan masjid. Tapi juga pada bangunan-bangunan lainnya, seperti pada banguanan pendidikan dan pemerintahan. Begitu juga pada bangunan tempat tinggal yang mengangkat konsep-konsep Islami.

Oleh. Joni Apero
Editor. Selita, S.Pd.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 8 November 2020.
Foto: HS.

Sy. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment