Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Teknologi
Dari Instagram ke TikTok : “Mengapa Platform Video Pendek Lebih Bebas dari Tekanan Pencapaian Sosial ?”
APERO FUBLIC I OPINI.- Di era serba media sosial saat ini, platform seperti instagram maupun TikTok menjadi dua aplikasi yang paling sering digunakan untuk berbagi momen dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan pengguna aktif setiap hari, Instagram maupun TikTok tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk berkomunikasi, tetapi juga sebagai cermin dari tren sosial dan budaya global.
Namun, di tengah popularitas keduanya, banyak yang merasa lebih nyaman memposting di TikTok dibandingkan Instagram. Perasaan insecure menjadi alasan utama, terutama ketika melihat followers di Instagram sering membagikan pencapaian pribadi mereka.
Berpindahnya haluan dari Instagram ke TikTok menggambarkan perubahan dinamika sosial yang sangat signifikan di kalangan generasi Z. Pada dasarnya, Instagram dikenal sebagai platform yang menunjukkan fokus pada pengambilan gambar yang estetika, cerita hidup yang sempurna, serta pencapaian.
Pengguna sering kali berbagi foto atau video liburan mewah, promosi karier, atau milestone hidup seperti wisuda, pernikahan, dan bahkan kenaikan jabatan.
Hal ini sering kali memicu tekanan pencapaian sosial (social achievement pressure), sehingga mengakibatkan perbandingan sosial, di mana secara tidak sadar kita membandingkan diri sendiri dengan orang lain dan merasa kurang.
Terutama jika alur hidup kita tidak sesuai dengan standar yang ditampilkan. Sering kali pengguna di Instagram tampil sebagai “versi terbaik” dari diri mereka yang biasa disebut sebagai “highlight” atau “best self”.
Saya pernah berada di posisi di mana pada saat saya membuka Instagram dan melihat teman-teman seusia saya memamerkan pekerjaannya di perusahaan besar, sementara saya masih berjuang dengan ritme hidup saya sendiri.
Pada saat itu, saya merasa tertinggal sangat jauh. Secara tidak langsung, hal itu menimbulkan rasa insecure dan muncul opini seperti “Kenapa sih aku ga sehebat dia bisa bekerja di perusahaan yang unggul?” atau “Apakah postinganku terlihat kurang menarik di timeline mereka?”.
Akibatnya, banyak orang yang merasa takut untuk memposting di Instagram, takut mendapatkan komentar atau takut mendapat pandangan negatif.
Paparan terhadap postingan di Instagram dapat meningkatkan risiko gangguan mental seperti kecemasan, sehingga banyak anak muda yang lebih memilih untuk menghindari Instagram karena merasa bahwa dirinya “tidak cukup” dibandingkan dengan pencapaian teman-temannya.
Namun, di sisi lain, TikTok hadir dengan penawaran yang berbeda. Platform TikTok ini lebih menekankan konten pendek, spontan, dan menarik seperti jedag-jedug, lip sync, atau bahkan konten meme yang sedang viral.
Pengguna menjadi tidak terlalu fokus pada pencapaian besar karena mendapatkan kreativitas dan kesenangan sesaat, sebab algoritma TikTok mendorong konten autentik yang menarik dan lucu daripada yang sempurna.
Sehingga, banyak orang yang merasa lebih bebas untuk berbagi konten sehari-hari tanpa harus merasa bahwa dirinya kurang karena melihat pencapaian orang lain. Alih-alih mempublikasikan karir atau prestasi, TikTok lebih berisi tentang tren viral dan interaksi yang cepat.
Hal ini dapat mengurangi perbandingan diri sendiri terhadap pencapaian orang lain, karena konten di TikTok sering kali ringan dan tidak personal. Banyak orang lebih sering menggunakan TikTok hanya karena untuk mengurangi “Insta-envy” dan merasa lebih aman membagikan foto atau video di TikTok tanpa merasa takut dihakimi.
Lalu, apa dampak dan bagaimana cara mengatasinya? Secara psikologis, rasa insecure yang muncul di Instagram dapat meningkatkan stres dan kecemasan, yang pada akhirnya akan berdampak pada kesehatan mental.
Namun, dengan memilih TikTok sebagai alternatif dapat sedikit membantu mengurangi rasa cemas dan stres tersebut. Jadi, ketika merasa insecure.
Kita dapat membatasi penggunaan Instagram atau mengaktifkan fitur “mute” yang bertujuan untuk mengurangi pemicu perasaan negatif dan beralih ke TikTok untuk sekedar melihat konten yang menyenangkan, seperti melihat video hobi atau meme sebagai dasar untuk membangun kepercayaan diri.
Tetapi perlu diingat, media sosial merupakan representasi, bukan realitas. Banyak orang yang memposting konten sempurna namun sebenarnya juga menghadapi rintangan hidup yang serupa.
Oleh karena itu, pola pikir yang sehat sangat penting; kita perlu menghargai pencapaian pribadi tanpa harus membandingkan diri dengan orang lain.
Dengan ini, kita bisa menggunakan media sosial sebagai alat untuk mengukur koneksi, bukan sebagai sumber stres. Pilihan Instagram maupun TikTok tergantung pada kebutuhan individu.
Kita perlu menggunakan platform Instagram maupun TikTok dengan bijak sehingga kita memahami dampak dari paparan konten akibat penggunaan kedua aplikasi tersebut secara berlebihan.
Oleh: Nurul Octafiani
Mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Sastra Universitas Universitas Kebangsaan Republik Indonesia.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment