Artikel
Esai
Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Hustle Culture di Balik Begadang Mahasiswa: Prestasi Dikejar, Atensi Menghilang
“Burnout is not the price you have to pay for success” — Arianna Huffington
APERO FUBLIC I ESAI. - Tuntutan untuk selalu produktif dan aktif membuat banyak mahasiswa terjebak dalam pola hidup hustle culture. Aktivitas akademik, organisasi, hingga pekerjaan kerap dijalani tanpa jeda istirahat yang memadai. Alih-alih meningkatkan prestasi, gaya hidup ini justru berdampak pada menurunnya kualitas tidur, terganggunya kesehatan mental, serta berkurangnya kemampuan konsentrasi mahasiswa dalam proses belajar.
Selama ini, mahasiswa dipandang sebagai garda terdepan bangsa dan agen perubahan yang diharapkan bersikap kritis, aktif, serta berprestasi. Namun, di tengah dinamika kehidupan modern, ekspektasi tersebut kerap berubah menjadi tekanan. Tidak sedikit mahasiswa yang meyakini bahwa kesibukan merupakan indikator keberhasilan. Pandangan inilah yang mendorong semakin maraknya praktik hustle culture di kalangan generasi muda, khususnya mahasiswa.
Hustle culture sendiri diartikan sebagai gaya hidup yang menempatkan kerja keras dan produktivitas sebagai prioritas utama, bahkan dengan mengorbankan waktu istirahat dan tidur. Fenomena ini telah lama berkembang dan kini semakin menguat di kalangan generasi milenial dan Generasi Z. Sayangnya, budaya tersebut kerap menjadi bumerang. Ambisi yang tidak diimbangi dengan kesadaran akan batas kemampuan diri, membuat mahasiswa cenderung mengabaikan kesehatan fisik dan mental.
Berbagai faktor mendorong mahasiswa terjebak dalam budaya hustle culture, mulai dari ambisi meraih predikat mahasiswa berprestasi, rasa tidak aman (insecure), hingga tingginya tuntutan dari lingkungan sekitar. Dalam jangka panjang, pola hidup serba produktif tanpa jeda ini berdampak serius pada kualitas tidur mahasiswa. Padahal, tidur merupakan salah satu fondasi utama dalam menunjang proses belajar dan kesehatan mental.
Tidur bukan sekadar waktu beristirahat, melainkan proses biologis yang penting dalam konsolidasi memori, pengambilan keputusan, kemampuan berpikir kritis, serta regulasi emosi. Kualitas tidur tidak hanya ditentukan oleh durasinya, tetapi juga kedalaman tidur, frekuensi terbangun, dan kepuasan subjektif setelah tidur. Ketika kualitas tidur terganggu secara terus-menerus, dampaknya langsung terasa pada fungsi kognitif, terutama atensi dan konsentrasi.
Kurang tidur terbukti menyebabkan gangguan fokus dan konsentrasi, meningkatnya kelelahan, serta penurunan produktivitas akademik. Secara neurologis, gangguan kualitas tidur yang berlangsung dalam waktu lama dapat menghambat fungsi Dorsolateral Prefrontal Cortex (DLPFC), area otak yang berperan penting dalam pengendalian fungsi kognitif, termasuk atensi dan pengambilan keputusan. Ketika fungsi ini terganggu, proses penguatan memori jangka panjang menjadi tidak optimal, sehingga berdampak langsung pada kemampuan belajar mahasiswa.
Akibat yang terjadi biasanya berpengaruh terhadap kualitas belajar mahasiswa yang menurun dan berpotensi serta berdampak pada prestasi akademik. Tidak hanya itu, kegagalan dalam mencapai target akademik dapat memicu frustasi, menurunkan motivasi belajar, serta mengurangi minat mahasiswa terhadap pembelajaran. Ironisnya, mahasiswa yang awalnya ingin meningkatkan produktivitas justru mengalami penurunan performa karena masalah kesehatan fisik dan mental.
Fenomena ini menunjukkan bahwa hustle culture dapat berubah menjadi toxic productivity ketika dijalani secara berlebihan dan melampaui kapasitas individu. Dalam situasi seperti ini, mahasiswa perlu menyadari pentingnya menjaga keseimbangan hidup. Kesehatan fisik, kesehatan mental, akademik, dan kehidupan sosial harus berjalan dengan selaras.
Kesadaran untuk menjaga keseimbangan tersebut menjadi langkah awal yang penting. Sebagai langkah pencegahan, mahasiswa dianjurkan menerapkan konsep work-life balance, menetapkan tujuan personal yang realistis, serta menyusun jadwal kegiatan berdasarkan skala prioritas. Selain itu, sikap merasa cukup dan bersyukur atas pencapaian yang telah diraih juga menjadi kunci untuk keluar dari tekanan hustle culture.
Memberi diri sendiri ruang untuk beristirahat bukanlah tanda kemunduran, melainkan bagian dari strategi menjaga keberlanjutan produktivitas. Dengan membatasi aktivitas dan menghilangkan rasa bersalah saat beristirahat, mahasiswa justru dapat menjalani peran akademiknya secara lebih sehat, fokus, dan efektif. Pada akhirnya, produktivitas sejati tidak lahir dari kerja tanpa henti, melainkan dari kemampuan menyeimbangkan usaha dengan pemulihan diri.
Referensi
Lubis, A. J., Maria, I., Sukrisno, A., & Muktamiroh, H. (2025). Prestasi akademik mahasiswa kedokteran: Peran tidur, organisasi, dan jarak tempuh. Jurnal Kedokteran Meditek, 31(3). https://ejournal.ukrida.ac.id/index.php/Meditek/article/view/3532
Salikunna, N. A., Astiawan, W. D., Handayani, F., & Ramadhan, M. Z. (2022). Hubungan antara kualitas tidur dengan tingkat konsentrasi pada mahasiswa. Healthy Tadulako Journal (Jurnal Kesehatan Tadulako), 8(3), 157-163.
Surbakti, Y. A. (2020). Hubungan kualitas tidur dengan atensi pada mahasiswa/i Fakultas Kedokteran Universitas HKBP Nommensen Medan. (Skripsi dipublikasikan)
Yekti, R., & Rambe, R. (2021). Hubungan kualitas tidur dengan prestasi belajar mahasiswa angkatan 2017 fakultas Kedokteran universitas Kristen Indonesia. Pro-Life, 8(2), 148-155.
Yulianti, N., & Melliza, N. (2025). The Relationship Between Academic Stress and Sleep Quality Among Nursing Students. Discover Health and Medicine, 1(1), 33-41.
Mahasiswa Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Artikel

Post a Comment