Feature
Kabar Desa
Kampus
Mahasiswa
Pendidikan
Bikin Penasaran! Lewat Penyuluhan 'Smart Fermentor', Petani Kopi Desa Klampok Siap Rintis Jalan Menuju Kelas Premium!
Gambar 1. Para petani peserta penyuluhan beserta Tim PPK Ormawa BEM FPP UMM, dosen pendamping, dan pemateri.
APERO FUBLIC I KLAMPOK, MALANG.— Siapa sangka kopi lokal asal pedesaan menyimpan potensi besar untuk melejit menjadi produk berkelas dunia dengan nilai jual tinggi? Langkah awal menuju mimpi besar tersebut resmi dimulai lewat kegiatan penyuluhan dan sosialisasi pengolahan pascapanen kopi yang digelar oleh Tim Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Desa Klampok, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.
Kegiatan edukatif ini diinisiasi oleh Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama dosen pendamping. Meski baru tahap pembekalan materi dan pengenalan alat, antusiasme para petani, tokoh masyarakat, hingga perangkat Desa Klampok tidak surut sedikit pun.
Sehingga, pada Sabtu malam (27/6/2026), mereka tampak santai duduk lesehan beralaskan tikar menyimak paparan inovasi teknologi yang dibawa oleh para mahasiswa demi mempersiapkan mutu panen mendatang.
Gambar 2. Suasana penyuluhan pada malam hari di Desa Kelampok; peserta duduk lesehan beralaskan tikar sambil menyimak pemaparan materi.
Langkah Awal: Membenahi Pondasi Budidaya (GAP) di Kebun
Sebelum melangkah ke proses pengolahan, Tim PPK Ormawa BEM FPP UMM menegaskan bahwa kualitas buah kopi harus dibentuk sejak dari kebun. Dalam penyuluhan tersebut, dipaparkan bahwa Desa Klampok memiliki keunggulan geografis luar biasa di kaki Gunung Arjuno dengan tanah yang subur dan ketinggian ±487 mdpl.
Agar potensi alam tersebut menghasilkan buah kopi yang lebat dan sehat untuk panen berikutnya, para petani dibekali materi teknik Good Agricultural Practices (GAP), yang mencakup:
● Penanaman Pohon Naungan: Pentingnya menanam pohon penaung (seperti sengon, lamtoro, atau alpukat) sebelum penanaman bibit kopi untuk menjaga mikroklimat dan kesuburan tanah.
● Pemupukan 5 Tepat: Edukasi mengenai prinsip pemupukan yang presisi (tepat jenis, dosis, waktu, cara, dan sasaran) dengan memanfaatkan limbah kulit kopi sebagai pupuk organik.
● Pemangkasan (Pruning): Teknik memangkas cabang untuk membuka tajuk agar cahaya matahari optimal, merangsang percabangan baru, dan menekan kelembapan pemicu penyakit.
● Pengendalian Hama PBKo: Pengenalan penggunaan Steiner Trap dengan cairan atraktan untuk mengendalikan hama Penggerek Buah Kopi (Hypothenemus hampei) secara terpadu tanpa merusak lingkungan.
Mengubah Mindset: 60% Mutu Kopi Ditentukan Saat Pascapanen
Salah satu poin paling menarik perhatian dalam penyuluhan ini adalah fakta bahwa 60% mutu fisik, aroma, dan cita rasa kopi justru dibentuk setelah buah dipetik, yakni pada tahap pengolahan pascapanen.
Tim PPK Ormawa BEM FPP UMM mengedukasi petani untuk mulai meninggalkan kebiasaan lama yang kerap menurunkan mutu kopi, seperti memetik buah hijau/borongan, menumpuk buah terlalu lama di karung tertutup hingga tengik, atau menjemur langsung di atas tanah. Sebagai persiapan menuju standar Specialty Coffee (cupping score > 80), petani diperkenalkan pada standar penanganan baru:
● Wajib Petik Merah (Selective Picking): Membiasakan hanya memetik buah merah sempurna yang memiliki kandungan gula dan aroma terbaik.
● Sortasi Rambang & Batas Waktu 12 Jam: Edukasi memisahkan buah cacat (mengapung) dengan buah bernas (tenggelam), dan pentingnya memproses buah maksimal 12 jam setelah dipetik agar tidak terjadi fermentasi liar.
Gambar 3. Penyerahan sertifikat kepada pemateri penyuluhan.
Perkenalan 'Smart Fermentor': Senjata Baru Petani Menjemput Panen
Puncak dari kegiatan sosialisasi ini adalah demonstrasi dan pengenalan teknologi Smart Multifunctional Fermentor dengan Sistem Karbonasi Terkontrol. Alat pintar ini dihadirkan sebagai solusi atas proses fermentasi tradisional yang selama ini sulit dikontrol dan menghasilkan kualitas rasa yang tidak konsisten.
Melalui penyuluhan ini, petani diperkenalkan bagaimana Smart Fermentor dapat mengatur suhu, pH, dan gas CO2 secara presisi. Alat inilah yang nantinya akan digunakan oleh kelompok tani Desa Klampok saat masa panen tiba untuk bereksperimen dengan metode pengolahan modern bernilai tinggi, seperti:
● Natural Anaerob: Proses fermentasi tertutup untuk menciptakan profil rasa buah tropis yang pekat dan body kopi yang tebal.
● Honey Anaerob: Pengolahan untuk menghasilkan karakter rasa manis bersih layaknya madu atau sirup mapel.
● Carbonic Maceration: Fermentasi presisi dengan pH target 4,0–4,5 untuk memunculkan keasaman cerah yang kompleks dan aroma bunga yang unik.
Harapan Baru untuk Kesejahteraan Petani Klampok
Penyuluhan ini berhasil membuka wawasan dan membangkitkan optimisme baru di Desa Klampok. Lewat evaluasi dan diskusi interaktif di akhir acara, para petani menyatakan ketertarikannya untuk menerapkan ilmu yang didapat dan mencoba teknologi fermentor bersama-sama saat musim panen tiba.
Langkah sosialisasi ini menjadi tonggak awal dari kolaborasi berkelanjutan antara akademisi UMM dan masyarakat Desa Klampok. Dengan perbekalan ilmu budidaya yang tepat dan kehadiran teknologi pascapanen modern, petani Klampok kini siap merintis jalan untuk mengubah panen lokal mereka menjadi Specialty Coffee bernilai tinggi di masa depan.
Penulis:
- Nurul
- Lutfhia
- Chika
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Feature

Post a Comment