Esai
Kampus
Mahasiswi
Pendidikan
Pandangan Perempuan Gen Z Terhadap Marriage is Scary
source : canva
Pandangan Perempuan Gen Z Terhadap Fenomena Marriage is Scary : Ketika Kurangnya Peran Ayah Mempengaruhi Perspektif
APERO FUBLIC I ESAI.-- Perempuan dalam keadaan fatherless memiliki kondisi takut akan ditinggalkan, sama dengan apa yang pernah dilakukan oleh ayahnya, sehingga menimbulkan kecemasan untuk menjalin sebuah komitmen atau pernikahan. Kecemasan ini merupakan suatu pengalaman emosional yang timbul karena trauma dan rasa tidak percaya diri dari dalam diri.
Artikel populer ini ditulis bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana kecemasan terhadap pernikahan pada perempuan dewasa awal yang mengalami fatherless sehingga menganggap bahwa ‘marriage is scary’.
Pandangan inilah yang akhirnya membuat perempuan yang mengalami fatherless memandang negatif lelaki lawan jenisnya, sehingga mempengaruhinya terhadap gambaran pernikahan dan menjadikan sosok ayah sebagai laki-laki harus dijauhi. Padahal seharusnya sosok ayah seharusnya menjadi laki-laki pertama bagi anak perempuan untuk menjadi cinta pertama dalam hidupnya.
Ketakutan perempuan Gen Z terhadap fenomena ‘marriage is scary’ bukanlah sekedar tren media sosial, tetapi juga bentuk nyata dari trauma pengasuhan akibat hilangnya peran ayah (fatherless).
Krisis figur pelindung ini telah mengubah pandangan laki-laki di mata mereka dari yang seharusnya menjadi cinta pertama menjadi sumber kecemasan utama sehingga keputusan untuk menunda atau menghindari pernikahan menjadi sebuah mekanisme pertahanan diri demi memutus rantai luka emosional yang sama.
Budaya patriarki yang masih mengakar kuat dalam struktur sosial masyarakat sering kali menempatkan beban domestik secara eksklusif pada bahu perempuan. Konstruksi sosial ini menguatkan pandangan bahwa peran utama laki-laki hanyalah sebagai pencari nafkah material tanpa kewajiban terlibat dalam pengasuhan emosional.
Akibatnya, banyak ayah yang merasa asing di dalam rumahnya sendiri karena terjebak dalam ekspektasi maskulinitas yang kaku. Hal ini menciptakan jarak psikologis antara ayah dan anak, di mana kehadiran fisik tidak dibarengi dengan kehangatan komunikasi.
Patriarki secara tidak langsung menormalisasi ketidakhadiran ayah (fatherless) karena menganggap keterlibatan emosional laki-laki sebagai bentuk kelemahan. Kondisi tersebut membuat perempuan Gen Z melihat struktur keluarga tradisional sebagai sistem yang tidak seimbang. Mereka menyaksikan bagaimana ibu berjuang sendirian sementara figur ayah tetap menjadi sosok yang dingin dan jauh.
Ketidakseimbangan ini menanamkan persepsi bahwa pernikahan hanya akan menambah beban tanggung jawab tanpa dukungan pasangan yang setara. Oleh karena itu, kritik terhadap patriarki menjadi bagian penting dalam memahami mengapa pernikahan mulai dipandang sebagai institusi yang menakutkan. Pada akhirnya, dekonstruksi terhadap nilai-nilai patriarki diperlukan agar peran ayah tidak lagi terbatas pada aspek finansial semata.
Keluarga adalah unit sosial terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari ayah, ibu dan satu atau dua anak lebih dijiwai dengan cinta dan tanggung jawab. Tumbuh kembang seorang anak tentunya membutuhkan pengasuhan yang baik dari kedua orang tuanya.
Peran ayah dan ibu sama pentingnya dan berpengaruh dalam perkembangan anak, tetapi dalam kenyataannya seorang ayah tidak memiliki banyak waktu untuk berinteraksi dengan anak karena memiliki kewajiban untuk mencari nafkah.
Seorang anak tumbuh dalam keluarga yang utuh biasanya mendapat perhatian yang cukup, terutama dari ayahnya. Namun ketika salah satu orang tua tidak hadir maka terdapat ketidakseimbangan pada perkembangan psikologis anak.
Tentunya setiap orang menginginkan keluarga yang bahagia dan harmonis untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi setiap anggotanya tetapi tidak menutup kemungkinan terjadinya permasalahan di dalam keluarga. Berdasarkan data dari Databoks pada tahun 2017-2021 kasus perceraian terjadi sebanyak 53% dan sebesar 7,04 anak hanya tinggal bersama ibu (Ridho, 2022).
Sejumlah penelitian telah menemukan bahwa anak-anak yang mengalami fatherless menyebabkan anak merasa rendah harga diri (self esteem), kesepian (loneliness), kecemburuan (envy), kedukaan (grief), rasa kehilangan yang amat sangat, rendahnya control terhadap diri sendiri (selfcontrol), keberanian dalam mengambil sebuah resiko (risk taking), dan kecenderungan mental yang tidak stabil terutama banyak terjadi pada anak perempuan (Salsabila dkk, 2020).
Peran ayah tidak hanya dibutuhkan anak laki-laki saja tetapi anak perempuan juga membutuhkan kedekatan dengan ayah agar lebih dapat berpikir secara rasional, sedangkan anak laki-laki diajarkan untuk berani dalam bersikap sebagai pemimpin.
Pengaruh peran ayah terhadap anak perempuan di masa depan adalah ketika berhubungan sosial dengan lawan jenis, situasi tanpa ayah ini cenderung membuat anak merasa ada sesuatu yang hilang, menempatkan mereka dalam situasi yang sulit, dan menghambat pertumbuhan mereka.
Luka emosional akibat fatherless sering kali bermula dari perasaan tidak layak dicintai yang tertanam sejak masa kanak-kanak. Tanpa afirmasi dari sosok ayah, anak perempuan cenderung tumbuh dengan harga diri yang rendah dan perasaan kesepian yang mendalam.
Ketidakhadiran ini menciptakan trauma pengabaian yang membuat mereka selalu merasa cemas akan ditinggalkan oleh orang lain di masa depan. Mereka kehilangan standar perilaku laki-laki yang baik karena cinta pertama yang seharusnya melindungi justru menjadi sumber kekecewaan.
Akibatnya, timbul rasa tidak percaya yang besar terhadap laki-laki lawan jenis secara umum. Luka ini berkembang menjadi mekanisme pertahanan diri yang membuat mereka sangat selektif atau bahkan takut menjalin komitmen serius.
Ketidakhadiran peran ayah secara emosional merusak citra ideal tentang sebuah keluarga yang harmonis di mata perempuan dewasa awal. Pengalaman melihat kegagalan interaksi orang tua membuat mereka memandang pernikahan sebagai siklus penderitaan yang harus dihindari.
Ketakutan untuk mengulangi kesalahan yang sama menjadi motivasi utama di balik fenomena marriage is scary. Mereka merasa bahwa pernikahan tanpa kehadiran emosional yang utuh hanyalah sebuah beban formalitas yang menyakitkan.
Luka ini mendorong mereka untuk lebih memilih kemandirian demi menjaga kesehatan mental dan stabilitas diri sendiri. Memutus rantai trauma ini dianggap lebih penting daripada memenuhi ekspektasi sosial untuk segera membangun rumah tangga.
Kecemasan terhadap pernikahan ini timbul karena ayahnya sebagai standar untuk menilai perilaku baik dan tidak baik dari laki-laki. Karenanya, ketika sosok ayah hilang maka akan cenderung timbul kecemasan pada diri perempuan untuk melakukan pernikahan, sebab merasa bahwa dirinya tidak layak untuk dicintai oleh siapapun, takut akan terjadi hal yang sama seperti pernikahan orangtuanya, dan takut salah memilih sosok ‘ayah’ untuk anaknya kelak.
Hasil survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) pada 2016 menunjukkan 8,3 juta perempuan dewasa yang tidak menikah dan meningkat sebanyak 8% menjadi 9,04 juta orang pada 2020 (Maharrani, 2022).
Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa fenomena yang terjadi saat ini adalah karena banyaknya perempuan yang sudah cukup usia dengan kondisi kehidupan yang mencukupi tetapi enggan untuk menikah yang disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya fatherless.
Karena pengalaman yang dilihat dari pernikahan kedua orangtuanya juga menjadi salah satu alasan utama individu dalam membayangkan kebahagiaan seperti apa itu pernikahan.
Fenomena ‘marriage is scary’ di kalangan perempuan Gen Z bukan hanya sebuah tren tanpa alasan, tetapi sebuah peringatan atas rapuhnya peran figur seorang ayah dalam keluarga selama ini. Tingginya angka perceraian dan fenomena fatherless telah menciptakan banyak luka yang mengubah cara pandang perempuan terhadap laki-laki dan pernikahan.
Bagi mereka, memilih untuk tidak terburu-buru menikah atau bahkan memutuskan untuk sendiri adalah sebuah bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri agar tidak mengulangi siklus kegagalan yang pernah mereka rasakan.
Pada akhirnya, penurunan angka pernikahan ini adalah pesan bagi masyarakat bahwa sebuah keluarga tidak cukup jika hanya dibangun atas dasar pemenuhan materi berupa nafkah tetapi juga harus didasari oleh kehadiran emosional yang utuh.
Perempuan Gen Z saat ini tidak sedang menolak kebahagiaan, mereka hanya sedang memastikan bahwa ketika memutuskan untuk membangun sebuah keluarga harus ada cinta dan pemahaman bahwa keluarga adalah tempat paling nyaman untuk bertumbuh.
Perempuan Gen Z memilih untuk memutus rantai trauma demi masa depan yang lebih sehat secara mental.
OLEH : LAKSMI SAQEENA RIDHO
Mahasiswi Prodi Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Brawijaya.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Esai

Post a Comment