Budaya
Feature
Kampus
Kesenian
Mahasiswi
Pendidikan
Menari sebagai Healing: Saat Tubuh Berbicara Tanpa Kata
APERO FUBLIC I FEATURE.-- Di tengah rutinitas yang padat, banyak orang mencari cara untuk mengembalikan energi dan menenangkan pikiran. Ada yang memilih berjalan-jalan, mendengarkan musik, atau menghabiskan waktu bersama orang terdekat. Namun, bagi sebagian orang, menari menjadi cara sederhana untuk merasa lebih baik setelah menjalani hari yang melelahkan. Menari sering kali dianggap hanya sebagai bentuk hiburan atau seni.
Padahal, lebih dari itu, menari juga dapat menjadi sarana untuk mengekspresikan perasaan yang sulit diungkapkan melalui kata-kata. Tidak semua emosi bisa diceritakan dengan mudah. Ada kalanya seseorang memilih diam, sementara tubuhnya menyimpan berbagai rasa yang belum sempat disampaikan.
Dalam psikologi, tubuh dan emosi memiliki hubungan yang erat. Ketika seseorang merasa stres atau tertekan, tubuh sering kali ikut merespons, misalnya dengan merasa tegang, lelah, atau kehilangan semangat. Melalui gerakan, seseorang dapat melepaskan sebagian ketegangan tersebut dan memberi ruang bagi dirinya untuk merasakan apa yang sedang
dialami.
Saat menari, perhatian biasanya tertuju pada musik, ritme, dan gerakan yang dilakukan. Tanpa disadari, hal ini membantu mengalihkan pikiran dari berbagai tekanan yang sedang dihadapi. Untuk sesaat, seseorang dapat berhenti memikirkan tugas yang menumpuk, target yang belum tercapai, atau kekhawatiran tentang masa depan. Menari juga bisa menjadi bentuk self-reward yang sederhana.
Setelah berusaha menjalani berbagai tanggung jawab, seseorang tentu membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri. Tidak harus dengan sesuatu yang mahal atau mewah, terkadang memberi kesempatan pada diri untuk melakukan hal yang disukai sudah menjadi bentuk apresiasi yang berarti.
Menariknya, menari tidak selalu dilakukan sendirian. Banyak orang menari bersama teman-teman dalam sebuah kelompok atau komunitas. Di sana, bukan hanya gerakan yang dipelajari, tetapi juga kebersamaan yang tercipta selama proses latihan.
Tawa, cerita, dan kerja sama yang terbangun sering kali menjadi alasan mengapa menari terasa menyenangkan. Tanpa disadari, kebersamaan tersebut ikut membantu mengurangi penat dan membuat seseorang merasa tidak sendirian dalam menghadapi berbagai kesibukan hidup.
Pada akhirnya, healing tidak selalu harus dilakukan dengan cara yang besar. Terkadang, proses pemulihan hadir melalui hal-hal sederhana yang sering dianggap biasa. Menari menjadi salah satu contohnya. Di balik setiap gerakan, ada ruang untuk melepaskan beban, memahami diri sendiri, dan menemukan ketenangan tanpa harus mengucapkan sepatah kata pun.
Oleh: Gebrina Rizki Ananda
Mahasiswi Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Budaya

Post a Comment