Feature
Kampus
Mahasiswa
Pendidikan
PKM
Mahasiswa UNY Mengabdi di Jantung Kota, Tiga Bulan Bersama Warga Kampung Jogoyudan
APERO FUBLIC I FEATURE.- Di balik hiruk-pikuk Kota Yogyakarta yang begitu ramai, tersembunyi sebuah kampung tua yang menyimpan cerita panjang. Kampung Jogoyudan, yang berdiri di tepi Sungai Code dan dilintasi oleh sumbu filosofi Yogyakarta bukan sekadar permukiman biasa, ia adalah cerminan ketangguhan warga kota yang hidup berdampingan dengan sejarah.
Di sinilah, sejak 28 Februari hingga 23 Mei 2026, sepuluh mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dari berbagai program studi memilih untuk mengabdi, bukan dari kejauhan, melainkan dengan terjun langsung ke dalam keseharian warga.
Tim ini terdiri dari tiga mahasiswa PGSD (Dina Khoerunnisa, Hani Suhartini, Ilma Moudi Nurtyas); tiga mahasiswa PKN (Elma Fitria, Falysha Widya Darmaputri, Agistiya Putri Zeiningrum); dua mahasiswa Tata Busana (Gabriella Angelica Nugroho, Najhatun Roisatul Ummah); dan dua mahasiswa Mekatronika (Leonard Joseph Setyawan, Nur Koles).
Melalui program Pembelajaran Luar Kampus (PLK), kelompok mahasiswa ini merancang berbagai kegiatan yang menjawab kebutuhan nyata Kampung Jogoyudan, Kelurahan Gowongan, Kecamatan Jetis — mulai dari pendidikan anak, pemberdayaan perempuan, keselamatan warga, hingga penguatan kesadaran hukum dan lingkungan sejak dini.
Selama tiga bulan, salah satu program yang paling konsisten dan dinantikan warga adalah BILAS (Bimbingan Belajar Anak Sekolah Dasar). Mahasiswa hadir mendampingi anak-anak kampung untuk belajar dan bermain bersama setiap malam minggu, mengisi ruang yang sering kosong waktu malam.
Program ini bukan sekadar les tambahan, ia tumbuh menjadi ruang kepercayaan, tempat anak-anak merasa diperhatikan dan orang tua merasa terbantu. Beriringan dengan BILAS, pendampingan TPA berjalan hampir tiap hari, menghidupkan kembali semangat belajar mengaji yang kadang redup di tengah kesibukan kota.
Yang tak kalah mencolok adalah kelompok ini menyentuh isu yang kerap dianggap terlalu berat untuk kampung, yakni kesadaran hukum. Tiga mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan berkolaborasi menggelar Sosialisasi Kesadaran Hukum bagi Masyarakat sejak dini.
Mahasiswa mengajak anak-anak SD hingga remaja SMA memahami hak dan kewajiban mereka sebagai warga negara, dalam bahasa yang membumi dan sesuai dengan kehidupan sehari-hari. Di kampung yang berada di jantung kota sekalipun, pemahaman hukum masih menjadi kebutuhan yang sering terabaikan, terutama bagi anak remaja.
Semangat lintas disiplin itulah yang menjadi pembeda kelompok PLK Jogoyudan. Leon, mahasiswa Pendidikan Teknik Mekatronika, tidak membawa teori ke ruang kelas akan tetapi ia membawa obeng dan kabel ke Pendopo RT 33.
Hasilnya, sistem penerangan otomatis yang kini menerangi ruang publik warga setiap malam tanpa perlu dinyalakan manual. Sementara itu, program Edukasi Mitigasi Bencana hadir mengingatkan bahwa Yogyakarta adalah kota yang indah sekaligus rawan dan kesiapsiagaan warga terhadap gempa bumi adalah urusan yang tidak bisa ditunda.
Bagi warga perempuan, kelompok PLK membuka ruang kreativitas sekaligus peluang ekonomi. Workshop sulam yang mengajarkan teknik reparasi busana, dan kelas membuat gantungan kunci dari kain perca, bukan sekadar kegiatan keterampilan biasa, keduanya menunjukkan bahwa bahan-bahan sederhana di sekitar rumah bisa menjadi sumber penghasilan bila disentuh dengan kreativitas dan pengetahuan yang tepat.
Anak-anak Jogoyudan pun mendapat perhatian khusus. Dari Forum Anak yang mendorong mereka berani bersuara dan memahami hak-haknya, hingga sosialisasi anti-bullying yang menyentuh realita pergaulan sehari-hari, mahasiswa hadir bukan sebagai guru yang menggurui, melainkan sebagai kakak yang menemani.
Bahkan keselamatan listrik pun dikemas dalam cerita pendek teatrikal agar pesan yang serius bisa tersampaikan dengan cara yang melekat di ingatan.
"Kami datang dengan program, tapi yang kami bawa pulang adalah pelajaran," ujar ketua tim PLK.
"Kegiatan ini mengajarkan mahasiswa tentang realita kehidupan bermasyarakat, bahwa penolakan dan penerimaan warga adalah hal yang lumrah, jadi jangan pernah kapok. Karena itulah yang memang akan terjadi." ungkap salah satu warga.
Tiga bulan berlalu. Program telah usai. Tapi di Kampung Jogoyudan, jejak kehadiran mahasiswa UNY tidak ikut pergi, ia tertinggal dalam anak-anak yang kini lebih percaya diri belajar, cerita edukasi yang seru masih bisa dinikmati secara online, dan dalam warga yang kini sedikit lebih paham akan hak-hak mereka.
Itulah hakikat dari Pembelajaran Luar Kampus, bukan sekadar mahasiswa yang pergi mengabdi, melainkan kampung yang turut mendidik mahasiswa untuk menjadi manusia yang lebih peka dan berdampak.
Identitas Penulis:
Penulis : Nur Koles
Mahasiswi Fakultas Teknik, Jurusan Studi Pendidikan Teknik Mekatronika.
Nama Anggota Kelompok:
Leonard Joseph Setyawan Pendidikan Teknik Mekatronika. Hani Suhartini Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Ilma Moudi Nurtyas Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Dina Khoerunnisa Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Gabriella Angelica Nugroho Pendidikan Teknik Tata Busana. Najhatun Roisatul Ummah Pendidikan Teknik Tata Busana. Elma Fitria Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Falysha Widya Darmaputri Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Agistiya Putri Zeiningrum Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.
(Berita Pembelajaran Luar Kampus Mengabdi Universitas Negeri Yogyakarta).
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Feature

Post a Comment