Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Pertanian
Membentengi Ketahanan Pangan Nasional di Tengah Krisis Logistik dan Pasokan Pupuk Dunia
APERO FUBLIC I OPINI.- Ketegangan geopolitik yang terus membara di berbagai belahan dunia, mulai dari sengketa jalur dagang di Laut Merah hingga gesekan politik di Selat Hormuz, kini bukan lagi sekadar bumbu berita di halaman luar negeri. Dampaknya nyata dan pelan-pelan mulai mengetuk pintu dapur setiap rumah tangga di Indonesia.
Kita sedang menghadapi situasi di mana meroketnya biaya logistik kapal laut global dan ancaman macetnya pasokan bahan baku industri, mulai berkoalisi membentuk satu ancaman nyata: krisis pangan.
Di tengah situasi pelik ini, Indonesia tidak boleh terlena hanya karena angka-angka produksi di atas kertas terlihat aman. Kenyataannya, ketahanan pangan kita berada di posisi yang cukup rawan. Mengabaikan benang kusut rantai pasok global, terutama pada sektor hulu seperti industri pupuk, adalah sebuah perjudian besar yang mempertaruhkan urusan perut ratusan juta rakyat.
Kekhawatiran ini tentu bukan respons panik yang tanpa dasar. Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) berulang kali mengeluarkan peringatan mengenai rapuhnya harga pangan global akibat tersendatnya jalur maritim utama.
Di dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa meskipun pertumbuhan ekonomi makro kita berada di angka 5,61% pada kuartal pertama tahun ini, sektor pertanian justru menunjukkan tren melandai. Sektor inilah yang paling pertama terhantam jika ada riak pada pasokan pupuk.
Masalahnya, Indonesia masih sangat bergantung pada impor bahan baku pupuk krusial, seperti fosfat dan kalium, yang sebagian besar berasal dari wilayah-wilayah yang kini sedang dilanda konflik.
Di sisi lain, ruang fiskal pemerintah untuk menambah kuota subsidi pupuk kian menyempit akibat tekanan nilai tukar dolar AS yang melambung tinggi. Ketika bahan baku ini mandek, produktivitas lahan pertanian kita pada musim tanam berikutnya dipertaruhkan.
Jika dibedah, hubungan sebab-akibat dari masalah ini sangatlah linier. Gangguan pada jalur pelayaran internasional otomatis mengerek tarif pengapalan secara drastis. Bagi industri pupuk domestik, hal ini memicu lonjakan biaya produksi yang berujung pada mahalnya harga pupuk non-subsidi di tingkat pengecer. Padahal bagi petani, pupuk adalah separuh nyawa dari keberhasilan panen.
Saat dihadapkan pada harga pupuk yang mencekik, pilihan serealistis bagi petani adalah mengurangi dosis pemakaian pada tanaman mereka. Dampak lanjutannya bisa ditebak: kualitas padi menurun dan volume panen merosot.
Berkurangnya pasokan di pasar domestik akan memicu hukum ekonomi dasar, yaitu lonjakan inflasi pangan. Pada akhirnya, masyarakat kelas menengah ke bawah yang paling terpukul.
Uang belanja yang dikeluarkan tetap sama, tetapi porsi makanan yang dibawa pulang kian menyusut. Sejarah berulang kali membuktikan bahwa urusan perut yang terganggu adalah pematik paling cepat bagi goyahnya stabilitas sosial dan politik suatu negara.
Memang, ada argumen dari sejumlah kalangan atau pihak otoritas yang mencoba menenangkan publik. Mereka menyatakan bahwa kapasitas produksi korporasi pupuk pelat merah masih sangat besar dan cadangan beras di gudang Bulog berada dalam batas aman. Pandangan seperti ini tentu tidak salah, tetapi sayangnya kurang menyeluruh.
Benar bahwa pabrik pupuk kita mampu berproduksi dalam skala besar, namun bahan baku intinya seperti kalium murni 100 persen masih harus didatangkan dari luar negeri karena bumi Nusantara tidak memilikinya.
Menimbun cadangan pangan di gudang Bulog pun sebenarnya hanyalah solusi di hilir yang sifatnya meredam gejala sementara, bukan mengobati penyakitnya di tingkat hulu. Mengharapkan ketahanan pangan tanpa menjamin keterjangkauan dan ketersediaan pupuk bagi petani adalah sebuah ekspektasi yang naif.
Oleh sebab itu, guna membentengi kedaulatan pangan dari hantaman badai global ini, pemerintah harus segera mengambil langkah taktis yang keluar dari cara – cara lama.
Pertama, kementerian terkait harus melancarkan diplomasi dagang yang agresif untuk mendiversifikasi negara asal impor bahan baku pupuk ke wilayah-wilayah non-konflik.
Kedua, sudah saatnya ada gerakan masif untuk mengedukasi dan memfasilitasi petani agar mau mengombinasikan pupuk kimia dengan pupuk organik lokal demi memangkas ketergantungan impor jangka panjang.
Ketiga, APBN harus diposisikan sebagai perisai yang fleksibel melalui pemberian insentif atau subsidi logistik khusus untuk distribusi pangan dan pupuk antar pulau agar harga di tingkat tapak tetap stabil.
Ketahanan pangan adalah pondasi paling dasar dari kedaulatan sebuah bangsa. Kita tidak boleh membiarkan isi piring nasi rakyat ditentukan oleh konflik bersenjata yang terjadi ribuan mil dari tanah air kita.
Jika mitigasi terhadap krisis logistik dan bahan baku pupuk ini tidak diseriusi sejak sekarang, maka narasi besar tentang swasembada pangan hanya akan menjadi pemanis pidato, sementara di dunia nyata kita sibuk memadamkan api inflasi yang membakar daya beli masyarakat.
PENULIS : Muhammad Malvin Adrian
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment