Feature
Kampus
Mahasiswa
Pendidikan
Mahasiswa UM Mengajar, Berkreasi, dan Bertumbuh Bersama
APERO FUBLIC I MALANG.— Program Asistensi Mengajar (AM) Universitas Negeri Malang (UM) kembali membuktikan perannya sebagai jembatan antara dunia akademik dan praktik pendidikan nyata. Semester ini, sejumlah mahasiswa dari Fakultas Ilmu Pendidikan resmi ditempatkan di SDN Sumbersari 1, Kota Malang, untuk menjalankan serangkaian kegiatan yang menyentuh langsung kehidupan belajar siswa dan sekolah.
Selama beberapa bulan penempatan, para mahasiswa tidak sekadar berdiri di depan kelas sebagai pengajar pengganti. Mereka merancang, mengeksekusi, dan mengevaluasi program-program inovatif yang mencakup kegiatan belajar mengajar harian, pengembangan program literasi sekolah, hingga peringatan Hari Kartini yang sarat makna dan kreativitas.
Mengajar Bukan Sekadar Menyampaikan Materi
Kegiatan asistensi mengajar menjadi inti dari program ini. Setiap harinya, mahasiswa mendampingi guru kelas dalam proses pembelajaran di berbagai jenjang, mulai dari kelas I hingga kelas VI. Mereka aktif terlibat dalam penyampaian materi, pengelolaan kelas, hingga pendampingan individual bagi siswa yang membutuhkan perhatian lebih.
Mahasiswa peserta AM tidak hanya menerapkan teori yang didapat di bangku kuliah, tetapi juga belajar beradaptasi dengan dinamika kelas yang sesungguhnya. Variasi gaya belajar siswa, keterbatasan sarana, hingga perbedaan latar belakang keluarga menjadi tantangan nyata yang mengasah kepekaan pedagogis mereka.
"Mengajar langsung di sini membuka mata saya. Ternyata banyak hal yang tidak bisa dipelajari dari buku teks, terutama soal bagaimana memahami karakter setiap anak secara berbeda."
Mahasiswa Peserta AM, Program Studi PGSD Universitas Negeri Malang
Para guru pamong di SDN Sumbersari 1 pun memberikan respons positif. Kehadiran mahasiswa dirasakan mampu membawa energi dan pendekatan baru yang menyegarkan proses pembelajaran. Beberapa guru bahkan mengakui bahwa metode pembelajaran aktif yang diterapkan mahasiswa menginspirasi mereka untuk berinovasi lebih lanjut.
Program Literasi Sekolah: Menanam Budaya Membaca
Salah satu terobosan paling signifikan yang dihadirkan mahasiswa UM dalam program ini adalah perancangan dan pelaksanaan program literasi sekolah. Berangkat dari keprihatinan terhadap rendahnya minat baca di kalangan siswa sekolah dasar, tim mahasiswa merancang sebuah ekosistem literasi yang holistik dan berkelanjutan.
Inovasi paling ikonik yang lahir dari tangan mahasiswa UM dalam program ini adalah Pohon Literasi — sebuah instalasi visual besar yang dipajang di sudut strategis sekolah dan menjadi pusat perhatian seluruh warga SDN Sumbersari 1. Pohon ini bukan sekadar dekorasi; ia adalah rekam jejak hidup dari budaya membaca yang sedang tumbuh.
Konsepnya sederhana namun penuh makna: setiap kali seorang siswa selesai membaca sebuah buku, ia menuliskan rangkumannya dalam sebuah surat kecil berbentuk daun. Surat itu kemudian ditempelkan langsung pada ranting-ranting Pohon Literasi. Semakin banyak buku yang dibaca, semakin rimbun pohon itu berdaun
Hari Kartini: Lima Jam, Lima Lomba, Satu Semangat
Puncak dari seluruh rangkaian program adalah peringatan Hari Kartini pada 21 April 2025. Mahasiswa UM bertindak sebagai panitia penuh — dari perencanaan, pengadaan perlengkapan, pengaturan teknis, hingga penjurian. Lima cabang lomba dirancang dengan cermat agar setiap siswa, dari yang paling kecil hingga paling besar, mendapat ruang untuk bersinar.
Jadwal Acara: Dari Subuh hingga Siang
Ketepatan waktu dan alur acara yang teratur menjadi kunci kelancaran peringatan Hari Kartini. Mahasiswa menyusun rundown yang detail agar setiap lomba berjalan tanpa tabrakan jadwal, dengan jeda yang cukup bagi siswa untuk beristirahat dan berganti kostum.
Riuh Tepuk Tangan, Bangga Berdiri di Panggung
Momen yang paling menggetarkan hati terjadi saat sesi peragaan busana adat. Satu per satu siswa melangkah di atas panggung dengan percaya diri — ada yang mengenakan kebaya Jawa, baju bodo Sulawesi, pakaian adat Kalimantan, hingga ulos Batak. Bagi sebagian besar dari mereka, ini adalah pertama kalinya mereka berdiri di panggung di hadapan seluruh warga sekolah.
Sementara itu, di sudut aula, anak-anak kelas I–III tunduk khusyuk di atas lembaran gambar mereka, dengan krayon dan pensil warna bertebaran di meja. Ekspresi serius di wajah-wajah kecil itu berbicara lebih keras dari suara apapun — mereka sedang menciptakan karya, dan mereka tahu itu penting.
"Saya tidak menyangka anak-anak sekecil ini bisa tampil sepercaya diri itu di panggung. Ada siswa kelas I yang melambai ke penonton sambil tersenyum lebar — semua yang melihat langsung terenyuh."
Mahasiswa panitia lomba peragaan busana, Universitas Negeri Malang
Lomba baca puisi menjadi salah satu segmen paling emosional. Beberapa siswa kelas IV dan V membawakan puisi dengan penghayatan yang jauh melampaui usianya — suara mereka bergetar, mata mereka berbicara, dan penonton menyimak dalam hening yang penuh khidmat sebelum akhirnya meledak dalam tepuk tangan.
Belajar dari Setiap Langkah, Termasuk yang Terpeleset
Di balik berbagai pencapaian selama program berlangsung, para mahasiswa juga dengan jujur mengakui bahwa perjalanan asistensi mengajar ini tidak selalu berjalan mulus.
Sejumlah kesalahan kecil terjadi dalam keseharian mengajar — mulai dari pengelolaan waktu pembelajaran yang belum optimal, pemilihan metode yang sesekali kurang sesuai dengan kondisi kelas, hingga momen-momen ketika instruksi yang disampaikan ternyata membingungkan siswa alih-alih memperjelas.
Refleksi Mahasiswa
Namun kesalahan-kesalahan kecil itulah yang justru menjadi guru paling berharga sepanjang program. Setiap kali sebuah rencana pembelajaran tidak berjalan sesuai harapan, mahasiswa duduk bersama guru pamong untuk menelaah apa yang perlu diperbaiki.
Dari sana mereka belajar bahwa menjadi pendidik bukan tentang tampil sempurna di depan kelas, melainkan tentang keberanian untuk terus memperbaiki diri — satu pelajaran, satu kelas, satu hari pada satu waktu.
Para guru pamong dan dosen pembimbing menyikapi hal ini dengan penuh pengertian. Kesalahan bukan dilihat sebagai kegagalan, melainkan sebagai data berharga yang menunjukkan di mana mahasiswa masih perlu bertumbuh. Sesi refleksi rutin yang diadakan setiap pekan menjadi ruang aman bagi mahasiswa untuk berbicara jujur tentang hambatan yang mereka hadapi, tanpa rasa takut dihakimi.
Sikap terbuka terhadap kesalahan inilah yang membedakan pengalaman asistensi mengajar dari sekadar praktik formalitas. Para mahasiswa pulang bukan hanya dengan portofolio kegiatan, tetapi dengan kedewasaan profesional yang hanya bisa ditempa melalui pengalaman nyata di lapangan — lengkap dengan segala ketidaksempurnaannya.
Dampak dan Refleksi: Pendidikan sebagai Gerakan
Menilik keseluruhan program, Asistensi Mengajar di SDN Sumbersari 1 semester ini telah melampaui ekspektasi awal. Lebih dari sekadar praktik mengajar, program ini menjelma menjadi sebuah gerakan kecil yang berdampak nyata — bagi siswa, guru, sekolah, dan tentu saja bagi para mahasiswa itu sendiri.
Para mahasiswa pulang membawa jauh lebih banyak dari yang mereka bawa ketika datang: kepekaan sosial yang terasah, kemampuan kolaborasi yang matang, dan keyakinan bahwa perubahan dalam dunia pendidikan bisa dimulai dari langkah-langkah kecil yang konsisten dan penuh kasih sayang.
Universitas Negeri Malang, melalui program Asistensi Mengajar ini, sekali lagi menegaskan komitmennya dalam mencetak tenaga pendidik yang tidak hanya kompeten secara akademis, tetapi juga peka, adaptif, dan siap memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan Indonesia.
PENULIS :
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Feature

Post a Comment