Aceh
Feature
Kampus
KKN
Mahasiswa
Pendidikan
Menumbuhkan Budaya Literasi Sejak Dini Melalui Kegiatan Membaca Nyaring Bersama Anak-Anak di Meunasah Jurong Bale
APERO FUBLIC I Jurong Bale, 18 Juli 2026– Di era digital saat ini, anak-anak semakin akrab dengan gawai dibandingkan dengan buku. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri dalam menumbuhkan budaya literasi sejak usia dini. Padahal, kebiasaan membaca memiliki peran penting dalam meningkatkan kemampuan berpikir, berkomunikasi, serta membentuk karakter anak.
Oleh karena itu, diperlukan upaya yang menarik dan menyenangkan agar anak-anak tertarik untuk mengenal serta mencintai buku. Salah satu metode yang efektif adalah kegiatan membaca nyaring (read aloud).
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), kami melaksanakan kegiatan membaca nyaring bersama anak-anak di Meunasah Jurong Bale. Kegiatan ini menjadi salah satu program yang bertujuan untuk meningkatkan minat baca masyarakat, khususnya anak-anak, melalui pendekatan yang interaktif dan menyenangkan.
Meunasah yang selama ini menjadi pusat kegiatan masyarakat juga menjadi tempat yang tepat untuk menghadirkan suasana belajar yang nyaman dan dekat dengan kehidupan sehari-hari anak-anak.
Dalam pelaksanaannya, kami memilih buku-buku cerita bergambar yang sesuai dengan usia anak. Cerita dibacakan dengan intonasi yang jelas, ekspresi yang menarik, serta melibatkan anak-anak melalui berbagai pertanyaan sederhana mengenai tokoh, alur cerita, maupun pesan moral yang terkandung di dalamnya.
Anak-anak terlihat sangat antusias mengikuti kegiatan dari awal hingga selesai. Mereka tidak hanya mendengarkan cerita, tetapi juga aktif menjawab pertanyaan, menyampaikan pendapat, bahkan menceritakan kembali isi cerita menggunakan bahasa mereka sendiri.
Menurut kami, membaca nyaring bukan hanya sekadar membacakan isi buku kepada anak-anak. Kegiatan ini merupakan cara yang efektif untuk membangun kedekatan antara pendamping dan anak, sekaligus menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap buku.
Anak-anak menjadi lebih berani berbicara, kemampuan menyimaknya meningkat, kosakata mereka bertambah, dan daya imajinasi mereka berkembang melalui cerita yang didengar. Selain itu, nilai-nilai positif seperti kejujuran, kerja sama, disiplin, dan kepedulian terhadap sesama juga dapat ditanamkan melalui cerita yang dibacakan.
Kami juga melihat bahwa suasana belajar yang santai membuat anak-anak lebih mudah memahami isi cerita dibandingkan dengan pembelajaran yang bersifat formal. Mereka merasa kegiatan tersebut sebagai aktivitas yang menyenangkan, bukan sebagai kewajiban. Hal ini menjadi bukti bahwa menumbuhkan minat baca tidak harus dilakukan dengan cara yang kaku, tetapi dapat dimulai melalui kegiatan sederhana yang mampu menghadirkan kegembiraan.
Program membaca nyaring ini juga memberikan manfaat bagi kami sebagai mahasiswa KKN. Kami belajar bagaimana berinteraksi dengan anak-anak, menyampaikan informasi dengan cara yang menarik, serta memahami pentingnya membangun budaya literasi di lingkungan masyarakat.
Melalui kegiatan membaca nyaring di Meunasah Jurong Bale, kami berharap budaya literasi dapat terus tumbuh dan menjadi kebiasaan yang dilakukan secara berkelanjutan. Dukungan dari orang tua, perangkat gampong, serta masyarakat sangat diperlukan agar kegiatan seperti ini tidak berhenti setelah program KKN selesai.
Dengan adanya kolaborasi antara masyarakat dan Program Perpusnas, kami optimis budaya membaca akan semakin berkembang sehingga mampu menciptakan generasi yang gemar membaca, berpikir kritis, kreatif, dan memiliki wawasan yang luas.
Penulis: Hafizatuddina, dkk.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Aceh

Post a Comment