Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Sosiologi
Ketika Bertahan Hidup Jadi Beban Batin: Wajah Kesejahteraan Sosial yang Sering Terlewat
APERO FUBLIC I Setiap pagi hari, ada jutaan orang yang beragkat “kerja” tanpa adanya slip gaji, tanpa jam kantor, dan tanpa kepastian untuk makan apa esok hari. Mereka adalah pengamen, pengemis, pemulung, pedagang asongam, hingga pekerja informal lain yang menopang hidup dari hari ke hari.
Tapi, masalah mereka masih sering sekali dilihat hanya sebatas angka statistik tentang kemiskinan dari luar. Padahal, dibalik angka tersebut terdapat tekanan psikologis yang jauh lebih rumit dibanding sekedar “kurang uang”.
Kemiskinan Bukan Sekedar Soal Masalah Ekonomi
Selama ini, isu kemiskinan kerap dipahami dengan sempit sebagai ketidak adaan uang atau aset. Pada kenyataannya, penelitian ilmiah yang sudah dilakukan menunjukan bahwa kemiskinan itu dapat terjadi karena masalah yang kompleks dan melibatkan berbagai aspek seperti ekonomi, sosial, budaya, serta sistem lembaga. Dan pada kondisi inilah akhirnya membuat seseorang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup yang paling dasar, sekaligus menunjukan bahwa perlindungan sosial yang diberikan oleh negara masih lemah.
Dari sudut pandang kebijakan yang dikeluarka, pemerintah sebenarnya sudah punya beberapa instrumen untuk menekankan angka kemiskinan yang ada di Indonesia, salah satu kebijakannya yaitu melalui program perlindungan sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH). Program seperti ini sangat penting sebagai bentuk perlindungan kepada kelompok rentan, meski kenyataan di lapangan masih banyak sekali masalah yang harus dibenahi (Suharto, 2015).
Di tingkat daerah, pendekatan yang melibatkan masyarakat justru dianggap penting agar kebijakan-kebijakan untuk mengurangi kemiskinan bisa memenuhi kebutuhan yang sebenarnya untuk masyarakat miskin, bukan hanya sekedar proyek yang ada di atas kertas saja (Fatony, 2017).
Beban yang Tak Terlihat: Tekanan Psikologis di Balik Kemiskinan
Yang sering luput dari perhatian adalah dampak psikologis yang menyertai kondidi ekonomi sulit. Riset menunjukan bahwasannya pekerja muda yang memiliki penghasilan rendah dengan tanggungan keluarga menemukan bahwa tingkat stres yang dirasakan tergolong tinggi, terutama karena terbasasnya pilihan untuk pindah pekerjaan ditengah sulitnya lapangan pekerjaan.
Untuk bertahan, mereka paling banyak mengandalkan strategi koping yang hanya fokus pada penyelesaian masalah secara langsung (task-focused coping), dibandingkan meratapi keadaan.
Fenomena ini sangat sesuai dengan pemahaman bahwa kesejahteraan psikologis seseorang itu sangat bergantung pada status sosial-ekonominya, seperti penghasilan, pendidikan, dan kesuksesan dalam bekerja. Ketika seseorang tidak bisa memenuhi kebutuhan ekonomi dasar, hal itu bisa menyabakan stres secara terus-menerus, yang pada akhirnya akan merusak rasa percaya diri dan kemampuannya dalam mengendalikan lingkungan hidupnya sendiri.
Tetapi kabar baiknya, tekanan ini tidak selalu berujung pada keterpurukan. Ada hal yang bisa berfungsi sebagai “bantalan” psikologis, yakni kemampuan untuk bangkit kembali. Penelitian yang dilakukan kepada kelompok remaja rentan ini menunjukan bahwa kemampuan seseorang untuk pulih secara psikologis itu perlu banyak didukung oleh faktor-faktor sosial seperti dukungan dari keluarga, hubugan dengan teman sebaya, dan nilai-nilai agama. Sementara itu, stigma sosial dan keadaan miskin justru menjadi hambatan utama dalam proses pemulihan psikologis seseorang.
Dukungan Sosial: Faktor Kecil yang Berdampak Besar
Salah satau benang merah yang masih konsisten muncul dari berbagai kajian adalah pentingnya dukungan sosial. Yang paling diinginkan bukanlah program yang besar atau berupa uang saja, tetapi perasaan diterima dan dukung oleh orang-orang terdekat seperti pasangan, keluarga dan tetangga.
Lingkungan sosial yang positif dan tidak menimbulkan stigma ternyata menjadi pelindung penting bagi kesehatan mental kelompok rentan, sementara kurangnya dukungan justru memperparah tekanan psikososial yang sudah terjadi.
Hal ini menunjukan, kesejahteraan sosial sejatinya tidak melulu soal seberapa besar bantuan pada finansial yang disalurkan pemerintah, tapi juga soal seberapa manusiawi kita memperlaukan sesama yang sama-sama sedang berjuang untuk hidup. Sebuah sapaan hangat tanap penilaian, peluang kerja tanpa diskriminasi, atau hanya sekedar ruang untuk didengarkan bisa jadi lebih berharga daripada yang kita bayangkan.
Kesejahteraan Sosial adalah Kerja Bersama
Pada kenyataannya, untuk mengatasi masalah kemiskinan di negeri ini tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan dari atas ke bawah. Dibutuhkan sinergi antara negara, komunitas dan individu.
Negara bertugas memberikan perlindungan sosial dan akses ekonomi yang sama bagi semua, komunitas berperan untuk menciptakan lingkungan yang positif, sementara individu yang terkena dampak membutuhkan kesempatan untuk memulihkan ketahanan dan rasa percaya dirinya.
Kesejahteraan sosial, dengan demikian, bukan lagi sekedar proyek pemerintah atau angka dalam hasil laporan tahunan. Ia mencerminkan sejauh mana masyarakat bisa hadir untuk mereka yang paling rentan , bukan dengan rasa belas kasihan, tapi dengan rasa hormat yang tulus.
Oleh: Muhammad Faiz Habibie
Mahasiswa Fakuktas Bisnis dan Ilmu Sosial, Program studi Kesejahteraan Sosial, Universitas Binawan.
Dosen pengampu: Apriani Riyanti, S.Pd., M.Pd
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment