Budaya
Kampus
Mahasiswi
Opini
Pendidikan
Indonesia Kaya Budaya: Tapi Kenapa Kita Sering Lupa?
APERO FUBLIC I Bayangin deh, Indonesia punya 17.000 lebih pulau dan 1.300 suku bangsa, dan warisan budaya yang bikin dunia iri. Dari tari saman aceh yang lincah, wayang kulit jawa penuh hikmah, batik cirebon yang penuh makna hingga toraja yang kaya ritual pemakaman. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika bukan cuma slogan, tapi bukti keberagaman yang menyatu.
Tapi kenyataannya, ditengah kekayaan ini banyak dari kita terutama generasi muda seperti kita seakan lupa. Budaya sendiri dikira kuno, sementara K-pop atau TikTok challenge dari Barat lebih ngehits.Kenapa bisa gini? Yuk, kita kupas fenomena “amnesia budaya” ini secara ringan, tapi berbasis fakta sosial budaya.
Pengaruh Globalisasi Yang Tak Terbendung
Era digital membawa angin segar, tapi juga badai budaya asing. Globalisasi via media sosial seperti TikTok dan Instagram membanjiri kita dengan K-pop,film Hollywood, tren Barat, dan fast food seperti McDonald’s yang kini lebih populer dari pada gudeg atau soto Betawi.
Generasi Z, yang lahir di era Internet, sering menganggap budaya lokal “kampung” atau nggak kekinian. Hasilnya? Masakan tradisional tergeser karena makan junk food, kebaya kalah sama crop top, bahasa daerah pun pudar diganti slang inggris.
Bayangkan anak muda sekarang lebih asyik joget challenge dari pada belajar kebudayaan negeri sendiri. Medsos yang nagih bikin kita scroll konten luar negeri berjam-jam, Penelitian menunjukkan bahwa erosi budaya ini dipercepat oleh dominasi konten asing di platform digital, dimana sistem medsos lebih suka dorong konten impor dari pada konten lokal.
Akibatnya, generasi muda merasa warisan budaya sendiri kurang menarik, padahal batik atau wayang kulit menyimpan filosofi mendalam yang tak kalah menarik. tapi generasi sekarang jarang promosiin keanekaragaman budaya kita seperti batik ataupun reog Ponorogo.
Makanya budaya kita sering dicuri tetangga, seperti batik diakui Malaysia, rendang diperebutkan padahal kita sendiri males daftarin ke UNESCO (lembaga PBB yang ngasih pengakuan resmi warisan dunia).
Generasi Muda dan Krisis Identitas
Menurut psikolog Erik Erikson, remaja sering kena krisis identitas bingung pilih budaya sendiri atau ikut arus luar. Survei sederhana di media sosial menyebut 70% anak muda lebih hafal lirik lagu BTS dari pada pantun Melayu. Penyebab utamanya adalah minimnya pengenalan budaya di sekolah, kita hafal tahun kemerdekaan 1945, tapi sejarah suku Toraja atau Dayak sering terlupakan.
Selain itu, masyarakat kita sendiri yang melupakannya, orang tua sibuk bekerja, sehingga tak sempat mengajarkan tari tradisional atau cerita rakyat. Akibatnya, upacara adat seperti Matur Sembah di Jawa Timur atau Rambu Solo di Toraja kini hanya jadi konten wisata belaka, bukan warisan hidup yang dirasakan sehari-hari.
Keanehan terbesar, kita bangga saat UNESCO mengakui angklung, tapi dalam keseharian justru cuek saja. muncul mindset bahwa budaya lokal nggak guna di zaman now. “Ngapain belajar tari Bali kalau joget TikTok lebih cepat viral?”. Pikiran inilah yang perlahan mengikis rasa bangga pada negeri.
Sayangnya, pendidikan formal pun gagal menjadi benteng pelindung. Kurikulum Nasional masih minim jam belajar budaya daerah, padahal Undang-Undang Kebudayaan No. 5 tahun 2017 jelas mewajibkan pelestariannya.
Banyak sekolah di kota besar justru lebih memprioritaskan bahasa asing demi mengejar “era global”, yang tanpa sadar malah membuat siswa kehilangan identitas aslinya. Ditambah lagi, akses informasi digital membanjiri kita dengan budaya luar tanpa filter, sementara museum budaya kian sepi dari kunjungan anak muda. Jika benteng pendidikan dan rumah sudah goyah, maka identitas bangsa taruhannya.
Bangun Kembali Kesadaran Budaya
Kita tidak perlu putus asa menghadapi tantangan zaman, karena solusi pelestarian ada di tangan kita melalui dua cara: Pengalaman Langsung dan Pengetahuan Budaya.
Pertama, melalui Culture Experience, kita harus membawa budaya masuk ke dalam gaya hidup modern agar generasi muda bisa merasakannya secara langsung. Bayangkan festival besar sekelas Djakarta Warehouse Project berkolaborasi dengan musik gamelan remix, atau influencer yang gencar mempromosikan batik streetwear.
Langkah ini diperkuat dengan inisiatif kreatif seperti yang dilakukan komunitas Good News from Indonesia atau para kreator Gen Z yang membuat lagu daerah viral di TikTok. Di tingkat akar rumput, komunitas lokal bisa menghidupkan kembali workshop membatik atau diskusi sejarah, seperti asal-usul Betawi, untuk menjaga kedekatan emosional warga dengan akarnya.
Kedua, Culture Knowledge harus menjadi pondasi melalui reformasi pendidikan dan literasi digital. Budaya daerah perlu diintegrasikan secara mendalam ke dalam kurikulum sekolah, mulai dari mewajibkan ekstrakurikuler tari daerah hingga memanfaatkan teknologi seperti kunjungan museum virtual berbasis VR.
Selain edukasi, pemerintah juga memiliki peran penting untuk mendaftarkan paten budaya kita secara resmi guna menjamin perlindungan hukum di dunia internasional. Keberhasilan agenda ini membutuhkan sinergi total antara pemerintah dan komunitas. Kita bisa belajar dari kesuksesan Bali dalam menjaga sistem irigasi sawah tradisional berkat partisipasi aktif warganya.Jika seluruh Indonesia bergerak bersama, kita tidak akan lagi melupakan jati diri, melainkan bangga berdiri sebagai pusat multikultural dunia di mana tradisi bukan sekadar masa lalu, melainkan energi untuk masa depan.
Menuju Masa Depan yang Berakar kuat
Indonesia nggak boleh jadi bangsa tanpa akar, bayangin pohon kelapa yang tinggi menjulang tanpa akar pasti ambruk dong. Nah, jangan sampai hanya karena angin K-pop atau TikTok challenge datang, kita langsung ambruk. Indonesia kaya budaya bukan sekedar caption IG ala selebgram, tapi itu harus jadi tanggung jawab nyata kita sebagai penerus bangsa. Lupa Budaya? itu sama aja kehilangan identitas, seperti lupa password Netflix gara-gara keasikan nonton drama Korea. Makanya, kita tidak hanya sekedar memakai baju batik atau memakan makanan tradisional hanya saat acara resmi, tapi karena kita sadar bahwa itu bagian dari identitas kita sebagai rakyat Indonesia. Kekayaan Budaya bukan beban yang berat, tapi benteng jati diri kita! Yuk, mulai dari diri sendiri: pakai tenun saat lebaran bukan sekedar kaos branded luar, kita buktiin baju tenun tetap bikin kita bergaya tanpa harus terlihat norak. Ajak teman atau sodara makan rendang homemade bukan fast food ala barat saja atau share satu cerita budaya di story hari ini kenapa baju tenun atau batik bikin nagih.
Lewat kesadaran bareng-bareng, kita bisa ubah amnesia budaya (lupa jati diri) jadi amunisi (senjata untuk pertahan). Jadi, budaya bukan lagi memori yang terlupakan, tapi bekal abadi agar kita nggak gampang kebawa arus tren yang nggak ada habisnya. Bhineka Tunggal Ika, jangan cuma buat pajangan! Saatnya sadar: kita bukan cuma follower tren luar, tapi pewaris sah Nusantara.
Oleh: Salsabila Fiqi Fauziah
Mahasiswa Semester 2, Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Sy. Apero Fublic
Via
Budaya

Post a Comment