Esai
Kampus
Mahasiswa
Pendidikan
Treadmill Peradaban: Neijuan dan Kebuntuan Makna di Balik Laju Tiongkok
APERO FUBLIC I ESAI.-- Di sebuah perpustakaan Universitas Peking beberapa tahun silam, seorang mahasiswa memotret temannya yang tertidur di meja belajar sembari menggenggam pena. Foto itu menyebar ke seluruh penjuru internet Tiongkok bukan karena mengundang simpati, melainkan karena ia terasa seperti cermin. Di balik gambar itu tersimpan satu pertanyaan yang makin sulit dibungkam: untuk apa semua kelelahan ini, jika garis tujuannya terus bergerak menjauh?
Pertanyaan itulah yang menghidupkan istilah neijuan di ruang-ruang percakapan generasi muda Tiongkok. Kata ini dipinjam dari diskursus akademik antropologi konsep "involusi" yang dipopulerkan Clifford Geertz untuk menggambarkan pertanian Jawa yang semakin padat tenaga namun stagnan hasilnya lalu dibawa masuk ke dalam kehidupan sehari-hari sebagai senjata konseptual melawan sebuah paradoks: bahwa semakin banyak orang berusaha keras, semakin kecil perbedaan yang bisa dibuat oleh usaha keras itu sendiri.
Dalam ekosistem yang sudah sesak, tambahan satu jam belajar hanya bermakna jika orang lain tidak melakukan hal serupa. Namun semua orang melakukannya. Maka tambahan itu tidak lagi menambah apa pun.
Ini bukan kisah tentang generasi yang malas atau manja. Ini kisah tentang sebuah arsitektur sosial yang dirancang sedemikian rupa sehingga individu tidak punya pilihan selain berakselerasi terus-menerus bukan demi kemajuan, melainkan demi sekadar tidak terjatuh dari barisan.
Sistem seleksi perguruan tinggi melalui gaokao menghimpun puluhan juta pelajar ke dalam satu corong penilaian yang sempit, di mana perbedaan nasib ditentukan oleh selisih nilai yang tidak lebih dari satu poin.
Di dunia profesional, pola kerja "996" masuk pukul sembilan pagi, pulang pukul sembilan malam, enam hari seminggu bukan lagi pilihan karier, melainkan syarat minimal untuk dianggap serius. Batas antara dedikasi dan eksploitasi diri pun menghilang, lalu diterima sebagai norma.
Yang membedakan neijuan dari sekadar keluhan tentang persaingan ketat adalah dimensi strukturalnya yang sulit dikoreksi dari dalam. Dalam ilmu ekonomi, diminishing returns menggambarkan titik di mana setiap unit input tambahan menghasilkan output yang semakin kecil.
Neijuan adalah versi sosial dari hukum itu: ketika seluruh sistem berinvestasi lebih banyak pada kompetisi yang sama, tidak ada pihak yang secara relatif diuntungkan yang ada hanya kelelahan kolektif yang merata. Ini bukan kegagalan individu. Ini adalah hasil logis dari sistem yang menghargai posisi relatif tanpa memperluas kapasitas absolut.
Maka muncullah tang ping "berbaring datar" sebagai respons yang lebih dari sekadar kejenuhan. Ia adalah tindakan filosofis: penolakan sadar terhadap premis bahwa nilai seseorang setara dengan produktivitasnya, bahwa hidup yang bermakna harus dibuktikan lewat kurva kinerja yang terus menanjak.
Generasi yang dijuluki "terlentang" ini bukan sedang menyerah pada impian; mereka sedang mempertanyakan siapa yang menetapkan mimpi itu sejak awal, dan untuk kepentingan siapa. Di balik sikap diam mereka tersimpan gugatan yang jauh lebih keras dari unjuk rasa: bahwa kontrak sosial lama bekerja keras, maka kamu akan sejahtera sudah tidak lagi bisa dipegang.
Paradoks yang muncul dari sini layak menjadi bahan perenungan serius. Tiongkok adalah salah satu kisah pertumbuhan ekonomi paling luar biasa dalam sejarah modern manusia: ratusan juta orang berhasil keluar dari jerat kemiskinan hanya dalam dua generasi, sebuah pencapaian yang tidak ada presedennya di peradaban mana pun. Namun kemajuan agregat ternyata tidak berbanding lurus dengan kualitas hidup individual.
Di balik angka PDB yang memukau, ada jutaan orang yang merasa hidupnya berjalan di tempat atau lebih buruk, mundur dalam hal makna meski secara material tidak sepenuhnya miskin. Inilah yang oleh sosiolog disebut sebagai "kemakmuran tanpa kesejahteraan subjektif": negara naik kelas, rakyatnya kelelahan.
Ada sebuah inefisiensi besar yang tersembunyi di balik narasi tentang efisiensi Tiongkok. Sistem yang mengklaim meritokratis itu justru memboroskan kapasitas manusianya dalam perlombaan seremonial.
Energi yang seharusnya mengalir ke inovasi, kreasi, dan pengembangan diri yang sejati justru terserap habis oleh kompetisi sinyal membuktikan bahwa diri seseorang lebih berdedikasi dari orang lain, bukan karena ia benar-benar lebih produktif, tetapi karena aturan mainnya menuntut demikian.
Hasilnya adalah peradaban yang sibuk tapi tidak maju dalam arti yang sesungguhnya, seperti mesin yang bekerja keras namun sebagian besar tenaganya hilang menjadi panas, bukan gerak.
Neijuan juga bukan monopoli Tiongkok ini perlu ditegaskan agar ia tidak sekadar dibaca sebagai kritik terhadap satu bangsa. Korea Selatan bergulat dengan gwaro (kelelahan kronis akibat tekanan sosial), sementara Jepang sudah lama berduka atas karoshi, kematian yang dipicu oleh kerja tanpa batas.
Di Indonesia, sinyal serupa mulai terdengar: para lulusan baru yang menyebut diri "generasi sandwich", terjepit antara beban keluarga dan ekspektasi karier, menghadapi pasar kerja yang semakin formal dalam persyaratan namun semakin informal dalam jaminannya. Neijuan dalam hal ini adalah gejala dari logika pembangunan yang lebih luas yang mengukur kemajuan dalam satuan output, bukan kemanusiaan.
Maka apa yang sebenarnya tengah dipersoalkan bukanlah semata kebijakan ketenagakerjaan atau reformasi sistem pendidikan, meski keduanya mendesak. Yang lebih fundamental adalah pertanyaan tentang apa yang ingin kita jadikan ukuran kemajuan sebuah masyarakat.
Apakah daya saing global dan pertumbuhan produksi sudah cukup sebagai tujuan akhir? Ataukah sebuah negara baru bisa disebut benar-benar maju ketika warganya memiliki ruang untuk menjalani hidup yang utuh yang tidak seluruhnya dikorbankan demi bertahan dalam kompetisi yang tidak pernah berhenti?
Generasi yang memilih tang ping sedang berbicara dengan bahasa yang tidak selalu dimengerti oleh para perencana kebijakan. Mereka tidak sedang berdemo; mereka sedang berhenti berlari. Dan dalam keheningan itu tersimpan pesan yang justru perlu didengar lebih keras: bahwa pertumbuhan tanpa makna, pada titik tertentu, tidak lagi bisa disebut kemajuan. Ia hanyalah treadmill yang berputar lebih kencang.
Sebelum kelelahan itu mengkristal menjadi ketidakpercayaan permanen pada institusi dan masa depan, ada percakapan besar yang perlu segera dimulai bukan hanya di Tiongkok, tetapi di mana pun logika involusi sosial ini sedang diam-diam bekerja.
Oleh : Muhammad Haidar Ali
Mahasiswa Prodi Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Brawijaya.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Esai

Post a Comment