Mahasiswi
Pendidikan
Resensi
Siapa yang Berhak Menentukan Kebahagiaan Seseorang? Membaca Kehilangan Mestika di Era Standar Kesuksesan Modern
APERO FUBLIC I RESENSI BUKU. - Di era media sosial, kebahagiaan sering kali tidak lagi dipahami sebagai perasaan yang lahir dari diri sendiri, melainkan sesuatu yang harus memenuhi standar masyarakat. Seseorang dianggap bahagia ketika memiliki pekerjaan bergengsi, pasangan yang ideal, kehidupan yang mapan, atau pencapaian yang dapat dipamerkan di ruang publik.
Akibatnya, banyak orang hidup berdasarkan ekspektasi orang lain daripada keinginan mereka sendiri. Persoalan inilah yang dapat dibaca melalui novel Kehilangan Mestika.
Novel tersebut menghadirkan pergulatan tokoh yang harus berhadapan dengan harapan keluarga, norma sosial, dan kenyataan hidup yang tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Melalui kisah tersebut, muncul pertanyaan penting, siapa sebenarnya yang berhak menentukan kebahagiaan seseorang?
Salah satu konflik yang menonjol dalam novel adalah benturan antara kehendak pribadi dan tuntutan sosial. Tokoh-tokoh dalam cerita tidak hidup dalam ruang yang bebas. Mereka berada dalam lingkungan yang memiliki ukuran tertentu mengenai kehidupan yang dianggap baik dan terhormat.
Pilihan hidup seseorang sering kali tidak dinilai berdasarkan apakah pilihan tersebut membuatnya bahagia, melainkan berdasarkan apakah pilihan itu sesuai dengan harapan masyarakat. Dalam kondisi seperti ini, individu kehilangan kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.
Fenomena tersebut sebenarnya masih sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia saat ini. Banyak anak muda tumbuh dengan berbagai standar kesuksesan yang telah ditetapkan sebelum mereka sempat menentukan keinginannya sendiri.
Sejak kecil, mereka diarahkan untuk memperoleh nilai tinggi, masuk universitas ternama, mendapatkan pekerjaan dengan gaji besar, lalu menikah pada usia yang dianggap tepat. Ketika berhasil memenuhi standar tersebut, mereka dipuji sebagai pribadi yang sukses. Sebaliknya, ketika memilih jalan yang berbeda, mereka sering dianggap gagal meskipun merasa bahagia dengan pilihannya.
Contoh yang mudah ditemukan adalah fenomena perbandingan kehidupan di media sosial. Setiap hari masyarakat disuguhi unggahan tentang pencapaian orang lain: wisuda, pekerjaan baru, pernikahan, rumah pertama, hingga liburan ke luar negeri.
Tanpa disadari, media sosial membentuk ukuran baru tentang kesuksesan dan kebahagiaan. Banyak orang kemudian merasa tertinggal karena hidup mereka tidak terlihat semewah kehidupan yang ditampilkan di layar ponsel. Padahal, kebahagiaan tidak selalu memiliki bentuk yang sama bagi setiap individu.
Kondisi tersebut mengingatkan pada konflik dalam Kehilangan Mestika. Tokoh-tokohnya tidak hanya menghadapi persoalan pribadi, tetapi juga harus berhadapan dengan penilaian sosial yang terus mengawasi kehidupan mereka.
Apa yang dianggap benar oleh diri sendiri belum tentu diterima oleh lingkungan. Akibatnya, keputusan yang seharusnya menjadi hak individu sering berubah menjadi arena negosiasi dengan keluarga dan masyarakat. Dalam banyak kasus, seseorang akhirnya memilih mengorbankan kebahagiaannya demi mendapatkan penerimaan sosial.
Masalah ini menjadi semakin relevan ketika melihat meningkatnya kasus gangguan kesehatan mental pada generasi muda. Banyak penelitian menunjukkan bahwa tekanan sosial, tuntutan prestasi, dan perbandingan diri dengan orang lain menjadi faktor yang memengaruhi kondisi psikologis seseorang. Tidak sedikit mahasiswa yang merasa gagal hanya karena belum lulus tepat waktu.
Banyak pekerja muda merasa hidupnya tidak berarti karena penghasilannya tidak sebesar orang lain. Bahkan ada yang merasa tertinggal karena belum menikah pada usia tertentu. Semua itu menunjukkan bahwa standar kebahagiaan yang dibangun masyarakat sering kali lebih kuat daripada suara hati individu itu sendiri.
Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat Indonesia juga menyaksikan munculnya fenomena "quarter-life crisis". Istilah ini merujuk pada kegelisahan yang dialami banyak anak muda ketika memasuki usia dua puluhan hingga awal tiga puluhan.
Mereka merasa harus segera sukses karena melihat teman-teman sebayanya telah mencapai berbagai pencapaian. Padahal, setiap orang memiliki latar belakang, kesempatan, dan perjalanan hidup yang berbeda. Fenomena ini menunjukkan bahwa ukuran kesuksesan modern sering kali bersifat seragam dan tidak memberi ruang bagi keberagaman pilihan hidup.
Di sinilah Kehilangan Mestika menjadi relevan. Novel tersebut mengingatkan bahwa kehidupan manusia tidak dapat diukur dengan satu standar yang berlaku untuk semua orang. Apa yang dianggap sebagai kebahagiaan oleh masyarakat belum tentu menjadi kebahagiaan bagi individu tertentu.
Seseorang mungkin lebih bahagia menjalani pekerjaan sederhana yang dicintainya daripada pekerjaan bergengsi yang membuatnya tertekan. Seseorang mungkin memilih fokus pada pengembangan diri daripada menikah di usia muda. Pilihan-pilihan semacam ini seharusnya dihormati sebagai hak setiap individu.
Lebih jauh lagi, novel ini mengajak pembaca untuk mempertanyakan otoritas masyarakat dalam menentukan makna kebahagiaan. Mengapa orang lain merasa berhak mengatur kapan seseorang harus menikah, pekerjaan apa yang harus dipilih, atau bagaimana kehidupan yang dianggap ideal?
Pertanyaan tersebut penting karena banyak tekanan sosial sebenarnya lahir dari kebiasaan masyarakat yang terlalu mudah mencampuri pilihan hidup orang lain. Ketika masyarakat terus memaksakan standar tertentu, individu kehilangan ruang untuk mengenal dirinya sendiri.
Pada akhirnya, Kehilangan Mestika tidak hanya berbicara tentang kehilangan dalam arti harfiah, tetapi juga tentang kehilangan hak untuk menentukan kebahagiaan secara mandiri.
Novel ini mengingatkan bahwa kebahagiaan bukanlah sesuatu yang dapat diukur melalui pengakuan sosial, jumlah pengikut di media sosial, jabatan pekerjaan, ataupun status pernikahan. Kebahagiaan adalah pengalaman yang bersifat personal dan hanya dapat ditentukan oleh individu yang menjalaninya.
Oleh karena itu, masyarakat perlu belajar menghargai keberagaman pilihan hidup. Sebab ketika kebahagiaan terus didefinisikan oleh orang lain, yang hilang bukan hanya kebebasan individu, tetapi juga kesempatan untuk menjalani hidup yang benar-benar autentik.
Oleh : Tazkia Alya Rahma
Mahasiswi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Mahasiswi

Post a Comment