Kampus
Mahasiswi
Pendidikan
Resensi
Salah Asuhan: Ketika Kita Terlalu Sibuk Menjadi Orang Lain
sumber: JAKLITERA
Judul: Salah Asuhan | Penulis: Abdoel Moeis | Terbit: 1928
APERO FUBLIC I RESENSI.- Saya membaca Salah Asuhan di sela-sela minggu yang sibuk tugas menumpuk, grup kelas penuh notifikasi, dan saya duduk dengan novel tipis terbitan 1928 itu sambil bertanya-tanya: apa relevansinya buat saya sekarang?.
Ternyata sangat relevan. Dan itu yang membuat saya tidak nyaman.
Abdoel Moeis menulis tentang Hanafi, pemuda Minangkabau yang tumbuh dalam pendidikan Barat, lalu merasa jijik pada adat dan bangsanya sendiri. Ia menikahi Corrie, perempuan Indo Belanda yang ia cintai. Tapi cinta itu tidak cukup untuk menanggung beban identitas yang tidak pernah ia selesaikan.
Buku ini bukan tentang pernikahan yang gagal. Ini tentang seseorang yang tidak tahu dirinya siapa.
Ketika Pendidikan Mencabut Kita Dari Akar
Yang paling menghantam dari novel ini bukan tragedi di akhir cerita. Yang paling menghantam adalah bagaimana Moeis menggambarkan proses Hanafi kehilangan dirinya sendiri perlahan, tanpa ia sadari.
Hanafi bukan orang jahat. Ia cerdas, ambisius, dan punya mimpi.
Tapi pendidikan kolonial yang ia terima mengajarinya satu hal secara implisit: bahwa menjadi "Barat" adalah menjadi lebih baik. Maka ia berlari ke sana, sekencang-kencangnya, sampai lupa bahwa ia tidak punya tempat di sana juga.
Saya kuliah di Jakarta, jauh dari kampung halaman. Dan kadang saya menangkap diri sendiri sedang melakukan hal yang mirip mengubah cara bicara di depan orang tertentu, merasa canggung mengakui beberapa hal tentang latar belakang saya. Tidak seekstrem Hanafi. Tapi benihnya sama.
Corrie Bukan Masalahnya
Banyak pembaca menghakimi Corrie sebagai tokoh yang salah pilih. Tapi kalau dibaca lebih teliti, Corrie adalah orang yang paling jujur dalam novel ini. Ia mencintai Hanafi, tapi ia juga tahu dirinya sendiri tahu batas, tahu konsekuensi, tahu bahwa cinta saja tidak bisa menambal lubang yang menganga di dalam diri seseorang.
Hanafi yang memaksa. Hanafi yang menolak kenyataan. Dan ketika pernikahan mereka runtuh, ia masih mencari kambing hitam di mana-mana pada Corrie, pada adat, pada masyarakat.
Moeis menulis ini sebelum ada istilah "accountability." Tapi ia mengerti betul bahwa kehancuran Hanafi bukan karena cinta yang salah, melainkan karena manusia yang belum selesai dengan dirinya sendiri lalu meminta orang lain menanggung akibatnya.
Masih Terjadi, Hanya Beda Kemasan
Kita hidup di zaman yang berbeda, tapi polanya tidak jauh berubah. Masih banyak orang yang tumbuh di antara dua dunia tradisi keluarga dan tuntutan zaman lalu tidak tahu harus berpijak di mana. Masih banyak yang membangun hubungan di atas fondasi identitas yang belum selesai, lalu heran ketika semuanya retak.
Salah Asuhan bukan roman percintaan yang mengharukan. Ini cermin. Dan cermin yang jujur memang tidak selalu menyenangkan untuk dilihat.
Mengapa Masih Layak Dibaca
Salah Asuhan bukan bacaan yang menyenangkan dalam arti ringan. Ia tidak akan membuat kamu tertawa atau merasa hangat setelah membacanya. Tapi ia akan membuat kamu berpikir dan menurut saya, itulah fungsi sastra yang paling jujur.
Moeis menulis novel ini hampir satu abad yang lalu, di masa ketika Indonesia belum merdeka, ketika isu identitas masih berkaitan langsung dengan soal siapa yang berkuasa secara fisik di tanah ini. Tapi ironisnya, konflik batin yang ia tuangkan terasa sangat kontemporer terutama bagi kita yang besar di persimpangan antara nilai lokal dan arus global yang tak pernah berhenti.
Siapa kamu, sebenarnya? Dan apakah kamu sedang jujur tentang itu?
Saya tutup novel ini dengan satu pertanyaan yang masih menggantung: seberapa banyak dari kita yang sedang berjalan seperti Hanafi terlalu sibuk menjadi versi diri yang dianggap lebih baik, sampai lupa siapa kita sebenarnya?.
Penulis: Putri Fattihah
Mahasiswi UIN Jakarta Syarif Hidayatullah.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment