Kampus
Mahasiswi
Pendidikan
Membaca Ulang Filosofi Nama Sumarah dalam Novelet Sri Sumarah Karya Umar Kayam di Era Modern
APERO FUBLIC I RESENSI BUKU.-- Dalam novelet Sumarah karya Umar Kayam, nama tokoh utama bukan sekadar identitas. Dalam tradisi Jawa, nama sering kali mengandung doa, harapan, bahkan gambaran watak yang diinginkan. Kata Sumarah berarti berserah diri, menerima, dan menyerahkan segala sesuatu kepada kehendak Tuhan.
Nama itu seolah menjadi cermin perjalanan hidup tokohnya. Sepanjang cerita, Sumarah menjalani hidup yang penuh kehilangan, kekecewaan, dan penderitaan, tetapi ia tetap bertahan dengan kesabaran yang nyaris tanpa batas.
Melalui tokoh ini, Umar Kayam tidak hanya menghadirkan kisah seorang perempuan Jawa yang tabah. Ia juga mengajak pembaca merenungkan satu pertanyaan penting: apakah menerima segala keadaan selalu merupakan bentuk kebijaksanaan? Ataukah ada saat ketika kepasrahan justru berubah menjadi penghalang bagi seseorang untuk memperjuangkan hidup yang lebih baik
Banyak pembaca melihat Sumarah sebagai simbol kebijaksanaan Jawa. Dalam budaya yang menjunjung harmoni, kemampuan menerima kenyataan sering dianggap sebagai bentuk kedewasaan batin. Orang yang tidak mudah mengeluh dipandang lebih bijaksana daripada mereka yang terus mempertanyakan keadaan.
Dari sudut pandang ini, Sumarah adalah sosok yang patut diteladani. Ia tidak membiarkan penderitaan menghancurkan dirinya. Ia tetap menjalani hidup dengan tenang meskipun cobaan datang silih berganti. Namun, pembacaan seperti itu perlu ditinjau kembali. Kesabaran memang dapat menjadi kekuatan, tetapi tidak semua kesabaran lahir dari kebebasan memilih.
Dalam banyak situasi, terutama yang dialami perempuan, sikap menerima sering kali muncul karena terbatasnya ruang untuk menolak. Ketika seseorang tidak memiliki kuasa atas keputusan yang menentukan hidupnya, menerima keadaan sering menjadi satu-satunya cara untuk bertahan.
Di sinilah tokoh Sumarah menjadi menarik. Apakah ia benar-benar memilih untuk menerima, atau ia menerima karena tidak memiliki pilihan lain? Pertanyaan ini penting karena masyarakat sering kali mengagungkan ketabahan tanpa memeriksa kondisi yang melatarbelakanginya.
Kita memuji seseorang karena mampu bertahan, tetapi jarang bertanya mengapa ia harus menanggung beban itu sendirian. Persoalan terbesar dalam memaknai filosofi Sumarah adalah kecenderungan untuk menganggap semua penderitaan sebagai takdir.
Padahal tidak semua kesulitan hidup berasal dari takdir. Sebagian lahir dari keputusan manusia, struktur sosial yang timpang, atau relasi kuasa yang tidak adil. Ketika seseorang mengalami perlakuan yang merugikan dirinya, persoalannya bukan lagi tentang menerima atau tidak menerima, melainkan tentang keberanian untuk membedakan antara takdir dan ketidakadilan.
Di era modern, persoalan ini masih sangat relevan. Hingga sekarang, masyarakat masih akrab dengan nasihat seperti "yang sabar saja", "ikhlaskan", atau "jalani saja". Nasihat tersebut tentu tidak selalu salah.
Dalam situasi tertentu, manusia memang membutuhkan kemampuan untuk menerima hal-hal yang berada di luar kendalinya. Namun, nasihat yang sama dapat menjadi bermasalah ketika digunakan untuk membungkam kritik terhadap keadaan yang sebenarnya bisa diubah.
Misalnya, perempuan yang mengalami diskriminasi sering diminta memahami keadaan. Pekerja yang menerima perlakuan tidak adil diminta bersabar. Masyarakat yang dirugikan oleh kebijakan tertentu sering dianjurkan untuk menerima demi kepentingan yang lebih besar.
Dalam kondisi seperti ini, kata-kata yang terdengar bijak justru berpotensi melanggengkan ketidakadilan. Kesabaran berubah dari kekuatan menjadi alat untuk mempertahankan keadaan yang tidak semestinya. Karena itu, saya tidak melihat tokoh Sumarah sebagai simbol kepasrahan mutlak. Yang lebih menarik dari dirinya adalah ketangguhan batin yang dimilikinya.
Ia mampu bertahan dalam situasi yang sulit tanpa kehilangan kemanusiaannya. Akan tetapi, jika Sumarah hidup di masa sekarang, saya membayangkan ia tidak hanya bertahan. Ia juga akan berusaha memahami hak-haknya sebagai individu dan memperjuangkannya ketika diperlukan.
Kesabaran dan perjuangan sesungguhnya tidak harus saling bertentangan. Seseorang dapat tetap tenang tanpa harus diam. Seseorang dapat menerima kenyataan tertentu tanpa harus menerima semua bentuk ketidakadilan. Berserah diri kepada Tuhan tidak berarti menyerahkan seluruh hidup kepada keadaan.
Justru karena manusia memiliki akal dan kesadaran, ia memiliki tanggung jawab untuk memperbaiki hal-hal yang masih dapat diubah. Membaca Sumarah hari ini berarti membaca ulang hubungan antara kepasrahan dan keberanian.
Karya Umar Kayam mengingatkan bahwa hidup memang tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Akan selalu ada hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan. Namun, bukan berarti semua keadaan harus diterima tanpa pertanyaan. Ada saat ketika manusia perlu berserah diri, tetapi ada juga saat ketika manusia perlu berdiri dan berkata bahwa sesuatu harus berubah.
Pada akhirnya, pertanyaan terbesar yang ditinggalkan Umar Kayam bukanlah apakah kita harus menjadi seperti Sumarah atau tidak. Pertanyaannya adalah: sampai batas mana seseorang harus menerima keadaan, dan pada titik mana ia harus mulai memperjuangkan haknya?
Bagi saya, kebijaksanaan sejati bukan terletak pada menerima segala sesuatu apa adanya, melainkan pada kemampuan membedakan mana yang benar-benar takdir dan mana yang selama ini hanya dianggap takdir karena terlalu lama dibiarkan. Itulah sebabnya Sumarah tetap relevan dibaca hingga hari ini.
Di tengah masyarakat yang masih sering memuliakan kepatuhan dan kepasrahan, tokoh Sumarah justru mengajak kita untuk berpikir lebih kritis tentang arti menerima, bertahan, dan memperjuangkan kehidupan yang lebih bermartabat.
Pembacaan kritis terhadap Sumarah juga menjadi penting dalam konteks politik. Sepanjang sejarah Indonesia, masyarakat sering diajak menerima berbagai keadaan atas nama stabilitas, pembangunan, atau kepentingan bersama.
Dalam situasi seperti itu, sikap pasrah kerap diposisikan sebagai kebajikan warga negara, sementara sikap kritis dianggap sebagai bentuk pembangkangan. Akibatnya, banyak persoalan sosial yang berlangsung terlalu lama karena masyarakat terbiasa menerima daripada mempertanyakan.
Jika filosofi Sumarah dipahami secara keliru, ia dapat berubah menjadi budaya politik yang membuat warga enggan mengawasi kekuasaan dan memperjuangkan hak-haknya. Padahal dalam negara demokratis, warga negara tidak hanya dituntut untuk sabar menghadapi keadaan, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk mengkritik kebijakan yang tidak adil.
Dengan demikian, pelajaran yang dapat diambil dari tokoh Sumarah bukanlah kepatuhan tanpa batas, melainkan kemampuan untuk tetap tenang dan bijaksana tanpa kehilangan keberanian untuk bersuara ketika menghadapi ketidakadilan.
Nama: Tazkia Alya Rahma
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment