Kampus
Mahasiswi
Opini
Pendidikan
Menghafal Untuk Lulus Bukan Belajar Untuk Mengerti
APERO FUBLIC I OPINI.- Ada pertanyaan mendasar, yang sering kali tidak kita tanyakan dengan jujur, sebetulnya, untuk apa kita bersekolah? Bila jawabannya adalah “untuk mendapatkan nilai yang baik dan lulus ujian” maka, kita telah menerima sebuah sistem yang keliru, sistem yang menilai keberhasilan bukan berdasarkan seberapa baik seseorang memahami dunia, dari seberapa pandai ia menjawab pertanyaan pilihan ganda dan uraian.
Di ruang-ruang kelas sekolah Indonesia, ada fenomena yang begitu lazim hingga tak lagi terasa ganjil, siswa belajar bukan karena ingin tahu, melainkan karena takut tidak lulus. Hafalan menggantikan pemahaman, strategi menjawab soal menggantikan kemampuan bepikir, dan angka di rapor menjadi satu-satunya yang paling berharga, seperti mata uang yang dianggap bernilai.
Sistem pendidikan yang terlalu berorientasi pada ujian, lahir dari niat baik, yang menciptakan standar yang terukur dan objektif. Namun, di tengah perjalanan, niat itu bergeser. Ujian yang seharusnya menjadi alat untuk evaluasi berubah menjadi tujuan itu sendiri.
Dalam masalah ini memiliki dampak yang sangat panjang, karena fokusnya hannya menghafal pola soal pilihan ganda, kemampuan berpikir kritis siswa terabaikan. Buktinya, dalam laporan Surei Programme for International Student Assessment (PISA), skor kompetensi membaca, matematika, dan sains, pelajar Indonesia berada pada lever bawah.
Guru mengajar untuk ujian.
Siswa belajar untuk ujian. Orang tua menilai kecerdasan anak lewat angka ujian. Seluruh ekosistem pendidikan berputar di sekitar satu moment yaitu hari penilaian.
Black dan wiliam (1998, 7-74), membedakan secara tegas antara assessment of learning (penilaian sumatif untuk menentukan nilai) dan assessment for learning (penilaian formatif untuk memandu proses belajar) mereka menemukan motivasi instrinsik siswa dan memperlebar kesenjangan akademik.
Akibatnya, kita mencetak generasi yang pandai mengerjakan soal, tetapi ragu ketika dihadapkan pada permasalahan nyata yang tidak ada kunci jawabannya. Mereka tahu rumus, tetapi tidak tahu mengapa rumus itu ada. Mereka hafal tanggal peristiwa sejarah, tetapi tidak memahami mengapa peristiwa itu penting bagi kehidupan mereka sekarang.
Apakah ada yang hilang? Yang hilang, bukan sekedar pengetahuan, melainkan rasa ingin tahu. Dalam sistem yang mengagungkan nilai, anak-anak belajar untuk cepat menemukan jawaban yang “benar”, bukan untuk tinggal lebih lama bersama pertanyaan yang sulit.
Padahal, menurut Psikolog Pendidikan seperti Carol Dweck (2006), kemampuan untuk bertahan dalam ketidakpastian dan terus belajar dari kegagalan adalah fondasi kecerdasan yang sesungguhnya, sesuatu yang justru dipadamkan oleh tekanan ujian yang berlebihan.
Lebih jauh lagi, orientasi ujian menciptakan hierarki yang palsu. Siswa yang unggul secara akademis diperlakukan sebagai “cerdas”, sementara mereka yang berbakat dalam seni, olahraga, kepemimpinan sosial, atau kecerdasan emosional dianggap kurang berharga.
Kita menyempitkan definisi kecerdasan manusia menjadi sekedar kemampuan menghafal dan mengerjakan soal, sebuah reduksi yang tragis. Menurut Gardner (1983) teori kecerdasan majemuk secara langsung menantang legitimasi ujian standar sebagai alat ukur “kecerdasan”. Sistem ujian konvensional umumnya hanya mengukur dua dari delapan kecerdasan tersebut (linguistik dan logis-matematis), sehingga mengabaikan potensi mayoritas siswa.
Mengubah sistem pendidikan tentu bukan perkara semalam. Ia melibatkan kebijakan, kurikulum, pelatihan guru, hingga perubahan ekspetasi orang tua dan masyarakat. Namun, perubahan terbesar justru bisa dimulai dari cara kita berbicara tentang pendidikan di rumah, di sekolah, dan dalam percakapan sehari-hari.
Jika kita terus bertanya pada anak, adek, tentang “berapa nilaimu hari ini?”, maka kita sedang mengajarkan bahwa angka adalah segalanya. Tetapi jika kita bertanya “hal apa yang paling menarik yang telah kamu pelajari hari ini?” maka, kita sedang menanamkan sesuatu yang jauh lebih berharga, bahwa belajar itu sendiri adalah hadiahnya.
Pendidikan sejati bukan tentang mengisi kepala dengan jawaban yang benar, melainkan tentang melatih kepala untuk terus bertanya dengan benar, dan selama kita membiarkan ujian menjadi mahkota dari seluruh proses belajar, kita akan terus menukar hal yang berharga dengan hal yang sekedar terukur.
Oleh : Eufronia Try Agustin
Mahasiswi Unika Santu Paulus Ruteng, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment