Feature
Kampus
Mahasiswa
Pendidikan
Menagih Terang di Jalanan IndramayuOleh: Tantoni Akhmad Hasyim
APERO FUBLIC I Lampu jalan bukan sekadar hiasan kota di malam hari, melainkan fasilitas dasar yang menyangkut keselamatan jiwa dan urat nadi perekonomian warga. Sayangnya, bagi sebagian besar masyarakat Kabupaten Indramayu, melintasi jalanan yang gelap gulita saat matahari terbenam masih menjadi realitas sehari-hari yang harus dihadapi dengan waswas.
Minimnya Penerangan Jalan Umum (PJU) dapat dengan mudah kita temui di berbagai titik strategis. Mulai dari jalur utama antar-kecamatan, jalan penghubung antardesa, hingga beberapa ruas jalur pantura yang menjadi urat nadi transportasi nasional. Masalah ini seolah menjadi "pekerjaan rumah" tahunan yang tak kunjung tuntas, meninggalkan potensi bahaya yang mengintai setiap pengguna jalan.
Dampak Ganda Kegelapan Jalan
Dampak dari minimnya fasilitas PJU ini tidak boleh dipandang sebelah mata. Setidaknya ada dua ancaman utama yang langsung dirasakan oleh warga.
- Pertama, risiko kecelakaan lalu lintas
Karakteristik jalanan di Indramayu yang didominasi oleh jalur lurus, berdekatan dengan saluran irigasi, serta sebagian memiliki permukaan gelombang, sangat berbahaya jika dilintasi dalam kondisi gelap.
Pengendara terutama roda dua sering kali terlambat menyadari adanya lubang, material jalan, atau kendaraan berkecepatan tinggi di depannya. Kegelapan jalan adalah salah satu kontributor utama dalam meningkatkan angka kecelakaan lalu lintas di malam hari.
- Kedua, maraknya potensi tindak kejahatan
Jalanan yang remang-remang hingga gelap gulita menjadi "ruang nyaman" bagi para pelaku kriminalitas, seperti aksi pembegalan, pencurian dengan kekerasan, hingga kejahatan jalanan lainnya. Kondisi ini secara langsung merampas rasa aman masyarakat yang harus beraktivitas di malam hari, mulai dari pekerja sipir, pedagang pasar, hingga petani dan nelayan yang pulang-pergi saat dini hari.
Bukan Sekadar Anggaran, Ini Soal Prioritas
Alasan klasik yang kerap terdengar ketika membahas masalah infrastruktur adalah keterbatasan anggaran daerah (APBD).
Namun, dalam perspektif keselamatan publik (public safety), penerangan jalan seharusnya ditempatkan sebagai salah satu prioritas belanja yang tidak bisa ditawar.
Pemerintah Kabupaten Indramayu perlu mengambil langkah nyata dan sistematis:
1. Peta Jalan dan Inventarisasi Titik Rawan
Dinas terkait bersama pihak kepolisian perlu melakukan audit dan pemetaan menyeluruh terhadap jalur-jalur yang tergolong rawan kecelakaan dan kejahatan akibat minim penerangan. Skala prioritas harus diarahkan pada akses vital masyarakat dan jalur lintas utama.
2. Perawatan dan Pengawasan Berkelanjutan:
Banyak kasus di mana tiang PJU sudah terpasang, namun mati berbulan-bulan tanpa adanya tindakan perbaikan. Sistem aduan masyarakat yang cepat tanggap (quick response) serta pemeliharaan rutin (maintenance) sangat krusial agar fasilitas yang sudah dibangun tidak terbuang sia-sia.
3. Inovasi Teknologi PJU Hemat Energi:
Pemerintah daerah dapat mulai mengoptimalkan penggunaan PJU berbasis tenaga surya (solar cell) atau lampu hemat energi berbasis LED. Selain memangkas beban biaya listrik bulanan daerah, PJU tenaga surya lebih ramah lingkungan dan cocok untuk daerah pedesaan yang minim jangkauan jaringan kabel listrik utama.
Menagih Hak Rasa Aman Warga
Setiap rupiah pajak dan retribusi yang dibayarkan oleh masyarakat Indramayu termasuk Retribusi Penerangan Jalan (RPJ) yang menempel pada tagihan listrik harian/bulanan seharusnya kembali dalam bentuk pelayanan publik yang nyata. Terangnya jalanan adalah hak dasar masyarakat yang berhak ditagih kepada pemerintah daerah.
Membenahi penerangan jalan bukan sekadar urusan estetika daerah agar terlihat megah di malam hari. Lebih jauh dari itu, ini adalah bentuk hadirnya negara dalam memberikan perlindungan dan rasa aman bagi setiap warganya. Sudah saatnya Indramayu menyala terang, agar roda ekonomi dapat terus berputar tanpa dibayangi ketakutan di sepanjang jalan.
Oleh: Tantoni Akhmad Hasyim
Editor. Tim Redaksi
Profil Penulis
Penulis merupakan mahasiswa Ekonomi Pembangunan Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Berasal dari Indramayu yang aktif mengamati dinamika pembangunan dan pelayanan publik di tanah kelahirannya.
Sy. Apero Fublic
Via
Feature

Post a Comment