Feature
Kampus
Kimia
Mahasiswa
Pendidikan
Kulit Pisang Bisa Dijadikan Apa? Inovasi Pembuatan Selai Dari Kulit Pisang Uli Yang Dilakukan Oleh Mahasiswa Untirta
APERO FUBLIC I OPINI.-- Pernahkah anda melihat kulit pisang dibuang begitu saja, apalagi kalau kita sedang membuat kripik pisang dengan menggunakan pisang uli pasti kulitnya langsung dibuang begitu saja? Di wilayah Banten vegetasi pisang uli cukup banyak contohnya seperti di wilayah kaki gunungkarang, yang mayoritas para warganya menanan tanaman yang hotikultural atau bermacam-macam jenisnya.
Salah satu contoh tanaman yang ditaman ialah tanaman pisang yang memiliki banyak jenisnya salahsatunya pisang uli.
Melihat fenomena yang seperti ini, sekelompok mahasiswa dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) tidak tinggal diam. Sebagai bentuk implementasi nyata dari teori perkuliahan, kelompok 7 ketahanan pangan yang beranggotakan Reza Saiful Ilmi, Jericko Ogestha Haryanto, Cici Maryanti, Umul Hani, dan Icha Khaerunnisa sukses menciptakan inovasi pangan baru. Mereka menyulap kulit pisang uli menjadi produk selai yang bermanfaat.
Projek kreatif ini mereka gagas dalam rangka memenuhi tugas besar pada mata kuliah Ketahanan Pangan (Ketapang). Yang bertujuan untuk mengoptimalkan pemanfaatan kulit pisang yang tidak terpakai melalui pangan berbasis zero waste (tanpa sisa) untuk mendukung kemandirian pangan skala rumah tangga.
Mengapa Harus Kulit Pisang Uli?
Karena mayaoritas pembuatan keripik pisang yang sering digunakan ialah pisang uli juga secara ilmiah, kulit pisang uli sebenarnya masih menyimpan kandungan serat, vitamin, dan antioksidan yang baik bagi tubuh jika diproses secara higienis.
Alih-alih membiarkannya menjadi limbah organik yang merusak pemandangan dan mengganggu penciuman, para mahasiswa berinisiatif untuk mengolahnya menjadi selai agar dapat bermanfaat bagi para masyrakat, langkah ini bertujuan untuk memperpanjang nilai guna bahan pangan tersebut. Selain sehat, biaya produksinya pun hampir nol rupiah.
Bagi Anda yang penasaran dan ingin mencobanya di rumah, berikut adalah cara pembuatan selai kulit pisang uli hasil dari inovasi mahasiswa Untirta:
1. Pilih kulit pisang uli yang masih segar, bersih dan tidak busuk. Cuci hingga bersih dengan air yang mengalir untuk menghilangkan sisa kotongan yang menempel di kulit.
2. Rebus kulit pisang uli di dalam air mendidih selama 10–15 menit. Proses ini bertujuan untuk melunakkan tekstur sekaligus menghilangkan rasa sepat atau kelat alami pada kulit pisang.
3. Setehah mendidih angkat angkat kulit pisang uli kemudian tiriskan dengan membilasnya menggunakan air dingin. Masukan kedalam blender, lalu haluskan Bersama sedikit air hingga membentuk bubur kulit pisang yang lembut.
4. Tuang bubur kulit pisang ke dalam wajan. Tambahkan gula pasir, dan perasa lemon. Masak di atas api kecil sambil terus diaduk agar tidak gosong di bagian bawah.
5. Setelah teksturnya mengental dan berwarna kecokelatan menyerupai selai pada umumnya, matikan api. Biarkan dingin sejenak, lalu masukkan selai ke dalam wadah atau stoples kaca yang steril. Selai kulit pisang uli siap disajikan.
“Melalui tugas mata kuliah Ketahanan Pangan ini, kami belajar bahwa solusi ketahanan pangan itu bisa dimulai dari dapur sendiri dengan memanfaatkan apa yang sering dianggap sampah yang diubah menjadi nilai yang berguna. Kami berharap panduan ini bisa menginspirasi masyarakat luas,” ujar Cici Maryanti, selaku perwakilan dari kelompok 7 ketahanan pangan mahasiswa Untirta.
Melalui tulisan ini, kelompok mahasiswa Untirta berharap inovasi sederhana ini tidak hanya berhenti sebagai pemenuhan nilai kuliah semata, melainkan dapat ditiru oleh masyarakat sebagai peluang ide bisnis rumahan (UMKM) yang ramah kantong sekaligus ramah lingkungan.
Penulis : Icha Khaerunnisa
Mahasiswi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Jurusan Pendidikan Matematika.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Feature

Post a Comment