Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Psikologi
Bucin Bikin Berprestasi atau Frustrasi? Mengupas Dampak Psikologis Pacaran Saat Menempuh Pendidikan
APERO FUBLIC I OPINI.-- Masa-masa sekolah dan kuliah sering kali disebut sebagai masa yang paling seru. Tidak hanya sekadar pusing memikirkan tugas yang menumpuk atau ujian yang membuat deg-degan, tapi ini juga masa di mana kita sibuk mengeksplorasi jati diri—termasuk urusan asmara.
Pertanyaannya, pacaran di saat kita sedang sibuk-sibuknya belajar itu sebenarnya membantu kesehatan mental, atau justru menambah beban batin?
Jujur saja, jawabannya bisa dua-duanya. Mari kita obrolkan sisi terang dan sisi gelapnya dari kacamata psikologis.
Sisi Terang: Saat Cinta Menjadi Support System
Kita mulai dari yang manis-manis dulu. Memiliki pasangan di masa pendidikan sering kali membuat kita merasa punya support system yang eksklusif. Bayangkan saja, setelah seharian lelah di kampus atau sekolah, ada tempat curhat yang siap mendengarkan semua keluh kesah kita. Secara emosional, hal ini memberikan rasa aman dan bisa menurunkan tingkat stres secara signifikan.
Lalu, jika kamu bertemu dengan partner yang tepat, pacaran justru bisa menjadi booster semangat belajar. Momen seperti janjian mengerjakan tugas bareng, saling mengingatkan deadline, sampai punya target lulus bersama, bisa memunculkan iklim kompetisi yang sangat sehat.
Secara tidak sadar, menjalin hubungan juga melatih kita untuk lebih berempati, menekan ego, dan belajar komunikasi yang baik. Rasa percaya diri juga otomatis meningkat karena kita merasa ada seseorang yang menghargai dan menyayangi kita apa adanya.
Sisi Gelap: Drama dan Risiko Kelelahan Mental
Tapi, namanya juga anak muda yang emosinya masih dalam tahap berkembang, pacaran punya sisi gelap yang bisa sangat menguras mental. Di usia ini, masalah sepele—seperti cemburu buta atau salah paham—bisa berubah menjadi "drama" panjang yang berhari-hari tidak selesai. Ujung-ujungnya? Fokus belajar menjadi buyar dan nilai akademis bisa ikut terjun bebas.
Yang lebih bahaya lagi adalah ketika seseorang terjebak dalam toxic relationship. Berpacaran dengan orang yang manipulatif, terlalu posesif, atau abusive bisa merusak psikologis secara perlahan. Mulai dari mudah mengalami kecemasan (anxiety), stres berat, hingga depresi yang mengancam kesehatan mental.
Selain itu, ada risiko ketergantungan emosional. Saking bergantungnya pada pasangan untuk merasa bahagia, ketika hubungan itu kandas, rasanya motivasi hidup dan semangat belajar langsung hilang tidak tersisa.
Belum lagi, saking asyiknya pacaran, kadang pelajar tidak sadar mulai menjauhi lingkungan pertemanannya atau bahkan keluarganya sendiri, membuat dunia sosialnya menjadi sangat sempit.
Pada akhirnya, pacaran saat menempuh pendidikan itu ibarat pisau bermata dua. Bisa membawa dampak yang luar biasa positif, tapi juga bisa menghancurkan jika tidak berhati-hati. Kunci utamanya ada pada seberapa dewasa kita mengelola emosi dan mengatur prioritas.
Selama bisa saling support dan sama-sama sadar bahwa pendidikan tetap prioritas nomor satu, pacaran bisa menjadi jalan untuk sukses bersama. Tapi, kalau isinya hanya membuat lelah batin dan menguras energi positif, mungkin ini saatnya untuk mengevaluasi kembali hubungan tersebut demi masa depan dan kewarasan diri sendir.
Penulis : Nizar Nur Ahmad
Mahasiswa UIN Jusila, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment