Aceh
Feature
Kampus
Mahasiswi
Pendidikan
Psikologi
Ketika Bumi Berguncang, Jiwa Harus Berdiri: “Resiliensi Kognitif” di Tengah Bencana Aceh 2025
APERO FUBLIC I FEATURE. - Malam itu, 30 Desember 2025, warga di sekitaran kaki Gunung Burni Telong, Bener Meriah, tak sempat menyambut tahun baru dengan tenang. Bumi berguncang lebih dari sepuluh kali dalam sehari, bahkan pada malam itu guncangan keras terjadi beberapa kali.
Ribuan jiwa anak-anak, lansia, ibu hamil terpaksa bertahan di tenda pengungsian, sementara gunung di hadapan mereka naik status menjadi Siaga. Saat dimana warga belum benar-benar pulih dari tragedi sebelumnya. Ya, banjir bandang dan longsor yang sudah lebih dulu menghantam Aceh di penghujung November.
Dalam satu tahun, BMKG mencatat Aceh diguncang 1.556 kali gempa sepanjang 2025 naik 39 persen dibanding tahun sebelumnya. Angka ini bukan sekadar statistik. Di baliknya, ada ribuan kisah manusia yang tiba-tiba kehilangan rasa aman, kehilangan rumah, kehilangan rutinitas.
Dan di situlah pertanyaan psikologis yang penting muncul: mengapa ada orang yang mampu bangkit lebih cepat, sementara yang lain terus terpuruk?
Jawabannya ada pada sesuatu yang disebut “resiliensi kognitif”.
Resiliensi kognitif adalah kemampuan pikiran manusia untuk memproses, memaknai, dan beradaptasi terhadap pengalaman yang menekan tanpa kehilangan kapasitas untuk terus berfungsi. Berbeda dengan resiliensi dalam pengertian awam yang sering diartikan sebagai "ketahanan fisik" atau "tidak mudah mengeluh", resiliensi kognitif beroperasi di level yang lebih dalam: yaitu bagaimana otak menafsirkan realita yang menyakitkan.
Konsep ini berkembang dari tradisi psikologi kognitif, khususnya dari penelitian Aaron Beck tentang pola pikir maladaptif, hingga temuan-temuan mutakhir dalam neurosains yang menunjukkan bahwa otak manusia sesungguhnya bersifat plastis ia dapat dibentuk ulang melalui pengalaman, latihan, dan pola berpikir yang berulang.
Artinya, resiliensi kognitif bukan bawaan lahir yang hanya dimiliki segelintir orang. Ia adalah sesuatu yang bisa dibangun, bahkan di tengah krisis sekalipun.
Inilah yang membuat konsep ini begitu relevan bagi masyarakat Aceh, yang dalam satu tahun terakhir tidak hanya sekali berhadapan dengan bencana, melainkan bertubi-tubi dan tetap berdiri kembali.
Bukan Soal Siapa yang Lebih Kuat
Ketika melihat seorang ibu dari Bener Meriah/Aceh Tengah, yang sudah bisa tersenyum di pengungsian meski rumahnya retak, hilang, atau seorang petani yang esok harinya sudah memikirkan cara memperbaiki perkebunannya. kita mungkin mengira mereka memang "lebih kuat" atau "tidak terlalu merasakan." Padahal bukan itu yang terjadi. Melainkan bagaimana “resiliensi” bekerja pada diri mereka.
Resiliensi bukan berarti tidak merasakan sakit. Dalam psikologi, terutama psikologi kognitif, resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk tetap berfungsi bahkan tumbuh di tengah rasa sakit itu. Perbedaannya bukan pada kadar penderitaan yang dirasakan, melainkan pada cara otak memproses pengalaman tersebut.
Saat seseorang menghadapi bencana, otaknya secara otomatis bekerja keras mencari makna dari apa yang terjadi. Di sinilah perbedaan mulai terlihat. Mereka yang memiliki resiliensi kognitif tinggi cenderung tidak terjebak dalam pola pikir destruktif seperti "Hidup saya sudah tamat" atau "Tuhan tidak adil." Sebaliknya, pikiran mereka lebih lentur. “Menyakitkan? tentu, tapi ini bukan akhir dari segalanya”.
Tiga Proses yang Bekerja di Balik Ketangguhan : Cara Membangun Resiliensi Kognitif
Para peneliti menemukan setidaknya tiga mekanisme kognitif yang membedakan mereka yang cepat bangkit dari yang berlama-lama terpuruk.
Pertama, reappraisal kemampuan menilai ulang situasi secara lebih konstruktif. Warga yang mengungsi dan menganggap pengungsian sebagai "kesempatan bertemu tetangga dan saling bantu" secara tidak sadar sedang melakukan reappraisal. Otak mereka aktif mencari sisi lain dari peristiwa buruk tanpa menyangkal bahwa itu memang buruk.
Kedua, cognitive flexibility atau kelenturan berpikir. Orang yang kaku secara kognitif akan terus berputar pada pertanyaan "mengapa ini terjadi padaku?" tanpa bisa beralih ke pertanyaan "apa yang bisa aku lakukan sekarang?" Kelenturan berpikir memungkinkan seseorang berpindah sudut pandang saat kondisi memang sudah tidak bisa diubah.
Ketiga, narasi hidup yang koheren. Orang yang resilien mampu menempatkan peristiwa buruk sebagai bagian dari perjalanan hidupnya bukan sebagai definisi dirinya. Mereka bercerita pada diri sendiri: "Ini berat, tapi bukan pertama kalinya aku melewati hal berat."
Kearifan Lokal Aceh dan Ilmu Psikologi: Dua Hal yang Sejalan
Masyarakat Aceh sesungguhnya tidak asing dengan konsep ini, meski tidak menyebutnya dengan istilah psikologi. Nilai sabar dan tawakal yang diajarkan sejak kecil bahwa setiap ujian ada hikmahnya adalah bentuk reappraisal yang telah mengakar jauh sebelum ilmu psikologi mengenalnya secara ilmiah.
Ketika seseorang dididik untuk mencari makna di balik musibah, otaknya secara perlahan dilatih untuk tidak larut dalam kepanikan berkepanjangan. Ini bukan naivitas ini adalah strategi kognitif yang nyata dan terbukti secara ilmiah mendukung pemulihan mental.
Tradisi meudagang dan gotong royong juga bukan sekadar nilai sosial. Secara psikologis, dukungan sosial yang kuat adalah salah satu prediktor terkuat resiliensi. Otak manusia bekerja lebih baik ketika merasa terhubung dengan orang lain sebuah fakta yang ternyata sudah dipraktikkan masyarakat Aceh jauh sebelum riset modern membuktikannya.
Yang Masih Kurang: Ruang untuk Berbicara
Namun ada satu hal yang belum cukup tersedia bagi penyintas bencana di Aceh, dan saya pikir ini murupakan hal terpentingnya: ruang untuk berbicara secara profesional tentang apa yang mereka rasakan. Banyak warga yang mengungsi dengan tubuh yang "baik-baik saja" tetapi secara psikologis menyimpan beban yang belum pernah diproses dengan benar.
Saya menyaksikan langsung di Kampong Daling, Aceh Tengah bagaimana para korban bencana senyar 2025 berdiri menatap rumah-rumah mereka yang telah habis tertimbun longsor. Di antara mereka, perhatian saya tertuju pada seorang bapak paruh baya. Ia merupakan seorang anak, seorang suami, sekaligus seorang ayah yang dalam satu peristiwa, kehilangan ibu, istri, dan dua anaknya sekaligus.
Yang membuat saya tertegun bukan hanya beratnya kehilangan itu, melainkan bagaimana caranya bercerita. Saat saya melakukan wawancara kecil dalam kegiatan KPM Tematik Bencana, beliau mampu menceritakan kronologi kejadian dengan sangat runtut dan lugas. Namun hampir tidak ada momen di mana ia berbicara tentang apa yang ia rasakan. Seolah perasaan itu disimpan jauh di balik narasi yang tertata rapi.
Ini bukan keanehan yang berdiri sendiri. Banyak penyintas, ketika ditanya tentang situasi bencana, keluarga yang hilang, atau kondisi mereka kini, justru menjawab dengan kepala tegak dan kalimat-kalimat yang terdengar terkendali. Padahal secara psikologis, kehilangan sebesar itu wajarnya membutuhkan ruang untuk runtuh setidaknya sekali.
Yang terjadi, menurut saya, bukan karena mereka tidak merasakan apapun. Melainkan karena ada stigma yang sudah lama mengakar: bahwa mengeluhkan perasaan adalah tanda kelemahan, dan bahwa urusan psikologis bukan sesuatu yang perlu dibawa ke ruang profesional. Budaya untuk terlihat kuat ini, meski lahir dari nilai ketabahan yang mulia, tanpa disadari bisa menjadi penghalang pemulihan yang sesungguhnya.
Akibatnya, banyak penyintas yang mengabaikan sinyal-sinyal penting dari diri mereka sendiri gangguan tidur yang berlarut, tubuh yang mudah kaget mendengar suara keras, atau rasa cemas berlebihan setiap kali tanah sedikit bergerak.
Gejala-gejala ini bukan lebay, bukan dibuat-buat. Ini adalah respons trauma yang nyata, yang jika dibiarkan tanpa penanganan, bisa berkembang menjadi beban psikologis jangka panjang. Sayangnya, stigma bahwa "pergi ke psikolog berarti gila" masih tebal di sebagian besar masyarakat kita dan itulah yang perlu kita ubah bersama.
Kehadiran Program Studi Profesi Psikologi
Pertama di Aceh yang baru saja dibuka Universitas Syiah Kuala adalah kabar baik. Ini berarti psikolog dengan kompetensi klinis yang memahami konteks budaya Aceh akan semakin banyak tersedia.
Namun ketersediaan tenaga profesional saja tidak cukup masyarakat juga perlu tahu bahwa meminta bantuan psikologis bukan tanda kelemahan, melainkan justru bentuk kecerdasan emosional.
Penutup: Bumi Berguncang, tapi Jiwa Tak Harus Ikut Runtuh
Gempa tidak bisa dicegah. Banjir dan Longsor tidak bisa dipesan untuk tidak datang. Tapi cara otak kita merespons semua itu, itulah yang bisa dilatih, dibentuk, dan diperkuat.
Resiliensi kognitif bukan hadiah untuk orang-orang terpilih. Ia adalah kemampuan yang bisa tumbuh dari nilai-nilai yang sudah lama hidup di tengah masyarakat.
Aceh, dari dukungan sesama, dan jika dibutuhkan, dari bantuan profesional yang kini semakin terjangkau.
Ketika bumi kembali berguncang di Aceh, dan hampir pasti akan terjadi lagi, yang kita perlukan bukan hanya bangunan yang tahan gempa. Kita juga memerlukan jiwa yang tahu cara berdiri kembali.
Penulis adalah mahasiswa Program Studi Psikologi UIN Ar-Raniry yang menaruh perhatian pada isu kesehatan mental masyarakat dan psikologi dalam menghadapi bencana.
Oleh: Zaitun Ramadani
Mahasiswi Program Studi Psikologi, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Aceh

Post a Comment