Kampus
Mahasiswi
Opini
Pendidikan
Psikologi
Avoidant Attachment: Ketika Diam Terasa Lebih Aman daripada Bercerita
APERO FUBLIC I OPINI.- Coba perhatikan orang-orang di sekitar kita. Biasanya, orang yang paling jarang mengeluh justru terlihat paling kuat. Kalau ditanya “kamu gapapa?” jawabannya hampir selalau, “gapapa, aku bisa handle sendiri.” Mereka hampir tidak pernah meminta bantuan dan selalu tampak baik-baik saja.
Namun, pernahkah kita bertanya apakah mereka benar-benar baik-baik saja, atau hanya terbiasa menyembunyikan apa yang mereka rasakan?
Padahal tidak semua yang terlihat tenang itu benar-benar sedang baik-baik saja. Kadang, itu bukan kekuatan, tapi kebiasaan lama yang terbentuk dari cara seseorang belajar menghadapi hidup.
Dalam Psikologi, kecenderungan seperti ini dijelaskan melalui konsep avoidant attachment, yaitu kecenderungan individu untuk menghindari kedekatan emosional dan mengutamakan kemandirian.
Pola keterikatan ini terbentuk dari lingkungan yang kurang memberikan respons terhadap kebutuhan emosionalnya. Akibatnya, ia belajar untuk tidak bergantung pada orang lain dan lebih memilih menyelesaikan masalahnya sendiri.
Kalau dilihat dari teori yang dijelaskan John Bowlby, hubungan anak dan pengasuhnya adalah fondasi dari cara seseorang berhubungan dengan orang lain sepanjang hidupnya. Ketika fondasi itu goyah: ketika tangisan tidak dijawab, ketika permintaan tidak dipenuhi, anak belajar bahwa diam lebih aman daripada meminta
Dan pola itu, sayangnya, tidak ikut hilang waktu kita tumbuh dewasa.
Ia ikut tumbuh, ikut dibawa ke bangku kuliah, pertemanan, bahkan ke ruang-ruang yang seharusnya jadi tempat aman untuk bicara.
Yang cukup menarik, ini terjadi di kalangan mahasiswa psikologi. Mereka memahami teorinya.
Mereka tahu pentingnya mencari bantuan, paham soal stigma kesehatan mental, bahkan sering membahasnya di kelas. Namun ketika mereka sendiri sedang menghadapi masalah atau merasa tidak baik-baik saja, banyak yang tetap memilih diam.
Bukan karena tidak mengerti. Justru karena paham sampai merasa harusnya bisa mengatasinya sendiri. Dan akhirnya, semuanya disimpan sendiri.
Padahal ada satu hal yang tidak bisa kita tipu, yaitu tubuh kita sendiri. Apa pun yang terus ditahan tidak benar-benar hilang. Semuanya hanya bertumpuk, dan pada akhirnya bisa muncul dengan cara yang tidak kita sadari. Bisa muncul lewat emosi yang mudah meledak, tidur terasa tidak pernah cukup, atau perasaan kosong yang sulit dijelaskan ke siapa pun.
Mengubah kebiasaan yang sudah terbentuk sejak lama memang tidak mudah. Namun, ada langkah sederhana yang bisa dilakukan yaitu mulai jujur pada diri sendiri. Tidak harus langsung bercerita ke orang lain, cukup mengakui bahwa ada bagian diri yang sedang tidak baik-baik saja.
Diam memang sering terlihat seperti kekuatan. Padahal, diam adalah cara lama untuk merasa aman dari sesuatu yang belum berani kita hadapi. Dan mungkin, sudah saatnya kita coba yang berbeda, mulai dari tidak berbohong pada diri sendiri bahwa semua nya baik-baik saja.
By: Shafa Nizara Mifta
Mahasiswi UIN Ar-Raniry, Jurusan Psikologi
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment