Bahasa
Esai
Kampus
Mahasiswi
Pendidikan
Krisis Bangsa dalam Wabah, Konvensi, dan Nyai Sobir
Sumber: Divapress Online
APERO FUBLIC I BAHASA.- Di tangan Mustofa Bisri, cerpen tidak berhenti sebagai hiburan atau permainan bahasa. Ia berubah menjadi alat bedah sosial. Melalui Wabah, Konvensi, dan Nyai Sobir, Gus Mus menguliti tiga penyakit yang terus menghantui Indonesia: kegagalan mengoreksi diri, kerakusan kekuasaan, dan ketidakadilan terhadap perempuan.
Ketiganya hadir dalam bentuk cerita yang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan kritik yang sangat tajam terhadap watak masyarakat dan elite bangsa.
Kritik Sosial dalam Wabah
Cerpen Wabah berbicara tentang bau busuk yang menyebar dari sebuah keluarga hingga menjangkiti seluruh negeri. Namun pembaca segera memahami bahwa bau itu bukan persoalan fisik. Bau tersebut adalah metafora kebusukan moral yang telah menjadi bagian kehidupan sosial. Yang menarik, seluruh tokoh dalam cerita sibuk mencari siapa penyebab bau itu. Tidak ada yang bersedia menempatkan dirinya sebagai kemungkinan sumber persoalan.
"Masing-masing menuduh yang lainlah sumber bau aneh tak sedap itu."
Di sinilah letak sindiran paling keras Gus Mus. Bangsa ini sering kali lebih gemar menjadi hakim daripada terdakwa. Semua orang merasa paling bersih. Semua kelompok merasa paling benar. Semua pihak merasa menjadi korban.
Padahal korupsi, ketidakadilan, penyalahgunaan kekuasaan, manipulasi agama, hingga budaya bohong tidak lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari kebiasaan masyarakat yang enggan mengoreksi dirinya sendiri.
Yang lebih tragis, ketika wabah itu akhirnya menjadi persoalan nasional, masyarakat justru beradaptasi dengannya. Kebusukan yang awalnya mengganggu perlahan dianggap biasa. Inilah kritik yang sangat relevan terhadap kehidupan Indonesia pasca-Reformasi.
Publik marah terhadap korupsi, tetapi sering mempraktikkan ketidakjujuran dalam kehidupan sehari-hari. Publik mengecam penyalahgunaan kekuasaan, tetapi diam ketika pelakunya berasal dari kelompoknya sendiri.
Pada akhirnya, wabah terbesar bukan bau busuk itu. Wabah terbesar adalah matinya rasa malu.
Kritik Kekuasaan dalam Konvensi
Jika Wabah membedah masyarakat, Konvensi membedah elite politik. Cerita ini memperlihatkan bagaimana pilkada tidak lagi menjadi arena adu gagasan, melainkan arena perebutan akses terhadap kekuasaan. Para calon datang membawa narasi yang sama: demi rakyat, demi pembangunan, demi kemajuan daerah. Namun di balik pidato yang terdengar mulia itu, tersimpan kepentingan yang jauh lebih pribadi.
Gus Mus memperlihatkan bagaimana tokoh-tokoh politik menggunakan kemiskinan rakyat sebagai komoditas retorika. Mereka berbicara seolah menjadi penyelamat masyarakat, tetapi dalam saat yang sama sibuk menghitung peluang menang, membangun koalisi, dan menjatuhkan lawan.
Cerpen ini sesungguhnya bukan sekadar kritik terhadap pilkada. Ia adalah kritik terhadap budaya politik nasional yang terlalu sering menjadikan moralitas sebagai slogan. Yang berbicara tentang transparansi belum tentu transparan. Yang berbicara tentang pemberantasan korupsi belum tentu bersih. Yang berbicara atas nama rakyat belum tentu memahami penderitaan rakyat.
Ironi terbesar dalam Konvensi muncul ketika semua strategi politik yang dirancang dengan rapi akhirnya melahirkan hasil yang tidak diperkirakan siapa pun. Gus Mus seperti sedang menertawakan para elite yang merasa mampu mengendalikan segalanya.
Politik dalam cerpen ini kehilangan substansi karena terlalu sibuk mengurus kendaraan menuju kekuasaan, bukan tujuan kekuasaan itu sendiri. Kekuasaan tidak lagi dipahami sebagai amanah, melainkan kesempatan.
Kritik dalam Nyai Sobir
Cerpen Nyai Sobir bergerak di wilayah yang lebih sunyi. Namun justru karena kesunyiannya, kritik yang disampaikan terasa lebih menyakitkan. Ribuan orang datang melayat seorang kiai besar yang wafat. Semua berbicara tentang jasa-jasa beliau. Semua merasa kehilangan. Tetapi tidak ada yang sungguh-sungguh melihat perempuan yang paling kehilangan.
"Mereka semua melayat diri mereka sendiri."
Kalimat itu membongkar egoisme sosial yang sering tersembunyi di balik ekspresi belasungkawa. Banyak orang datang membawa kesedihan mereka sendiri, bukan untuk memahami kesedihan orang lain.
Nyai Sobir menjadi simbol perempuan yang hidup di bawah bayang-bayang kebesaran laki-laki. Ketika sang kiai hidup, ia dihormati karena statusnya sebagai istri kiai. Ketika sang kiai wafat, perhatian masyarakat bergeser. Ia mulai dipandang sebagai janda muda. Yang berubah bukan dirinya. Yang berubah adalah cara masyarakat memandangnya.
Gus Mus dengan sangat halus mengkritik budaya patriarki yang masih kuat dalam masyarakat Indonesia. Seorang perempuan yang selama bertahun-tahun ikut membangun pesantren, mengelola tamu, mendampingi perjuangan suami, dan menjaga keberlangsungan lembaga, tetap saja diposisikan sebagai pelengkap. Bahkan masa depannya dibicarakan oleh banyak orang tanpa pernah benar-benar menanyakan apa yang ia inginkan.
Di titik ini, Nyai Sobir tidak hanya menjadi cerita tentang kesepian seorang janda. Ia berubah menjadi gugatan terhadap struktur sosial yang sering mengabaikan suara perempuan atas nama tradisi, penghormatan, dan kepentingan bersama.
Penutup
Ketiga cerpen ini sebenarnya berbicara tentang satu masalah yang sama: krisis moral. Dalam Wabah, krisis itu muncul sebagai kegagalan bercermin. Dalam Konvensi, krisis itu muncul sebagai kerakusan kekuasaan yang dibungkus retorika pengabdian. Dalam Nyai Sobir, krisis itu muncul sebagai hilangnya empati terhadap mereka yang paling rentan.
Mustofa Bisri tidak sedang mengkritik individu tertentu. Ia sedang menunjukkan cacat kolektif yang hidup dalam tubuh bangsa. Karena itu, cerpen-cerpen ini terasa menampar. Pembaca sulit mencari musuh di dalam cerita karena lambat laun menyadari bahwa sebagian tokohnya ada dalam diri kita sendiri.
Barangkali itulah kekuatan terbesar Gus Mus. Ia tidak mengajak pembaca membenci siapa pun. Ia mengajak pembaca merasa tidak nyaman terhadap dirinya sendiri. Dan dari situlah kritik sastra menemukan maknanya yang paling dalam.
Sebab bangsa tidak akan berubah hanya dengan menemukan siapa yang salah, tetapi dengan keberanian mengakui bahwa kita semua, dalam kadar tertentu, ikut menjadi bagian dari persoalan itu.
Referensi
Bisri, A. Mustofa. 2018. Konvensi. Yogyakarta: Diva Press.
Penulis: Zulfa Amanda
Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Bahasa

Post a Comment