Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
AI di Dunia Pendidikan: Pengganti Guru atau yang Memperkuat Pembelajaran?
APERO FUBLIC I OPINI.- Kemajuan teknologi digital dalam beberapa tahun terakhir telah mengubah cara manusia bekerja, berkomunikasi, dan belajar. Sektor pendidikan menjadi salah satu bidang yang mengalami dampak signifikan dari perkembangan tersebut, terutama sejak hadirnya Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.
Teknologi ini memungkinkan pengguna memperoleh informasi dengan cepat, menyusun ringkasan materi, menjawab berbagai pertanyaan, hingga membantu menyelesaikan beragam tugas akademik secara lebih efisien.
Kehadiran AI kemudian memunculkan diskusi yang semakin relevan di kalangan pendidik dan masyarakat luas: apakah teknologi ini pada akhirnya akan menggantikan peran guru dalam proses pendidikan?
Perdebatan mengenai isu tersebut terus berkembang. Sebagian pihak menilai bahwa kemampuan AI dalam menyediakan informasi secara instan, akurat, dan dapat diakses kapan saja berpotensi mengurangi ketergantungan siswa terhadap guru.
Di sisi lain, banyak kalangan berpendapat bahwa pendidikan tidak hanya berkaitan dengan transfer pengetahuan, melainkan juga proses pembentukan karakter, nilai, dan kemampuan sosial yang membutuhkan kehadiran manusia.
Dalam konteks ini, AI seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman terhadap profesi guru, melainkan sebagai instrumen yang dapat mendukung dan memperkuat peran guru apabila dimanfaatkan secara bijak serta bertanggung jawab.
Tidak dapat dipungkiri bahwa AI menawarkan berbagai manfaat dalam kegiatan pembelajaran. Melalui teknologi ini, peserta didik dapat memperoleh penjelasan materi sesuai kebutuhan mereka, mengakses berbagai variasi latihan soal, serta menerima bantuan belajar yang lebih personal dan fleksibel.
Dari sisi tenaga pendidik, AI dapat dimanfaatkan untuk membantu penyusunan bahan ajar, pembuatan media pembelajaran yang lebih menarik, penyusunan instrumen evaluasi, hingga penyelesaian berbagai pekerjaan administratif yang sering menyita waktu.
Dengan berkurangnya beban pekerjaan rutin, guru memiliki kesempatan lebih besar untuk memusatkan perhatian pada pendampingan dan pengembangan potensi siswa secara langsung.
Fenomena tersebut juga didukung oleh berbagai temuan penelitian. Salah satu studi yang melibatkan 349 guru di Indonesia menunjukkan adanya peningkatan pemanfaatan AI dalam praktik pendidikan.
Para guru menggunakan teknologi ini untuk meningkatkan efisiensi pekerjaan sekaligus mengembangkan metode pembelajaran yang lebih kreatif dan relevan dengan kebutuhan peserta didik saat ini. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa AI bukan lagi sekadar inovasi tambahan, melainkan telah menjadi bagian dari transformasi pendidikan yang sedang berlangsung di era digital.
Meski demikian, pemanfaatan AI juga menghadirkan tantangan yang tidak dapat diabaikan. Perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat menuntut guru untuk terus meningkatkan kompetensi digital mereka. Jika tidak mampu beradaptasi, pendidik berisiko mengalami kesenjangan dengan karakteristik generasi muda yang tumbuh dalam lingkungan digital.
Saat ini, siswa cenderung lebih akrab dengan teknologi interaktif dan memiliki ekspektasi terhadap proses belajar yang lebih dinamis. Oleh karena itu, kemampuan mengintegrasikan teknologi ke dalam pembelajaran menjadi salah satu kompetensi penting yang perlu dimiliki oleh guru masa kini.
Di balik berbagai keunggulannya, AI tetap memiliki batasan yang mendasar. Sistem kecerdasan buatan bekerja berdasarkan data, pola, dan algoritma yang telah diprogram, sehingga tidak memiliki empati, kepekaan moral, maupun kemampuan memahami kondisi psikologis peserta didik secara utuh. Padahal, pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik.
Guru berperan sebagai pembimbing yang membantu siswa menghadapi tantangan, motivator yang mendorong semangat belajar, teladan dalam bersikap, serta figur yang berkontribusi dalam pembentukan karakter. Dimensi kemanusiaan inilah yang menjadikan hubungan antara guru dan siswa tidak dapat direplikasi oleh teknologi, seberapa canggih pun teknologi tersebut berkembang.
Pandangan tersebut sejalan dengan posisi UNESCO yang menegaskan bahwa peran guru tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi. Dalam ekosistem pendidikan, guru memiliki fungsi strategis dalam menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, manusiawi, dan mendukung perkembangan peserta didik secara menyeluruh. Teknologi dapat membantu proses pembelajaran menjadi lebih efektif, tetapi kualitas interaksi manusia tetap menjadi fondasi utama dalam pendidikan yang bermakna.
Berdasarkan berbagai pertimbangan tersebut, kekhawatiran bahwa AI akan menghilangkan profesi guru tampaknya tidak beralasan apabila dilihat secara komprehensif. Kehadiran AI justru dapat menjadi sarana pendukung yang membantu meningkatkan kualitas pembelajaran, memperluas akses terhadap informasi, serta meningkatkan efisiensi berbagai aktivitas pendidikan.
Namun, teknologi tidak memiliki kemampuan untuk menggantikan aspek-aspek mendasar yang melekat pada peran guru, seperti membimbing, menginspirasi, memberikan keteladanan, dan membangun karakter peserta didik.
Karena itu, fokus utama dunia pendidikan saat ini seharusnya bukan pada upaya mempertentangkan AI dengan guru, melainkan pada bagaimana keduanya dapat saling melengkapi. Guru perlu terus mengembangkan kompetensi dan beradaptasi dengan perubahan teknologi, sementara AI dimanfaatkan sebagai alat untuk mendukung proses belajar yang lebih efektif dan inovatif.
Masa depan pendidikan yang ideal bukanlah dominasi teknologi atas manusia, melainkan kolaborasi antara kecanggihan AI dan sentuhan kemanusiaan yang hanya dapat diberikan oleh seorang guru. Dengan sinergi tersebut, pendidikan akan mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya.
Oleh : Garin Khalila Darmawan
Mahasiswi Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Universitas PTIQ Jakarta.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment