Feature
Kampus
Mahasiswi
Pendidikan
“RAJA SINANTRIYA”: Ketika Rektor, Dosen, Tendik, dan Mahasiswa Turut Menghidupkan Kisah di Atas Panggung
APERO FUBLIC I MALANG. -- Pertunjukan sendratari “Raja Sinatriya: Tumbuhnya Suryapura, Lahirnya Karna” digelar di Graha Cakrawala Universitas Negeri Malang (UNM) guna memperingati Dies Natalis UM ke-72. Pertunjukan ini melibatkan rektor, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa Pendidikan Seni Pertunjukan, serta mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan UM (18/10/2026).
Suasana Graha Cakrawala terlihat ramai. Penonton tidak hanya berasal dari mahasiswa UM, tetapi juga masyarakat luar kampus. Keterlibatan beragam unsur UM menjadi daya tarik karena mereka hadir dalam peran berbeda di atas panggung.
Secara visual, kostum menopang karakter dan suasana cerita. Gerakan tari, musik, serta tata cahaya membuat pertunjukan terasa hidup. Kehadiran pemusik juga mendapat perhatian penonton karena turut membangun suasana.
Arie, salah satu penonton, mengatakan,
“Bagus banget, apalagi tokohnya diperankan langsung sama rektor UM, dosen UM, dan mahasiswa UM sendiri. Selain penari dan tokoh-tokohnya yang keren, pemusiknya juga keren.”
Berdasarkan pengamatan, kekuatan Raja Sinatriya terlihat pada perpaduan tari, musik, kostum, dan tata cahaya. Keterlibatan rektor, dosen, tendik, dan mahasiswa juga menjadikan pertunjukan ini sebagai ruang kolaborasi warga UM.
Meski demikian, dijumpai beberapa aspek teknis yang masih dapat dikembangkan. Pada beberapa bagian, clip-on sempat mati dan suara salah satu tokoh kurang terdengar jelas. Beberapa gerakan juga belum sepenuhnya kompak, sementara pola lantai penari laki-laki yang berjejer membuat penari di belakang kurang terlihat. Di samping itu, terdapat aksesori yang terlepas saat atraksi.
Secara keseluruhan, Raja Sinatriya berhasil menghadirkan pertunjukan yang meriah dan menarik. Catatan teknis tersebut dapat menjadi bahan penilaian, terutama dalam tata suara, pola lantai, kekompakan gerak, dan keamanan aksesori. Dengan persiapan yang lebih matang, pertunjukan serupa dapat semakin kuat dan nyaman dinikmati.
“Raja Sinatriya” layak diapresiasi karena tidak hanya menghadirkan cerita di atas panggung, tetapi juga memperlihatkan semangat warga UM dalam berkesenian dan berkolaborasi.
Oleh: Dewi Cinta Febriyanti
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Feature

Post a Comment