Cirebon
JABAR
Kampus
Mahasiswi
Opini
Pendidikan
Politik
Memilih Karna FYP: Bukan Berdasar Pertimbangan Rasional: Antara Kesadaran Politik dan Budaya Ikut-Ikutan
APERO FUBLIC I Diera perkembangan digital dan teknologi telah mengubah cara masyarakat dalam memperoleh informasi politik, terutama pada generasi muda. Saat ini banyak nya platfrom yang digunakan tuk mengenal calon pemimpin atau sebagai media mengenal politik melalui konten yang muncul di halaman For You Pag (FYP).
Akan tetapi, dalam memperoleh informasi dari hal tersebut menimbulkan berbagai macam persoalan baru seperti Ketika memilih calon pemimpin politik hanya berdasar pada popularitas sang calon atau hanya mengikuti pilihan orang lain tanpa mempertimbangkan pilihannya.
Media sosial memiliki potensi sebagai sarana literasi politik. Akan tetapi, resiko dalam menanggapi suatu informasi menunjukan pentingnya mengelola informasi di media digital. Jadi, media sosial bisa digunakan sebagai sarana pendukung dalam mengakses informasi, tetapi tidak dapat dijadikan sebagai satu-satunya dasar dalam menentukan pilihan politik.
Kata kunci: FYP, kesadaran politik, literasi politik, media sosial, perilaku pemilih.Perkembangan teknologi digital yang masif telah membawa perubahan pada aspek kehidupan masyarakat, begitu pula pada bidang politik. Saat ini, masyarakat dapat mengetahui informasi mengenai bakal calon pemimpin daerah maupun presiden dapat melalui platfrom media sosial.
Fitur For Yor Page (FYP), dapat memudahkan pengguna media sosial menemukan berbagai macam jenis konten yang disesuaikan dengan rekomendasi platfrom. Konten politik dapat muncul beriringan dengan konten lainnya seperti hiburan, Pendidikan, dan kehidupan sehari-hari.
Hal ini membuat informasi politik lebih mudah dijangkau, terutama pada generasi muda yang aktif menggunakan media sosial.Bukhari dkk. (2025), dalam jurnal *TikTok sebagai Media Literasi Politik Pemilih Pemula*, menjelaskan bahwa TikTok menjadi sumber informasi politik yang dominan bagi informan penelitian mereka, yaitu 15 mahasiswa Fakultas Studi Islam Universitas Muhammadiyah Riau.
Konten yang singkat, visual, kreatif, serta menggunakan pendekatan humor, cerita, dan infografis dinilai lebih mudah diterima dan dipahami. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa fitur komentar dan siaran langsung dapat mendukung diskusi politik.
Meskipun demikian, penelitian itu mengidentifikasi risiko mis informasi yang mengharuskan pengguna lebih cermat dalam memeriksa kebenaran informasi.Salah satu platfrom digital yang menggunakan fitur Fyp ialah TikTok, aplikasi ini memungkinkan dalam menyajikan konten politik tanpa harus membawa isu tertentu.
Seperti mengenai konten debat, kampanye, kebijakan, dan kebijakan calon pemimpin dapat di lihat melalui video singkat. Namun, perlu difahami bahwa konten politik yang muncul tidak bisa di jadikan patokan untuk informasi yang akurat untuk memilih bakal calon pemimpin.
Video yang menampilkan satu sisi calon pemimpin belum tentu mewakilkan seluruh program, pengalaman, maupun personal yang berkaitan dengan calon pemimpin.
Dalam memilih calon pemimpin terkadang generasi muda yang tergolong masih baru seringkali memilih hanya berdasarkan ikut keputusan dari orang sekitarnya atau clon yang sedang booming di media sosial tidak berdasar pada penilaian secara mandiri.
Kecenderungan memilih berdasarkan tingkat popularitas dapat di kaitkan dengan “bandwagon effect”. Istilah ini merujuk pada orang yang memilih karna melihat banyak orang memilih hal yang sama.
Kesadaran dalam politik dapat dilakukan melalui pertimbangan rasional dalam memilih dengan membandingkan beberapa calon. Dalam memilih dapat dilihat dari visi-misi, program kerja, rekam jejak, pengalaman, integritas serta kemampuan calon dalam menjawab kebutuhan masyarakat.
Lalu cari tau informasi tersebut dari sumber yang dapat dipercaya. Menghadapi banyaknya konten politik di media sosial, masyarakat perlu membangun kebiasaan untuk menilai informasi sebelum menjadikannya dasar dalam menentukan pilihan.
Fenomena memilih karna fyp, bukan berdasarkan pertimbangan rasional, menunjukan adanya tantangan dalam membangun kesadaran politik di era digital. Dengan demikian, kesadaran politik perlu diwujudkan melalui kebiasaan mencari informasi pembanding, serta memahami alasan dibalik pilihan politik.
Pemilihan yang dilakukan seara rasional bukan berate semua pemilih harus memiliki pilihan yang sama, melainkan setiap orang memiliki dasar yang jelas dan dapat bertanggungjawab dari pilihan yang diambil.
Oleh: Aila Azkiya Fitriani
Mahasiswi Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), Jurusan Tadris ilmu Pengetahuan Sosial.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Cirebon

Post a Comment